
BAB 47.
POV DONA
"Kurang ajar dia punya bukti aku jalan sama si Basuki brengsek itu!"
"Dona! Gimana ini urusannya? Kok jadi tambah runyam aja sih?" tanya si Jono yang aku suruh ikut sebagai saksi.
"Halah, kamu diam saja! Sudah, kita batalkan saja dulu!" Aku berpikir keras bagaimana aku bisa mengurusnya dan merebut Farhan dari si Zahra.
"Oh iya Jono, kita ke rumah Pakleknya si Farhan saja, aku tau kok alamatnya!"
"Dimana rumah Pakleknya?"
"Gak jauh dari sini, ayo kamu masuk ke mobil, kita ke sana," ucapku mengajaknya.
"Ayo deh," jawabnya.
Kamipun langsung masuk ke mobil dan aku lanjutkan ke arah rumah pakleknya.
Sesampainya di rumah paklek aku langsung turun dari mobil dan masuk ke pekarangan rumah paklek Farhan.
"Assalamualaikum."
Tak ada jawaban dari dalam rumah.
Aku masuk ke teras nya dan berjalan ke pintu rumahnya mengetuk daun pintunya.
TOK TOK TOK
"Assalamualaikum." Belum ada jawaban.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Terdengar suara jawaban dari suara wanita dari dalam rumah. Pintu terbuka dan tampak Buleknya Farhan.
"Siang Ibu."
"Siang, ada apa ya?" tanyanya.
"Perkenalkan bu, saya Dona, kawannya Farhan." Aku mengulurkan tanganku. Buleknya menyambut uluran tanganku.
"Silahkan duduk."
"Terima kasih bu." Kami duduk di bangku di teras.
"Ada perlu apa kamu ke sini?"
"Saya mau ketemu dengan bapak, bisa bu?" tanyaku dengan suara lembut.
__ADS_1
'"Bapak lagi nggak ada. Kamu pasti mau mengacaukan lagi urusan dengan si Farhan? Bener?" Tanya bulek.
"Bukan itu masalahnya bu. saya ini korban dari perbuatan Farhan yang keji dan laknat!" ucapku.
"Heh, jangan sembarangan kamu bicara laknat kepada keponakan saya! Awas kamu saya cabein mulutmu!" bentak buleknya.
Aku diam.
'Wah kok jadi marah gitu sih buleknya?'bathinku.
"Kamu tunggu saja disini, saya tidak tau kapan bapak datang!" ucapnya galak.
"Iya bu, saya akan saya tunggu disini," ucapku masih dengan nada rendah.
Dia masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian mengantarkan minum teh panas dua gelas ke teras.
"Silahkan minum. Ini nggak ada peletnya ko!" ledek Bulek Farhan.
"Terima kasih bu," jawabku sambil menundukkan kepalanya. Dia masuk kembali ke dalam rumah.
Sejam kemudian Paklek nya Farhan datang.
"Assalamualaikum."
"Wa’alaikumsalam." Ucap kami berdua.
"Hem ada tamu tho??" Kami bersalaman dengan paklek. Paklek duduk di kursi.
"BeginiPaklek, saya kesini sesuai dengan apa yang paklek bicarakan dulu waktu di rumahnya Farhan. Saya Hamil paklek!"
"Hah, kamu hamil?" Paklek kaget.
"Iya paklek, ini surat keteranganya dari dokter kandungan di Klinik." Aku serahkan suat keterangan itu kepada Paklek.
"Sudah enam minggu?"
"Iya paklek. Tadi saya ke rumah Farhan, dia mengusir saya. Farhan, Ibunya dan Santi mengusir kami dari rumahnya! Bagaimana paklek. Bagaimana nasib anak saya di dalam kandungan ini??? Huuuuhuuuu..."
"Ya bagaimana lagi? Kamukan sudah hamil. Ya sudah, kita bisa ke rumah Farhan sekarang. Saya mau ganti baju dulu."
"Iya Paklek." Ucapku. Paklek ke dalam rumah.
"Yesss...akhirnya, mudah-mudahan aku bisa menikah dengan Farhan."Aku bicara sendiri.
Kemudian Paklek dan kami berdua naik mobil ke rumah Farhan. Kami turun dari mobil dan berjalan bertiga ke halaman rumah Farhan.
"Assalamualaikum." Kami menunggu berdiri di teras.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Pintu terbuka, dan Zahra yang membukakannya.
__ADS_1
"Eh Paklek. Masuk paklek," Sahutnya dan kami bertiga masuk ke dalam rumah.
Kami duduk di kursi ruang tamu. Pakek duduk sendiri dan aku bersama Jono di bangku yang untuk dua orang.
Farhan dan Zahra keluar dari kamar.
"Eh paklek, apakabar?" tanya Farhan dan dia mencium tangan paklek. Zahra juga melakukan hal yang sama.
"Baik, duduklah," ucap paklek. Mereka berdua duduk di samping kanan depan Paklek.
"Begini Farhan dan Zahra. Dona dan kawannya ini datang ke rumah tadi, dan dia menyatakan HAMIL dan dia sudah memberikan surat keterangan dokternya ke paklek. Menurut Paklek, sesuai dengan janji paklek kepadanya, kamu harus menikahinya." ucap paklek.
"Begini paklek. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada paklek yang jauh-jauh datang ke sini. Dona juga sudah datang ke sini dan menyerahkan surat yang sama kepada kami. Tapi ada beberapa hal yang perlu paklek ketahui."
"Apa itu?" tanya paklek yang penasaran.
"Begini paklek, saya punya dua bukti video bahwa Dona telah selingkuh dengan Basuki, suami Santi!" ucap Farhan dengan lugasnya.
"Hah, jangan bicara gitu Han, kalau kamu tidak punya bukti yang kuat!" ucap paklek.
"Ini Paklek bisa liat sendiri." Paklek akhirnya menonton video yang ada di HPnya.
'Waduh bisa gawat nih, Gagal lagi usaha gue!'
"Ini kamu beneran jalan sama Basuki dan kamu berhubungan dengan Basuki?" tanya paklek.
"Hm, begini paklek, saya memang jalan dengan mas Basuki, karena mas Basuki sudah menggoda saya, dan kami tidak pernah melakukan apa-apa dengan mas Basuki kok, cuma jalan saja," ucapku meyakinkan paklek.
"Ya, tapi kamu berarti memang penggoda dan sengaja menghancurkan keluarga ini!!
Maksud kamu apa?? Sudah tidak bisa menggoda Farhan sekarang kamu jalan lagi dengan Basuki!! Mau mengadu domba keluarga ini atau apa? Jawab!!"
"Saya kan tadi sudah menjelaskan. Kalau sama Basuki itu saya digoda oleh Basuki, bukan karena saya ingin menghancurkan keluarga mereka. Sayakan perempuan, tak pernah merasa menggoda Basuki, Paklek," Jelasku.
"Hm, Tapi kalau ada hal seperti ini, Paklek rasa nggak bisa lagi kamu menuntut Farhan untuk bertanggungjawab. Karena kamu telah menjalin hubungan juga dengan Basuki. Kalau kamu pernah Melakukan hubungan dengan basuki juga, jadi nggak tau siapa yang harus bertanggung-jawab!"
"Ya nggak bisa begitu dong Paklek, saya dan Basuki tak pernah melakukan apa-apa," jawabku.
"Paklek kayaknya harus melihat dulu deh Video yang ini." ucap Farhan menyerahkan HP nya dan memperlihatkan Video yang lain.
Paklek menonton juga videonya yang berdurasi 10 menit.
"Astaga Dona, kamu berdua dari hotel dengan Basuki?" tanya Paklek.
"Eh, hm, tidak paklek, Basuki baru saja sampai kok waktu itu dan kami langsung pergi dengan mobil untuk sarapan." Aku menjelaskan kepada Paklek.
......
......
BERSAMBUNG
__ADS_1