KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
PECAHKAN GELAS!!


__ADS_3

BAB 14.


POV AZZAHRA


"Halah kamu itu sok sok an ajah!"


"Emang sok-sok an apa?"


"Kamu itu buang-buang duit aja, Farhan kan belum panen!" Aku diam saja, males untuk melawan ibu.


"Ya sudah, sana buat Teh Panas buat Ibu dan Dona!"


"Iya bu...!" Kemudian kupergi ke dalam dapur dan membuat Teh Panas buat Ibu dan Dona.


TOK


TOK


TOK


"Bu, ini teh nya sudah jadi!" Ibu keluar dan mengambil teh nya dari tanganku. Ibu kurang memegang kuat tatakan gelasnya sehingga jatuh dan pecah.


PRAAANK


"Astaghfirullah!" teriakku


"Aduhh Panaaassss..!!" Teriak Ibu. Dan Ibu kangsung ke dalam kamar dan meletakkan gelas satunya diatas meja. Dia kemudian duduk dan mengelus-elus kakinya yang panas.


"Ibu Kenapa?!!" teriak Dona dari dalam kamar dan menghampiri ibu yang sedang duduk di duduk di kursi. Mas Farhan langsung masuk ke dalam dan mendatangi kami.


"Ada apa Ibu???"


"Ini mas...Gelas teh nya pecah!"


"Astaga..Kok bisa pecah?" Mas Farhan kaget.


"Hmm...Aku kasih ke Ibu Gelas tehnya dan nggak tau kenapa bisa pecah, mungkin ibu kurang kurang kencang pegangnya" ucapku.


Aku langsung ke dapur mengambil kain pel dan serokan sampah serta sapu.Dan aku balik ke kamar, Mas Farhan sedang memegang kaki ibu yang katanya panas. Aku mengambil pecahan kaca yang besar-besar dan menyapu pecahan-pecahan gelas beling itu dan memasukkannya ke dalam serokan sampah.


"ZAHRA kamu gimana sih? Ngasih ajah nggak becus!"


"Maaf Bu! Ibu nggak megang dengan kencang tadi."


"Sakit ini kaki Ibu ketiban gelas dan kena air panas tau!!" sahut Dona. Aku diam saja.


"Kamu tuh bisa kerja nggak sih??!!" Dona menamparku.


PLAAKK


"Heh Dona!! Jangan sembarangan menuduh kamu!!" Mas Farhan berdiri dan mendorong pundak Dona.


"Sakit dek?" tanyanya lagi.


"Nggak mas, " jawabku sambil memegang pipiku yang ditampar oleh Dona.

__ADS_1


"Kamu itu mas! Bukannya membelaku karena Ibu sakit!"


"Heh kamu!!Kamu nggak berhak menampar istri saya, sekarang kamu bereskan bajumu!! PERGI kamu dari rumah ini!!"


"FARHAN!! Jangan usir dona dari rumah Ibu!!" teriak Ibu.


"Dia sudah tiga hari disini, dan menampar istrku bu...!"


"Emang ZAHRA Pantas mendapatkan tamparan itu...Dona  hanya membela Ibu! Dan dona adalah tamu Ibu!!"


"Membela? Dia hanya mencari kesempatan saja bisa menganiaya ZAHRA bu..!"


"DIAM KAMU!!!!!" Ibu membentak mas Farhan. Aku menatap Ibu dengan tajam. Ibu menantang tatapanku.


"Udah mas, gak usah diperpanjang. Ibu aku minta maaf, aku memang yang salah.."sahutku.


"Kamu itu, gak bisa kerja!! GAK BECUS!! Udah mandul gak berguna di rumah ini!!"


"Sudah sayang, kita keluar saja!" Aku menatap Dona dengan tajam. Aku tunjuk mukanya.


"Belum selesai urusanku denganmu!! Aku Hajar kamu nanti!!" Dia ketakutan dan mendekat ke arah ibu.


"Ibu...Zahra mengancamku tuh bu...!"


"ZAHRA...Awas kamu kalau ngapa-ngapain Dona! Kamu akan berhadapan dengan Ibu!!" balas Ibu. Kemudian aku bawa serokan sampah yang penuh dengan beling kaca gelas. Aku buang semua sampah gelas yang pecah. Dan mengepel semua lantai yang basah. Untung tidak pakai gula jadi tidak lengket. Mas Farhan menunggu ku sampai selesai. Dan kami berjalan ke dalam kamar kembali.


Setelah itu kami tutup pintunya. Aku duduk di tepi ranjang.


"Sayang, kamu yang sabar, jangan tanggapi omongan Dona!!"


"Iya dia menyulut saja, jangan ditanggapi."


"Iya mas. Kalau Ibu ketiban gelas, gelas nggak akan pecah mas!" Dia mikir.


"Iya juga sih..Kalau itu kan tadi pecah, ya?"


"Iya, dan Ibu nggak teriak sakit karena memang jauh dari gelas itupecah!"


"Dan kalau dekat juga sih memang Ibu pasti kena banyak, ya? Dan akan sakit ketiban geas yang besar kayak gitu..."


"Iya mas, itu kan jatuhnya nggak langsung kebawah tapi kesamping dan Ibu sempat menjauh ke belakang"


"Emang dona aja kalau begitu yang ikut-ikutan!"


"Iya mas, makanya jangan melerai aku kalau aku berantem dengannya!"


"Hahaha, kamu emang gemes ya, sayang?"


"Iya mas, dia itu emang belum pernah kena tamparan aku!"


"Hus jangan begitu, kalau kamu balas, berarti sama saja kamu dengan mereka!"


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," Jawab kami dari dalam kamar.

__ADS_1


Ternyata suara dari mbak Santi yang datang dan dia langsung ke kamar ibu. Kami terdiam dan Mas Farhan naik ke atas ranjang dan aku masih duduk di pinggir ranjang. Dia mengambil tangan kiriku dan mencium punggung tanganku.


"Sayang...Aku sayang kamu!"


"Aku juga sayang kamu mas. Oh iya, berarti panen butuh seminggu lagi ya mas?"


"Ya semingguan lebih sayang!"


"Hm, aku sudah tak sabar mas untuk beli HP dan menulis lagi."


"ZAHRA!!"


DOR DOR DOR


Pintu digedor oleh Mbak Santi. Aku berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.


"Ya mbak. ada apa?" jawabku.


"Sini kamu!" Dia menarikku keluar dari kamar.


"Adduuhh...Kenapa mbak?!" Tanganku ditariknya dengan keras.


"Kamu ngapain bisa membuat Ibu sampe melepuh kakinya?!!!"


"Hah, melepuh???" Aku sampai heran.


'Perasaan kaki ibu tadi baik-baik saja!'


"Iya, itu kaki ibu diperban gitu, katanya melepuh kena air panas!" bentak Santi.


"Iya tadi Ibu pas aku kasih gelas isi teh panas, gelasnya jatuh dan pecah di lantai. Tapi ibu tadi gak papa kok kakinya!"


"Liat ajah sana ke kamar Ibu! Kakinya sampai diperban gitu!"


"Kenapa lagi sih mbak??!" sahut Farhan.


"Ini lagi suaminya nggak becus urus istrinya!" sahut Santi balik.


"Apanya yang ngggak becus???" Farhan sewot.


"Itu kenapa Ibu bisa kenapa air panas, sampai kakinya melepuh gitu!" Mata Santi melotot ke Farhan.


"Hah, melepuh? Wong tadi aku liat abis kejadian itu, kaki ibu gak kenapa-kenapa kok?" jawab Farhan.


"Itu liat, didalam kamar, kakinya diperban gitu!" omel Santi.


"Ah masa sih?" Mas Farhan berjalan ke dalam kamar Ibu.


"Ibu kenapa kakinya? Kok diperban?" tanya suamiku. Ibu diam saja.


"Kaki ibu melepuh mas! Jadi tadi olesin salep terus di perban!" sahut Dona.


....


....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2