
Bab. 58..
Mereka semua menengok ke arah suara itu. Santi tampak ada diambang Pintu dan masuk mendekat ke meja.
"Kamu siapa?" Tanya Yanti.
"Aku Santi dan Aku adalah istri pertama mas Basuki! Kami semua sudah dibuat susah oleh Dona dan Basuki! Aku sudah diduakan dan Dona sebagai Pelakor yang tak mempedulikan aku yang dulu sebagai sahabatnya!! Sekarang kalau boleh, uang ini untuk kami membeli tempat tinggal baru dan untuk menyambung hidup kami!" ucap Santi.
"Baiklah, Ini ambillah uangnya. Uang ini tak seberapa bila dibandingkan dengan Penderitaan kalian. Uang dua ratus lima puluh juta ini mungkin tidak cukup untuk menggantikan semua hal jahat yang sudah dilakukan oleh Mbak Dona kepada keluarga Kalian!"
"Maafkan Kakakku Mbak Santi."
Dia memeluk Santi dan berjalan meninggalkan tas berisi dua ratus lima puluh juta yang ada di meja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kami terdiam. Dan Yanti langsung berjalan dan memasuki mobilnya kemudian pergi.
"Santi, ambillah uangnya. Kan sudah diberikan ke kamu." Ucap Farhan..
"Han, anggaplah uang ini sebagai uang ku membeli tanah bapak yang di dekat mesjid. Aku akan membangun rumah kecil dan aku akan hidup dengan anakku disana."
"Jadi maksudmu kamu akan bangun rumah disana?" tanya Farhan.
"Iya Han. Ini uang dua ratus lima puluh juta akan aku bagi. Harga tanahnya berapa mau dilepas han?" tanyanya.
"Ya harga jual waktu itu anggaplah seratus lima puluh juta."
"Kalau begitu bagaimana pembagiannya, Han?" tanya Santi.
"Begini saja. Seratus lima puluh juta bagilah tiga. Masing-masing limapuluh juta rupiah. Sisanya seratus juta lagi, kamu buat bangun rumah. Bagaimana bu?" tanya Farhan.
"Iya boleh, jadi tanah itu otomatis punya Santi?" tanya Ibu.
"Iya bu. Jadi aku dan Ibu dapat masing-masing lima puluh juta dan seratus juta sisanya biarlah untuk Santi membangun rumahnya?" tanya Farhan.
"Hmmm...Baiklah, boleh Santi!" Ibu menyalami aku dan Santi.
Selesai sudah urusan ini, tapi kami harus selalu waspada terhadap pemasalahan Dona.
Besok paginya, Santi langsung mencari tukang untuk memulai pembangunan rumahnya diatas tanah warisan bapak Santi dan Farhan. Farhan membantu dalam pembangunan rumahnya Santi yang sederhana.
Minggu depannya Farhan dan Zahra datang ke Pengadilan untuk menghadiri sidang Tuntutan terhadap Dona dan Basuki. Mereka pulang setelah tiga jam sidang, mereka lelah dengan masalah Dona. Yanti pun datang ke sidang bersama Pengacara nya yang bernama pak Joko.
Sesampainya di rumah, kami beristirahat. Malam hari nya Yanti datang ke rumah dan kebetulan kami sedang makan malam. Yantipun ikut makan malam bersama kami. Sesudah itu kami berkumpul di ruang tamu dan kami berbicang-bincang masalah persidangan.
"Jadi menurut saya persidangan harus tetap berjalan. Saya sebagai adiknya sangat sedih melihat kenyataan ini. Oh iya, katanya mbak Santi lagi bangun rumah?" tanya Yanti.
"Iya mbak Yanti, Dia tak mau tinggal di rumah yang pernah punya kenangan buruk terhadap keluarganya," ucap Zahra.
"Saya juga salut dengan kalian berdua. Kalian sudah difitnah oleh kakak saya tapi kalian masih bisa mempertahankan biduk rumah tangga!" ucap Yanti ke Zahra.
__ADS_1
"Saya hanya salut kepada suami saya. Dia sangat setia, walaupun Dona menggodanya, bahkan sudah dijebak di hotel!" Zahra memandang Farhan dengan rasa cinta yang mendalam.
"Ah kamu sayang. Aku kan laki-laki. Yang dipegang dari seorang laki-laki adalah omongannya. Kalau dari omongan dan tingkah lakunya berbeda, berarti laki-laki itu tdak bertanggung-jawab!" jawab Farhan dengan tegas.
"Ya, kalian sudah berhasil melalui banyak masalah. Tapi memang kalau kita selalu bergandengan-tangan akan memberikan hasil yang baik dan bisa menghalau semua ujian dan cobaan hidup!" ucap Yanti.
"Hm, kamu sendiri sudah menikah Yanti?" tanya Zahra.
"Saya belum menikah Mbak Zahra. Aku dan mbak Dona beda lima tahun dan saya sekarang yang mengurus bisnis keluarga. Jadi aku tak punya waktu untuk urusan menikah," cerita Yanti.
"Hm, ya kalau sudah cukup usia, kenapa tidak menikah saja Yanti?" tanya Zahra.
"Inginnya sih mbak, tapi saya juga masih fokus dengan pekerjaan saya. Bapak sudah tidak bisa mengurus karena sudah sering sakit-sakitan."
"Ya Semoga bapak segera sehat kembali!" Ucap Farhan
"Aamiin."
"Ya sudah mas Farhan, Ibu dan mbak Zahra, saya mau pamit dulu. Oh iya ini bantuan saya untuk menambah biaya bangun rumah Santi," ucap Yanti memberikan uang dalam amplop coklat kepada Farhan.
"Maaf mbak kayaknya mbak harus memberikannya langsung kepada Santi saja."
"Ya berikanlah kepada Santi. Ini saya Lilahita'ala," ucapnya lagi.
"Ya sudah, saya terima ya mbak, semoga rejeki mbak Yanti diluaskan oleh Allah."
"Aamiin..." Yanti mengusap wajahnya.
"Saya pamit dulu ya mbak Zahra, Mas Farhan, Ibu. Saya mau pulang dulu."
Setelah bersalaman dengan kami, dia pulang dengan mobilnya.
Kami masuk kembali ke dalam rumah. Amplopnya disimpan oleh Farhan dan Zahra.
"Sayang, Yanti baik sekali ya? Beda dengan Dona!"
"Bukan beda sayang, sebenernya mereka sama saja. Suka membantu orang lain, cuma kita juga belum tahu maksud dari Yanti atas semua ini. Pokoknya aku nggak mau mencabut tuntutan ke Dona!" Ucap Farhan.
"Ya mas. Mudah-mudahan Yanti memang suka menolong tanpa pamrih," balas Zahra.
Besoknya kami berdua setelah makan pagi dan mandi, berangkat ke klinik untuk mengantar Bulan Imunisasi. Disana kami menunggu panggilan setelah didaftarkan.
"Anak Bulan..!" Panggil suster.
"Iya..." Jawab kami.
Kamipun masuk ke dalam ruangan dokter dan Bulan diimunisasi. Setelah itu diberikan obat penurun panas kalau Bulan nanti anget atau panas badannya setelah imunisasi. Kamipun pulang.
Di rumah kami kedatangan tamu, Paklek dan Bulek. Mereka mau melihat cucu nya, Bulan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
"Eh ada paklek dan bulek," ucapku. Kami bersalaman dan Zahra masuk ke dalamkamar bersama Bulan setelah bersalaman dengan Paklek dan Bulek. Bulek masuk bersama Zahra ke kamar.
"Abis darimana, Han?" Tanya Paklek.
"Dari Imunisasi Bulan Paklek," Jawabku.
"Oh Imunisasi. Eh iya, bagaimana dengan persidanganmu kemarin?" tanya Paklek.
"Ya lancar paklek. Nanti juga paklek akan dipanggil untuk menjadi saksi."
"Ya sudah, kami tunggu saja undangannya dari pengadilan," ucap Paklek.
"Iya paklek."
"Oh iya, aku dengar dari Ibumu, Santi lagi bikin rumah, ya?" tanya Paklek.
"Iya paklek, dia bangun rumah di tanah warisan Bapak di dekat mesjid itu!" jawab Farhan.
"Oh yang katanya dulu dijual oleh Ibumu!" ucap Paklek.
Ibu senyum saja.
"Iya, sekarang sudah mulai pasang pondasi paklek."
"Ya baguslah, jadinya kan Santi punya rumah sendiri. Dan kamu juga sudah mendapatkan haknya!" ucap Paklek.
"Iya Paklek. Sudah sarapan belum paklek?" tanya Farhan.
"Sudah Farhan, sudahlah jangan repot-repot. Kami sudah sarapan kok!" Jawab Paklek.
"Ya sudah kalau memang Paklek dan Bulek sudah makan."
Kemudian Farhan dan Paklek ke tanah yang sedang dibangun rumah untuk Santi. Sekaligus uang yang diberikan Yanti untuk pembangunan rumah Santi dibawa olehnya. Kami bertemu dengan Santi disana. Dia sedang menyiapkan makanan untuk tukang yang mengerjakan rumahnya. Dia juga akhirnya pindah berdagangnya kesana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh Paklek, kapan datang?" tanya Santi.
"Tadi aku dan bulek ke rumah dulu. Gimana rumahnya semoga membawa rejeki ya Santi."
"Amiin Paklek. Mudah-mudahan kehidupan ku dengan anakku nanti bisa tenang."
"Aamiin."
"Paklek nggak bisa bantu apa-apa ya Santi," ucap Paklek.
"Iya paklek. Alhamdulillah uang kami sudah cukup paklek," balas Santi.
.....
.....
__ADS_1
BERSAMBUNG