
BAB 60.
"Ini anak kamu Zahra? Masya Allah, cantiknya anak ini. Siapa namanya sayang?" tanya Uwa ke Bulan. Bulan memajukan tangan kirinya dan terkekeh.
"Ish lucunya kamu ya. Sini digendong sama Enin," Ucapnya. Dan Bulan diambil dan digendong dari gendongan ibu mertuanya Zahra.
"Namanya Bulan, ya? Kamu cantk amat sih?" ucap Uwa sambil menciuminya.
Bulan langsung mau menangis dan minta digendong oleh neneknya karena baru sekali ketemu dengan uwanya.
"Nia, kamu buatkan minum dulu buat tamunya," ucap Uwa.
"Tidak usah repot-repot uwa," ucap Zahra. Kami duduk di kursi dan Nia mengambillkan minum ke dalam.
"Uwa, listrik dan air di rumah hidup, kan?" tanya Zahra.
"Hidup kok, kalau Listrik tinggal beli token saja, kalau air, nggak mati kok," jawab uwa dan memberikan Bulan kepada neneknya.
"Ya sudah kalau gitu, aku beli token dulu, aku ke rumah dulu ya mau liat ID pelanggannya," ucap Farhan.
"Iya Pa, nanti abis itu, kamu beli perlengkapan di warung pojok situ. Sapu, kain pel, beli karpet dan bantal guling kalau ada!" ucap Zahra.
"Emang ada dimana tokonya?" tanya Farhan.
"Ada Pa, jalan dari rumah ke ujung jalan, nggak jauh kok. Nanti beli sapu lidi, dan perlengkapan lain deh!" ucap Zahra.
"Iya aku ke sana dulu ya, kamu disini saja!" sahut Farhan yang langsung berdiri.
"Iya mas." Kemudian Farhan pergi keluar rumah.
"Zahra, kamu udah berapa lama ya baru punya anak??" tanya Uwa.
"Ya sekitar tiga tahun uwa. Ya maklum kami kan di desa tak tahu banyak mengenai kesehatan. Itu juga setelah dibantu pijit sama tetangga baru deh aku hamil."
"Oh terapi pijit dulu?" tanya Uwa.
"Iya Uwa, waktu itu ada kendala di mas Farhan, katanya sih kurang joss, hahaha, aku nggak ngerti uwa," jelas Zahra. Karena memang Zahra tak pernah tau dan tak mau mencari kendala yang terjadi. Cukup mahal apabila mereka ke dokter untuk mengecek kesehatan masing-masing.
"Ya memang begitu. Biasanya malah perempuan yag banyak disalahkan. Tidak suburlah, mandullah, emang orang-orang mah nggak tau yang kita alami. Waktu uwa dulu juga begitu, anak pertama uwa sekitar dua tahun lebih baru uwa hamil. Tapi banyak tetangga yang selalu bilang kalau uwa mandullah apalah, sebel kalau dengar orang yang suka ikut campur!" cerita sang Uwa.
Aku melirik ke Ibu yang sengaja membuang mukanya menengok ke arah lain. Mungkin dia merasa bersalah telah mengejekku dan mengecap aku dulu mandul. Tapi dia malu sekali setelah tau aku hamil.
Farhan datang untuk menjemput Zahra dan mereka pamit dan Nia ikut ke rumah untuk membantu membersihkan rumah. Setelah magrib kami sudah bisa istirahat karena semua sudah dibersihkan.
"Nia, disini ada yang bisa renovasi rumah tidak?" tanya Zahra.
"Ada Teh, kalau mau bisa dipanggil kok sekarang. Namanya mang Jajang."
__ADS_1
"Ya sudah, nanti bisa dibantu sama suamiku juga biar cepat,," ucap Zahra.
"Oh ya kalau begitu saya panggilkan ya teh."
"Iya boleh Nia."
Eni keluar rumah untuk memanggilkan mang Jajang. Mas Farhan sedang merokok dan minum kopi di luar teras. Zahra berjalan ke teras.
"Pa, apa nggak kita sebaiknya beli magicom dan kompor gas?" tanyaku.
"Iya juga boleh ma, kita kan lama disini, jadi harus punya itu, beli yang satu tungku saja buat masak air panas dan goreng-goreng. Daripada makan beli diluar ma," ucap Farhan yang kemudian berdiri.
"Kamu yang mau beli? Kita saja yuk, sambil jalan toko alat-alat rumah tangga. Tapi agak jauh, kita bisa naik becak," ucap Zahra.
"Loh bukannya mama lagi tunggu mang Jajang?" tanya Farhan.
"Iya, kalau sudah selesai urusannya dengan mang Jajang. Sekalian kita beli makan malam untuk Ibu."
"Iya mama sayang." Dia merangkul Zahra masuk ke dalam rumah.
Dibelahan bumi yang lain di sebuah ruangan berjeruji besi, tampak Dona yang sedang duduk termenung. Makan malamnya tak disentuh karena sedang ingat masalahnya yang lalu-lalu. Penyesalan mewarnai hatinya. Kadang dia menangis sendiri tanpa dia sadari. Teman satu selnya sering menghibur nya. Dia satu sel dengan dua orang tahanan lagi.
Keseharian dona di penjara kalau siang hari banyak kegiatan dengan menjahit, dan membuat kerajinan. Dona makin lama makin mahir menjahit pakaian dan dia sudah mulai bisa membuat pola pakaian.
"Kamu kenapa, Bas?" tanya teman satu sel nya.
"Saya masih mau merencanakan balas dendamku kepada orang yang memenjarakanku! Gara-gara dia saya sekarang mendekam di penjara!" ucapnya geram.
"Sudahlah Basuki, jangan jadi dendam di hatimu. Kamu sedang menjalani tahanan ini karena kelakuanmu juga, jadi kamu harusnya sadar dan seharusnya jadi pelajaran penting buat hidupmu!" balas temannya.
"Ya tapi, aku kan tidak melakukan apa-apa terhadap mereka?" ucapnya.
"Ya sudah, kamu sekarang harus lebih mendekatkan dirimu kepada Allah! Kamu ini sudah menduakan istrimu malah mau menculik anak lagi!"
"Iya tapi aku kan belum melakukannya!" ucapnya dengan nada kesal.
"Sudahlah, pokoknya kamu harus ikut denganku besok! Kita ke mushola membersihkan dan merapikan mushola!" ucap Bento yang kemudian berdiri dan berjalan ke ranjang besinya.
Basuki datang mendekat ke ranjang Bento.
"Ayolah bento, nanti kalau kita sudah bebas kamu bantuin aku ya membalaskan dendamku kepada mereka!" Basuki duduk di ranjangnya.
"Tidak mau! Enak saja, aku tidak mau masuk penjara lagi. Ini saja aku sudah salah dan merasa berdosa dengan Istri dan anakku!" ucap bento yang langsung mengalihkan wajahnya ke atas.
__ADS_1
"Masa kamu tidak mau Bento? Aku akan kasih kamu uang yang banyak. Istriku yang kedua ini banyak uangnya, jadi tenang saja!" rayu Basuki kepada Bento.
"Kamu ini Basuki..Basuki...Pokoknya tidak! Kamu yang harus mendekatkan diri kepada Allah!" bentakBento.
"Tak mau! Aku masih harus membalaskan dendamku kepada mereka! Mereka harus mati!!" ucap Basuki dengan mengepalkan tangannya.
*
Sementara di rumah Zahra di Bandung.
"Jadi mang Jajang besok bisa ya mulai renovasi rumah. Jadi diganti dulu kayu-kayu yang keropos di atap dan ganti plafondnya juga, setelah itu cat rumah. Kamar mandi juga diganti keramik dan klosetnya," ucap Zahra.
"Baik bu, supaya cepat saya akan bawa tukang satu lagi. Nanti dibantu sama suami ibu kan?" tanya mang Jajang.
"Iya mang jajang, suami saya tapi tidak bisa full, kalau memang bisa cepat selesai lebih baik mang jajang tambah kenek 1 orang."
"Baiklah bu, besok pagi kami ke sini." Kemudian maang Jajang pamit pulang. Farhan dan Zahra bersiap ke pasar untuk membeli beberapa peralatan masak dan magcom.
"Ibu mau ikut nggak ke Pasar?" tanya Zahra.
"Mau dong, enak disini ya udaranya dingin. Ibu jadi pakai baju panjang terus. Hii..Dingin..." Ucap Ibu yang masih menggendong Bulan.
"Ya sudah yuk. Nanti bulan juga dipakaikan jaket karena nanti kena angin malam."
"Iya, Zahra."
Sekeluarga naik becak dengan dua becak. Sesampainya di pasar mereka langsung membeli beberapa barang yang mereka butuhkan. Setelah itu mereka makan malam di pujasera.
Sesudah itu mereka pulang ke rumah dan beristrahat.
Esok paginya mang jajang dan dua orang tukang lainnya mulai bekerja, Farhan membeli kebutuhan di matrial untuk bahan-bahan renovasi rumah. Sedangkan Zahra mulai memasak nasi dan beberapa lauk untuk makan siang mereka dan tukang-tukang.
Tiba-tiba ada sapaan dari luar rumah pada saat Zahra sedang masak didapur.
"Assalamualaikum. Punteun...Punteun..." Sapa seseorang yang berdiri di depan pintu rumah.
"Waalaikumsalam," Jawab Ibu.
"Eh Yahya, masuk!" Ucap Zahra.
“Iya Zahra.”
.......................
.......................
BERSAMBUNG
__ADS_1