
Bab 42.
POV FARHAN
"Heh, Farhan. Aku ini wanita yang terhormat dan terpelajar. Aku tidak bisa sembarangan disentuh oleh laki-laki manapun. Kamu sudah menggagahiku dan menodaiku seakan kamu sendiri tidak melakukannya! Ingat aku punya bukti foto itu!" ancamnya dengan wajah sinis dan mengintimidasi.
"Ya kalau kamu merasa wanita terhormat, kenapa kamu mau sama aku? Kan banyak Pria kaya dan berpendidikan? Aneh cara berpikirmu!" bantahku geram
"Aku cuma pria biasa, dan sudah beristri lagi? Kamu warasa atau tidak sih?" ucapku lagi.
"Awas kalau kamu tidak bertanggung jawab, suruhanku akan segera membuangmu ke laut!!" Ancamnya dengan penuh intimidasi.
"Ohhh...Aku gak takut! Kamu bisa begitu tapi ini negara hukum. Dan sebelum kamu melakukan itu, aku sudah melaporkan kamu ke polisi. Kalau kamu masih ngotot kalau kamu memang benar, ayo kita saling melaporkan ke polisi!" bentakku sambil kuarahkan jari telunjuk ke arahnya.
"Awas kamu kalu berYunis melaporkan aku ke Polisi!!" Ancamnya dan mereka semua pergi setelah Dona memberikan kode kepada kedua orang suruhannya itu untuk ikut dengan dia. Kami duduk kembali.
"Mas, minum dulu kopinya, sayang," ucap istriku.
"Kesel amat sama ulahnya dia, lama-lama darting juga aku sayang."
"Hahahaha, jangan dong mas, kamu kan suamiku satu-satunya yang paing aku sayang." ucap istriku yang sangat cantik sekali pagi ini.
"Sayang, aku mau mandi, mandiin ya..." rayuku.
"Iya mas, nanti aku mandikan supaya kamu tidak pergunakan tangan kanannya," balas istriku.
"Ya sudah yuk kita mandi. Biar adem nih kepala!" sahutku. Aku berjalan ke kamar mandi duluan, sementara Zahra ke kamar mengambil pakaian gantiku. Kami akhirnya mandi bersama pagi itu. Selesai mandi kami ke teras. Kami sama-sama membuka HP kami masing-masing.
"Sayang, nanti sore kita ke dokter kandungan ya," ucapku.
"Hm boleh mas, yang dimana tempatnya?" tanyanya.
"Itu loh di jalan raya, mentok belok kiri kan ada klinik bersalin disana, ada dokter kandungan dan bidan juga disana," Jawabku.
"Hm, deket dengan salon itu?" tanya Zahra.
"Iya sayang, kan disana udah lama klinik bersalinnya, dan bagus kok."
"Ada dokter perempuan nggak, mas?" tanya istriku.
"Ada dua kalau nggak salah," ucapku.
"Hm, boleh, tapi jam berapa?"
"Biasanya sih alau gak pagi ya sore, kita abis Ashar aja ke sana nya."
"Iya mas, nanti kita kesana, dan minta USG nya juga mas," ucap nya.
"Iya pengen lihat perkembangan nya," jawabku.
Selepas Sholat Ashar kami berangkat ke Klinik Bersalin TETA yang ada di jalan raya dengan naik becak. Sesampainya di sana, kami langsung menuju ke tempat pendaftaran dan mengisi formulir pendaftaran. Kebetulan dokter kandungannya sudah ada, dan kami harus menunggu empat antrian lagi.
Giliran kami masuk.
"Ibu Azzahra."
"Iya." Kami langsung menuju ke ruangan dokernya.
"Selamat Sore Bu, Pak. Gimana? Apa yang bisa saya bantu?" tanya dokternya.
"Begini dokter, Istri saya hamil baru dua minggu telat, dan sudah kami test dengan testpack saja, hasilnya positif dokter."
"Ya sudah, kita langsung periksa saja pak. Mari Ibu naik ke tempat tidurnya dan dibantu sama suster."ucap dokter. Zahra naik ke atas Brankar dan aku disuruh melihat ke laayar untuk melihat hasil USGnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Pak, Bu, Ini letak janinnya, sebentar...Oh sudah masuk enam minggu ya pak, bu," ucap dokternya.
"Baik dokter." jawabku.
Setelah itu kami berdua duduk lagi dan dokternya memberikan resep vitamin dan memberikan foto hasil USGnya.
Kami pulang setelah membeli obat dan membayar semua biaya pengobatannya.
Kami naik becak kembali ke rumah, sesampainya di rumah kami langsung melakukan sholat Magrib karena sudah adzan Magrib.
Setelah usai sholat, aku rebahan di kasur. Istriku juga duduk di pinggir dipan. Aku mengelus perutnya dan mencium perutnya.
"Dedek sehat ya, kamu lahir nanti dengan sehat dan selamat, normal semua sayang, Muaaahh."
"Mas senang, ya?" tanya istriku.
"Ya Bahagia sekali sayang, apa yang kita harapkan selama ini, Allah mendengar dan mewujudkannya."
"Alhamdulillah ya mas. Coba kita terapi ke Mak Hasnah dari lama." ucap Zahra.
"Hahahaha, ya namanya belum jodoh sayang, Kan Allah juga yang memberikan jalan supaya kita bisa punya anak. Kita harus jaga amanah Allah ini, sayang."
"Iya mas, aku akan makan yang banyak, minum vitamin dan sehat, supaya dedeknya juga sehat dan kuat, seperti bapaknya..Hahahaha." Istriku tertawa kecil.
"Iya sayang, dan cantik kayak Ibunya," ucapku.
"Kalau laki-laki bagaimana?" tanyanya lagi.
"Ya terima dong sayang, masa menolak."
"Aaaminn.."
Malam itu kami tak makan malam, tapi langsung istirahat.
Malamnya aku ingin pipis dan bangun ke kamar mandi. Pas melewati kamar ibu, ada suara mbak Santi menangis tersedu-sedu. Aku langsung ke kamar mandi karena sudah kebelet.
Setelah sholat Subuh berjamaah kami masih di kamar.
"Sayang, tadi malam waktu aku mau ke kamar mandi, ada suara mbak Santi menangis, kenapa ya?" ucapku.
"Hah, siapa? Mbak Santi?" tanya istriku heran.
"Iya, kenapa ya. Jam satu malam kayaknya, tapi kok kita nggak bangun ya sayang? Biasanya kita bangun kalau ada orang datang?" tanyaku.
"Mas kecapean dan aku kan mnum obat juga dari dokter, mungkin aku jadi rileks jadi nggak ada yang bangun."
"Ya sudah kita nanti tanya sama Ibu, mungkin mbak Santi juga nginap deh." ujarku.
"Ya mas. Mau di buatkan kopi hitam?"
"Boleh sayang, di teras ya." ucapku dan aku bangun dari kasur mengambil rokok dan HPku. Zahra ke dapur untuk membuatkan ku kopi hitam.
Tak berapa lama Zahra sudah membawa secangkir kopi panas.
"Mas ini kopinya."
"Iya sayang."
"Kayaknya mbak Santi ada di dalam kamar Ibu mas, tadi aku dengar ada yang ngobrol gitu di dalam kamar Ibu, suaranya gak begitu kedengeran mas."
"Ya sudah, kita tidak usah ikut campur urusan mereka, belaga cuek aja, sayang."
"Iya mas, mungkin ada masalah keluarga, dan kita memang gngak boleh ikut campur masalah keluarga kakakmu.!" ucap istriku.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku mau baca novelmu, ini tolong instalin Apikasi Novelnya." Hp kuberikan ke Zahra dan dia menginstallkan aplikasi Novelnya.
"Ini mas, mas bisa buka ini, dan ini novelku," ucapnya.
"Hah, Judulnya "KARENAMU....Ibu MERTUA??" Hahahaha, lucu ih. Tapi penasaran aku jadinya. apa sih yang kamu tullis dan ceritakan."
"Ya sebagian besar adalah pengalamanku disini mas, tapi ada juga yang fiksi, karena aku ikutin juga alur cerita yang diminati oleh Pembaca."
"Oh gitu, jadi kita juga harus mengikuti nya? Sebentar, aku akan lihat siapa nih Pemeran nya..."
"HAH....!!" aku kaget sekali melihat namanya.
"Hahahaha, kamu pasti kaget, namanya semua sama dengan pemeran utamanya, hihihihi," jawabku tertawa kecil.
"Wah parah kamu, namanya jangan Farhan dong, Ferry kek, atau Boni atau Joni gitu..hahahaha." aku tertawa geili.
"Ish biar keren, kali aja kita nanti dundang sama produser dan novelku nanti dijadikan Film atau Sinetron, kan bagus! Hahahaha." Zahra terlihat senang.
"Iya juga sih sayang. Aku doakan deh supaya kamu akan sukses nanti."
"Aaamiin," jawabnya.
Kemudian aku masuk ke dalam rumah dan ke dapur. Aku masak nasi dulu dan masak buat sarapan pagi. Kudengar Mbak Santi dan anaknya keluar dan ke kamar mandi, mereka lama disana. Pas lewat tadi juga tidak bicara apa-apa.
POV ZAHRA
Setelah mereka keluar kamar mandi, Mbak Santi berhenti dan melihat ke arahku.
"Zahra, kamu masak apa?" tanyanya dengan nada pelan.
"Ini mbak, masak telor dan goreng ikan, mbak mau request makanan?" tanyanku.
"Ah tidak kok. Mbak ke dalam dulu ya," ucapnya dengan ramah.
"Iya mbak, nanti kalau sudah selesai akan Zahra kasih tau," jawabku.
"Iya." Mereka masuk ke dalam rumah dan ke arah teras.
Aku melanjutkan masak dan tak lama semuanya selesai dan kusiapkan semua masakan di dia tas meja makan. Dan aku ke teras memanggil mereka.
"Mas, Mbak. Udah siap masakannya," ucapku.
"Gimana Han, bisa bantu nggak?" tanya Santi.
"Ah, aku nggak tau caranya menyelidikinya." jawab mas Farhan.
"Ya kamu ikutin aja kalau mas Basuki keluar rumah."
"Hm, aku kan nggak punya motor mbak. Dan lagi pula tanganku masih sakit begini!" jawab suamiku,
Aku diam diambang pintu dan mendengar pembicaraan mereka.
"Tolonglah Han, nanti aku pinjam motor deh ke tetangga. Aau kamu naik ojek, nyewa ojek kalau dia pergi, nanti aku akan telpon kamu!" ucapnya.
"Untuk apa? Kamu kan bisa buka HP dia dan kamu juga bisa cek dari HP. Kalau mau pasang saja GPS, kan bisa. Kamu pinjam motornya sebentar kalau sore dan pasang GPS deh di bengkel. Di Bengkel assesoris motor yang di depan ada kok kayaknya, lengkap!" ucap suamiku,
"Bagus juga idemu tuh, jadi aku bisa pantau alamatnya." seru mbak Santi.
"Iya, kan bisa alamatnya pantau lewat HP," balas suamiku.
"Ya udah mbak, Mas, yuk kita makan dulu, nanti kalau keburu dingin gak enak sayurnya." Ajakku.
.....
__ADS_1
.....
BERSAMBUNG