
Bab 61.
"Eh Ya, masuk Ja, maaf saya teruskan masak dulu. Kamu duduk dulu. Kenalkan ini mertuaku," ucap Zahra kepada temannya, Yahya yang datang ke rumahnya sendirian.
"Oh Ibu, saya Yahya." Mereka bersalaman.
"Ini anak siapa Zahra?" tanya Yahya.
"Oh ini anak abdi, Ya."
"Hm, cantik sekali. Kamu baru punya anak satu Zahra?" tanyanya.
"Iya Ya, baru diberikan satu oleh Allah. Aku tinggal sebentar ya, masih banyak yang aku harus kerjakan di dapur. Masak buat makan siang."
"Ya sudah aku pamit saja, nanti saja aku datang lagi. Kamu kan sedang sibuk!" Ucap Yahya.
"Ya sudah, maaf loh Ya!" ucap Zahra lagi.
"Iya teu naon-naon, Yuk ah Zahra...!" ucap nya lagi.
"Iya Ja , mangga."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Zahra berjalan lagi ke dapur meneruskan masaknya. Farhan datang dari dari matrial dan sempat berpas-pasan dengan Yahya yang keluar dari pintu pagar menuju ke arah yang berlawanan dengan dia.
"Siapa ya? Kok ada pemuda ganteng ke rumah?" ucap Farhan sendirian.
Kemudian dia masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bu, tadi siapa pemuda yang keluar dari rumah?" tanya Farhan yang masih di ambang pintu.
"Itu temannya Zahra, tadi datang udah ketemu Zahra, dia langsung pulang lagi. Zahra masih banyak kerjaan, mungkin dia nggak mau ganggu kali!" ucap Ibu.
"Hm ya sudah. Halo sayaangg...Iya sini sama Papa." Bulan digendong Farhan dan dia berjalan ke dapur.
"Ma, tadi ada orang dari sini siapa?" tanya Farhan penasaran.
"Oh,itu teman mama dulu sekolah, mungkin dia lewat terus liat rumah yang selama ini kosong sedang terbuka ada orangnya. Mungkin dia mau cek aja. Udah selesai di sana? Ada semua barangnya, Pa?" tanya Zahra.
"Hm...Ada ma, semua ada kok, tunggu mereka datang aja. Aku bantu mang Jajang dulu ya , Ma," ucap Farhan.
"Iya pa, mama masih lama masaknya."
"Iya." Kemudian Farhan menyerahkan Bulan ke Ibunya dan mengganti baju untuk membantu mang Jajang naik ke atas atap.
__ADS_1
Setelah masakan selesai, Farhan dan mang jajang beserta dengan tukang lainnya turun dan makan siang bersama diteras yang sudah diampar tikar oleh Zahra.
"Ayo mang Jajang, makannya sudah siap."
"Nuhun Neng, sok kita makanlah...!" ucap mang Jajang. Semua makan siang dan tak lupa Zahra membuatkan juga kopi hitam buat mereka.
"Mang Jajang merokok?" tanya Farhan.
"Iya uing ngudud mas!" jawabnya.
"Mang, kalau mencari tembakau disini dimana belinya?" tanya Farhan.
"Oh di pasar aya mas, ada dibagian depan kalau gak salah. Komplit di ditu mah, Mas!" Jawab mang Jajang.
"Iya deh, saya ke sana nanti sore, soalnya kalau di tempat dingin begini enaknya rokok tembakau Tingwe, Linting dewe," ucap Farhan.
"Iya emang enakan udud tembakau lintingan mas," jawab mang Jajang.
Setelah merokok bareng, Farhan sholat dzuhur bersama Zahra di kamar. Ibu menidurkan Bulan.
*
Tak terasa sudah satu minggu mereka disana. Rumah tinggal finishing saja seperti cat dan renovasi kamar mandi.
"Mang Jajang, nanti kalau sudah selesai dari sini, bisa pasang keramik di kijing makam Ibu dan bapak abdi?" ucap Zahra.
"Oh tiasa Neng, nanti sekalian saja belikan semen dan keramiknya."
"Baik mang Jajang."
"Waalaikumsalam."
"Eh Yahya, baru nongol lagi. Kamana wae?" tanya Zahra.
"Aya Zahra. Aduh kamu makin cantik aja Zahra!" Ucap Ja. Mereka bersalaman. Farhan yang sedang bermain dengan Bulan di ruang tamu langsung melihat ke arah teras dimana Zahra dan mang Jajang juga ada disana.
Farhan langsung berdiri menggendong Bulan.
"Ada siapa, Ma?" tanya Farhan.
"Oh, ini si Yahya, teman mama yang papa tanya kemarin?" ucap Zahra dengan tenang.
"Ya, kenalkan ini suami saya, Mas Farhan," ucap Zahra memperkenalkan suaminya ke Yahya.
"Oh yang waktu itu, Ma? Terima kasih ya sudah bilang istri saya cantik, tapi tidak sopan kang bilang ke istri orang lain!" ucap Farhan dengan nada ketus.
"Eh iya maap, saya tidak liat kalau akang aya di ditu..." Yahya misah misuh tak jelas karena malu.
"Kamu ada keperluan apa ke sini?" tanya Farhan lagi.
"Oh tidak ada apa-apa, mau silaturahmi saja. Zahra dulu teman SMA saya kang dan kami dulu dekat. Jadi ya saya hanya ingin bertemu dengan Zahra aja karena kemarin dia sedang masak, jadi saya pulang saja!" ucapnya dengan nada agak ketakutan.
__ADS_1
"Ya kalau silaturahmi ya masuk saja, karena tidak baik bicara dengan istri orang tanpa sepengetahuan suaminya! Diluar rumah lagi, nanti kalau keliatan sama tetangga akan jadi gunjingan!" ucap Farhan lagi dan menatap tajam ke arah Yahya.
"Ya sudah, saya pamit saja, masih ada keperluan, kang, mari Zahra aku pamit dulu," Ucap Yahya dan langsung pergi tanpa mengucap salam dan berjalan ke motor gedenya.
"Wah, itu temenmu nggak ada sopan santunnya, Ma!" ucap Farhan kesal.
"Udahlah Pa, dia malu tadi dikirain nggak ada kamu di dalam...Hihihihi...Papa cemburu ya?" tanya Zahra.
"Cemburu cemburu!...Yahya siapa mama sih?" tanyanya penasaran.
"Dia itu mantanku di SMA! Hihihihihi..." ucap Zahra sambil mencubit pipi Farhan dengan gemas.
"Ohhhh mantan pacar mama?? Pantes masih keganjenan kayak gitu sama mama!" Mukanya kesal.
"Sudahlah Pa, mamakan hanya punya papa seorang saja!" Ucap Zahra merayu dengan kerlingan matanya.
Mang Jajang tertawa melihat kecemburuan Farhan kepada Zahra.
"Mas, jangan cemburu, itu baru satu yang muncul, nanti pasti lebih banyak lagi. Soalnya dulu Neng Zahra ini juga banyak yang rebutin!" ucap Mang Jajang.
"Hah! Mama dulu banyak pacarnya, ya??" tanya Farhan.
"Ish bukan banyak pacar papa, aku sama si Yahya juga cuma empat bulan saja, karena orang tuanya suka mengancam gitu. Dan merekakan orang kaya dari dulu, jadi Yahya juga nggak setia. Ternyata dia juga banyak pacarnya!" Jelas Zahra.
"Oh pantas, kalau orang kaya ya begitu! Sombong dan silau dengan harta. Jadi suka menduakan hati orang! Kenapa mama mau sama dia??" tanya Farhan lagi tak terima istrinya didekati lagi oleh mantan pacar.
"Sudahlah Pa, mama kan hanya punya seorang papa saja..." Rayu Zahra lagi.
"Hhmmm...Jangan kelamaan deh ma disini! Nanti papa bisa stress kalau mama disini banyak yang datangin! Baru si Yahya kata mang Jajang belum yang lain!" Ucap Farhan dengan nada kesal.
"Hehehehe, mang Jajang jangan ngarang deh...Kan aku mah nggak tau mang Jajang kalau si Yahya
bakalan ke sini! Dulu memang banyak yang main ke rumah ini cowok-cowok. Tapi kan aku nggak tau kalau mereka itu suka sama aku. Aku cuma pacaran dengan Yahya saja abis itu aku nggak punya pacar lagi kok pa, mang Jajang!" Balas Zahra yang berusaha menjelaskan, Dia duduk di samping Ibu dan Bulan diserahkan kepada
Zahra dari Farhan.
"Bodo ahh! Papa cemburu sama mama!" ucap Farhan dengan penuh kekesalan.
Farhan akhirnya masuk ke dalam rumah untuk mandi setelah mang Jajang pulang kembali ke rumahnya bersama dengan tukang yang lain.
Sesudah mereka sholat Magrib berjamaah dan makan malam, mereka berdua duduk-duduk di luar sambil minum kopi.
Farhan merokok sambil bermain ponsel nya.
Ada mobil mewah berhenti di depan rumah dan turun seorang laki-laki dan seorang perempuan dari mobil itu.
Mereka masuk ke dalam halaman.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
"Zahra apa kabar?" tanya si cowok.
"Siapa ya?"