KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
SANTI IKUT-IKUTAN...!


__ADS_3

Bab 6.


POV AZZAHRA


Kami masuk ke dalam kamar dan Mas Farhan tiduran di atas ranjang. Aku duduk di samping badannya di pinggir ranjangnya.


"Sayang, gimana kejadiannya tadi? Aku bingung kok Ibu bisa jatuh?"


"Begini mas, aku kan tadi mau nyapu, dari dapur tadi aku sudah tau ibu keluar dari kamarnya. Terus aku bawa sapu ke depan, maksudku mau menyapu teras terus ke dalam. Nah pas aku lewat kamar, kok kamar terbuka pintunya sedikit. Aku intip, eh ternyata isi lemari sudah banyak yang berantakan di lantai, dan aku lihat ibu sedang berdiri diatas kursi kayu teras. Aku tarik dia untuk turun karena sedang mengambil koper besar itu tuh..." Aku menunjuk ke arah Tas koper yang aku naikkan lagi.


"Nah pas aku tarik, suruh turun karena kursi teras itu udah gak bener mas, makanya aku minta Ibu turun takut jatuh, aku megangin ibu juga sampai kaki kirinya udah di lantai. tapi ternyata tangan kanan Ibu sudah menarik tas koper, dan jatuh menimpa kepala Ibu. Tapi bisa dia tahan dan kemudian dia gak seimbang dan jatuh. Koper terlepas dan jatuh ke sebelah sana, untung gak meniban Ibu." Ceritaku kepada suamiku.


"Ibu jatuh ke belakang dan kepalanya membentur telapak kaki atasku tidak langsung ke lantai!" lanjutku.


"Hm, ibu kenapa bisa naik, sayang?" tanya suamiku.


"Kalau lihat isi lemari yang berantakan, aku kira sih ibu mencari surat tanah, mas!" jawabku serius.


"Hmmm...Untung aku sudah bawa ke rumah pak Anggoro..!" celetuk mas Farhan.


"Ibu kenapa sih, mas? Kok begitu banget dengan tanah itu. Pengen jual terus, maksa!"


"Iya begini sayang ceritanya. Tapi Jangan membenci Ibu ya setelah ini?" Mas Farhan diam sejenak.


"Iya mas, aku sayang kok sama Ibu" jawabku. "Jadi begini sayang, dulu lima tahun lalu, kakakku itu, mbak Santi mau menikah, dan pada saat itu Ibu seneng sekali, karena calon suami mbak Santi itu kan PNS, Makanya Ibu senang dan selalu menceritakan kepada semua tetangga, bahwa calon mantunya itu bakalan jadi orang kaya dan mempunyai jabatan yang tinggi di kantornya nanti!" ceritanya. Dia diam sejenak.


"Bapak waktu itu sakit-sakitan dek. Dan akhirnya dibuatlah acara Pesta Pernikahan besar-besaran dan tanpa sepengetahuan dari bapak, ternyata ibu menjual sebagian tanah rumah ini ke tetangga, Pak Haji Masyur. Transaksinya dibawah tangan Pokoknya waktu itu dibawah harga pasar, tapi gak banyak, jadi masih mahal. Dulu tanah rumah ini sampai dua blok ke samping kiri dek." cerita mas Farhan lagi.


"Terus apakah bapak tau?" tanyaku penasaran.


"Nah itu dia, abis pernikahankan, uang dari sumbangan tamu diambil sama ibu katanya untuk menutupi hutang buat biaya pernikahan Mbak Santi. Wah gedelah waktu itu. Nah pas beberapa minggu sebelum bapak meninggal. Pak Haji Sigit mau membangun rumah ditas tanahnya, ya dibangunah. Aku kan heran kok Pak haji Sigit membangun rumah diatas tanah bapak. Aku tanyalah ke bapak, ternyata dijual sama Ibu dan ditujukkan kwitansi nya ke bapak. Gegerlah. Bapak kemudian kesehatannya drop dan meninggal dunia." Aku melihat mas Farhan, netra matanya berkaca-kaca.


"Ya sudah mas, kita ikhlaskan saja kalau yang itu, dan semua kan pasti ada hikmahnya!" Aku mengelus pipinya.


"Aku nggak mau terulang lagi. Sebab setelah itu Ibu yang membelikan mbak Santi motor buat kerja suaminya, dan beli perhiasan dan dipakai ibu dan mbak Santi. Wah serba mewah deh dulu. Nah pas Mas Basuki, suami mbak Santi kena PHK karena telah korupsi di kantornya, mereka jatuh miskin."


"Tapi kok mereka bisa makan-makan enak terus kayaknya? Apalagi pas Kekahan anak pertamanya bukannya besar-besaran?"


"Oh kamu udah menikah ya, sama aku?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya mas, baru sebulan kita menikah, kan Farell anak mbak Santi lahir!" ucapku.


"Iya bener. Aku nggak tau mungkin Ibu menjual perhiasannya kali!" jawabnya lagi.


"Aku sih nggak papa tanah itu mau dijual, tapi ya dengan harga sepantasnya dan kalau mau dibagi rata. Namanya juga warisan, itu ada hak anak kita nanti!"


"Hm, Ya mas, aku mau coba berobat nggak ke Mak Hasnah? Dipijit!" ucapku ke dia.


"Boleh sayang, mudah-mudahan kita bisa mempunyai anak. Apapun kita usahakan, namanya juga Ikhtiar" sahut mas Farhan.


"Mas, kalau dilihat dari bagaimana mereka hidup, aku gak iri sama mereka. Tapi Ibu tidak pernah sayang sama kamu anaknya!"


"Sayang, aku nggak mau kamu diapa-apain sama Ibu."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab kami.


Mas Farhan kemudian turun dan berjalan dan membuka pintu kamar.


"Eh, Mbak..." ucap mas Farhan.


"Heh Han, Ibu katanya jatuh? Kok bisa?!!" sinis mbak Santi.


"Kok bisa? Ini pasti karena istrimu itu, kan?!" bentak mbak Santi.


"Nggak juga, jangan nyalahin Zahra, mbak, tanya saja sama Ibu sana!" balas mas Farhan dengan kesal.


"Ibu dimana?" tanyanya lagi.


"Kamarnyalah...Sana temui dulu. Datang-datang bukannya baik-baik eh marahnya duluan!!" sahut mas Farhan dengan ketus.


"Hmmh..." Mbak Santi menggendong anaknya dan berjalan ke kamar Ibu.


Terdengar suara mereka berbicara lama. Kami akhirnya keluar dan duduk di teras.


Mas Farhan melinting rokok nya dan kemudian menyalakan rokoknya dan menghisapnya. Aku melihat ke arah jalan.


"Kamu kapan mau mulai terapi dengan Mak Hasnah?"

__ADS_1


"Hm, kalau sore ini bagaimana mas? Nanti anterin ya mas!"


"Oh, boleh saja sayang"


"ZAHRA...!!" teriak mbak Santi.


Aku disuruh tak bergerak oleh mas Farhan dengan memegang lenganku. Mbak Santi muncul di ambang pintu.


"Kenapa? Kalau mau panggil mendekat, gak usah teriak-teriak!" balas suamiku.


"Aku mau nanya, Ibu jatuh karena ditarik kamu, kan??!!" Mbak Santi menuduhku.


"Dia narik dan megangin juga Ibu, lah ibunya sendiri yang kurang kerjaan pakai naik-naik segala! Dan pake kursi itu lagi. Coba liat, kayunya ajah dah mirang-miring, kalau kamu naik juga pasti jatuh!"


"Halah alasan aja!! Kamu tuh sama aja sama istrimu yang dungu itu!"


"Iya mbak biar dungu, tapi gak pernah minta apa-apa sama Ibu...!!" jawab mas Farhan yang masih asik melinting rokoknya.


"Heh han!! Aku nggak pernah minta ya sama Ibu!! Ibu juga ngasih untuk cucunya kok!" sergah dia.


"Ya kalau minta dibelikan motor apa bisa anakmu naik motor?" Dia diam saja.


"Pokoknya kamu harus tanggung jawab! Durhaka kamu sama Ibu!"


"Mbak durhaka itu kalau dikasih tau sama Ibu yang baik tapi gak nurut, itu namanya Durhaka. Kalau Ibu yang jatuh karena ulahnya sendiri, bukan durhaka dong? Kok nyalahin istriku??!! Kamu itu ya, kalau gak tau permasalahannya jangan main asal tuduh saja. Kalau mau ibu tinggal sama kamu, sana bawa Ibu ke rumahmu!!" tantang Mas Farhan. Aku diam saja melihat mereka adu mulut..!!


"Kan, anak laki-laki yang merawat Ibunya?"


"Iya, sekarang saya sudah merawat ibu sebisaku dan istriku. Kalau kamu yang nggak ketemu setiap hari menuduhku macam-macam ya mending Ibu sama kamu, sana!!" kata mas Farhan balik marah.


"Gak bisa sekarang kamu harus tanggung-jawab sama Ibu!!" bentaknya lagi.


"Mbak sudahlah, jangan diributkan, aku yang akan tanggung-jawab kok, aku yang akan merawat Ibu, semua juga setiap hari aku yang jaga Ibu, yang masakin Ibu, mencuci baju Ibu, dan merawat rumah Ibu ini. Apapagi yang kurang? Uang?" jawab suamiku.


"Iya kamu harus ganti rugi ke Ibu!!" bentak Santi.


"Hah, orang gila kamu mbak!! Udah sana pulang sana, jangan buat keributan disini!" Mas Farhan balik membentak.


....

__ADS_1


....


BERSAMBUNG


__ADS_2