
Bab 62.
"Eh maaf siapa ya?" tanya Zahra dan dia berdiri dengan jarak 1 meter dari kedua orang itu.
"Aku Ana dan ini Renaldi! Ingat gak?" tanya Ana.
"Ya ampun Anaaaa.....Iya Ana." Mereka cipika-cipiki.
"Aduhhh kamu kemana kok teu aya di die, di Bandung?" tanya Ana.
"Abdi ti Jawa ayeuna...." Zahra tersenyum.
"Zahra ini si Renaldi masih ingat? Teman sekelompok kita dulu, ingat nggak?" tanya Ana.
"Eh iya, apa kabar Reynaldi, damang Rei?" tanya Zahra dan mereka salaman jarak jauh.
"Baek, damang Zahra, sendirian ke Bandungnya?" tanya Reynaldi.
"Oh ya, kenalkan ini suami saya, mas Farhan," Ucap Zahra memperkenalkan Farhan ke teman-temannya. Mereka bersalaman.
"Kalian sudah menikah ber...dua?" tanya Zahra.
"Iya kami sudah menikah Zahra, baru dua tahun kami menikah, kami sudah punya anak satu. Aku melihat kamu tadi pagi waktu berangkat ke kantor dengan kang Rey, cuma kami berniat kesini sehabis kami pulang kantor."
"Oh ayo masuklah kalau begitu," tawar Farhan ke tamu-tamu mereka. Mereka duduk di dalam dengan duduk di atas karpet.
"Mau kopi Rey? Kamu mau teh aja apa cai bodas??" Tanya Zahra.
"Iya, apa saja," jawab Ana.
"Iya boleh Zahra. Eh aku liat anak kecil mana sekarang?" tanya Reynaldi.
"Oh, ada di kamar sama neneknya sedang mau bobo."
"Ya sudah kalau sudah mau tidur tak apa-apa."
Kemudian Zahra mengambil minuman di dapur dan Farhan masih diluar asik merokok dan minum kopi.
"Kang, sudah lama disini?" tanya Reynal yang akhirnya ke teras untuk merokok.
"Hm, sudah hampir satu minggu kami disini, kayaknya masih lama disini kang," balas Farhan.
"Oh gitu. Iya kami sudah lama sekali tak ketemu dengan Zahra, mungkin setelah kalian menikah, ya?" ucapnya.
"Oh begitu. Zahra mau merenovasi rumah dan merenovasi makam ibu dan bapak. Jadi kami ke sini. Kebetulan anak kami sudah agak besar jadi sudah bisa ikut kemana-mana."
"Anaknya usia berapa kang?" tanya Reynal.
"Usia tujuh bulanan lah."
__ADS_1
"Hmm...Anak kami sudah satu tahun lebih usianya. Laki-laki," balas Reynal.
"Anak saya perempuan," balas Farhan.
"Eh Reynal, ini kopinya dimana?" tanya Zahra dari dalam.
"Di sini aja Zahra." Kemudian Zahra memberikan secangkir kopi kepada Reynaldi.
"Terima kasih Zahra."
"Sama-sama."
"Kang ngopi ngudud bareng yeuh.." ucap Rey.
"Iya sok kang..." balas Farhan.
Sejam kemudian mereka pamit pulang dan Zahra berjanji akan main ke rumah Ana pada hari minggu yang jatuh tiga hari lagi.
"Main ya, jangan lupa bawa si kecil," pinta Ana..
"Iya, kami akan ke sana, Insya Allah."
Kemudian mereka pulang. Semua masuk ke dalam rumah.
Besok paginya kami menjalani aktifitas biasa. Farhan membantu memasang keramik kamar mandi dan kloset baru. Siang mereka makan siang.
"Neng, sepertinya besok juga sudah selesai ini neng karena tinggal cat tembok luar saja. Yang dalam juga tinggal sedikit, kalau begitu senin saja ya abdi kerjakan makam orang tua neng!" ucap mang Jajang.
"Mang Jajang, soalnya rumah ini mau saya kontrakin. Kalau sudah laku dikontrak ya saya akan pulang mang Jajang."
"Oh, mau dikontrakin. Kirain mau ditinggalin disini!" balas Mang Jajang.
"Ah, nteu mang, abdi ka jawa deui," balas Zahra.
"Ya sudah, besok juga selesai kok."
Pekerjaannya dilanjutkan pada hari itu dan malamnya setelah sholat Isya Farhan sekeluarga kembali main ke Pasar sekalian membeli tembakau, alat linting dan kertasnya. Karena murah Farhan membeli banyak rasa.
Kemudian mereka makan malam di pasar. Mereka pulang, tak lupa sebelumnya membeli mainan untuk Bulan.
Sesampainya dirumah sudah sekitar jam sepuluh malam dan mereka istirahat. Besok pagi pekerjaan dilanjutkan dan sore hari semua pekerjaan pun selesai semua.
Setelah pembayaran ke mang Jajang diselesaikan, Farhan dan Zahra mandi bergantian. Setelah Magrib mereka duduk di yang ada pembatas temboknya. Sehingga Zahra bisa duduk di pembatas tembok di teras.
"Mas, besok kita jalan-jalan yuk?" ajak Zahra.
"Kemana sayang?" tanya Farhan.
"Hm, ke Gunung Tangkuban Perahu di Lembang," ucap Zahra.
__ADS_1
"Hm boleh sayang. Jauh dari sini?" tanyanya lagi.
"Kita sewa mobil aja sehari Pa, bisa jalan-jalan kemana-mana kita!"
"Oh boleh, ada yang sewakan kendaran disini?"
"Nanti kita abis sholat Isya ke rumah uwa nanyakan sewa mobil!"
"Iya boleh, sebentar lagi juga waktu Isya sayang."
"Iya Pa."
Setelah sholat Isya mereka berdua ke rumah uwa dan menanyakan rental mobil. Kebetulan tetangga rumah uwa menyewakan mobilnya. Mobilnya dan supirnya juga jadi mereka bisa istirahat di mobil kalau capek.
"Besok berangkat jam sabaraha, neng?" tanya Pak Boris.
"Jam 7an saja pak Boris. Kita palingan ke Ciater, Tangkuban Perahu, terus kemana weee yang penting jalan-jalan sehari itu pak Boris."
"Baik Neng. Nanti saya jam 7 sudah di rumah Eneng ya," ucap pak Boris.
"Iya Pak Boris. Uangnya kapan?" tanya Zahra.
"Besok saja, Neng."
"Baik pak, kita pamit dulu," ucap Zahra dan mereka bersalaman. Mereka pulang ke rumah dan beristirahat.
Paginya setelah sholat subuh mereka bersiap-siap pergi Jalan-jalan. Jam 7 Pagi mereka berangkat ke Gunung Tangkuban Perahu dan selama dalam perjalanan Bulan senang sekali. Dia sengaja dipangku oleh Farhan di depan. Dia selalu ingin berdiri melihat ke jalanan. Kadang bicara sendiri.
"Bulan senang ya diajak jalan-jalan?" tanya Farhan. Bulan hanya ketaw saja.
Dalam perjalanan sekitar satu jam lebih akhirnya mereka sampai di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Farhan menggendong Bulan dan melihat ke kawah. Mereka juga belanja souvenir, kaos dan baju untuk Bulan. Nenek dan Zahra membeli kaos tangan panjang yang ada tulisan Gunung Tangkuban Perahu. Setelah sejam mereka disana, mereka ke Ciater sebelumnya mereka makan dulu di warung sunda baru mereka ke Ciater sampai dzuhur. Di sana mereka main air panas. Bulan takut masuk ke dalam air dan akhirnya kami hanya jalan-jalan saja mengelilingi Ciater.
Perjalanan mereka disana diabadikan dengan foto-foto dan video. Setelah sholat Dzhur di sebuah mesjid, mereka lanjut ke Floating Market dan jalan-jalan disana. Bulan tak tidur seharian ini. Dia sangat senang dengan acara jalan jalannya pada hari ini.
Mereka makan siang di Tahu susu Lembang. Setelah itu mereka langsung pulang ke rumah. Setelah sampai rumah mereka langsung sholat Ashar karena sudah hampir jam 5 sore.
Setelah Magrib Farhan duduk di teras dengan kopi dan ududnya. Zahra sedang meniduri Bulan sambil minum ASI.
Tak lama kemudian datang tamu lagi ke rumah itu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ada Zahra nya mas?"
.......
.......
__ADS_1
BERSAMBUNG