
Bab71.
"Ada di warungku, nanti kita ke sana dulu jemput dia. Soalnya kami tadi malam tidurnya di warung bukan di rumah!" jawab Santi.
"Oh ya sudah kita berangkat saja sekarang," ucap Farhan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab kami.
"Eh, pada mau kemana ini?" tanya Ramdani.
"Kita mau ke rumah paklek di kota sebelah!" jawab Farhan. Santi senyum dari tadi melihat kedatangan Ramdani.
"Loh, emang bisa Santi? Nanti kamu bertiga dengan Farell juga Santi?" tanya Ramdani.
"Iya mas. Emang mau ikut ke sana?" tanya Santi.
"Ya bolehlah. Daripada kalian bertiga sama Ibu, kan bahaya. Nanti Farell sama saya saja, kamu sama ibu, supaya tidak bahaya. Lagipula kalau ketemu sama polisi kamu kena tilang!" jawab Ramdani.
"Ya sudah kalau kamu kamu ikut, tak apa. Ayo Ramdani, takut kesiangan," ucap Farhan.
"Oke mas," jawab Ramdani.
Kemudian mereka ke warung Santi untuk menjemput Farell. Farell dibonceng oleh Ramdani dan Santi dengan Ibu.
"Sudah ya, yuk kita berangkat!" ucap Farhan.
Kemudian mereka berangkat ke rumah paklek yang ditempuh dengan waktu kurang dari sejam perjalanan dengan motor. Selama diperjalanan Bulan digendong oleh Zahra di belakang dan Bulan senang sekali diajak naik motor.
Sampai di rumah paklek, Zahra turun dan membukakan pagar rumah paklek sehingga ketiga motor itu masuk dan parkir di halaman rumah paklek.
"Assalamualaikum," ucap Zahra.
"Eh, waalaikumsalam," jawab Bulek.
"Bulek, apa kabar?" tanya Zahra dan mereka cipika-cipiki.
"Alhamdulillah, wah rombongan nih. Motor baru ya Han? Wah wah keren motornya!" Ucap Bulek.
"Hahahaha, Bisa aja bulek."
"Iya loh, ini motor baru banget, baru beli ya?" tanya Bulek.
"Iya, baru tadi pagi dianter!" Balas Farhan dan Farhan bersalaman dengan bulek.
Mereka semua bersalaman dengan Bulek.
"Bulek, kok sepi? Pada kemana?" tanya Farhan.
"Wah, pada kerja dong, Paklek juga sedang ke sawah lagi bajak. Kamu belum mulai bajak Han?" kami semua duduk di teras.
"Belum bulek, masih nunggu hujan dulu yang agak deras, soalnya air sungai juga masih susah naiknya harus disedot jadi nanti biayanya tinggi!" Jawab Farhan.
"Iya Han nanti biaya tinggi, nggak untung ya? Wah gimana kabarnya semua? Santi kamu tumben ke sini? Eh ini Joko ya?" tanya Bulek.
"Iya bulek, waktu bulek ke rumah Ibu kan dia di rumahku nggak ikut ke rumah Ibu," jawab Zahra.
__ADS_1
"Sudah besar, kamu sudah sekolah nak?" tanya Bulek dengan ramah.
"Belum Eyang," jawabnya.
"Nanti rencananya akan masuk ke TK dulu, tapi dia sudah bisa baca dan tulis bulek, jadi kayaknya tunggu usia cukup langsung masukkan ke SD saja!"
"Iya deh. Loh ini siapa?" tanya Bulek.
"Saya Ramdani bulek. Saya tetangganya mas Farhan," jawabnya.
"Oh tetangga. Kirain calonnya Santi, hehehe," sahut bulek. Yang llain pada mesam-mesem saja, terutama Santi.
"Bulek si Yunis mana?" tanya Farhan.
"Ya kerjalah, sore baru pulang. Kenapa?" tanya bulek.
"Gak papa kok, nanya saja," jawab Farhan.
"Nneekk.." ucap Bulan.
"Eh cucuk nenek..."
"Hehehe..."
"Eh ketawa cucu nenek...mau gendong?" kedua tangan bulek kedepan dan Bulan langsung mau digendong oleh Bulek. Bulek memangkunya.
"Hehehehe..." Bulan senang dipangku oleh Bulek.
"Eh, ketawa cucuk nenek..." sahut Ibu.
"Zahra, nggak nambah lagi?" tanya Bulek.
"Udah isi lagi jadinya?" Zahra mengangguk dan tersenyum.
Kemudian siangnya Paklek datang dan langsung makan bersama. Setelah makan siang mereka berkumpul di teras.
"Paklek dan bulek, aku mau buat cabang warung soto ayamku di daerah disini rencananya. Ada tempat nggak bulek yang disewakan?" tanya Santi.
"Hm, ada di sana, cuma belum tau sudah ada yang sewa atau belum ya...!" ucap bulek.
"Yang dekat warungnya lek Bejo?" tanya paklek.
"Iya, masih kosong pak?" tanya bulek.
"Masih kosong deh, tempatnya bagus lagi, dekat sama sekolahan dan perumahan!" Jawab paklek.
"Bisa dianter nggak paklek?" tanya Santi.
"Ayo kalau mau kesana, siapa saja yang mau ke sana?" tanya Paklek.
"Aku saja antar Santi paklek," ucap Ramdani.
"Ya sudah, aku mau dong dianter sama Farhan dengan motor Anyaaarrr...Hahaha," ucap paklek.
"Oh boleh Paklek, saya antar deh...pokoknya paklek duduk manis saja dibelakang, hahaha," ucap Farhan.
"Yuk kita ke sana!" Mereka berempat naik motor dan sampai disana bertemu dengan pemiliknya.
__ADS_1
Santi tertarik hanya sedang memikirkan biaya sewa yang cukup tinggi. Tapi bila
dilihat dari persaingan bisa lumayan banyak pembelinya. Mereka kembali lagi ke
rumah paklek.
"Bagaimana San, sudah cocok belum?" tanya paklek.
"Hm masih ragu dengan sewanya yang tinggi paklek, tapi kalau liat lokasinya, wah bisa lebih banyak disini nanti saya, soalnya rame banget dan padat penduduknya!"
"Iya pasti, kamu disana saja laris manis ya?" tanya Bulek.
"Ya Alhamdulillah Bulek semua berkat doa keluarga!"
"Alhamdulillah, jadi kalau kamu nanti buka cabang disini wah kamu tambah sugih dong...Hahaha," ucap paklek.
"Hahahaha, Aamiin paklek..." balas Santi.
"Oh iya, ini nak Ramdani tetangganya Santi atau tetangganya Farhan?" tanya Paklek.
"Saya lebih dekat dengan rumah Santi yang sekarang paklek," jawab Ramdani.
"Oh begitu. Kamu usaha apa kalau boleh tau nak Ramdani?" tanya Paklek.
"Oh, saya usaha bengkel las paklek," jawab Ramdani.
"Wah bagus dong, itu di jejerannya ruko disana kan ada yang kosong juga. Kenapa nggak buat juga disana?"
"Hm, saya sudah megang dua tempat paklek, kalau ada tiga tempat sayanya nggak sanggup!" ucap Ramdani.
"Wah sudah sugih rupanya? hahahaha," jawab Paklek.
"Ah tidak paklek, saya cuma pengusaha kecil saja, tapi Alhamdulillah dengan doa paklek mungkin bisa terwujud, hahaha," Jawab Ramdani sambil tertawa.
"Iya dong, kita kan harus optimis Ramdani. Kamu masih muda. Belum menikah tho?" tanya Paklek penuh selidik.
"Belum Paklek, saya masih mencari yang cocok dengan saya," jawab Ramdani.
"Wah itu ada Santi, kenapa tidak dengan Santi saja? Kan kamu sudah dekat sekarang?" tanya Paklek blak-blakan.
"Ah paklek bisa aja, saya kan baru pedekate saja sama Santi," jawab Ramdani malu-malu kucing.
"Hahahaha, oh jadi kamu lagi pedekate nih sama Santi? Maaf paklek kurang paham, jadi kelolosan becanda nya, hahahaha." Paklek Terpingkal-pingkal.
"Sudah jangan digodain terus paklek, nanti Santi bisa galau! Hahahaha," goda Farhan.
"Ish apa sih kamu Han! Ledekin mulu!" jawab Santi sambil melotot ke arah Farhan.
"Hehehe, pisss...Saya cuma nimpalin omongan paklek saja hehehe," ucap Farhan senyam-senyum.
Kemudian sore hari setelah sholat Ashar mereka pulang ke rumah. Ramdani mengantarkan Farell ke warung tapi akan menunggu Santi disana, jadi Santi mengantarkan Ibu ke rumah dan pulang lagi ke warung.
"Bu, gimana si Ramdani? Kayaknya dia serius ya?" tanya Farhan.
"Iya, tapi kita biarkan sajalah, mereka kan sudah besar juga."
......
__ADS_1
......
BERSAMBUNG