
BAB 39.
POV FARHAN
"Iya mas, nanti aku simpan juga di emailku."
"Ya sudah, kita ke pasar malam yuk, dan kita makan bakso," ajakku.
"Yuk mas, tadi aku belum makan banyak, ini laper lagi soalnya dedeknya laper, hihihihi." Ucap Zahra.
"Iya yuk." Aku kecup keningnya dan mengajak dia keluar. Pintu kamar dikunci dulu dan kemudian pintu rumah kami tutup dan kami keluar menuju ke Pasar malam.
Di tengah jalan kami bertemu dengan Mak Hasnah yang baru pulang dari berbelanja di Pasar malam.
"Nak Farhan, aduhh kemana aja sih? Nak Zahra sudah pulang dari rumah pakleknya?"
"Hehehe, sudah mak. Baru saja kami pulang dari sana."
"Oh gitu, gimana sudah ditest belum?"
"Sudah mak. Alhamdulillah sudah isi, aku hamil, mak," Jawab Zahra.
"Alhamdulillah Ya Allah, ternyata usaha kita tak sia-sia," ucap mbak Hasnah senang.
"Mak mau kemana?" Tanyaku.
"Mak abis dari pasar malam Han, kamu mau kemana?"
"Mau ke sana juga, tapi gimana kalau kita makan dulu mak, makan bakso, tuh di sana."
"Wah, maulah aku kalau diajak makan bakso.," Jawab Mak Hasnah.
"Ya udah, ayuk kita ke sana."
Kami berjalan bertiga ke warung bakso langganan kami, dan kami makan bakso. Setelah selesai makan, kami berbincang-bincang.
"Nak Zahra kok aneh kemarin waktu ke rumah Pakleknya sendirian? Biasanya kan diantar oleh Mas Farhan?"
"Ya begitulah Mak. Kemarin itu aku kabur ke rumah Paklek. Ada masalah di rumah!"
"Pasti masalah dengan mertuamu, ya?" tanya Mak Hasnah.
"Ya begitulah mak, tapi ada masalah lain juga, Dan ke depannya semoga tidak ada apa-apa lagi. Kami juga belum cek ke dokter mak, cuma pakai testpack saja."
"Oh begitu, Kamu ceklah supaya ada kepastian."
"Iya mak."
"Oh iya, waktu itu emak pernah ketemu dengan cewek yang pernah nginep di rumahmu itu, siapa yah namanya?"
"Dona mak? Ketemu dimana?"
"Hm, aku ketemu di rumah sepupuku, dia juga kan paranormal atau dukunlah. Waktu itu dia nggak ngenalin emak, kayaknya."
"Lah ngapain ke sana mak? Ke dukun?"
"Iya ke sana. Emak nggak nanya, kalau emak ke sana lagi nanti emak akan tanya deh. Mau keperluan apa sama dia ya, han?"
"Wah makanya saya nanya sama emak. Soalnya aku beberapa kali kata paklekku itu ya mak...Aku dipelet pakai pelet darah haid!" ucapku.
"Hah, itu pelet bahaya, Han! Kalau nggak segera diobatin bisa kemana-mana urusannya!" ucap mak Hasnah.
"Hm, udah diobatin katanya sih mak."
"Iya mak, aku melihat waktu itu ada paku, rambut dan silet juga bau banget mak!" ucap Zahra.
"Oh kamu ada waktu ritual dengan tetangganya paklek itu dek?" tanyaku.
"Iya mas, waktu itu memang paklek memanggil temannya itu. Dia menggunakan media telor ayam kampung dan begitu telornya dipecahkan ada isi itu diisi telor itu!"
"Wah kacau, itu mah udah santet! Hati-hati kamu han!" Kata Emak.
"Ya begitu juga sih mak, kata tetangganya paklek waktu itu. Soalnya kalau gak diobatin malahan akan membuat mas Farhan akan sakit dan menderita, karena tidak terpenuhi hasratnya!"
"Gini saja Han..Saya Punya Solusl!" ucap Mak Hasnah tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa itu mak?" tanyaku heran.
"Kalau santet dan pelet itu gak bisa sekali datang Han, dia akan memita dan meminta lagi kalau belum terwujud keinginanannya." jelasnya.
"Iya sih mak." ujarku.
"Nah kalau begitu, kita ke sana saja besok, bagaimana?" tanya Mak Hasnah.
"Maksudnya ke sana? Ke rumah dukun itu? Gak mau ah mak, kalau ke dukunkan itu musrik!"
"Hahahaha, ya nggak lah, kamu kan ingin membersihkannya efek santet itu. Karena pastinya dia punya penawarnya juga!"
"Hm begitu ya mak?"
"Iyalah, kan dia yang melet dan dia juga punya penawarnya!"
"Iya ya, kita datangi yang dia tanam, ya!"
"Iya, bagaimana?"
"Boleh mak. Sayang bagaimana?"
"Aku sih ikut aja mas, bagaimana kamu saja."
"Baiklah mak, kita ke sana besok ya, kalau bisa sorelah abis Ashar kita ke sananya. Jauh nggak sih?"
"Gak sih Han, palingan setengah jam dari sini, kita naik becak saja."
"Oh gitu oke deh."
Abis itu aku bayar baksonya dan kembali ke rumah. Mak Hasnah juga pulang ke rumahnya.
Besok paginya setelah sholat Subuh berjamaah, aku membantu zahra menyapu dan mengepel rumah sampai selesai dan setelah baju direndam oleh Zahra, aku mencuci pakaian nya. Aku bagi tugas dengan Zahra. Ibu masih belum keluar kamar dari kemarin sore kami pulang ke rumah.
Tiba-tiba ibu keluar kamar pada saat aku duduk di teras sambil merokok dan minum kopi. Ibu ke teras dan duduk di seberangku.
"Kamu harus segera menceraikan Zahra! Dan menikah dengan Dona!" Ucapnya pelan.
"Iya tapi kamu kan sudah menodai Dona!"
"Menodai bagaimana bu? Karena foto itu? Kan belum tentu saya melakukannya, kan saya lagi tidur!"
"Kamu memalukan Han, buat aib keluarga saja!"
"Ibu jangan begitu. Harusnya ibu menyelidiki dulu, siapa yang benar siapa yang salah!"
"Di Foto itu kan jelas, kalau kamu sudah tidur sama Dona!!" bentak ibu dengan nada tidak keras.
"Loh, ibu ini membela Dona mati-matian maksudnya Ibu apa?" Tanyaku santai.
"Gak ada apa-apa kok, Ibu hanya nggak mau punya anak bejad kayak kamu!!"
"Hah, ibu bilang aku bejad?? Astaga Ibu, sadar bu sadar, saya ini korban dari kelicikan Dona!"
"Tapi kamu nggak bisa berdalih dengan adanya foto itu!"
"Sekarang saya nggak akan berdalih apa-apa bu. Tapi kalau dia akan balik dan menuntut saya. Jangan salahkan saya, kalau nanti ibu juga akan terseret dan saya tidak main-main, akan melaporkannya ke Polisi. Kalau sampai dia dipenjara, maka Santi dan Ibu juga akan terseret masuk penjara! Bagaimana?"
Ibu diam saja sepertinya ketakutan dengan omonganku barusan.
"Begini bu, sekarang ibu harus bisa berpikir jernih. Bagaimana ceritanya saya yang anak ibu sendiri, ibu paksa menikah dengan orang lain, sedangkan saya sudah punya istri! Ibu gak takut kena dosannya telah memisahkan pasangan suami istri??"
"Bodo ah, Ibu mau masuk!" Dia berdiri dan langsung berjalan masuk ke dalam.
Aku senyum saja melihat kelakuannya yang selalu menjadi antagonis.
Tak lama kemudian, Zahra mengajakku untuk makan pagi dan kami berdua makan bersama.
Setelah Sholat Ashar, kami ke rumah Mak Hasnah untuk menjemputnya ke rumah sepupunya itu yang katanya dukun atau paranormal. Kami naik becak bertiga dengan dua becak. Mak Hasnah juga mengajak cucunya yang masih kecil.
Sesampainya di rumah yang tampak megah itu, kami turun di depannya. Setelah membayar ongkos becaknya, kami masuk ke dalam rumah yang terlihat sekali ramai dengan beberapa pasien yang mengantri ingin berobat.
__ADS_1
Tapi karena mak Hasnah adalah sepupunya, maka kami langsung masuk ke dalam rumahnya yang bernama julukan Ki Brantas. Kami masuk ke dalam rumahnya dan duduk di ruang tamu mereka.
Tak lama kemudian, mak Hasnah bersama Ki Brantas datang menemui kami.
Kami bersalaman dan tampak sepertinya dia agak sedikit kaget dengan kehadiranku.
Kami duduk dan dia mempersilahkan kami minum air mineral yang disediakan di meja tamunya.
"Begini kedatanganku Brantas. Kamu pasti kenal dia." Mak Hasnah menunjuk ke arahku.
"Hm, ya dia yang mau dipelet oleh Mbak...Mbak Dona kalau nggak salah!"
"Iya benar, dia itu tetangga dekat dan sudah seperti saudara, Jadi saya pengen kamu bersihkan yang dibadannya itu, karena udah masuk ajian mu!"
"Hm, sebentar aku periksa dulu. Duduk disini mas." Dan aku pindah ke samping kanannya.
Dia mulai merapalkan sesutau dan mulutnya komat-kamit. Kemudian dia mengambil sesuatu dari perutnya mas farhan.
"Huuuu.."
Kemudian dia mengeluarkan beberapa paku dan jarum dari tangannya.
Kedua kalinya begitu juga sampai ketiga kalinya dia mengeluarkan semacam rambut yang diuntel-untel. Semuanya dalam keadaan basah begitu diletakan diatas tisue.
"Hm, Sudah bersih mas. Silahkan balik lagi ke kursinya." Aku kembali ke kursinya di samping Zahra.
"Hm, mas, kok cuma segini?" tanyanya.
"Sudah dikeluarkan beberapa hari yang lalu Ki..!" Jawabku.
"Oh pantas, kamu sudah tidak berpengaruh dengan peletku, hehehehe." Dia terkekeh.
"Emang kalau masih bagaimana tuh, Ki?" tanyaku.
"Ya kamu pasti masih dalam pengaruh si Dona, dan kamu pastinya akan sering sakit kepala dan masih mengingatnya!" ujarnya.
"Iya Ki saya sering sakit kepala waktu masih awal-awal aku saya dipelet, sampai Istriku ini jadi korbannya. Malah pernah saya cekek dia waku dia tidur. Untung istri saya sabar Ki, jadi dia masih ingin menjadi Istri saya. Kalau tidak ya dia akan minta cerai sama saya!" Jawabku.
"Iya, juga minta maaf ke dek Farhan, saya juga kan tidak tau maksud dan niat sebenernya Mbak Dona itu. Jadi saya bantu dia. Kirain dia emang cinta sekali sama dek Farhan." Jawabnya lagi.
"Ya sudah ki. Terima kasih Ki, sudah membuang dan membersihkan apa yang ada di dalam badan saya!" jelasku kepadanya.
"Itu perkara mudah dek. Karena kan saya yang nanam, hahahaha." Dia tertawa kecil
"Terus bagaimana selanjutnya Ki?" Tanyaku.
"Ya mungkin si mbak Dona itu akan ke sini untuk mengadu kepada saya. Dan pasti akan memantau perkembangan kamu nanti. Sebenernya kenapa sih dengan kamu nak? Kok, sampai segitunya dia sama kamu!!"
"Gak tau Ki, dia atas suruhan Ibu saya dan Kakak saya untuk memisahkan saya dan istri saya. Mungkin niatnya juga yang jahat kepada saya!"
"Astaga naga, kok bisa begitu? Emang perkara apa?" tanyanya heran.
"Begini Ki, sudah tiga tahun istri saya ini belum hamil, dan alasannya itu. Tapi kok kenapa malahan Ibu dan Kakak saya jadi masalah harta? Jadi bingung saya Ki!" ucapku.
"Hahahaha, manusia yang rakus seperti itu. Bukan saya mau meledek Ibu mas ya. Tapi dia juga kelihatannya jatuh cinta sama mas, maksud saya mbak Donanya itu!"
"Ya memang Ki, saya dari SMA selalu dideketi sama dia, Cuma sekarang kan dia sebenarnya sudah menikah dan dalam proses perceraian. Mungkin dia juga sedang butuh seseorang dan dapat tawaran dari Ibu dan kakak saya untuk menjadi istri saya, ya dia jadi gelap mata!"
"Hmmm..." Ki Brantas angguk-anggukan kepalanya.
"Terus bagaimana Brantas kalau dia ke sini lagi?" tanya Mak Hasnah.
"Hahahaha, ya saya akan tolak atau kalau dia memaksa palingan saya kasih untuk dia saja ajian untuk melupakannya sekalian!" jelasnya lagi.
"Wah bagus itu, jadi dia lantas langsung lupa sama si Farhan!" timpal mak Hasnah.
"Ya mending seperti itu. Tapi kalau dia ke dukun lain, kamu ke sini saja, sekalian saya akan hajar si Dona itu!" ucap Ki Brantas.
"Baik Ki, Terima kasih sebelumnya." Dan kami semua pamit tak lupa aku memberikan amplop untuk dia. Tapi da menolaknya. Kami pulang ke rumah dan kami berdua melakukan sholat Magrib berjamaah.
.....
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1