KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
RENCANA BALIK..!!


__ADS_3

BAB 54.


POV DONA


"Iya bener, kamu kan suamiku. Masa aku akan lari dari kamu?"


"Ya sudah. Tapi jangan langsung, menurutku kita harus pasang strategi. Dan kita harus intai dulu kebiasaan disana,” saran suamiku.


"Bagaimana kita bakalan tau?"


"Ya kita juga harus pasang orang ke sana. Kalau tidak kamu saja yang sering ajak Santi kesana, pura-pura nanya aja mengenai kagiatan pagi mereka. Kalau mereka gak curiga pasti dia kasih tau jadwal tidur si Bulan!"


"Hm, iya juga sih. Berarti aku harus baikin di Santi dulu deh. Aku akan iming-imingi uang hasil penjualan rumah. Akukan kerja kalau pagi??"


"Dibilang secepatnya kamu keluar dari kerjaanmu. Supaya kita bisa langsung melaksanakan penculikan itu...Bagaimana?" usulku ke dia.


"Kamu yakin nggak mau aku nafkahi?" tanyanya heran.


"Sudahlah, masalah uang gampang! Kia fokus saja ke penculikan anaknya Zahra!"


Aku buka tasku dan kukasih uang dua gepok.


"Nih buat kamu, uang pelicin! Hehehehe, Bagaimana?"


"Wah, makasih ya istriku...Kamu baik banget! Baik deh." Dia tersenyum lebar dan mengantungi uangnya ke dalam tas kecilnya.


Kami langsung ke kamar berdua karena Santi terlihat mau masuk ke dalam rumah. Dia tiap hari jualan di pekarangan rumah, jualan soto ayam. Keliatannya laris manis. jatah belanjanya sudah dikurangi oleh mas Basuki.  Pada malam hari, Santi dipanggil oleh mas Basuki dan mereka bicara di ruang tamu. Aku berjalan ke ruang tamu dan ikut nimbrung saja sambil dengarkan mereka bicara berdua.


"Ada apa kamu panggil aku?" tanya Santi.


"Begini San. Aku mau jual rumah ini, terus uangnya kita bagi dua. Aku juga akan tetap memberikan nafkah setiap bulan untuk anak kita."


"Kenapa kamu mau jual? Kamu pergilah dari sini, kan kamu sendiri yang sudah selingkuh! Rumah ini jadi milikku!" ucapnya ketus.


"Gak bisa dek. Walau bagaimanapun, kan sertifikat ini atas namaku." ucap Basuki.


"Hm, ya nanti saja kalau ada pembelinya surat-suranya akan aku keluarkan yang asli. Nanti aku kasihkan yang fotocopynya. Kalau kamu sikasih nanti saya bakal diusir lagi! Kan istri barumu nggak kerja apa-apa? Mana ada duit dia?" tanya Santi dengan sinis.


"Heh,San! Saya nggak pernah ya minta uang sama mas Basuki! Dia yang memberikannya kepadaku! Kalau mau ambil ya ambil saja, aku nggak butuh kok! Malahan nanti Basuki akan aku kasih uang yang banyak."


"Heh! Lagi kenapa sih kamu mau digoda mas Basuki? Atau kamu yang gatel!" sindir Santi ke Basuki.


"Udahlah nggak usah alihkan pembicaraan! Aku ingatkan ya, aku nggak usah minta uang kepada suamimu juga aku bisa beli apa yang kumau!" bentakku.


"Iya dek, kan aku sebagai suaminya. Sebagai suami aku harus memberikan nafkah kepadanya."


"Ya kalau dia nggak mau dinafkahi, kamu jangan kurangi dong jatahmu ke aku!" sahut Santi dengan ketus.


"Hm, lagipula kamu kan sudah tidak mau melayaniku di tempat tidur?" sergah Basuki.


"Hahahaha, aku jijik berbagi dengan Dona! Kalau dia tidak bersih bagaimana? Nanti menular ke aku!" Jawab Santi sinis.


"Heh! Saya nggak pernah main sama orang lain selain mas Basuki! Dan aku juga sehat! Aku nggak punya penyakit kelamin! Paham!" Bentakku.


"Halah, kalau nggak gitu mana kamu akan melayani mas Basuki? Masa orang terhormat kayak kamu mau saja dihamili oleh orang kayak mas Basuki?" Bantah Santi.

__ADS_1


"Heh jaga omonganmu! Aku tampar nanti mulutmu!" Aku berdiri sambil menunjuk mukanya.


"Hahahaha, kamu itu ya, udah mau merebut adikku dari Zahra dan sudah merebut suamiku seenaknya masih saja merasa paling benar? Inget, kasusmu belum diteruskan lagi sama adikku. Dan kasusmu semua masih terbuka jadi masih bisa ada kemungkinan kamu akan mendekam di penjara dengan waktu yang lama! Apalagi kasus tabrak lari yang menabrak becak kami waktu itu. Aku masih ingat semua plat nomer dan jenis mobilmu!!"



POV SANTI*


Dona diam tak menjawab dan mendengus kesal masuk ke dalam kamar.


"Masss...!!" Teriak Dona dari dalam kamar.


"Udah sana kelonin aja istri mudamu! Aku sudah tak ada cinta buatmu dan aku juga sudah jijik dengan kamu! Ceraikan saja saya cepet!!"


"Huh! Kamu dikasih tau malah ngelunjak!" Dia meninggalkan ruang tamu dan langsung ke masuk ke dalam kamar.


Aku masih duduk di kursi, dan aku merasa kesal sekali dengan kelakuan Dona yang sok kaya dan sok mengatur. Kuberdiri lagi dan ke arah luar untuk membereskan warung kecilku di pekarangan rumah.


Kuambil uang dari dalam laci, setelah kuhitung kusimpan di dalam dompet dan masuk ke dalam rumah. Pintu depan kukunci dan berjalan ke kamarku melewati kamar mereka. Kudengar Dona masih marah-marah. Berhenti untuk mendengar pembicaraan mereka yang sepertinya akan merencanakan sesuatu.


"Ya sudah, besok aku ke kantor dulu terus ajukan resign. Dan siangnya aku akan mengintai rumahnya Zahra. Tapi bagaimana bisa masuk ke dalam, ya? Aku kan sudah masuk daftar hitam mereka?" Ucap Mas Basuki.


"Hm Mas Basuki, kamu kan bisa pergunakan Santi supaya kamu bisa bicara dengan Zahra. Dia biar ngomong kegiatan mereka dari pagi. Nah kalau kamu sudah tau semua, besoknya langsung eksekusi saja! Tidak usah lama-lama! Aku sudah kesal dengan mereka. Mereka sudah menghinaku!!"


"Ya sudah, aku akan lakukan. Sekarang kita mandi bareng yuk sayang," Ucap Basuki yang terdengar. Aku langsung berjalan pelan-pelan menuju ke kamarku. Anakku sudah tidur.



Besok pagi aku langsung menuju ke rumah Zahra. Mas Basuki sudah pergi ke kantor. Dona masih tidur. Langsung menuju ke rumah Farhan sekalian nanti belanja di warung Lek Jono.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," Jawab mereka. Ternyata mereka bertiga sedang makan pagi di meja makan. Aku berjalan ke kamar Zahra dan melihat Bulan sedang tidur. Kukeluar lagi dan menuju ke meja makan.


"Sudah makan belum?" tanya Ibu.


"Belum bu."


"Makanlah Mbak," ucap Zahra. Dia langsung memberikan piring ke depan ku dan anakku.


"Mas mau makan?"


"Iya Bu." Kami akhirnya makan pagi bersama di meja makan.


Setelah selesai makan, aku berjalan ke teras menyusul Farhan yang sedang menghisap rokoknya. Zahra dan Ibu membereskan meja makan.


Aku duduk di sampingnya.


"Han, ada yang mau aku omongin! Penting!" ucapku.


"Apa San?" tanyanya.


"Tadi malam aku nggak sengaja mendengar rencana Dona dan Mas Basuki untuk melakukan sesuatu di rumah ini. Tapi nggak jelas Han. Dia bilang hari ini dia akan ajak aku ke rumah ini terus dia nanti nanya kegiatan di rumah ini. Kira-kira apa ya yang mau mereka lakukan terhadap kalian ya?"


"Wah, yang bener San? Terus menurutmu tujuannya apa?" tanyanya penuh penasaran.

__ADS_1


"Kata Dona dia itu dendam karena kalian sudah menghina dia kemarin!"


"Wah, kalau itu aku nggak tau. Coba tanya Zahra. Sayang...!" Panggil Farhan.


"Ya mas, sebentar." Tak lama kemudian Zahra datang ke teras dan duduk di depan kami.


"Sayang, kemarin si Dona ke sini?" tanya Farhan.


"Iya mas, sama mas Basuki, pagi waktu kamu ke rumah pak Haji."


"Terus mereka kenapa bisa katanya dendam karena menghina dia? Kenapa dia marah sayang?" tanyanya.


"Kemarin itu mereka datang dan aku cuma nanya kapan dia melahirkan. Eh dia langsung pergi nggak pamit, kan nggak jelas gitu!"


"Dia kayaknya sedang merencanakan sesuatu ke keluarga kita lagi. Santi tadi malam tak sengaja mendengar rencana busuk mereka. Jadi gini sayang, nanti kita omong apa adanya, tapi mulai besoknya kita harus waspada. Aku nggak akan kemana-mana dan mengintai dari jauh supaya kalau dia masuk dan merencanakan sesuatu akan ketauan!" paparnya.


"Wah, kok mereka makin gila aja sih mas? Aku takut mereka melakukan sesuatu kepada Bulan!" ucap Zahra dengan rasa was-was nya dia.


"Makanya jadi mulai lusa pagi, Bulan jangan di taroh di kamar kita, tapi tidurkan saja di kamar Ibu dan Ibu yang nungguin Bulan. Bagaimana?" usul Farhan.


"Ya sudah, kamu siap-siap juga mas, jangan sendirian, kalau bisa sama orang lain biar bisa langsung menghajar si Basuki dan Dona!" Ucapnya kesal.


"Hm, pokoknya kita harus waspada. Jadi kapan kira-kira basuki akan mengajak kamu ke sini?" Tanya Farhan.


"Kayaknya hari ini, mungkin nanti sore. Soalnya Mas Basuki mulai hari ini akan mengajukan Resign dari kantornya!"


"Hah mau berhenti kerja? dapat duit dari mana dia? Terus bagaimana mau nafkahin anaknya?" tanya Farhan bingung.


"Gak tau Han, Dona bilang dia nggak perlu duit dan dia sanggup membiayai mas Basuki. Dia orang kaya dan duitnya banyak!"


"Ya tapi gak gitu dong! Kan tanggung jawab ada di mas Basuki bukan Dona!"


"Hhhmmmhh...Aku nggak tau lagi. Dan rencananya rumah juga mau dijual, dan hasilnya dibagi dua dengan aku dan mas Basuki!" jelas Santi.


"Lah terus nanti kamu tinggal dimana?" tanya Mas Farhan.


"Gak tau Han, palingan aku nanti kontrak saja."


"Hmm, Jadi ruwet gini ya urusannya! Semuanya karena DONA!!"


"Semua karena Ibu, Han!" Jawab Ibu yang muncul dari dalam. Beliau duduk di kursi depan Santi.


Farhan dan aku diam.


"Semuanya karena Ibu yang mengundang Dona untuk ke rumah ini! Ibu menyesal, kepana Ibu begitu buta!" Ucapnya sedih.


"Sudahlah bu, yang sudah ya sudah. Lebih baik kita harus lebih hati-hati mulai sekarang! Sebelum Dona kita jebloskan ke penjara lagi, dia akan menghantui kita!" Ucap Farhan.


Setelah itu Santi pulang dan menjelang sore setelah Sholat Ashar, Santi dan Basuki datang ke rumah. Basuki membawa buah-buahan dan biskuit.


.......


.......


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2