
Bab 63.
"Ada Zahranya mas?"
"Ada...Kamu mau apa kesini lagi?" tanya Farhan dengan tenang.
"Maaf mas, saya kemarin terburu-buru jadi tidak sempat mengobrol. Kalau boleh saya mau ketemu dengan Zahra?" tanya Yahya.
"Ya sebentar, duduk saja dulu masuk sini ke dalam, jangan diluar." Farhan berdiri memanggil Zahra di dalam kamar. Ternyata Zahra juga sedang tidur karena kelelahan. Farhan kembali keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan-pelan.
"Zahranya sudah tidur, tadi capek kami abis dari lembang dan ke makam orangtua."
"Oh ya sudah, mari mas, saya permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Yahya kembali keluar rumah dan menaiki motornya. Farhan kembali duduk dan menghabiskan kopinya sambil merokok lintingannya.
Malam itu Farhan langsung masuk ke dalam rumah untuk istirahat.
*
Paginya setelah sholat subuh, Farhan dan Zahra yang menggendong Bulan keluar rumah untuk jalan-jalan. Udara yang masih dingin membuat mereka semua memakai jaket. Mereka jalan-jalan di sekitar rumah saja karena depan rumah mereka adalah jalan raya lumayan besar.
"Pa, nanti kita beli keramik, pasir dan semen untuk makam ibu dan bapak."
"Iya sayang. Kita minta anter atau bagaimana ya, Ma?" tanya Farhan.
"Iya, nanti kita janjian saja sama mang Jajang di matrial. Kalau di rumah nanti aku hubungi mang Jajang deh."
"Ya sudah."
Setelah mereka jalan-jalan, Zahra masak untuk sarapan. Bulan digendong oleh Farhan sambil diberi susu dan diberi makan pisang supaya ada tambahan gizi untuk Bulan.
Setelah sarapan mereka pergi ke matrial dan bertemu dengan mang Jajang disana, setelah urusan beres mereka pulang.
Sesampainya mereka di rumah, ternyata Yahya sedang menggendong Bulan di teras. Kami yang melihat Bulan yang sedang digendong oleh orang lain merasa kesal.
"Loh Ja, Ibu mana kok Bulan kamu yang gendong?" tanya Zahra.
"Ibu lagi di kamar mandi tadi. Ini Bulannya, dari tadi rewel nggak mau sama aku," ucap Yahya yang menyerahkan Bulan kepada Zahra.
"Eh anak mama, kenapa sayang mewek? Hmm...Iya sini sama mama. Udah lama Ya?"
"Belum lama Zahra. Mas, maaf tadi saya bertamu, terus sesudah kami mengobrol sebentar Ibu kebelet mau ke kamar mandi, jadi dia titipin Bulan ke aku!" Jelas Yahya.
"Iya nggak papa, terima kasih," ucap Farhan.
"Sudah dibuatkan minum, Ya?" tanya Zahra.
"Oh, nggak usah repot-repot Zahra. Abdi cuma sebentar saja."
"Sudahlah Ya, kamu mau kopi hitam?" tanya Zahra.
"Iya deh, boleh." Kemudian dia duduk di kursi. Farhan duduk di kursi sebelahnya dan sengaja agak digeser sebelum duduki oleh Farhan.
"Dari mana mas?" tanya Yahya.
"Dari matrial, beli keramik untuk makam Ibu dan bapak!" balas Farhan.
__ADS_1
"Oh, mau buat kijing?"
"Iya. Kamu nggak kerja, Ya?" tanya Farhan sambil mengambil rokok di kantong bajunya.
"Oh, saya nggak kerja mas. Saya cuma menunggui hasil panen saja dari petani."
"Oh, kamu pengepul?" tanyanya lagi sambil menyalakan rokok.
"Iya, sawah saya digarap oleh petani dan hasilnya dijual ke saya!" jelas Yahya.
"Rokok Ja?"
"Ada mas, rokok mah."
"Bagus hasil panen bulan kemarin?" tanya Farhan.
"Ya lumayan lah. Stabil kok hasilnya. Harganya juga stabil, jadi lumayan," jawabnya yang juga menghisap rokok.
"Ya, disana aja ya kopinya?" tanya Zahra.
"Iya disini saja Zahra, terima kasih." Gelas kopinya diletakkan oleh Zahra di atas tembok teras.
Zahra mengambil kursi plastik dari dalam rumah. Dia duduk disamping Farhan.
"Yahya, kerjaan lo apa sekarang?" tanya Zahra.
"Masih pengepul padi, Zahra."
"Oh, sawah masih banyak?"
"Sudah berkurang, karena ada yang dibeli sama apartemen, jadi peninggalan orang tua cuma tinggal separohnya saja!"
"Kok bisa dibeli Apartemen?" tanya Zahra.
"Pantesan lo pake motor mahal terus!" Kemudian Zahra merangkul Farhan.
"Kamu sudah menikah, Ya?" tanya Farhan.
"Sudah mas, tapi saya sudah bercerai sama yang pertama. Ternyata mantan istri saya matre, dia morotin terus, kerjaannya tiap minggu belanja abisin duit!" Jawabnya dan mematikan rokoknya di asbak.
"Hm, ya kalau wajar sih nggak papa, Ya, tapi kalau setiap minggu habiskan uang berjuta-juta itu namanya pemborosan juga!"
"Iya, makanya saya ceraikan saja. Udah lagi jaman susah begini. Sekarang saya sudah menikah lagi dengan gadis lebih muda lagi. Alhamdulillah dia gak boros. Tapi sudah dua tahun menikah dia belum hamil-hamil."
"Oh begitu. Anak yang dari istri pertama sama siapa?" tanya Zahra.
"Sama Ibunya, ada satu anak saya, masih kecil masih usia 3 tahun."
"Hmmm...Kamu rumahnya dimana Ja? Kok sering amat lewat ke sini?" tanya Farhan.
"Saya kebetulan kan gudang beras saya di dekat sini mas, jadi ke sini kalau ada yang mau giling padi atau mau beli beras!"
"Oh, dekat sini tempat penggilingan padinya?" tanya Farhan.
"Iya mas, main ke sana," ucap Yahya.
"Iya, nanti saya akan main ke sana kalau ada kesempatan!" jawab Farhan.
Tak lama setelah kopinya habis Yahya pulang.
__ADS_1
"Zahra, Farhan, Maaf tadi Ibu nggak bisa tahan kebelet BAB, jadi tadi nitipin Bulan kesi Yahya!" Ucap Ibu.
"Iya nggak papa bu, untung si Yahya orang baik," ucap Farhan.
"Oh, suamiku sudah tidak cemburu lagi sama Yahya?" goda Zahra sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya, tetep cemburu dong, siapapun yang mencoba godain kamu ya patut dicemburuin!" Ucap Farhan mencebikkan bibirnya.
"Hehehehe, Iya sayang, terima kasih sudah cemburu. Berarti Papa kan sayang sama mama!"
"Iya dong, mama juga sayang papa, nggak?" tanya Farhan.
"Iya dong!"
"Eh, iya kita pulang kapan?" tanya Farhan.
"Minggu depan saja ya Pa, kita hari minggu ini ke rumahnya Ana dan Reynaldi kan kita sudah janji. Minggu ini coba papa pasang plang dikontrakan di depan rumah. Kalau minggu ini ada yang kontrak, ya minggu depan kita akan pulang ke Jawa!"
"Ya sudah, papa akan buat sekarang. Papa mau ke warung dulu, mau beli Spidol."
"Iya Pa, hati-hati," jawab Zahra.
Farhan keluar ke warung dan Zahra kembali ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, Farhan kembali pulang dan menulis di sebuah karton dan di pasang di pagar dengan diikatkan tali rafia.
Sorenya Zahra dan Farhan sedang bermain dengan Bulan di teras.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam,"
"Maaf bu, rumah ini mau dikontrakan?" tanya seorang perempuan.
"Iya bu, silahkan masuk."
"Iya, nuhun bu."
Akhirnya setelah dia masuk, Zahra nego harga dan deal dengan kontrak selama tiga tahun, setelah melihat semua ruangannya.
"Jadi bagaimana, bu? Kalau jadi ibu bisa bayar uang tanda jadinya dulu, dua ratus ribu rupiah dan sisanya bisa dilunasi minggu depan."
"Ya sudah bu, jadi. Alhamdulillah dapat rumah bagus, baru direnovasi lagi jadi aman tak perlu dirapihkan lagi, tinggal masuk saja."
"Iya bu."
Setelah tanda jadi dibayar dan Zahra memberikan kuitansi tanda pembayarannya, Ibu itu pun pulang.
"Alhamdulillah Ma, cepat banget rumah ini laku dikontrak!" Sahut Farhan.
"Iya Pa, kan papa yang pasang plangnya....Hehehe!"
"Ah bisa aja nih mama, jadi pengen...."
"Husss...Nanti saja di Jawa, nanti kita minta pijit mak Hasnah dulu ya, Pa?" goda Zahra.
"Nah itu bener, biar joss...Bulan punya adek lagi...hihihi." Farhan tersenyum sambil mencubit ppinya Zahra.
.....
__ADS_1
.....
BERSAMBUNG