KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
TAMAT


__ADS_3

Bab 103.


"Kamu tau gak? Kalau warung saya omsetnya jauh turun karena ulahmu! Semua ini perlu makan, kawan-kawanmu yang bekerja disini butuh makan. Kalau saya tidak bisa lagi menggaji mereka bagaimana?" tanya Santi.


"Maafkan saya buuuu...huuu...!"


"Kompol sekarang bawa saja bu Aminah ini, terus interogasi juga dia kalau perlu si Ninu tangkap saja!!' Santi kesal sekali dengan kejadian ini.


"Kamu Aminah, merugikan warung ini saja!!"


"Kamu pergi dari sini!"


"Sialan kamu Aminah, awas kalau pengunjung disini jadi bertambah sepi!"


Begitu banyak umpatan dari karyawan staff yang lain.


"Sekarang kamu ikut saya!"


"Jangan pak, jangan pak...Ampun pak...Bu Santi tolong!" Aminah memelas.


"Sudah pak bawa saja, daripada dia yang tidak berguna ini malahan tinggal disini. Pengunjung warung ini nanti malahan bertambah sepi," ucap Santi kesal.


"Ayo kamu jalan!" Aminah langsung di borgol dan diseret oleh Kompol Reza dan ajudannya.


Warung dibuka lagi setelah Santi meracik kuah soto baru. Dan Santi memberikan promo potongan harga untuk semua makanan sebanyak 10% karena kelalaiannya dalam memberikan pelayanan kepada Pelanggan.


Itu sudah kesepakatan dengan Yahya dan akan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Sejak itu omset warung sotonya kembali ramai pembeli dan naik kembali sedikit demi sedikit.


Ninu akhirnya ditangkap oleh kepolisian Jawa Timur dan Bu Aminah dilepaskan atas persetujuan Santi serta janji dari bu Aminah. Permasalahan selesai dalam seminggu kemudian.


*


Dirumah Farhan, Zahra akhirnya mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga sekaligus membantu menjaga dan mengurus anaknya karena Ibu mertuanya sekarang sedang sakit-sakitan.


Kondisi Ibu yang makin lama makin menurun akhirnya Farhan dan Zahra memutuskan untuk merawat Ibu dirumah sakit. Santi kembali kewalahan. Akhirnya Santipun menerima pembantu dirumahnya untuk masak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.


Pembantu Santi berasal dari tetangganya yang butuh pekerjaan. Dia hanya bekerja dari padi sampai sore. Farell bertambah besar, channelnya sempat berhenti karena sering membantu Santi menjaga dan mengasuh Melati. Rudi yang sering main ke rumah Santi untuk bermain dengan Farell dan Melati. Rudi juga ingin punya adik seperti Melati.


"Rudi, ini adik Rudi, sebentar lagi kan mama mau melahirkan adiknya Rudi."


"Iya ma?"


"Iya sayang. Nanti Rudi harus menjaga adik nya ya...?"


"Iya ma...Adik laki atau pelempuan ma?" tanya Rudi.


"Hahahaha, mama tidak tau sayang." Jawab Dona.


"Aku maunya pelempuan seperti adik Mawar...!"


"Ya minta dong kepada Allah, supaya Rudi punya adik perempuan," Jawab Dona yang memberikan pengertian kepada Rudi.


"Baik ma, nanti ludi akan bicala sama aloh!."


"Oke."


Dua minggu kemudian Dona melahirkan seorang anak perempuan juga. Di klinik mereka kembali berkumpul. Zahra, Farhan, Santi dan Ramdani datang untuk memberikan selamat kepada Dona dan Yahya.


"Alhamdulillah, anakmu perempuan ya Dona, sama kita," Ucap Santi.


"Iya, jadinya semua sudah sepasang semua ya. Masih mau nambah, nggak?" tanya Santi.


"Aku ya masih mau nambah satu atau dua lagi," sahut Farhan.


"Ish papa, mama yang melahirkannya capek!" Sahut Zahra mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Kan banyak anak banyak rejeki sayang. Mama harusnya bersyukur kalau diberikan anak, berarti kita sudah dipercaya oleh Allah mempunyai momongan!"


"Iya tapi satu saja lagi, Kenapa harus dua sih, pa?"


"Biar rumah rame sayang..Hahahaha," Farhan menggoda Zahra.


"Iya deh, tapi papa harus bantu jaganya juga. Mau bikin tapi males jaga."


"Kan nanti Bulan dan Aryo sudah besar bisa membantu jagain mereka. Kita nanti masih lama dua tahunan lagi saja ma, biar mereka besar dulu."


"Kalau Santi masih mau nambah lagi, gak?" tanya Zahra.


"Masih dong. Aku masih pengen punya satu lagi. Ya kalau perempuan atau laki-laki gak masalah," jawab Ramdani.


"Iya mas, melihat Melati yang lucu aku masih mau kok nambah satu lagi...!" Balas Santi.


"Nah kan, istriku setuju!" Ramdani senang dengan jawaban Santi.


"Eh iya, bagaimana Ibu, mas Farhan?" tanya Dona.


"Ibu masih di rumah sakit. Ini kita mau kesana abis dari sini. Malam ini aku yang jaga, Zahra akan pulang."


"Iya nanti gantian saja sama kang Yahya, besok kan aku pulang, biar besok gantin dengan kang Yahya dan Ramdani.," ucap Dona.


"Terus bagaimana keadaan ibu sendiri mas?" tanya Yahya.


"Ya begtulah, Ibu kan gagal ginjal, sedangkan susah untuk mendapatkan donor ginjal. Kalaupun ada ya pasti mahal operasi transplantasi ginjal!" Jawab Farhan.


"Wah susah ya. Tidak pakai alternatif saja mas?" tanya Yahya lagi.


"Maunya sih, Ya, tapi nanti deh aku cek alternatif apa yang bisa menyembuhkan sakit gagal ginjal." Farhan seperti sudah pasrah akan hal itu.


"Ya nanti bisa dicoba mas Farhan, mudah-mudahan Ibu bisa sembuh dan sehat kembali!"


"Aamiin." Jawab Mereka semua.


"Ibu, gimana hari ini?" tanya Zahra dan Farhan.


"Hmm Masih begini saja Zahra, Farhan."


"Maksudnya masih sakit bu?" tanyanya lagi.


"Sakit sih sudah tidak. Tapi ginjal ibu ini sudah tinggal tiga puluh persen lagi fungsinya. Jadi kayaknya Ibu makin parah saja nanti."


"Huss jangan bicara seperti itu bu, hidup dan mati seseorang ditangan Allah dan kita sebagai umatnya hanya bisa berdoa dan berikhtiar saja," Balas Zahra.


"Iya Zahra, semoga nanti Ibu bisa sembuh lagi."


"Bu nanti akan saya carikan obat alternatif deh. Jamu-jamu atauapa yang bisa mengurangi sakit ibu!" Ucap Farhan.


"Jadi kapan Ibu boleh pulang?"


"Nanti aku ke ruang perawat dulu ya, mau nanya kapan ibu boleh pulang. Karena kalau disini terus selama donor ginjalnya tak ada akan susah juga dan lama-lama membengkak tagihan rumah sakitnya."


"Iya mas, coba tanya dulu!"Sahut Zahra.


Farhan berdiri dan berjalan ke ruang perawat untuk menanyakan mengenai kondisi ibu dan kapan diijinkan pulang.


Setelah mendapatkan jawaban, Farhan kembali lagi ke dalam ruang perawatan.


"Ibu boleh pulang dua hari lagi ma, mau habiskan infusnya dulu," ucap Farhan.


"Alhamdulillah, kalau begitu aku pamit ya mas, kamu disini sendirian, tak apa-apa kan?" tanya Zahra.


"Iya sayang tak apa-apa."

__ADS_1


Kemudian Zahra pamit ke Farhan dan Ibu. Di rumah sakit Farhan menunggui Ibu.


Besok paginya Farhan pulang ke rumah. Malamnya Farhan kembali ke rumah sakit. bersama dengan Bulan yang ingin ikut menjenguk Neneknya.


"Nenek, kapan pulang ke lumah nek?" tanya Bulan.


"Nenek pulang besok nak, kamu yang baik ya dirumah, jangan bandel. Nanti Bulan harus rajin belajar ya supaya jadi anak yang pintar," ucap Neneknya yang kemudian menitikkan air matanya.


"Tuh nenek bilang dan pesan ke Bulan supaya rajin belajar. Bulan juga harus menjadi anak soleha, berbakti kepada kedua orangtua dan kepada Allah," Farhan menambahkan.


"Iya Pah, Nek, Bulan akan belusaha untuk menjadi anak yang pintal!" Bulan menjawab dengan mimik yang lucu.


"Farhan, Zahra kemana?" tanya Ibu.


"Nanti menyusul bu, dia sedang menjemput Dona dulu."


"Oh ya sudah, Ibu akan tunggu!" Jawab Ibunya yang kemudian terlihat menengok ke sebuah tempat dan tersenyum.


Tak lama berselang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Zahra, sini nak..." Ucap Ibu.


“Iya ibu ada apa?" tanya Zahra dan duduk di kursi samping brankar ibu. Aryo digendong oleh Farhan.


"Zahra...Farhan...Maafkan Ibu ya, Ibu sudah menyusahkan kalian selama ini..!"


"Ibu ngomong apa sih?? Tidak ada yang salah dari Ibu....Aku sudah maafkan semua salah Ibu. Zahra yang banyak salah ke Ibu!"


"Iya bu, jangan berpikiran begitu.."


Ibu terdiam dan memejamkan matanya. Tak lama...


"Allllaaaaaahhhhhuuuu...Akbaaarrr........" Dada Ibu naik dan matanya mendelik keatas.


"Ibu...Ibu...Kenapa Bu??!!!!" Farhan langsung lari memanggil suster.


"Ibu....." Zahra membimbing Ibu dengan mengalunkan kalimat Tauhid di telinganya dan Ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Zahra langsung mengelus mata Ibu.


"Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un" Mata Ibupun terpejam.


"Nenek.....Huuuuu...." Bulan menangis dan langsung dipangku oleh Zahra.


"Sayang, nenek sudah pergi...!" Jawab Zahra yang menangis sambil melihat Ibu yang tidur dengan tenang.


"Suster...Ibu saya!" Farhan datang dengan suster kemudian terdiam.


"Sudah pergi mas...!" Zahra memeluk Farhan.


"Ibuuuuuu.....Huuuuuu..." Farhan menangis sambil memeluk Ibunya.


"Sudah tidak ada pak, bu. Beliau sudah meninggal dunia," Sahut susternya.


"Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un"Farhan Mengucapkan sambil menangis kembali.


Kemudian Farhan mengurus pengurusan dari rumah sakit. Zahra pulang duluan untuk mempersiapka  semuanya. Kedukaan melanda keluarga Farhan dan Zahra.Semua pelayat datang dan besoknya mengantarkan Ibu ke pemakanan untuk peristirahatannya yang terakhir.


Setelah beliau meninggal, mereka semua hidup dengan bahagia.


**

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2