
Bab 75.
Tak lama kemudian orang keuangan Yanti datang membawa uang seratus juta rupiah yang ada di dalam tas kecil. Setelah diserahkan ke Yanti, mereka menghitung uangnya kembali dan memasukkan ke tas kembali.
"Tanda-tangan dulu kuitansi penerimaan uangnya!" Ucap Yanti dan orang keuangannya memfoto ketika Basuki menandatangani kuitansinya.
"Oke, sudah. Terima kasih! Seminggu lagi saya akan datang ke sini untuk mengambil donanya!" Ucap Basuki.
"Baik, silahkan keluar." Ucap Yanti dengan tenang.
Wajah Basuki yang terlihat senang mengabaikan Yanti dan langsung membawa uangnya keluar dari ruangan Yanti. Sambil bersiul dia jalan menuju ke pintu luar kantor dan membuka jok dan meletakkan uangnya di bawah Jok Motor.
"Alhamdulillah, gue punya duit sekarang! Mau ke tempat Muso dulu deh!" ucapnya sendiri.
Motor langsung meluncur ke arah warung tongkrongan Muso. Sesampainya di sana Muso tidak ada dan dia menunggu dengan ditemani oleh cewek-cewek yang menawarinya minum bir. Mereka bersenang-senang dan bernyanyi karaoke bersama.
Basuki sangat royal kepada cewek-cewek itu dan sering menyawer karena uangnya banyak.
Musopun datang dan ikut berkumpul dengan Basuki.
"Weh braayy...! Kayaknya ada yang lagi happy nih! Ajak-ajak dong broyy!!"
"OkeMus, minum sepuasnya gue yang traktir semua gue bayarin! Apa aja gue bayarin! Hahahaha..." Walaupun Basuki belum mabuk tapi omongannya sudah mulai melantur.
Muso sepertinya mau memanfaatkan Basuki. Sesudah dua jam mereka bersenang-senang, Muso mengajak Basuki untuk keluar dan minum kopi di meja yang kosong.
"Gimana bro! Udah dapat duit kayaknya??" tanya Muso.
"Tenang Mus! Gue udah dapat terus bagaimana rencana lo? Kapan mau dilaksanakan?" tanya Basuki gemas.
"Hmmm…..Kayaknya minggu depan saja bro...Gue ada urusan dulu, gimana kalau elo kasih gue uang depe dulu?" tanya Muso berharap Basuki akan mengabulkannya.
"Ya tenang aje! Berape DPnye?" tanya Basuki.
"Ya lima juta ajah bro...Gue lagi butuh duit nih! Buat kirim ke kampung gue, emak gue lagi sakit!" ucapnya merayu. Basuki mengambil uang satu gepok dan menyerahkannya ke Muso.
"Nih, uang mukanye! Kalau elo bohong, gue habisin lo!" Basuki mengancam.
"Oke bro..Thanks ya!" Muso mencium uangnya dan masukkan ke dalam kantong.
"Oke Mus, gue harap elo nanti tetap dengan rencana semula dan elo harus hati-hati! Kalau elo ingkar elo harus tanggung-jawab! Dan satu lagi, kalau elo ketangkep gue akan cuci tangan!" ucap Basuki tegas.
"Oke bro...Tenang ajalah! Pokoknya beres bro! Elo lanjutin lagi ke dalam, masih bisa bawa pergi itu perempuan yang mau elo bawa! Semua demen sama elo! Hahahaha..." Dia kemudian pergi ke dalam dan Basukipun mengikutinya. Dan begitu dia mau masuk, dari jauh melihat Santi dan Farell sedang di atas motor dan berhenti di trotoar.
"FARELL!!" Teriaknya.
"Wei Farell!!" Basuki memanggil lagi dan mengangkat tangan kanannya melambai ke Farell dan Santi.
***
Ditempat lain, Santi dan Farell siang itu sedang mencari buah-buahan untuk warungnya Santi. Karena kebetulan saat itu pisang yang dicarinya tidak ada mulai pagi, jadi dia mengajak Farell untuk ke pasar buah di desanya.
__ADS_1
Mereka berdua naik motor dan ketika melewati jalan itu, Farell menunjuk ke sebuah warung yang terkenal dengan tempat mabok dan tempat karaoke para hidung belang.
"Bu, itu bukannya bapak?" tanya Farell.
"Mana mas?" tanya Santi.
"Itu bu, yang pakai jaket, Itu kan motor yang biasa bapak bawa?" tanyanya lagi. Santi sengaja berhenti setelah warung itu tapi tidak terlihat.
"Coba ibu lihat...! Oh iya benar mas, berarti bapakmu sudah keluar dari penjara, ya? Wah yang satunya aku tau Mas, kalau gak salah yang sering main judi dulu, katanya dia dipenjara, kok ada lagi ya? Dan sedang bicara lagi dengan bapakmu!!" ucap Santi.
"Iya bu, aku juga dulu pernah digangguin sama orang itu. Aku ingat bu!" ucap Farell.
"Wah, kayaknya ada rencana apalagi nih bapakmu?? Harus diwaspadai nih kalau begini!"
Tiba-tiba Basuki melihat ke arahnya dan melambaikan tangan sambil berteriak memangil Farell
"Farell!!
"Farell!! Basuki memanggil Farell.
"Bu, cepet pergi bu!!" Ucap Farell.
"Iya..." Kemudian Santi langsung melajukan motornya ke pasar sekaligus kabur.
Kemudian Basuki hendak mengambil motornya dan menyusul Santi tapi diurungkan niatnya karena takut Farell marah lagi ke dia.
Santi langsung mengebut dan tidak lihat ke belakang lagi. Sesampainya di pasar Santi langsung membeli pisang dan pulang dengan mengambil arah yang berlawanan supaya tidak bertemu lagi dengan Basuki.
Sesampainya di warungnya lagi, Santi dan Farell turun. Santi segera memberikan kepada anak buahnya pisang yang dia beli banyak.
"Dapat mas. Mas tadi di jalan kami melihat Basuki di tempat tongkrongan karaoke!"
"Ah masa? Dia sudah bebas dari penjara?" tanya Ramdani kaget.
"Iya sepertinya. Dia sempat melihat kami, untung tak mengikuti kami. Aku langsung melajukan motorku ke pasar!" Ucap Santi.
"Wah, kita kasih tau Farhan juga supaya dia waspada!" Balas Ramdani.
"Iya mas, kalau memang dia berbahaya bisa di ungsi dulu ke rumah Paklek!" timpal Santi.
"Hmmm...Kamu telpon Farhan atau Zahra biar mereka mulai waspada!" ucap Ramdani menyuruh Santi menelpon.
"Iya mas, sebentar." Kemudian Santi menelpon Farhan.
["Halo, Assalamualaikum."] Santi
["Waalaikumsalam San, ada apa?"] Farhan
["Kamu dimana?"] Suara ponsel dikeraskan oleh Santi.
["Aku di rumah, abis dari sawah, soalnya sebentar lagi mulai panen, mungkin dua atau tiga minggu lagi. Jadi harus sering mengawasi pengairan dan penyemprotan Hama!"] Farhan
__ADS_1
["Hm, begini Han. Tadi aku mau ke pasar beli pisang dan di jalan melihat Basuki! Malahan Farell yang melihat duluan!" ] Santi
["Ah masa? Basuki sudah bebas lagi?"] Farhan
["Iya Han, kalian harus hati-hati. Soalnya juga kami tadi lihat dia sedang bicara berdua dengan Preman yang lama sudah tidak ada, eh tadi liat sedang bicara dengan Basuki!"] Santi
["Hmmmm...Ya kita akan waspada!"] Farhan
["Ya sudah, kalian waspada ya, soalnya sekarang dia berbahaya. Dan sepertinya kalau dia ke situ pastinya minum-minum juga dan main perempuan!"] Santi
["Jangan su'udzon San, kalau aja memang dia mau bertemu dengan orang itu, jadi dia kesana! bagaimana??"] Farhan
["Ya semoga, tapi pergaulannya sekarang sama preman gitu! Ih serem banget sih!"] Santi
["Ya namanya juga sudah pernah di penjara San, mungkin pernah satu penjara kali mereka, jadi mereka ketemu lagi!"] Farhan
["Ya mungkin juga. Ya sudah, Assalamualaikum."] Santi
["Waalaikumsalam."] Farhan. Santi mematikan ponselnya.
"Sudah mas, kayaknya semua harus mulai waspada," ucap Santi dengan nada kuatir.
"Sudahlah, kamu jangan khawatir gitu, Aku akan menjaga kalian tenang saja!" ucap Ramdani dengan penuh keyakinan sambil memegang bahu Santi.
"Terima kasih mas. Kamu mau kubuatkan kopi lagi?" tanya Santi.
"Boleh, Markus juga dibuatkan soto, kayaknya dia harus dikasih nambah soto, dan buatkan juga kopi buat dia...Terima kasih ya sayang."
"Iya mas, aku buatkan dulu."
"Iya sayang," Jawab Ramdani.
Setelah Isya Santi, Ramdani dan Farell pulang ke rumahnya dengan naik motor. Mereka mampir dulu ke rumah Farhan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mereka masuk ke dalam sambil membawa Rawon untuk di rumah.
"Eh San, ayo makan," ajak Farhan.
"Wah kebetulan, ini aku membawa rawon, kan aku disana juga jual rawon buat penambah menu saja. Soalnya banyak yang cari rawon dan mereka harus jauh membelinya."
"Wah, jadi tambah rame aja dong daganganmu?" tanya Farhan.
"Ya Alhamdulillah, Ini bu rawonnya, masih anget." Santi meletakkan rantang yang berisi rawon di tengah meja dan membuka penutupnya.
"Wah iya, masih anget. Ibu cicipi ya San," ucap Ibu.
"Iya bu."
.....
__ADS_1
.....
BERSAMBUNG