
Bab 100.
"Ohh...Juru masaknya mana?" tanya Ibu.
"Itu yang sedang masukin bumbu di depan kompor," Jawab Minah dan mengajak ketemu dengan juru masaknya, Bu Aminah.
"Bu Aminah, ini kenalkan Ibu nya Bu Santi, katanya mau bantu masak di dapur."
"Oh kenalkan saya Aminah bu."
"Saya Ibu Tugino. Sini saya bantu aduk kuahnya."
"Silahkan bu. Biar saya kerjakan yang lain."
Seharian ini Bu Tugino membantu masak di warung soto Santi,setelah malam mereka pulang ke rumah.
Sesampainya dirumah, Bu Tugino terlihat lelah dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Santi gantian mandi setelah Ibu Tugino selesai mandi. Mereka berdua kemudian duduk diteras. Ramdani datang dari bengkelnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Baru datang mas?"tanya Santi.
"Tadi sudah pulang, cuma melihat kamu belum pulang, aku hanya mandi dirumah terus balik lagi ke bengkel lihat yang lagi lembur. Bagaimana hari ini? Ibu capek?" tanya Ramdani.
"Wah, capek han, aku bantu masak di sana. Aku salah sangka sama istrimu, ternyata pelanggannya banyak sekali. Tempat duduk tak pernah kosong. Luar biasa warung istrimu ini!"
"Ya makanya bu, Santi tak bisa tidak datang ke warung itu karena dia juga harus menjaga kualitas,rasa dan kebersihan warung."
"Iya maaf ya San, Ibu tidak paham kerjaan kamu."
"Iya bu tidak apa-apa. Tapi aku ucapkan terima kasih kalau ibu tadi bantu masak di warung."
"Ah ibu malahan mau ke sana terus deh, San, abis seru banyak pelanggan, jadi tidak bosan!" Jawab Ibu mertuanya.
"Ya warung itu semenjak sering divideokan oleh Farell dan sering banyak pelanggan yang kasih testimoni, warungku bertambah banyak pelanggannya. Malahan, tiga kali lipat sekarang dibandingkan dulu!"
"Berarti Farell yang marketingin, ya?" tanya Ibu.
"Iya, videonya memang buat menarik orang datang dan mencicipi sotomu sayang," Sahut Ramdani.
"Mas mau aku buatkan kopi? Ibu teh?" tanya Santi sambil berdiri.
"Boleh kalau teh, aku sudah minum kopi banyak sayang hari ini," Jawab Ramdani.
"Hm, ya sudah, aku bikinkan teh manis panas saja di teko ya."
"Iyasayang. Sekalian kalau ada cemilan. Itu makanan frozen nya digoreng saja."
"Iya mas."
Setelah Santi selesai menggoreng beberapa jenis makanan beku, dia keluar membawa nampan isi makanan di piring dan seteko teh.
"Gelasnya tolong ambilkan mas!"
__ADS_1
"Oke." Ramdani ke dalam mengambil gelas dan membawanya ke teras.
"Ini makanan, enak buat cemilan," ucap Ramdani sambil mengambil sosis goreng yang dicocol dengan saus sambal.
"Enak emang. Ibu, ayo sambil makan, ini makanan olahan," sahut Santi.
"Iya San. Nanti saja. Ibu tadi sebelum pulang makan rawon di warung, jadi masih kenyang!"Jawab Ibu.
"Ya sudah...!"
"Ibu jadi besok mau ikut lagi?"tanya Santi sambil memakan sosis goreng.
"Ya dong, daripada ibu di rumah. Setelah kita beberes rumah kita berangkat ke warung," ucap Ibu.
"Ya sudah. Tapi kayaknya bulan depan akan aku serahkan ke Dona dan Yahya bu, karena aku persiapan untuk melahirkan."
"Kenapa memang kok diserahkan?" tanya Ibu.
"Ya nanti mereka 6 bulan saja dagangnya, nanti saya lanjutkan. Soalnya aku mau persiapkan melahirkan dan kayaknya memang tidak bisa urus. Ibu tetap saja bantu disana. Aku memberikan ibu gaji juga kok, tenang saja bu. Tapi Ibu jangan dipaksakan karena ibu nanti capek. Kesehatan ibu lebih penting daripada warung." Santi menyiratkan bahwa dia sayang dengan Ibu Tugino.
Ibu Tugino yang mendengarnya sangat terharu dan memeluk Santi.
"Terima kasih San, ibu sangat bahagia mempunyai mantu kamu!" IbuTugino terenyuh.
"Terima kasih bu. Ibu juga kan Ibu saya. Besok malam kita ke rumah Zahra dan Farhan yuk mas," ajak Santi.
"Iya boleh sayang."
Besoknya Santi dan Ibu Tugino kembali datang ke warung dan melaksanakan tugas kembali.
"Ibuuuuuu..." Teriak Santi.
"Aaahhhh...." Ibu Tugino jatuh ke lantai dan tergeletak tak sadarkan diri.
"Ibu...Ibu...Bangun buu!" Orang-orang berkerumun.
"Sudah sudah cepat angkat ke kamar dulu!" Teriak Santi panik.
Ibu Tugino digotong ke dalam kamar dan direbahkan dikasur. Santi menelpon Ramdani.
["Mas, Ibu pingsan mas, cepetan ke sini!"]
["Iya, telpon Dona minta dia kesana untuk antar ibu ke rumah sakit!"]
["Tak usah mas, aku saja yang bawa Ibu!"] Jawab Santi yang masih pAnik.
"Tolong ada yang bisa bantu saya membawa ibu saya ke rumah sakit?" tanya Santi ke para pelanggannya.
"Ayo bu, saya bawa mobil, kita bawa ke rumah sakit!" Sahut seorang bapak-bapak berdiri. Kebetulan dia membawa mobil. BuTugino langsung diangkat dan dimasukkan ke mobil. Mobil menuju ke rumah sakit.
["Mas, aku bawa Ibu ke rumah sakit, kamu segera kesana ya nyusul aku!"]
["Iya, aku ke sana!"]
Santi menelpon Dona.
__ADS_1
["Halo Dona, Ibu mertuaku pingsan tadi, kalau bisa kamu dan Farell ke sana ya!"
["Halo, iya, Ya Allah kenapa lagi ibu, San??"]
["Gak tau Don, Ibu tiba-tiba jatuh dan pingsan."]
Sampai dirumah sakit, Ibu langsung ditangani oleh tim medis dari rumahsakit tersebut.Ibu masih dalam keadaan belum sadar dan langsung yantiwat ICU. Kondisinya beum staDen sampai malam.
Di rumah sakit sudah berkumpul keluarga Farhan dan keluarga Dona. Mereka selama beberapahari bergantian menjaga Ibu. Setelah hari ketiga, Ibu siuman. Ternyata setelah diperiksa secara Intensif ada penghambatan di pembuluh darah ibu yang ke jantung dan harus segera dioperasi pasang ring.
"Mas, apakah ibu punya asuransi dari pemerintah?" tanya Santi.
"Belum punya sayang. Apa aku urus dulu ya besok, supaya ibu bisa dioperasi segera?"Tanya Ramdani.
"Iya mas, urus dululah, supaya bisa ditanggung sebagian. Uang operasinya mahal sekali!" ucap Santi.
"Iya besok akan aku urus sayang," balas Ramdani.
"Mas, apa bapak sama ya kemarin, pas meninggal? Karena kejadiannya kayaknya sama, ada penyempitan pembuluh darah di jantung!" ucap Santi.
"Ya mungkin sayang. Tapi ibu sudah siuman dan terlihat sudah enakan, ya?" tanya Ramdani.
"Iya mas. Alhamdulillah. Kalau segera operasi sangat mahal, makanya kalau dengan asuransi kesehatan pemerintah setidaknya kalaupun basar ya tidak semuanya."
"Iya sih sayang."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Zahra, Farhan. Kalian dari rumah?" tanya Santi.
"Iya San, gimana Ibu?" tanya Farhan.
"Ibu sudah diperiksa secara intensif. Mengalami penyempitan pembuluh darah dan harus pasang ring. Jadi harus operasi."
"Iya, pasang Ring mahal kan mas?" tanya Zahra.
"Iya, mau coba urus asuransi kesehatan dari pemerintah dulu. Kali aja tidak jadi mahal dan sebagian bisa dihandel. Kalau semua bisa dibayar, ya alhamdulillah." Ramdani menambahkan.
"Mau gantian tidak, jaganya?" tanya Farhan.
"Ya bolehlah,"ucap Santi dan Ramdani.
"Tapi aku nanti akan telpon Yahya dulu. Zahra kan nggak bisa disini masalahnya kan masih ada Aryo yang masih butuh ASI."
"Yahya sudah dihubungi belum?" tanya Santi.
"Sudah mereka mau kesini juga. Farell katanya juga mau ikutan."
......
......
BERSAMBUNG
__ADS_1