
BAB 37.
POV FARHAN
Kemudian berjalan ke sebuah tempat duduk yang agak sepi. Tak Jauh dari bangku taman yang terbuat dari besi itu ada tukang asongan menjual kopi hitam. Aku memesan dan duduk dibangku taman.
Kubuka tas kecilku dan membuka kembali HPnya Dona. Aku pencet dan ternyata masih belum terkunci layarnya.
Aku baca semua chatnya dengan Santi, ternyata dia telah merencanakannya dengan Santi. Dan Dona memang menaruh kopiku dengan sedikit obat tidur. Mereka ternyata bersekongkol dan melibatkan ibu juga.
Dia juga pernah memelet aku dengan pergi ke dukun, dan semua itu aku dapatkan dari beberapa kali chat ke Santi.
"Brengsek!! Aku akan buat perhitungan dengan mereka!" Tiba-tiba ada telpon dari Santi aku nggak angkat, Berdering beberapa kali dan akhirnya diam. Aku tangkap layar isi chatnya dan kukirim ke nomorku semuanya. Aku juga memvideokan semua isi dari chat-chatnya.
Aku melihat ada ojek online dan berjalan ke arahnya. Sebelumnya HP Dona aku bungkus dengan beberapa plastik hitan dan kukaretkan.
"Mas, bisa bantu saya kirim paket, nggak?" tanya ke dia.
"Eh bisa pak, kemana?"Kemudian kutulis alamatku dan ku chat ke HP si abang ojek onlinenya.
"Ini alamatnya sudah saya chat! Dan ini uang ongkosnya!! Sekarang ya! Tapi ingat, jangan kasih tau ke mereka, kalau aku ada disini! Bilang saja ditempat lain!" ucapku kepadanya
Dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baik mas. Ini ongkosnya? Wah, gede amat mas!" ucapnya sambil tersenyum.
"Iya makanya, ini paket penting, Kalau kamu sudah kirim maka kamu kembali ke sini, karena saya minta dianter ke suatu tempat! Oke!"
"Iya mas. Saya mengerti!" Dan dia langsung memasukkan paket itu ke dalam jaketnya.
"Mas, saya tunggu disini! Setelah kirim paket ini, jangan ngomong apa-apa, dan bilang saja kamu hanya kirim paket ini!! Jangan bicara sama mereka!!" ucapku.
"Iya mas. Saya pergi dulu." ucap supir ojek online nya.
"Ya hati-hati, mas, Suwun." sahutku.
Ojeknya langsung melajukan motornya ke jalan raya dan menghilang tak keliatan lagi. Kujalan ke kursi taman tersebut dan mematikan HP. Kuteruskan menyesap kopi dan merokok sebatang.
"Rasain lo! Aku kan balas semua nanti perbuatan mereka kepadaku dan zahra!!" Aku berbicara sendiri.
Sekitar Sejam kemudian. Ojek online nya itu kembali dan memarkirkan motornya di pinggir taman, Dia turun dan berjalan ke arahku.
"Mas, udah selesai kirimnya?" tanyaku memandangnya.
"Alhamdulillah mas. Beres!" ucapnya.
"Sip! Kalau begitu ngopi ya?" tawarku kepadanya.
"Boleh mas." Dia duduk dan melepaskan jaketnya. Aku memesan kopi segelas lagi kepada penjualnya.
"Hm, gimana mas, tadi sampai disana? Gimana reaksi mereka?" tanyaku kepo.
__ADS_1
"Haduh masssss...Aku ditahan sama mereka, sempat disuruh turun aku mas tapi aku tak mau, dan langsung aja kabur!"
"Disana masih ada motor nggak?" tanyaku was-was.
"Udah nggak ada mas." jawabnya lagi.
"Berarti Paklekku udah pulang!" ucapku.
"Emang kenapa tho mas, kayaknya mereka panik banget, dan marah-marah gitu!!"
"Ya ini urusan keluarga mas. Itu yang tua, Ibuku, dan yang gemuk pakai jilbab itu kakakku! Tadi saya kabur ke sini mengambil HP cewek yang pakai baju putih itu!" jelasku kepadanya.
"Oh itu tadi paketnya HP isinya?" tanyanya lagi.
"Iya. Ya sudah mas, ini kopnya sudah datang." Penjualnya datang membawakan kopi untuk ojek online nya.
"Eh mas, maaf namanya siapa?" tanyaku.
"Saya Darno mas!" jawabnya.
"Hm, mas Darno tinggal dimana?"
"Aku tinggal dekat sini saja mas."
"Ya sudah, minum dulu kopinya, nanti antarkan saya ke rumah Paklek saya yang tadi ada di rumahku."
"Oh, yang naik motor itu?"
"Iya mas."
Kujalan masuk ke halaman rumah paklek, dan aku melihat Zahra disana, aku tak percaya dan mengucek-ucek mataku. Langkah kupercepat langsung ke teras.
"Sayang...I!!" panggilku.
Zahra melihat ke arahku dan dia berlari ke dalam rumah dan menutup pintu rumah paklek.
"Sayang, buka pintunya sayang, aku minta maaf...! Aku bisa jelaskan semuanya!" Kugedor-gedor pintunya. Aku mendengar suara Zahra menangis.
"Jangan cari aku lagi mas! Kamu sudah melukai hatiku! Kamu pergi!!" Teriak Zahra dari balik pintu.
"Sayang...Jangan gitu..!" Aku goyang-goyangkan handel pintunya. Ternyata dikunci dari dalam
rumah.
"Heh Farhan, kamu ngapain kesini!!"
Aku menengok ke arah suara itu! Ternyata Paklek baru datang dengan motornya.
"Paklek..!" Aku berdiri diam dan kududuk saja di bangku.
Paklek berjalan ke arah teras. Dia terlihat marah dan akan menghajarku.
__ADS_1
"Kamu berani ya datang ke sini!! Sudah bikin malu tadi dirumahmu!! Pergi kamu dari sini!! Anak nggak tau diuntung!" Bentak pakde murka.
Aku berdiri.
"Paklek jangan marah dulu, kenapa paklek nggak kasih tau kalau Zahra ada dirumah paklek?" Takut sekali aku pada waktu itu. Kulihat Paklek sangat marah sekali.
"Zahra disini karena kamu nggak becus jadi suami!! Sudah selingkuh dengan wanita lain! Pergi kamu! Jangan buat paklek marah!!" Bentaknya lagi.
"Paklek sabar dulu! Aku bisa jelaskan. Aku sudah punya buktinya! Makanya paklek jangan marah dulu. Duduk dulu paklek!"
Dia diam dan akhirnya duduk.
"Mau kamu apa, sekarang??!!" tanya paklek yang masih terlihat marah.
Aku keluarkan HP ku dn mendekat duduk di samping paklek.
"Ngapain kamu dekat-dekat dengan paklek!!"
"Saya mau kasih tau bukti ke paklek!”
Kemudian aku perlihatkan semua pembicaraan Santi dan Dona yang juga melibatkan Ibu. Semua mulai dari aku dipelet sampai aku dijebak dengan foto syur.
"Astagfirullah Al-Adzim, Farhan, maafkan Paklek. Paklek tak percaya sama kamu, Le!" Dia menepuk pundakku.
"Makanya, tadi kunci jawabannya saya yakin di HPnya Dona, oleh kerana itu saya bawa lari dan kabur paklek!" jelasku kepadanya.
"Iya sebenernya Paklek juga nggak percaya dengan semua yang sudah kamu lakukan. Tapi Bagaimana saya mau membela kamu?? Kan dia megang bukti foto kamu!"
"Saya faham paklek, karena bukti foto itu sudah menjadi bukti yang kuat bagi dia. Tapi setelah liat chat ini apakah paklek masih percaya dengan bukti foto itu?" tanyaku.
"Ya sudah, aku percaya sekarang sama kamu. Kamu daridulu kan memang anak baik-baik Le, jadi paklek bingung karena bukti foto itu! Sekarang paklek mau masuk dulu memanggil Zahra, ya."
"Iya Paklek, suwun paklek." Aku mengucap syukur alhamdulillah bisa bertemu lagidengan istriku yang sangat kusayangi.
"Zahra, buka pintunya! Ini Paklek mau masuk." Pintu terbuka dan kudengar Zahra berlari ke dalam rumah.
Aku masih duduk di kursi teras menunggu semua nya hadir.
Tak lama kemudian, Paklek dan Bulek muncul dari dalam rumah dengan Zahra di paling belakang.
"Sayang." Aku mau mendekat kearahnya cuma Zahra menghindar.
"Udah Zahra, kamu jangan begitu dengan suamimu! Ayo cium tangan suamimu dulu!" Sahut paklek.
Zahra mendekat kepadaku dan mencium tanganku. Inginku langsung memeluknya, tapi kutahan karena dia masih marah. Terlihat sekali dari raut wajahnya yang ditekuk dan penuh dengan kekesalan.
"Sini duduk Zahra. Sini di samping Bulek." Dia duduk dan tetap memgang tangan bulek.
"Nah Zahra, paklek mau menjelaskan semuanya kepadamu. Nak Farhan ini tak bersalah. Dia sudah dijebak oleh komplotan Dona, Santi dan Ratih. Jadi nak Farhan, kemarin malam itu kami sudah memanggil orang pintar, kebetulan tetangga kami itu ada yang bisa mengobati orang. Dan setelah diadakan ritual, ternyata kamu memang sedang dipelet pakai Pelet darah Haid!" Jelas Paklek.
......
__ADS_1
......
BERSAMBUNG