
Bab 64.
Setelah semua selesai urusan dan pembayaran kontrak rumahnya dilunaskan oleh yang hendak mengontrak, semua pulang dengan bus ke Jawa. Bulan selama dalam perjalanan juga senang, hanya setelah sampai di rumah di jawa, Bulan badannya panas, agak anget.
"Pa, kita bawa bulan ke dokter atau ke mak Hasnah? Biar dipijit mungkin ada yang harus diluruskan dan dilemaskan ototnya?" tanya Zahra.
"Iya boleh,ke rumah mak Hasnah saja sekarang, mumpung masih belum siang,” sahut Farhan.
"Iya yuk." Bulan dibawa ke rumah mak Hasnah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Wah, Zahra sudah pulang dari Bandung?" tanya mak Hasnah.
"Alhamdulillah tadi pagi baru sampai mak. Apa kabar?"
"Baik Zahra." Mereka bersalaman.
"Mak ini ada oleh-oleh, cuma sedikit...Hehehe," ucap Zahra.
"Wah, repot-repot amat sih bawain oleh-oleh segala! Terima kasih ya Zahra, Farhan," ucapnya.
"Iya mak hanya sedikit saja kok, mak." Kami duduk di atas tikar.
"Mak, ini Bulan agak anget badannya, bisa diurut nggak?" tanya Zahra sambil membuka ikatan gendongan Bulan. Bulan dipangku dan senyum kepada mak Hasnah.
"Ini anak senyum terus, enak ya di sana dingin, ya?" Mak Hasnah menggoda Bulan.
"Hehehehe..." Dia tertawa.
"Ya sudah, kita ke kamar. Terus dibuka saja bajunya semua."
Kami ke kamar kecil tempat kami pijit. Dan akhirnya mereka bertiga semua dipijit. Bulan sudah adem badannya. Mungkin selama di Bandung juga, dia banyak tangan yang pegang dan gendong.
Tak lama kemudian kami pulang dan Bulan sudah bisa tertawa-tawa lagi. Neneknya yang sudah menunggu senang akhirnya Bulan sudah tertawa lagi kepada neneknya.
"Nek, Bulan sudah sembuh dong."
"Iya nenek juga senang akhirnya Bulan sudah sehat lagi," ucap neneknya.
"Bulan diberikan obat penurun panas saja sekali, nek," ucap Farhan.
"Iya boleh." Kemudian neneknya memberikan bulan obat.
Sorenya rumah kedatangan Paklek dan Bulek serta Yunis yang katanya mau ketemu dengan Bulan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh Paklek, Bulek, Yunis tumben ikut," ucap Zahra.
"Iya mbak Zahra, mau ketemu sama Bulan nih." Mereka bercipika-cipiki.
"Iya, Bulannya masih tidur di kamar, masuk saja ke kamar."
Farhan yang baru bangun tidur bersama Bulan akhirnya keluar dari kamar.
__ADS_1
"Eh ada Paklek, Bulek, Yunis, bertiga saja?" tanya Farhan.
"Iya kami bertiga saja." Mereka bersalaman.
"Kami mau melihat cucu, nih!" ucap paklek.
"Kangen ya sama Bulan?" tanya Farhan.
"Iya, mana Ibumu?" tanya Paklek.
"Ada di kamar, mungkin masih kelelahan paklek," jawab Farhan.
"Hm, ya sudah nggak usah di bangunin!"
"Mau minum apa ini?" tanya Zahra.
"Apa sajalah Zahra," Jawab paklek.
"Bagaimana kabarnya paklek?" tanya Farhan.
"Baik saja. Disana sudah selesai semua urusan?"
"Sudah paklek, alhamdulillah."
\====
Di Penjara
Setelah melalui keamanan Yanti masuk ke sebuah ruangan kecil.
"Sebentar bu, tunggu saja disini," ucap sipir penjara.
Tak lama kemudian datanglah Dona yang diantar oleh sipir penjara masuk ke ruangan itu.
"Eh Yanti."
"Mbak." Mereka saling berpelukan.
"Wah kamu sekarang makin gemuk aja mbak?" tanya Yanti mengurai pelukannya.
"Ya beginilah Yanti. Alhamdulillah, sekarang aku sudah insaf. Sudah menjalani berbagai kegiatan di Penjara ini. Bagaimana kabar bapak dan Ibu?" tanya Dona.
"Yuk kita duduk dulu." Setelah mereka duduk di kursi mereka saling berpandangan.
"Mbak kamu sekarang sudah memakai hijab? Masya Allah, aku baru sadar!" ucap Yanti.
"Iya, dek. Aku memang banyak melakukan kegiatan ibadah, seperti pengajian dan kegiatan siang membuat kerajinan disini. Ya itung-itung aku menebus dosaku kepada Allah!" Ucap Dona.
"Baguslah mbak sudah sadar. Nanti kalau kelakuan mbak baik kan dapat remisi dan bisa keluar lebih cepat!" ucap Yanti.
"Iya Dek. Eh kamu bawa apa ke sini?" tanya Dona.
"Hm, ini aku bawa kue beberapa dus, bisa buat kakak dan teman-teman disini."
"Wah makasih ya dek. Kamu sering-seringlah ke sini."
"Iya tenang saja. Aku senang mbak sudah sadar dan kembali di Jalan Allah."
"Eh iya, gimana kabar mas Basuki? Aku rindu dengannya."
__ADS_1
"Aku memang tak pernah berkunjung ke sana. Kayaknya dia beberapa bulan lagi keluarkarena potongan remisi," jawab Yanti.
"Ya sudah, semoga setelah dia keluar nanti dia bisa sering mengunjungiku. Kamu sudah ke rumah Farhan dan Zahra?" tanyanya penasaran.
"Sudah. Aku bantu mereka terutama si Santi. Suaminya kamu udah rebut, makanya dia sekarang pindah rumah, buat rumah baru di tanah warisan bapaknya! Dia jualan soto ayam disana, enak loh soto ayamnya! Katanya sih resepnya Zahra..." Ucap Yanti.
"Iya memang kalau Zahra jago masak. Masakannya enak-enak!" ucap Dona.
"Iya aku pernah juga makan masakannya Zahra. Kamu kalau sudah keluar nanti harus meminta maaf kepada mereka!" tukasnya
"Iya dek. Aku merasa bersalah terhadap keluarga mereka!"
"Ya sudah, kamu dapat salam dari bapak dan Ibu. Bapak sudah tau kalau kamu sedang di penjara. Mereka sedih, tapi kalau mereka tau kamu sudah sadar mungkin mereka akan senang dan mengunjungi kamu ke sini!"
"Ya mudah-mudahan mereka selalu sehat. Aku juga merasa berdosa kepada mereka. Aku kalau keluar mau pergi kembali mengurus perusahaan mereka. Kamu sudah mengurusnya dengan baik! Terima kasih!" ucapnya dengan rasa sedih.
"Iya, mbak. Saya mau pulang dulu ya, kamu baik-baik disini!" ucapnya sambi memegang tangan Dona dengan erat.
"Terima kasih dek atas kunjungannya," ucap Dona dan mereka berpelukan lama.
Kemudian Yanti keluar dari ruangan itu. Dona membagi-bagikan kue yang dibawakan oleh Yanti ke sipir penjara dan teman-temannya.
"Don, kuenya dari siapa?" tanya Aminah temannya disana.
"Ini dari adekku, tadi berkunjung. Makanlah, kita semua harus kebagian kue ini. Walaupun sedikit tapi kita bisa saling merasakannya." ucap Dona.
"Ya mari kita bagikan!" balas Aminah.
**
Dari penjara dimana dona berada, Yanti langsung lanjut ke Penjara Basuki berada. Setelah masuk, mereka bertemu di sebuah ruangan.
Basuki masuk ke dalam dengan rasa malas karena tak pernah ada yang berkunjung sebelumnya.
"Mas Basuki. Apa kabar?"
"Eh Yanti. Baik." Mereka bersalaman dan duduk di kursi yang ada.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Yanti.
"Baik Yanti. Kamu dari mana?" tanya Basuki.
"Saya baru dari Penjaranya Dona. Dan dia katanya rindu kepadamu."
"Ya saya juga rindu. Tapi aku masih kesal dengan keluarganya Farhan dan Zahra! Minggu lalu datang surat gugatan cerai dari Santi. Aku setujui saja, dan mungkin bulan ini kami sudah resmi bercerai!"
"Sudahlah mas Basuki. Mbak Dona saja sudah sadar. Dan dia sudah rajin untuk beribadah. Kenapa mas Basuki belum berubah? Masih dendam?" Yanti berusaha meredakan dendam Basuki.
"Ya, saya masih dendam. Karena mereka saya masuk penjara dan diceraikan oleh Santi! Kurang ajar mereka akan ku hancurkan keluarga mereka!" germ Basuki.
"Hm, kalau mas Basuki membalas dendam kepada mereka, saya yang pertama akan melawan mas Basuki! Ingat itu! Permisi!" Kemudian Yanti berjalan keluar meninggalkan Basuki yang terdiam karena heran.
"Kurang Ajar, liat saja nanti kalau memang kamu membantu Farhan dan Zahra, akan aku hancurkan juga kamu!! Liat saja!!" ucap Basuki dan langsung berdiri meninggalkan ruangan itu.
.......
.......
BERSAMBUNG
__ADS_1