
BAB 41.
POV ZAHRA
Besok paginya setelah sholat Subuh berjamaah, suamiku membantu menyapu walaupun dengan tangan kirinya. Aku menyuruh dia untuk duduk saja diteras karena takut bisa membuat tangan kananya ikut bergerak.
Akhirnya dia duduk di teras sambil merokok. Aku membuatkan kopi untuknya setelah itu dan mengantarkannya ke meja teras.
Sewaktu aku ke dapur, Ibu keluar dari kamar dan dia senyum ke aku.
"Zahra, kamu sudah masak nasi belum?" tanya Ibu ramah.
"Eh, hm, belum bu. Baru antarkan kopi ke mas Farhan. Ada apa bu?" tanyaku heran.
"Gak Papa, Ibu saja yang masak nasi, kamu kerjakan yang lain saja," ucapnya dengan ramah.
"Oh Iya bu. Kalau begitu Zahra akan masak saja dan merendam pakaian." ucapku sambil terheran-heran.
'Kenapa Ibu begitu baik? Ah biarkan saja, semoga dia sudah sadar'
Aku merendam pakaian di kamar mandi dan langsung masak untuk sarapan. Sesudah selesai masak, Ibu juga sudah membantu menyiapkan makanan yang sudah jadi di meja makan.
Aku panggil Mas Farhan untuk segera ke dalam untuk sarapan dan kami berdua menju ke meja makan. Ibu sudah menyiapkan juga air putihnya dan piring buat makan.
"Ayo Han, kita sarapan dulu. Zahra sudah masak enak nih." ujarnya.
"Iya dong Bu, Zahra kan mantu Ibu yang paling hebat, masakannya enak sekali bu. Ibu nggak makan bareng kami?" tanya suamiku.
"Iya Ibu juga mau makan bareng kalian." jawabnya sambil duduk di kursi makan. Kami makan bersama. Walaupun di meja makan kami hanya diam saja. Aku membantu menyuapi suamiku karena tangan kanannya belum boleh bergerak.
"Zahra, maafkan Ibu ya sudah sering marah sama kamu." sahut Ibu.
"Iya bu, nggak papa, Zahra juga minta maaf kalau Zahra sering membuat Ibu kesal." Jawabku.
Setelah itu suamiku kembali ke teras. Aku membereskan piring dan gelas kotor dan mencucinya. Setelah itu aku menemani suamiku di teras. Aku duduk di sampingnya.
"Sayang, Alhamdulillah Ibu sudah baik ke aku. Aku senang melihat perubahan ibu, walaupun dia membenciku tapi Ibu sebenarnya baik sekali."
"Iya sayang, mudah-mudahan gak angot-angotan saja." jawab suamiku.
Tiba-tiba Mbak Santi datang diantar oleh suaminya dan anaknya. DIa dan anaknya turun sedangkan suaminya pergi lagi dengan motornya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Jawab kami.
"Farhan, Ibu ada?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada, di dalam," Sahut Suamiku.
"Itu kenapa tanganmu? Kok dibalut gitu? Kamu jatuh?" tanya mbak Santi.
"Iya, aku jatuh tadi malam," jawab suamiku.
"Hati-hati Han kalau jalan!"
Suamiku masih diam saja sambil merokok. Mbak Santi masuk ke dalam tanpa melihat ke arahku. Aku diam saja.
"Ibuu...!" teriak mbak Santi.
"Iya kenapa?" sahut Ibu.
"Gak kenapa-kenapa bu, ada makanan gak? Santi laper nih, belum makan pagi."
"Udah ada, Ibu juga udah makan kok. Kamu makan saja," jawab Ibu yang terdengar dari luar.
Setelah dia makan seperti biasa dia keluar untuk pulang lagi, memang sering mbak Santi seperti itu, ke sini hanya untuk numpang makan, padahal suaminya juga kerja di perusahaan yang lumayan besar. Aku tak peduli dengan hal itu, tapi kadang heran saja.
"Farhan, kamu udah ketemu belum dengan Dona?" tanya mbak Santi.
"Belum." jawabnya singkat.
"Kamu kemarin sudah melakukan tindakan kriminal Han! Udah kamu menodai Dona lagi!"
"Kamu kenapa sih? Kok bui segala?" tanya dia dengan nada agak kuatir.
"Udah sana pulang!! Jangan buat saya kesal, saya sudah tau semuanya mengenai kamu, Dona dan Ibu. Dan saya sudah tau semua chat kamu ke Dona! Jadi kalau kamu mau meneruskan masalah ini, silahkan asal kamu mau masuk bui bersama Dona!!!"
Dia mendengus kesal dan panik, langsung saja pergi keluar meninggalkan kami.
"Hihihihi, Dia kesal mas. Busuknya sudah ketauan!" ujarku.
"Ya, kita kan sudah punya bukti kuat. Jadi nggak usah takut. Kalau mereka macam-macam, kita sudah punya pembelaan kok," ucap suamiku.
"Iya sih mas. Kita nggak jual duluan kok, ya."
"Iya, sayang. Nanti kita mau kemana sayang?" tanya suamiku.
"Di rumah saja, kan tanganmu masih sakit gitu. Nanti dua atau tiga hari lagi diurut di mak Hasnah lagi." jawabku sambil mengusap lengannya.
"Iya sayang. Susumu sudah di minum?"
"Sudah mas, mulai tadi sudah mulai minum."
"Bagus sayang, Kita harus jaga calon bayi yang ada di kandunganmu."
__ADS_1
"Iya mas."
Aku pamit ke suamiku untuk ke belakang untuk mencuci pakaian dan menjemurnya. Sesudah dari kamar mandi menuju ke teras, ibu keluar dari kamarnya yang sudah wangi dan rapi.
"Ibu mau kemana?" tanyaku.
"Ke Pengajian, kamu mau ikut?"
"Hm, nggak bu, mas Farhan tangannya masih sakit, takut dia perlu sesuatu jadi saya bisa bantu."
"Ya sudah, ibu pergi dulu ya,"
"Iya bu, hati-hati di jalan."
Ibu berjalan di depanku dan dia langsung pergi ke Pengajian rutinan yang selalu Ibu datangi. Aku duduk di teras.
"Tumben ibu pengajian lagi? Udah lama dia gak ke pengajian." ucap suamiku.
"Ya nggak papa mas, mungkin ibu pengen datang ke sana," ujarku.
"Sayang, bagaimana tulisanmu? Sudah sampai mana novelmu?" tanya suamiku.
"Ish mas Farhan, ya sudah banyak, kalau nggak salah sudah delapan bab. Alhamdulillah sudah banyak yang baca. Mereka suka dengan kisah yang aku tulis," Jawabku.
"Wah jadi penasaran, nanti kasih tau ya aplikasinya, biar aku kalau ada waktu senggang bisa ikuta baca novel kamu, sayang."
"Iya mas, nanti aku ajarkan," ucapku.
Tak lama kemudian, datang dua Dona yang didamping oleh dua orang berbadan besar. Mereka masuk ke halaman berjalan menuju ke teras.
"Ini dia orang yang sudah menodaiku, kasih dia pelajaran, aku nggak mau dia lari dari tanggung-jawabnya karena sudah mencoba menodaiku," Kata Dona dengan suara menyuruh kepada keduanya.
"Enaknya kita apakan bu?" tanya orang yang berambut cepak.
"Heh, kalian siapa?" tanya suamiku yang berdiri dari kursinya.
"Heh Han. Mereka orang suruhanku, dan mereka aku suruh mengintai rumah ini mengawasi kamu yang tidak mau bertanggung-jawab kalau aku hamil!!"
"Aneh banget sih kamu Dona! Orang kamu menjebakku dan kita tak melakukan apa-apa kok kamu merasa sudah hamil! Aneh, jangan-jangan apa memang kamu sudah hamil sama orang lain?" tanya suamiku blak-blak kan.
"Enak aja bicara sembarangan! Kamu tuh yang udah habis manis sepah dibuang!" Jawabnya dengan ketus..
"Loh aku sudah menikmati apa dari kamu, Heh!" tanya suamiku balik.
.....
.....
__ADS_1
BERSAMBUNG