KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
BANDUNG


__ADS_3

Bab 59.


"Eh iya San, ini ada uang dari Yanti, untuk nambahkan uang pembangunan rumah kamu. Nih, terima lah. Tadi malam dia memberikannya."


"Alhamdulillah Ya Allah. Allah maha baik ya Han!"


\===


Beberapa bulan kemudian. Rumah Santi sudah jadi. Keputusan pengadilan terhadap kasus Dona juga sudah putus. Dona dan Basuki ditahan selama beberapa tahun. Santi akhirnya menggugat cerai Basuki setelah keputusan sudah diketok oleh hakim ketua.


Di depan rumah Santi dibuka warung soto ayam yang lumayan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Santi. Bulan sudah mulai besar, dia sudah bisa mulai merangkak dan sangat dekat dengan Farhan. Zahra sangat bahagia dengan kondisi keluarganya yang sudah mulai tenang.


"Pa, kita ke Bandung yuk. Aku mau ke makam bapak dan Ibu, sekaligus melihat rumah kami disana yang tidak ditempati. Kalau boleh kita tinggal disana dulu, merenovasi rumah dan akan aku kontrakin," ucap Zahra.


"Hm, boleh ma, tapi jangan lama, karena palingan aku hanya bisa dua atau tiga bulan saja nggak garap sawahnya," balas Farhan.


"Iya Pa, tidak apa-apa. Jadi kita ke sana ya. Mau ajak Ibu nggak?" tanya Zahra.


"Hm, nggak usahlah ma, karena cukup jauh dari sini." Farhan menghisap rokoknya. Kami sedang duduk di kursi teras. Bulan sedang bermain di atas karpet.


"Ya mungkin ibu mau ikut, pa?" tanya Zahra.


"Ya sudah ditanya dulu sama Ibu nanti," ucap Farhan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Eh, Bulan lagi main apa?" tanya Mak Hasnah.


"Eh Mak, tumben banget main ke sini?" tanya Zahra.


"Iya Zahra, apa kabar?" tanya mak Hasnah.


"Eh mak, apa kabar?" Tanya Farhan.


"Iya Farhan, baik."


Mak Hasnah duduk di atas karpet dan bermain dengan Bulan. Bulan melihat mak Hasnah yang memegang pipinya tertawa kecil. Bulan memang suka tersenyum walaupun itu dengan orang yang baru dia kenal.


Zahra masuk ke dalam rumah mengambilkan minum untuk mak Hasnah.


"Ada apa mak tumben main?" tanya Farhan.


"Eh, iya han. Aku ada perlu sama kalian."


"Ada apa mak? Ada yang pentingkah?" tanya Farhan.


"Iya Han. Aku mau pinjam uang tiga ratus ribu, ada perlu Han!" ucap Mak Hasnah.


"Oh gitu." Farhan mengambil uang dari kantong celananya dan memberikan kepada Mak Hasnah.


"Ini mak, ambil saja. Tidak usah dibalikin. Buat mak saja..." Farhan tersenyum.


"Yang bener, Han? Mak jadi nggak enak nih sama kamu dan Zahra."

__ADS_1


"Udahlah mak, mak juga sudah sering membantu kami dulu."


"Iya deh, terima kasih ya, Han!" Ucapnya dan memasukkan uangnya ke dalam kantong celananya.


"Han, gimana kasusmu itu dulu?" tanya Mak Hasnah.


"Kasus yang mana? Maksudnya si Dona?"


"Iya."


"Oh sudah dipenjara dia, kalau nggak salah tiga tahun lebih. Dan si Basuki juga sudah dipenjara selama setahun lebih!" balas Farhan.


"Hm, bagus deh, kok ada ya orang seperti itu. Dendamnya juga besar ke keluarga kalian!" ucap mak Hasnah.


"Iya."


"Ini minumnya mak, saya letakkan dimana?" tanya Zahra yang sedang membawa segelas teh mYuniss hangat.


"Ah merepotkan saja. Sini biar mak pegang."


"Auuu..." ucap Bulan melihat gelas teh.


"Oh, Bulan mau?" tanya Mak Hasnah.


"Iya, auuu..."


Kemudian mak Hasnah menyuapi teh manisnya ke Bulan dengan menggunakan sendok teh.


"Bulan sudah ya, itu buat Nenek.." ucap Zahra.


"Hahahaha, sudah ahh..." Zahra menggendong Bulan ke pengkuannya.


"Aahhhhh....Ma...Aaahhhh..." Dia meronta.


"Sudah eh.nanti Bulan mau ke rumah nenek ya di Bandung?" ucap Zahra yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Nenek dung..." ucap Bulan dengan tangan nya gerak ke atas.


"Iya disana udara nya dingin...Hiiii."


"Hii, ngin...hii...," tiru Bulan.


"Iya sayang...Hehehehehe..." Bulan ikut tertawa.


"Zahra, Farhan saya mohon pamit ya, maaf kalau ganggu waktunya. Farhan terima kasih ya," ucap Mak Hasnah sambil bersalaman.


"Iya mak, santai saja. Hati-hati di jalan." Ucap suamiku.


"Iya mak,hati-hati. Dadah mak Hasnahhh..." Zahra menggerakkan tangan kanan Bulan dadah dengan mak Hasnah.


"Dadahhh..." ucap Bulan.


"Dadah sayang, Ehm..Anak cantik!" Zahra mencubit pipi Bulan dengan gemas.


"Hehehehe..." Bulan tekekeh.

__ADS_1


Bulan dan Zahra masuk ke dalam rumah. Farhan membereskan mainan Bulan dan menggulung karpet kecil dan disenderkan di tembok.


Farhan masuk ke dalam kamar dan tiduran disana.


Zahra yang dari dapur tadi membawa gelas kotor bekas minum mak Hasnah kembali ke kamar.


"Yah, tadi mak Hasnah ada apa kemari?" tanya Zahra.


"Hm, dia minjam uang tiga ratus ribu. Tapi aku kasih saja, kan dia sering kalau mijit nggak mau dibayar. Mana kita sudah ditolong oleh dia kan."


"Iya, kamu lebihkan?" tanya Zahra.


"Iya, tadi aku lebihkan dua ratus ribu. Kebetulan uang di kantong tadi ada segitu, ya aku kasih semua ke dia," jawab Farhan yang sedang bermain game di Hpnya.


"Yah, Ibu belum keluar dari siang tadi?" tanya Zahra.


"Iya mungkin capek kali."


Sore hari setelah Zahra memandikan Bulan, Ibu keluar dari kamar dan menggendong Bulan yang sudah rapi dan cantik.


"Ibu sakit?" tanya Zahra.


"Agak lemas saja Zahra. Kenapa?"


"Tidak apa-apa kok, oh iya kami mau ijin pergi ke Bandung, mau renovasi makam Ibu dan bapak juga mau renovasi rumah disana. Ibu mau ikut?" tanya Zahra.


"Wah, boleh tuh Zahra. Tapi rumah ini kosong dong? Memang berapa lama?" tanya Ibu.


"Ya sekitar dua sampai tiga bulan bu,” sahut Zahra sambil memandang ibunya.


"Wah lama juga ya, ya sudah tak apa. Kalau bisa dua bulan, kita balik ya Zahra."


"Iya bu, kita usahakan cepat disana renovasi rumahnya.


Dua hari kemudian Keluarga Farhan dan Zahra bersama dengan Ibu mertuanya bersiap ke Bandung. Mereka pergi ke terminal bus dengan menggunakan dua becak, dan sesampainya di terminal mereka naik ke Bus Executif.


Selama diperjalanan tak ada kendala dan beberapa jam kemudian sampai di terminal Leuwi Panjang dan menaiki taxi online menuju ke daerah ujung timur dari Bandung. Sesampainya di depan rumah yang terlihat kosong itu, mereka turun dan masuk ke dalam halaman rumah yang kotor. Zahra membuka pintu depan rumah nya dan mereka semua masuk ke dalam rumah.


Rumahnya kecil hanya ada dua kamar tidur, ruang tamu dan dapur saja. Tas mereka letakkan di ruang tamu yang lumayan besar. Mereka bingung mau gimana dan mereka akhirnya mengunci pintu kembali dan mengunjungi rumah Uwanya yang ada jarak tiga rumah dari rumahnya. Sesampainya disana mereka menyapa.


"Assalamualaikum," Zahra membuka pintu pagar dari kayu dan masuk ke halaman rumahnya.


"Waalaikumsalam. Eh Zahra, aduh, kumaha damang Neng?" sapa Uwaknya yang keluar dari ruang keluarga bersama dengan anaknya.


"Uwa, apa kabar?" Mereka cipika cipiki.


"Eh, aya nak Farhan, damang nak?" tanya Uwa.


"Baik Uwa," balas Farhan dan mereka bersalaman.


"Ini Ibunya mas Farhan uwa, kenalin dan ini anak kami, Bulan," Ucap Zahra menjelaskan ke uwanya.


......


......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2