KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
TERSIRAM AIR PANAS


__ADS_3

BAB 26.


POV AZZAHRA


"Mas, kamu kenapa kok bisa-bisa langsung pusing begitu?" tanyaku.


"Gak tau sayang!" Suamiku masih sering memijit kepalanya.


"Ya udah, aku beli obat dulu ya!"


"Iya dek, hati-hati," ujarnya.


Kumasuk ke dalam rumah dan mengambil uang untuk membeli obat pusing di warung lek Barjo. Aku pergi sendiri dan segera pulang setelh aku dapatkan obatnya.


"Mas, ini obatnya, sebentar aku ke dalam dulu mengambil air putih." Aku langsung masuk ke dalam mengambil segelas air putih.


"Iya dek, makasih!" jawabnya dengan cuek.


"Mas, ini air putihnya!"


"Makasih dek." Dia membuka bungkus obatnya dan meminum dengan aiir putih.


"Mas, kamu nanti abis maghrib tidur aja. Kalau malam mau bangun dan lapar, bangunkan saja aku, ya?" usulku.


"Iya dek. Mudah-mudahan aku bisa hilang pusingnya!"


"Insya Allah, mas!"


"Sayang, kamu pernah nggak sakit pusing kayak gini?" tanyanya.


"Kalau pusing banget tiba-tiba aku nggak pernah mas, cuma kan kalau lagi flu ya pastinya aku langsung minum obat saja." Aku masih kasian melihat dia memijit kepala sampingnya.


Tak lama kemudian, Adan maghrib berkumandang. Kami berdua masuk dan mengambil air wudhu bergantian. Kami sholat Magrib berjamaah. Dan mas Farhan langsung naik ke ranjang dan tidur. Aku mengambil HP ku dan menulis sebuah cerita. Kemarin akun baruku sudah jadi dan baru aku mau menulis sekarang disini.


Adzan Isya berkumandang dan aku keluar me kamar mandi untuk ambil air wudhu, adan kembali ke kamar untuk sholat Isya. Tak kubangunkan mas Farhan karena dia sedang tertidur pulas.


Aku mengingat kejadian tadi siang, hatiku hancur, pedih rasanya, tak pernah suamiku berkata kasar kepadaku, dia selalu lembut dan tak pernah marah. Aku sangat mencintainya dan aku yakin dia juga sangat mencintaiku.


Aku curiga dengan sikap Mertuaku tadi pagi, tumben dia ke teras sendirian dan duduk lama disana.


'Ah mungkin dia hanya mau menghirup udara segar saja' batinku berkata seperti itu.


Hmm...Aku tatap suamiku yang tidur menghadap ke wajahku. Kuelus pipinya dan kuperhatikan raut wajahnya yang selama ini mengademkanku, selalu melindungiku dari semua hinaan dan menguatkanku dari caci maki keluarganya. Aku tersenyum, dan lama-lama tertidur.


*


Pagi sekali aku bangun dan ternyata mas Farhan masih tertidur belum bangun dari magrib kemarin. Aku bangunkan dia karena belum sholat Isya.


"Mas, bangun!" gugahku.


"Hmm, Eh jam berapa ini sayang?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Ayo mas bangun, kamu belum sholat Isya loh, udah mau subuh!"sahutku.


"Astagfirullah Al Adzim. Iya aku bangun...Hehehe!" Mukanya sudah terlihat segar kembali.


"Udah sembuh pusingnya, mas?" tanyaku senang.


"Alhamdulillah, pusing dah ilang banyak, masih sedikit lagi!"jawabnya.


"Ya sudah mas, cepetan!" suruhku.


"Iya!"


Mas Farhan langsung menuju ke kamar mandi, aku membereskan tempat tidur dan merapikan beberapa barang yang berantakan di atas nakas. Kuhamparkan sajadah untuk suamiku sholat. Aku duduk di atas kasur. Dia datang. "Alhamdulillah, aku sholat dulu ya, sayang!" ujarnya.


Setelah sholat, kami tetap menjaga wudhu tak saling bersentuhan, sehingga dia milih untuk keluar ke teras. Tak lama terdengan Azan Subuh. Suamiku masuk ke dalam kamar dan kami sholat subuh berjamaah. Tak terasa setelah salam, aku mencium punggung tangan suamiku dan terisak.


"Sayang, kenapa menangis?" tanyanya panic.


"Mas, aku takut..!" jawabk terisak.


"Takut kenapa, sayang?" Duduknya diubah bersila berbaik ke  arahku.


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba menangis begitu?" Dia bingung.


"Ya nggak papa mas, aku takut kamu akan berubah dan meninggalkanku nanti!" jawabku.


"Loh loh, kok begitu pemikiranmu?" tanyanya sambil tersenyummenenangkan hatiku yang sedang sedih dan bingung.


"Kan, aku sudah minta maaf ke kamu sayang!" Suamiku memelukku dan aku sangat nyaman sekali dalam pelukannya. Lama aku berpelukan dengannya dan kami menguraikan pelukan sambil dia menghapus jejak air mata di pipi. Kami rapikan sajadah dan melipatnya diletakkan di atas kasur.


"Mas, mau kopi?"


"Sayang, aku lapar!" jawabnya.


"Ya sudah, aku masakin dulu ya, mas!"


"Iya makasih ya, dek."


"Iya suamiku." Kukecup pipinya dan kuberjalan ke luar kamar. Sesudahselesai memasak, aku panggil mas Farhan di teras.


"Mas, aku sudah selesai masak, makanan  sudah siap, yuk makan!"ajakku.


"Iya sayang." DIa berdiri dan berjalan sambil merangkul pundakku. Kamimakan pagi itu berdua. Mas Farhan sampai nambah karena kelaparan dari kemarin malam belum makan.


"Alhamdulillah!" ucap suamiku.


"Udah kenyang, mas?"


"Udah dek. Makasih ya, enak masakanmu!" pujinya.


"Iya mas, sama-sama, aku senang kamu suka masakanku!"

__ADS_1


"Dek, ke teras yuk."


"Iya mas, duluan aku mau beresin ini dulu, dan buat kopimu!"


"Ya sudah aku akan tunggu ya diteras!"


"Iya mas!"


Dia berdiri dari bangkunya dan berjalan menuju teras. Aku satukan piringkotornya dan mengangkat sekalian gelas kotornya. Tak lupa kututup tudung saja yang berisi makanan yang masih bisa buat makan Ibu.


Kucuci piring dan merebua air. Kuambil gelas dan kumasukkan kopi dan gula sesuai takeran yang biasa aku buatkan untuk suamiku. Setelah air panas dan mendidih, kutuang ke dalam gelas dengan tangan kananku.


"ZAHRA..!!" Teriak ibuku dari belakang mengagetkanku.


Aku kaget dan air panci yang berisi sebagian air panas itu membanjur ke punggung tangan kiriku.


"Aaaduhhh...Panasss...!!" Aku langsung taroh panci air panas tadi ke kompor.


"Kenapa kamu?" tanya Ibu cuek seakan tak bersalah telah membuataku tersiram air panas. Tapi aku nggak berpikiran ibu sengaja melakukannya.


Aku diam saja dan berlari ke kulkas untuk mengambil tepung terigu dingin danaku taburkan diatas punggung tanganku yang terkena air panas tadi.


Perih sekali terasa panas tangan yang melepuh ini. Tapi tak berapa lama, sudah tak sakit lagi dan dingin. Aku kembali ke dapur mengambil kopi yang tadi aku buat, aku kocok dulu sebelum mengangkatnya dengan tangan kananku. Ibu tak keliatan di dapur, karena dia sedang di kamar mandi karena terdengar suara gemericik airdari dalam sana. Aku ke teras dan meletakkan kopi nya di atas meja.


"Mas, ini kopinya."


"Iya makasih dek. Eh itu kenapa kamu tangannya?" Dia mengambil tangankudan melihat sedikit melepuh.


"Ini kena air panas mas di dapur tadi,” jawabku.


"Ya Allah, kamu hati-hati dong sayang, sakit?" Mas Farhan menatap wajahku.


"Udah tidak mas, udah enak langsung dingin." Dia masih meletakkan tanganku di atas telapak tangannya.


"Ini putih-putih pakai apa sayang?" tanyanya heran sambil melihat ke tanganku yang masih ada terigunya.


"Terigu dari kulkas mas."


"Kok pake itu? emang bisa sembuh?" tanyanya.


Aku duduk di sebelahnya.


"Insya Allah mas. Tadi aku lagi nuangkan air panas buat kopimu, Ibu manggilku dengan suara keras. Aku kaget dan langsung air panas yang sedang kutuangkan kena ke tanganku ini. Untung sedikit dan cepet aku Tarik!" jelasku.


"Ohh, jadi Ibu tadi yang kedengeran suara menggil kamu, ini ya hasilnya?" Dia kelihatan kesal


"Iya mas, udah gak papa, tanganku juga bentar lagi sembuh kok..jangan dibuat besar!" jawabku.


....


....

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2