KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
CEMBURU IBU


__ADS_3

BAB 98


"Iya Nek, maaf." Farell diam dibentak neneknya.


"Biasalah bu, anak-anak kan kalau main dan masuk rumah paling malas cuci kaki. Kayak aku juga begitu, ibu santai aja nggak marah sama aku. Kenapa sama Farell marah?" tanya Ramdani.


"Dulu kan kamu anak Ibu satu-satunya!" Jawab Bu Tugino enteng.


"Emang kenapa? Farell kan juga cucu ibu satu-satunya sekarang!" Jawab Santi.


"Halah, dia kan anak kamu! Bukan anaknya Ramdani!" Jawab Ibu Tugino dengan lantang.


"Astgahfirullah...Jadi ibu tidak mengakui Farell sebagai cucu Ibu?" tanya Santi kaget.


"Iya, cucu ibu tapi kan lain bukan anak kandung dari Ramdani!"


"Oh begitu?!!"


"Nenek Jahat!" ucap Farell dan dia lari keluar rumah.


"Farell!!" Ramdani mengejar Farell keluar rumah. Santi berdiri.


"Kalau begitu, silahkan ibu keluar besok dari rumah saya, karena ini rumah saya dan rumah Farell!! Besok pagi silahkan pergi! Bereskan semua baju ibu dan pergi dari rumah ini!! Faham!!" Santi berjalan meninggalkan BuTugino yang diam karena menyesal telah bicara seperti itu.


"Santi!!" BuTugino diam dan masuk ke dalam rumah kembali dengan rasa penyesalan.


Ramdani berhasil memegang tangan Farell dan memeluknya. Dia sayang sama Farell walaupun Farell bukan anak kandungnya. Farell juga sayang sama Ramdani karena Ramdani bisa membuat hati Farell tenang dan merasa dilindungi.


"Huuuuuuuhuuuuuuhuuu... Nenek jahat, pak!"


"Sudah yuk kita pulang! Jangan menangis lagi. Nenek sayang kok ke Farell cuma nenek masih dalam rasa sedih ditinggal oleh kakek. Jadi Farell juga jangan marah ya sama nenek."


"Aku tidak mau pulang! Nenek jahat! Huuuuuhuuuhuuuu..."Sahut Farell yang masih menangis.


"Ayo kita pulang ke rumah, nenek tidak sejahat itu kok sama mas Farell! Ya, pulang kita." Ajak Ramdani. Farellpun berjalan dengan merangkul pinggangnya Ramdani. Ramdani merangkul pundak Farell.


"Farell!" Sahut Santi yang berjalan menyusul mereka.


"Ibu...!" Farell memeluk Santi dan menangis lagi.


"Sudah yuk nak, kita pulang, jangan menangis lagi. Masak jagoan ibu menangis, sih!" Rayu Santi. Farell berhenti menangis. Ramdani menggandeng Farell di sebelah kanan dan Santi di sebelah kirinya.


Sesampainya di rumah, mereka masuk. Santi mengajak Farell bersih-bersih dan tidur dikamar. Ramdani mengunci pintu pagar dan berjalan ke teras. Dia menghabiskan kopinya dan merokok kembali.


IbuTugino keluar dari dalam menuju ke teras.


"Ramdani!"


"Kenapa sih bu? Buat ribut terus dirumah ini! Seneng ya musuhi mereka berdua? Atau ibu tak suka kalau aku bahagia?" Tanya Ramdani sambil menatap ibunya yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ya, memang ibu salah, Dan! Tadi Santi sudah mengusir ibu karena Ibu sudah bicara seperti itu. Ibu mau tinggal dimana, Dani?" Ibu Tugino jalan dan duduk di kursi yang kosong.

__ADS_1


"Aku tidak tau bu. Memang kenyataannya ini rumah mereka. Aku cuma kesel saja sama ibu, maksud ibu itu apa bicara seperti itu?" Ramdani memandang lagi ke arah Ibunya.


"Hm, gak taulah, ibu tuh cuma kesel aja kalau melihat mereka berdua. Kalau begitu, ibu akan mengontrak saja di sebelah! Ibu tak mau menyusahkan kalian!" Bu Tugino tampak sedih.


"Ya kontrak saja, tapi kalau ibu perlu apa-apa bilang saja sama aku. Bukannya aku tak mau membela ibu. Tapi ibu kelewatan dengan mereka. Ibu seharusnya meminta maaf kepada mereka dulu, bu!"


"Iya besok pagi ibu akan minta maaf dengan mereka." Kemudian Ibu Tugino masuk kembali ke dalam rumah. Besok paginya mereka sholat subuh di mesjid dekat rumah mereka.


Farell setelah dari mesjid langsung pergi ke rumah Yahya, karena dia kesal untuk kembali lagi kerumah.


Santi memang tidak mau keluar kamar sebelum Farell dan Ramdani pulang dari mesjid. Ramdani masuk ke dalam kamar.


"Assalamualaikum sayang!"


"Waalaikumsalam."


"Sudah sholat subuh?" tanya Ramdani yang ikutan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Santi. Dia mengecup pipi istrinya.


"Kenapa sayang? Masih marah dengan Ibu?" tanya Ramdani yang mendaratkan kepalanya di bantal.


"Aku tidak sakit hati mas. Aku cuma heran saja sama Ibu. Kenapa dia sangat memusuhiku dan Farell?? Apalagi Farell, dia itu juga tak tau menahu masalah aku dan ibu. Walaupun pastinya dia mikir kenapa neneknya memusuhi aku!" Jawab Santi.


"Ya, memang sih dia tidak salah sama sekali. Ibu itu cuma ingin kamu ada dirumah dan menemani dia."


"Ya sebenernya, kalau dia kesepian bisa saja ikut ke warung, disana kan ada kamar


kalau mau istirahat!" Ucap Santi.


"Ya sudah sering mas, tapi tak pernah mau. Alasannya banyak, capeklah, inilah, itulah!" Jawab Santi.


"Itulah masalahnya, Ibu tak pernah mau mencoba. Ibu memang sudah sering sakit tulangnya dan sering pegal. Apalagi kalau sedang dingin. Pasti Ibu mengeluh pada sakit tulangnya!"


"Sudah berobat belum?" tanya Santi.


"Sudah. Cuma kan memang sudah tua, keropos tulang nya dan ada pengapuran juga."


"Ya sudah, bilang saja coba ikut aku ke warung, nanti kan bisa bantuin masak disana. Biar ada kegiatan dan tidak bosan."


"Iya lah nanti aku bisa usulin begitu ke Ibu. Sekarang, kamu mau pergi kemana pagi ini?" tanya Ramdani.


"Tak ada, aku mau beres-beres rumah saja dirumah. Bantuin aku, mau tidak mas? Aku mau masukin semua mainan Farell dan baju-baju yang tidak terpakai ke kardus."


"Boleh sayang. Aku bisa kok ke bengkel siang setelah dzuhur!"


"Ya sudah, aku mau masuk dulu. Buat nasi goreng saja ya. Kebetulan nasi masih banyak."


"Iya. Aku bantuin ya sayang."


"Yuk mas!" Santi bangun. Ramdani menyusul ke dapur setelah dia mengganti bajunya. Didapur mereka masak berdua. Ibu Tugino yang sudah keluar dari kamar menuju ke dapur.


"Santi. Ibu minta maaf!"

__ADS_1


"Iya bu, saya maafkan," balas Santi yang tetap sibuk dengan wajannya.


"Beneran Santi, Ibu dimaafkan?" tanyanya lagi.


"Iya bu, aku lagi masak dulu, nanti gosong nasi gorengnya," jawab Santi santai.


"Ibu juga mau minta maaf sama Farell. Dia kemana?" tanya Ibu tidak melihat Farell setelah pulang dari Mesjid.


"Dia lagi ke rumah Dona. Mau main sama Rudi katanya!" Jawab Ramdani.


"Ya sudah." Ibu Tugino kembali lagi ke kamar. Setelah Santi dan Ramdani selesai masak, mereka berdua sudah duduk di kursi makan.


"Mas, Panggilkan Ibu!" ucap Santi.


"Eh iya, sebentar ya." Ramdani berjalan kekamar ibu untuk manggil ikut makan pagi bersama. Ibu dan Ramdani kembali ke meja makan dan duduk di kursi masing-masing.


"Mas, telur dadar kamu kok enak banget ya rasanya."


"Ah, yang bener sayang? Biasa aja ahh telurnya. Aku nggak pakai ajian khusus kok buat telur dadarnya." Ramdani terkekeh.


"Hahahaha, emang pakai diludahin segala gitu? Aku baru tau kalau suamiku ini lucu juga."Santi tersenyum dengan manis. Ramdani balas tersenyum.


"Ibu, nanti bisa ikut Santi ke warung soto kalau bosan di rumah," Ucap Ramdani.


"Iya, kalau boleh sama Santi."


"Saya sering ajak ibu ke sana, tapi malah ibu saja yang menolak terus."


"Ibu bukan tidak mau. Tapi ibu takut merepotkan kamu. Karena ibu tidak bisa bantu kamu disana!"


"Saya kan nggak menyuruh ibu masak buat disana, sudah semua dihandel oleh karyawan semua kok. Cuma ibu bisa duduk atau tiduran di kamar, disana kan ada kamar juga!" Jawab Santi.


"Iya deh. Ibu mau ikut. Kamu sudah tidak marah lagi kan sama ibu?" tanya Ibu sambil menyendok nasi ke mulutnya.


"Ya, tergantung bu!" Jawab nya singkat.


"Kok tergantung?" Ibu heran dengan jawaban Santi yang membuatnya gusar.


"Tergantung apakah ibu masih marah-marah lagi atau tidak sama aku dan Farell!"


"Iya, ibu minta maaf kalau mengenai kejadian tadi malam. Ibu menyesal sudah bicara kasar begitu ke Farell dan kamu!" Ibu menundukkan kepalanya.


"Ibu minta maaf beneran dari hati atau karena takut diusir sama Santi?" tanya Ramdani.


"Iya, ibu beneran minta maaf ke Santi. Soalnya ibu sudah kasar dengan Santi selama ini. Ibu juga tidak tau kenapa ibu kalau melihat kalian berdua yang selalu akrab selalu tidak suka!"


"Kok begitu bu? Kan Saya dan Ramdani suami istri, masa aku dan Ramdani harus bertengkar?" tanya Santi heran dan menatap ke mata Ibu Tugino.


......


......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2