
Bab 20.
POV AZZAHRA
"Iya sayang."
"Awas masih panas..! Aku masak dulu ya masku.."
"Iya sayangku..." Kami berciuman. Kemballi masuk untuk masak di dapur.
Ibu keluar kamar dan masuk ke kamar mandi. Suara keras dari TV kembali terdengar dari kamarnya. Aku masih membuat teh manis dan memasak ayam beberapapotong untuk sarapan dan sayur. Ibu keluar kamar mandi.
"Zahra!! Kamu masak apa?" tanyanya sambil melirik ke penggorengan.
"Masak Ayam dan tempe bu."
"Wah, lagi banyak duit kamu!! Duitnya Farhan jangan kamu hambur-hamburkan begitu, makan pakai telor saja cukup!! Kamu boros!! Itu juga kamu pakai baju baru!!" tuduhnya.
"Saya nggak boros bu, dan ini semua saya yang bayar bukan duit mas Farhan, kok!!"
"Iya tapi jangan makan enak terus! Dari beberapa hari lalu makannya kalau nggak ikan, ayam. Hebat banget kamu!!" oloknya terus yang sengaja membuat keributan.
"Ya nggak hebat bu, kan itu sangat bergizi. Lagi pula saya nggak pake duit Ibu kok..!" Aku mendengus kesal.
"Awas kamu kalau masih membantahku!!" Dia masuk kembali kekamarnya. Aku juga meneruskan masakku sambil mengelus dadaku. Masakan kutaroh di meja makan dan menuju ke teras. Minuman untuk Ibu sudah dia ambil tadi.
"Mas, mau sarapan sekarang?"
"Nanti saja sayang. Aku masih belum selesai minum kopi!"
"Hm, ya sudah...." jawabku.
"Nanti aku palingan ngecek saja perairan, kalau sudah bagus ya aku pulang. Tapi kayaknya juga sampai siang. Kamu datang saja ke sawah!"
"Iya mas. Seperti biasa, ya?"
"Iya sayang!"
Setelah itu kami sarapan bersama. Mas Farhan langsung berangkat ke sawah karena melihat pengairan supaya sawah tidak terendam. Aku membereskan kamar tidur dan menyapu kemudian mengepel lantai. Setelah istirahat agak lama, aku berjalan ke dapur untuk masak.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku membuka pintu depan, dan terlihat Mbak Santi dan Dona datang ke rumahdengan muka sinis. Aku langsung berjalan menuju ke dapur.
"Wah, baju baru tuh" sahut mbak Santi. Aku diam saja dan kembali berjalan.
"Heh..Disahut malahan diam saja!" Aku berhenti dan membalikkan badanku.
"Kenapa mbak?"
"Kamu itu kaos baru...lagi banyak duit ya?" ejeknya.
"Ini kan kaos dari pasar malam dibelikan mas Farhan beberapa hari lalu"
__ADS_1
"Saya kan baru liat! Mahal tuh kaos..Boros!" ucapnya lagi dengan nada mengejek.
"Yang belikan ini mas Farhan bukan saya yang minta!"
"Halah, kamu mah ngeles aja kayak Bajai!!" Aku akhirnya jalan ke ruang tamu tempat mereka duduk.
"Apa mbak sekali lagi coba ngomong?!"
"Kamu ngeles!! Hahahaha!" Dona pun ikutan tertawa meledekku.
"Terserah mbak aja...!! Saya gak peduli tuh dengan yang mbak omongin...!!" Aku langsung berbalik badan dan berjalan kembali ke dapur tanpa menghiraukan mereka.
Aku masak dan memasukkan masakan buat mas Farhan ke dalam rantang. Aku mandi dan langsung membereskan masakan sisa ke meja makan dan yang di rantang aku bawa ke sawah.
Mereka ternyata mau pergi. Tapi aku tak menghiraukan mereka bertiga, nanti malah berantem lagi terusnya.
Setelah disawah ternyata mas Farhan tak ada, aku melihat ke berbagai arahsawah tak ada mas farhan. Aku letakkan rantang di saung dan aku berjalan menyusuri sawah.
"Mas Farhan..Mas Farhan..." Aku teriak memutari sawah.
Tapi kulihat didepan jarak 40 metera ada tangan orang yang sedang tiduran.Aku berlari ke arah sana dan melihat Mas Farhan sudah tergeletak.
"Ahhh..Mass..Mass..Bangunnn...!"
"TOLONGGGGG....!!"
"TOLOOONNGGG...!!"
"Mas, Bangun mas...Ya Allah.." Air mataku tak berhenti keluar dari kelopak mataku.
"Wah, digigit ular hijau ini!!" ucap pak Surbekti.
"Hah, digigit ular pak? Ya Allah...Masss Bangunnn..!!" Aku menangis melihat mas Farhan yang tak sadarkan diri.Beberapa orang akhirnyamenggotong mas Farhan ke mobil dan membawanya ke Klinik dan mas Farhan ditangani oleh dokter dan diselamatkan hidupnya.
Untung mas Farhan bisa tertolong dan bisanya dapat dikeluarkan dari saluranperedaran darah. Mas Farhan masih berbaring di Brankar Klinik dan aku menungguinya. Dia masih dalam keadaan pingsan dan di infus.
Aku bingung mau hubung siapa? Karena aku sedang tak membawa apa-apa memang, Dompet dan semuanya juga. Di Klinikpun yang jamin sementara pak Surbekti karena aku tak membawa uang dan apa-apa. Aku keluar dari kamar rawat dan mendekati pak Surbekti yang sedang duduk di depan kamar.
"Pak!"
"Ya dek!"
"Mohon maaf pak, saya mau pulang dulu, mengambil baju dan perlengkapan mas Farhan. Saya juga belum bawa apa-apa, untung bapak mau menolong kami. Terima kasih ya pak!" Aku melihat pak Surbekti sebagai dewa penolong.
"Iya dek, kita juga harus saling menolong, dek!"
"Iya pak..Terima kasih. Saya mohon pamit dulu ya, minta tolong dijagain dulu mas Farhan nya. Saya segera akan ke sini lagi!"
"Iya dek, saya akan menunggu disini sampai dek Zahra datang lagi.Ngak papa dek, pulanglah dulu!" sahutnya.
"Iya pak. Permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku langsung berjalan pulang dengan menggunakan becak dan aku juga suruh tukang becaknya untuk menunggu di depan rumah. Aku masuk ke dalam rumah dan menyiapkan tas, kumasukkan semua kebutuhan, dan aku bawa tas kecilku. Aku ambil uang dari bawah kasur simpanan uangku selama ini.
__ADS_1
'Tak apa lah dipakai dulu untuk suamiku!' Aku ambil setengahnya dan kumasukkan ke dalam tas kecilku dan kasurnya kurapikan kembali. Kembali kukeluar dan kututup pintu depan dan berjalan ke becak. Kembali ke rumah sakit dan bertemu dengan pak Surbekti kembali di kamar mas Farhan dirawat. Mas Farhan sudah siuman dan dia tersenyum.
"Mas, Alhamdulillah...!" kataku sambil terisak dan memeluknya.
"Makasih ya dek...Kamu sudah menolong mas tadi di sawah. Mas Juga nggak tau, kayaknya dia itu menggigit di kaki nya mas. Emang waktu itu mas nggak pakai sepatu bot, jadi dia bisa menggigit kakinya mas!"
"Oh begitu mas...Yang penting mas sekarang sudah sehatlah!" Aku masih memeluknya.
"Iya sayang, makasih ya, untung tadi kamu datang!" Dia menyolek hidungku.
"Iya mas, jangan bilang begitu ahhh...Aku kan memang mau antar makan siang! Ya Allaahhh....Rantangnya masih di sana mas!" Aku baru ingat rantang yang tertinggal di saung.
"Disaung?"
"Iya!"
"Sudah mbak, tadi diantar oleh anak buahku, itu ada dibawah samping sebelah sana!" sahut pak Surbekti yang masih menunggu dan duduk di kursi dekat kaki mas Farhan.
"Ohhh..Terima kasih pak."
"Ya kalau begitu, saya pamit dulu ya mas Farhan dan Mbak Zahra. Semoga lekas sembuh!" ucapnya sambil berdiri dari kursinya.
"Nggeh pak!"
"Pak, maaf tadi berapa yang harus saya ganti?" tanyaku.
"Sudah mbak nggak papa, nanti sisanya saja mbak bayar ke rumah sakit. Untuk uang jaminan, sudahlah, namanya juga untuk menolong tertangga sekaligus kawan baik seperti mas Farhan ini saya Iklas!” jawabnya.
"Beneran pak?"
"Beneran dek Zahra. Simpan saja uangnya untuk keperluan lain!" ucapnya.
"Iya pak, terima kasih. Suwon sanget, nggeh Pak,” jawabku.
"Nggeh dek, bapak pulang dulu ya!"
"Iya pak!"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Kemudian Pak Surbekti pulang. Aku mengambil rantangnya dan menyuapi suamiku untuk makan siang.
Mas Farhan kembali istirahat. Satu jam kemudian ada dokter dan perawat yang mendatangi ruang kami.
"'Halo pak Farhan Wardhana"
"Iya, pak dokter." jawab mas Farhan
"Bagaimana ini kondisinya? Sudah enakan?"
.....
.....
__ADS_1
BERSAMBUNG