
BAB 49.
POV FARHAN
"Ini mas, habiskan, pokoknya habiskan!" ucapnya.
"Hah...! Habiskan?"
"Iya habiskan, aku sudah kenyang!" ucapnya dan dia melanjutkan menulis di applikasi.
"Sayang, aku tidak suka pedas!"
"Kenapa kamu membeli dengan pedas?"
"Kan kamu suka pedas? Maka nya aku beli yang pedas...!"
"Pokoknya nggak mau, kamu harus habiskan!!" Zahra menjawabnya dengan nada kesal.
"Iya aku habiskan deh." Aku makan semua rujaknya.
"Huuuaaaa....Huuuaaa....Pedesss... Huh..Huh..Huhh.." Aku kepedesan sekali. Aku lari ke dapur dan mengambil air hangat dan berkumur-kumur, kemudian membuangnya ke cuci piring.
"Farhan, Kamu kenapa?" tanya Ibu yang sedang mau ke kamar mandi.
"Kepedesan Bu...!" Aku minum lagi dan kumur-kumur kemudian membuang airnya ke cucian piring.
"Huuhhh...Aduhh udah mendingan langsung hilang pedasnya."
"Kamu emang makan apa sih kok bisa kepedesan?" tanya Ibu bingung.
"Rujak Bu, Zahra tadi minta rujak, terus dia makan dikit eh aku yang dsuruhnya abiskan."
"Rujak? Pedes?" tanya Ibu curiga.
"Iya aku memang membeli rujaknya dengan pedas, karena Zahrakan yang mau makan bukan saya!" ucapku menjelaskan.
"Zahra Minta rujak pedas?"
"Iya, emang kenapa bu?"
"Hm, nggak papa kok, Ibu ke kamar mandi dulu."
"Iya bu." Aku langsung berjalan kembali ke kamar sambil membawa segelas air hangat.
"Sayang, udah ya, aku nggak kuat pedasnya!"
"Ya sudah, taroh saja di kulkas, biar kalau ada yang mau makan, bisa dimakan lagi."
"Iya sayang." Aku membawa rujak itu dan memasukkannya ke dalam kulkas.
Begitu di kamar aku membuka aplikasi novel dan membaca Novelnya Zahra yang makin banyak pembacanya. Aku senang melihat cerita Zahra di Aplikasi itu banyak pembacanya.
__ADS_1
"Hm. Sayang, apakah kamu nanti akan menulis kejadian tadi?" tanyaku kepo.
"Hm bisa ya bisa tidak. Memang kenapa sayang?" tanya Zahra balik.
"Gak papa, mau nanya saja," ucapku.
"Huuuuuhuuuuhuuu... Farhan...!!" Teriak Santi yang masuk ke dalam rumah dan masuk langsung ke dalam kamar dan duduk di samping Zahra di atas ranjang.
"Kenapa San, kok nangis?"
"Itu, Dona kembali lagi ke rumahku, dia mau tinggal di rumahku bersama dengan Basuki...Huuuuhuuu...!" Dia menangis lagi.
"Hah, kan sudah perjanjian kalau mereka akan tinggal di tempat lain." Ucapku.
"Iya tapi mas Basuki bilang kalau itu rumahnya, dan Dona menuntut bagiannya... Hiks Hiks.."
"Ya sudah sabar, mau nggak mau memang kamu harus tinggal bersama dengan mereka." Ucapku.
"Iya, tapi kan dari awal memang aku gak mau mereka tinggal dengan ku di rumah," ujar Santi.
"Haduh bagaimana ini?" kataku bingung.
"Ya gimana dong, Han? Tolong aku yuk, aku nggak biasa menghadapi mereka sendiri," balasnya lagi.
"Ya aku nggak mau terlibat terlalu jauh. Kalau mau sana ajak Ibu, jangan aku!" ucapku lagi.
"Ya sudah, aku akan ajak Ibu ke sana." Dia bangun dan menuju ke kamar Ibu. Tampaknya Ibu berangkat juga dengan Santi setelah itu.
Aku dan Zahra istirahat di dalam kamar.
"Digarap dong sayang, aku nunggu hujan turun dulu, abis itu baru aku akan bajak soalnya tanahnya keras, sayang."
“Oh begitu? Kan, bisa dialirkan dari irigasi?" balasnya.
"Supaya rata sayang, biarlah kayaknya juga hujan mau turun beberapa hari ini. Kayak kemarin, sudah mulai hujan gerimis walaupun tidak deras," Jelasku kepadanya.
"Nanti aku akan mulai masak lagi mas, buat kamu."
"Oh iya selametan untuk mulai tandur juga, jangan lupa ya sayang." Kuingatkan dia.
"Iya mas, itu juga maksudku. Berarti kita harus segera belanja mas!" katanya.
"Siap Komandan, kapan kita akan belanja?" tanyaku.
"Bagaimana kalau nanti sore? Kita ke swalayan atau pasar moderen."
"Boleh, siapa takut," ucapku.
Pada saat sebelum tandur bibit padi dilakukan biasanya aku akan melakukan pengolahan tanah selama beberapa hari. Aku sudah melakukan pembibitan untuk padi yang akan ditanam.
Persiapan tandur pun dilakukan dan alhamdulillah selama dalam penanduran bibit padi di sawah, alam sangat bersahabat. Hujan selalu datang tetapi tidak lebat sehingga air terjaga. Bulan depan biasanya harus dilakukan perbaikan tanggul air supaya tidak ada air yang meluap ke sawah kami. Kami bergotong royong semua agar menjaga pengairan.
__ADS_1
Hari itu sudah masuk bulan pertama usia padi setelah tandur. Zahra setiap hari mengirmkan makan siang ke sawah. Makin hari makin besar kandungan Zahra. Sudah mulai masuk ke bulan empat.
"Sayang, Aneh ya, kok Ibu dan Santi belum sadar ya, kalau aku hamil?"
"Iya sayang, mungkin juga karena kamu jarang keluar kamar."
"Iya sih mas. Aku memang juga sering memakai daster gombrong juga di rumah, jadi nggak sadar mereka.”
"Ya sudah. Kamu tetap nggak usah terlalu capek. Kalau kamu nggak bisa mengirimkan makan siang juga nggak apa-apa, kamu tinggal telpon saja aku dan aku akan pulang dan makan siang di rumah."
"Iya mas, terima kasih. Kita akan adakan selametan empat bulanan, nggak?" Tanya Zahra.
"Hm, aku kurang paham tuh sayang, nanti aku tanya deh sama orang-orang," jelasku.
"Iya deh mas. Biasanya kan ada selametan empat bulanan. Karena proses terbentuknya janin hingga sempurna di dalam Rahim ibu membutuhkan waktu tiga kali empat puluh hari. Total keseluruhan eeratus dua puluh hari atau empat bulan. Kandungan awal yang masih berupa ****** berproses selama empat puluh hari pertama. Menjadi gumpalan darah selama empat puluh hari kemudian, dan menjadi segumpal daging yang lengkap dengan bagian-bagian tubuhnya di empat hari ketiga," Jelasnya kepadaku.
"Oh, begitu ya sayang, kalau begitu nanti kita akan lakukan kalau kandungan kamu sudah lewat empat bulan atau seratus dua puluh hari saja."
"Ya jatuhnya sih masih sekitar tiga minggu lagi sayang."
"Ya nanti kita atur acaranya. Kita pulang yuk sayang, disini kayaknya mau hujan, sudah mendung sekali," ucapku.
"Yuk mas."
"Kamu hati-hati sayang jalannya."
"Iya mas."
Kami pulang berdua, Zahra mengalungkan lengannya di lenganku. Sesampainya di halamanrumah, aku melihat Ibu sedang memperhatikan kedatangan kami. Dia menatap Zahra dan tidak bicara apapun.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ibu kok tumben ada diteras?"
"Hm, nggak papa Zahra, lagi ingin diteras saja. Lagi mau cari angin saja. Sini duduk dulu disini di samping ibu." Zahra duduk di kursi samping ibu.
"Kamu hamil, ya?" tanya Ibu.
"Hmm..Iya bu, sudah masuk empat bulan."
"Ya Allah, kok ibu tidak kamu kasih tau Zahra?" Ibu terlihat kesal.
"Ya, kami berdua bukan merahasiakan tapi biar saja Ibu yang tau sendiri," Jelas Zahra.
"Ya sudah, kamu jaga ya kandungan kamu. Maafkan Ibu sudah sering mengatai kamu dulu.. Jadi waktu kejadian Dona dan Basuki, kamu sudah tau kalau kamu hamil?"
"Sudah bu," Jawabku.
"Astaga, untung tidak terjadi apa-apa."
__ADS_1
"Ya makanya, kami tetap saling menjaga bu. Apalagi setelah tau kalau Dona orangnya nekat. Dan menghalalkan berbagai cara!" ucapku.
"Ya maaf kan Ibu ya yang sudah gelap mata. Dan malahan Santi sekarang yang kena getahnya. Kasian dia, harus membagi rumahnya dengan Dona. Ya walaupun Dona tidak pernah menuntut macem-macem dan tidak ada masalah selama di rumahnya, tapi namanya juga berbagi suami membuat Santi sangat tertekan." Ucap Ibu yang memegang tangannya Zahra.