KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
PERJODOHAN SANTI


__ADS_3

BAB 69.


"Hehehe, iya bener Ma, kan harus ada kenal dulu dengan Santi, terus antar keluarga terus kalau cocok baru lanjut, kalau tidak cocok boleh nggak jadi, gitu saja bu. Jangan langsung main jodohin saja, karena yang menjalani itu Santi!" ucap Farhan memberi penjelasan kepada ibunya.


"Iya, Ibu mengerti Han!" jawabnya.


"Semuanya perlu proses bu, kita ini menikah untuk seumur hidup. Jadi proses ke orang yang menjalankannya adalah yang utama."


"Bener bu, sudahlah, kita sudah besar-besar, mungkin Santi juga kita bisa tanyain rencana nya ke depan bagaimana? Mungkin saja Santi sudah punya rencana sendiri, sehingga kita tidak perlu lagi menduga-duga. Kita hanya bisa mendukung keputusan Santi, bu," Jelas Farhan.


"Iya deh, cuma ibu tak enak saja sama Ibu Tugino, setiap pengajian nanya terus. Ibu kan sudah mau hidup tenang saja, Han."


"Iya bu, nanti kita tanyakan ke Santi saja," balas Farhan. Sore nya Santi datang dengan Farell.


"Assalamualaikum," ucap Santi.


"Waalaikumsalam," Jawab kami.


"Han, kok nggak jadi tadi pagi? Untung aku belum buat kuah soto buat dibawa ke rumah paklek!" ucap Santi mengomel.


"Hahaha, ada urusan mendadak San, maklum istri saya ini ada maunya!" sahut Farhan terkekeh.


"Eh, enak aja, kan kita berdua yang sudah sepakat! Cubit nih!" bantah Zahra.


"Hehehehe..." Bulan tertawa.


"Eh anak ini, kok papa dimarahin mama malahan ketawa??" Farhan menggoda Bulan.


"Hehehehe," Bulan tertawa lagi.


"Nah kan, diketawain sama Bulan!" ucap Zahra ketus.


"Emang mau ada urusan apa tadi pagi?" tanya Santi


"Biasalah ibu negara ini mau beli motor, jadi kita ke sana deh, ke dealer motor di depan sana dekat dengan warungmu."


"Loh kok nggak mampir?" tanya Santi ngedumel.


"Nggak soalnya tadi kia lihat dari seberang kamu nggak ada dan panasnya tadi terik sekali jadi kita langsung pulang saja," jawab Farhan.


"Oh, jadi abis beli motor tadi?" tanya Santi.


"Iya, saya ketemu dengan mas siapa tadi ma?" tanya Farhan.


"Radit..." Jawab Zahra.


"Iya mas Radit. Kamu kenal dengan dia?" tanya Farhan.


"Iya mas. Aku kenal. Dia itu Supervisor di dealer, dan dia juga sudah dua kali main ke rumahku, ajak main si Farell!" Ucap Santi malu-malu.


"Mau kamu jadikan calon bapaknya Farell?" tanya Farhan.


"Hmmm...Belum tau Han. Aku masih belum paham sama hatiku. Ya jal nanti saja, yang penting dia punya niat baik, gitu aja Han!" balasnya.


"Bagus deh. Memang kamu ingin membangun rumah tangga lagi?" Tanya Ibu.

__ADS_1


"Ya, kalau memang diijinkan Allah dan saya dapat jodoh yang baik, yang sayang sama


aku dan Farell kenapa tidak?" Jawab Santi.


"Hm, Begini San, kamu kan tau anaknya bu Tugino. Namanya kalau gak salah Ramdani. Dia kan belum menikah sampai sekarang. Nah Ibu Tugino mau menjodohkan dia dengan kamu. Mau gak?" tanya Ibu.


"Oh, mas Ramdani? Iya saya kenal kok, dia juga baik bu. Cuma saya kok masih ragu dengan keluarganya!" Jawab Zahra.


"Kok ragu? Kan Ibunya yang pengen kamu menikah dengan Ramdani?"


"Iya tapi Ibu Tugino itu terkenal dengan bawel dan plinplannya bu! Dia itu sering marah-marah nggak jelas! Aku kan takut kalau menikah dengan Ramdani malahan bisa kena omel terus sama Ibunya!" Jawab Santi.


"Nah lo, Diomelin terus kayak Ibu gitu?" tanya Farhan meledek Ibunya.


"Apa sih kamu...!" Ibunya langsung mencubit lengan Farhan.


"Addduuhhh...!"


"Bu, kalau soal jodoh aku juga masih kadang ragu, karena aku tak mau gagal lagi. Apalagi sekarang aku hanya seorang penjual soto ayam. Apakah mereka mau menerimaku. Aku ini juga ingin mengembangkan bisnis warung soto ke beberapa tempat lagi, soalnya banyak pembeli berasal dari tempat yang jauh." ucap Santi.


"Hm, iya sih karena desa kita ini memang rame dan sangat bagus untuk bisnis makanan!” Jawab Farhan.


"Ya, kalau begitu kita mengalir sajalah. Pas pengajian besok kan kebetulan ada di rumahnya bu Tugino, kamu ikut ya, supaya kamu bisa berkenalan dulu dengan nak Ramdani. Kalau kamu cocok ya lanjut, nggak juga gak apa-apa kok!" Sahut Ibu.


"Hm, iya boleh bu. Kita kapan ke rumah pakleknya, Han?" tanya Santi.


"Besok kalau pagi motornya sudah dikirim kita bisa kok ke sana naik motor. Kamu goncengin Ibu saja!" Balas Farhan.


"Maksudmu abis pengajian Ibu?" tanya Santi.


"Hm, alah gampang Han, kalau gitu kita ke rumah paklekmu saja dulu, urusan dengan Ramdani bisa diundur, ya nggak San?" tanya Ibu.


"Nneekk..." Bulan minta digendong oleh Ibu.


"Sini sayang sama nenek." Ibu menggendong Bulan dan jalan ke teras.


"Kamu telpon sana si Radit, kalau bisa minta dikirim motornya besok pagi. Minta bonus helm dua dan kalau ada surat jalan yang bisa dipakai untuk plat nomer, jadi kita bisa ke rumah paklek besok!" Pinta Farhan ke Santi.


"Iya, sebentar, aku telpon dia," ucap Santi. Dia memencet nomer panggilan nama Radit.


["Halo, assalamualaikum.”]


["Waalaikumsalam." ] Balas Radit. Suaranya terdengar karena disuarakan.


["Mas Adit, tadi adekku beli motor di dealermu yo?"]


["Iyo San, wah baru sadar dengan alamatnya, dan tadi kenal dengan mas Farhan dan istrinya."]


["Iyo, besok piye, iso dikirim pagi tidak motornya?"]


["Hm, bisa, jam delapan pagi ya?"]


["Iya sip! Sama Farhan minta bonus Helm dua! hihihihihi."]


["Wah, kalau bonus helm cuma satu San. Beli ajalah di jalan, di depan dealer juga ada yang jual helm bagus-bagus kok, hehehe."]

__ADS_1


["Oh ya sudah, eh iya, kalau kita pakai ke desa sebelah piye? Aman gak?"]


["Aman, nanti aku pasang plat nomer operasional dealer saja, dan aku kasih surat jalan."]


["Ya sudah, jam delapan yo?!!"]


["Iyo. Kamu sehat San? Farell gimana sehat juga?"]


["Alhamdulillah, sehat mas, kamu juga jaga kesehatannya, jangan suka begadang di kantor! Kalau lembur jangan sampai malam!"]


["Hehehe, iya, mau gimana lagi namanya juga tugas piye?"]


["Yo wes, ngono sek, Assalamualaikum."]


["Waalaikumsalam."]


Kemudian Zahra mematikan HPnya dan menyimpan nya di tas.


"Sudah bisa, besok pagi jam delapan dikirim."


"Yo wes, soalnya Ibu negara ini sudah tak sabaran naik motor anyar! Hahahaha."


"Ish," Zahra mencubit Farhan dengan keras.


"Adduhhhh Maaaaa...sakittt..." Farhan sampai memegang lengannya dan menudukkan kepalanya.


"Pa beneran sakit?" tanya Zahra dengan nada cemas.


"Coba liat Pa, maaf mama kebablasan Pa," ucap Zahra sambil melihat wajah suaminya yang menundukkan kepala. Tangannya memegang punggung tangan farhan.


"Hahahahaha...." Farhan langsung memeluk Zahra dan mencium lehernya Zahra sampai Zahra kegelian.


"Hahahaha, ampunnnnn..." Zahra memeluk Farhan dan mereka saling berpelukan.


"Ish, pada bucin nih dua-duanya! bikin aku bete aja!!" Sahut Santi yang langsung berdiri dan berjalan ke teras bermain dengan Bulan.


"Hahahaha, maaf San, ini memang istriku bandel!" ucap Farhan. Zahra tertawa tergelak.


"Rasain kamu dimarahin sama mbak Santi!" ucap Zahra.


"Hehehehe." Farhan misah misuh sambil cengengesan. Setelah Sholat Isya, ada tamu yang datang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," Jawab kami yang sedang ngobrol di ruang tamu. Farhan keluar dan tampak Keluarga Pak Tugino dan istrinya juga Ramdani.


"Eh Pak Tugino, apa kabarnya?" Farhan bersalaman dengan pak Tugino.


"Baik Mas Farhan. Wah, semakin sukses nih mas Farhan keliatannya!"


.....


.....


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2