
Bab 7.
POV ZAHRA
"Kata Ibu surat tanah disana itu sama kamu juga?! Cepat balikin ke Ibu!” Pinta Santi.
"Hm, terus mau dijual, duitnya buat hidupmu Begitu?? Enak aja!!" bantah Mas Farhan.
"Eh, udah ngelawan lo ya, Han!" mbak Santi
"Mbak saya akan kasih surat tanahnya, tapi mbak akan tanggung dosa nya semua, bagaimana? Dosa telah mengambill Hak Warisan yang disitu ada hak aku dan keluargaku! Mau kuburanmu sempit! Sampai masukin mayatmu nanti ditekuk??!! Mau??" Dia diam.
"Ingat masih ada Allah!! Tau!!"
"Terus suratnya dimana sekarang?" tanyanya.
"Ada ditempat yang aman, di bank!" jawb suamiku.
"Ngapain di bank? Elo kreditin ya? Elo gadaikan?" tanyanya heran.
"Emang elo mbak!! Yang suka kredit? Udah dibeliin motor cash eh digadaikan sama leasing, siapa yang suka gadai?? HAH!!" Mas Farhat mengejeknya.
"Dasar lo, udah gue mau pulang...Kalo gak diurusin Ibu sama elo awas lo!!" Aku dan mas Farhan diem saja setelah itu Mbak Santi pulang tanpa permisi.
"ZAHRA...!" panggil Ibu dari dalam kamarnya.
Aku masuk ke dalam rumah, dan diikuti oleh Mas Farhan di belakangku. Aku masuk ke dalam kamar ibu yang tertata rapih. Ibu ternyata mempunyai kamar yang rapi.
"Kenapa bu?" tanyaku.
"Ambilkan Ibu makan, Ibu lapa!r"
"Mending Ibu ke ruang makan sendiri, sekalian latihan jalan, dibantu dulu sama ak, bu. Ayo" Mas Farhan jalan membantu Ibu berdiri.
"Gimana...Sakit nggak berdiri bu?" Dia diam saja.
"Ayo tapakin, sini pegang lenganku" Ibu memegang lengan mas Farhan dan mulai melangkah.
"Aw...Aw.." ucap Ibu saat berjalan dengan kaki kanannya yang sakit.
"Nah itu kan bisa....Sedikit-sedikit aja bu, pelan-pelan." Mas Farhan masih membantu Ibu berjalan.
Lama-lama Ibu tak mengaduh lagi, walaupun dia berjalan dengan pelan-pelan. Aku membantu mengambilkan piring dan nasi juga lauknya. Ibu makan pelan-pelan dan nambah nasinya. Aku dan mas Farhan duduk di meja makan juga menunggui Ibu.
__ADS_1
"Udah, Ibu mau ke kamar lagi!" ucapnya dengan berdiri pelan-pelansambil memegang pinggir meja makan, kemudian jalan pelan-pelan ke dalam kamarnya. Aku dan Mas Farhan berjalan kembali ke teras.
"Mas, mending kita sekarang ke rumah mak Hasnah, daripada mas juganggak ke sawah dan aku juga nggak ada kerjaan. Tapi setelah aku nyuci dan menjemur pakaian sebentar ya mas!"
"Hm, boleh sayang," jawabnya lembut.
Kemudian aku berjalan ke dalam rumah dan menuju kamar mandi. Aku mencuci dan menjemur pakaian. Setelah itu aku mandi dan bersiap-siap di kamarku. Aku memakai bedak sedikit dan menguncir rambutku kemudian memakai hijab. Setelah rapi aku ke teras dan mengajak mas Farhan untuk ke rumah mak Hasnah.
Mas Farhan masuk dulu ke kamar Ibu kalau mereka mau ke rumah Mak Hasnah. Setelah itu kami menutup pintu depan rumah dan berjalan ke rumah Mak Hasnah.
Berjalan sebentar karena hanya beda lima rumah dari rumah kami ke rumahnya mak Hasnah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ehh...Nak Farhan dan Nak Zahra, masuk!"
"Iya mak, terima kasih!"
Kami duduk di atas tikar di lantai.
"Gimana nak Farhan? Ibu sudah bisa jalan?" tanya mak Hasnah tersenyum.
"Nak Farhan, saya itu kasian sama kamu dan Zahra. Warga kampung disini sangat kasian dengan kalian berdua. Ibumu sebenernya baik, cuma kayaknya kemakan hasutan dari Mbakmu, jadi dia sombong, Santi orangnya sombong, warga sini sudah tau kalau Santi itu sombong semenjak menikah, Apa-apa perhiasan, pamer!”
Kami diam saja berdua mendengar perkataan mak Hasnah.
"Ya sudahah, jadi kenapa ini maksud kedatangan Nak Farhan dan Nak Zahra?" tanyanya.
"Begini mak, kamikan sudah tiga tahun menikah dan belum punya momongan. Jadi tadi mendengar saran Mak Hasnah, jadi kami mau mencobanya!" ucap suamiku.
"Begini Nak Farhan, saya memang banyak membantu orang yang ingin punya momongan setelah menikah. Ada yang lima tahun ada yang enam tahun belum punya momongan, tapi saya juga kan hanya membantu, ya akhirnya mereka punya momongan!"
"Iya mak, makanya kami mau berobat atau terapi gitu Mak," ucapku.
"Nah nak Zahra, tapi ada syaratnya, kalau dapat momongan ataupun tidak jangan karena mak Hasnah, tapi karena Allah..!" ucapnya.
"Iya mak, kami paham. Mak kan hanya membantu saja, menjadi perantara saja."
"Iya, kalau kalian setuju, ya saya akan bantu."
"Iya mak, terima kasih!"
__ADS_1
"Kalau begitu, kita masuk ke kamar saja, dipijitnya dalam kamar, kalau disini nanti banyak yang liat" Mak Hasnah mengajak kami berdiri.
"Iya mak." Kemudian kami bertiga masuk ke dalam kamar kecil dan disitu beralaskan kasur tipis. Dipojok kamar dekat dengan jendela ada lemari kecil yang diatas nya ada banyak botol-botol berisi minyak.
"Nak Zahra, lepas bajunya dan memakai kain ini saja," kata mak Hasnah.
"Iya mak." Aku ganti di sebuah ruang kecil yang ditutupi oleh hordeng. Aku keluar dan membawa bajuku dan menitipkan nya di mas Farhan.
"Nak Zahra tiduran saja di Kasur." Kemudian aku tiduran telentang di kasur. Badanku di baluri oleh minyak dan aku mulai dipijit dari kaki, terus tangan dan punggung. Banyak yang dipijat aku berteriak kesakitan. kadang direfleksi kadang di urut dan setelah satu jam kemudian aku disuruh ganti pakaian kembali.
Mak Hasnah duduk sambil menungguku dan aku keluar dari kamar ganti itu sudah memakai hijab.
Aku duduk disamping suamiku.
"Gimana Mak tadi?"
"Hm, ya mudah-mudahan bisa segera dapat momongan nak Zahra. Tadi saya buka dan lancarkan dulu saluran indung telur dan menguatkan rahim juga."
"Oh gitu ya mak?"
"Iya, dan mas Farhan juga harus dipijit juga supaya imbang. Nanti biar tembakannya kenceng dan ****** nya juga bagus!"
"Sekarang mak?"
"Kalau mau?"
"Ya boleh mak, sekalian saja, supaya Joss!" Dia tersenyum. Aku tersenyum mendengar celetukan mas Farhan.
"Iya mak, soalnya aku kan masih baru selesai datang bulan tiga hari lalu. Jadi nanti pas semuanya subur, kan mudah-mudahan bisa langsung jadi mak?" sahutku.
"Iya boleh, Mas Farhan ganti saja itu dengan kain Jarik juga!" ucapnya.
"Baik mak." Mas Farhanpun mengganti bajunya dengan kain jarik.
"Mak, ****** ***** dilepas gak?" tanyanya dari dalam ruang ganti.to
"Pake ajah, saya NGgak sampai disana kok mijitnya, hehehe." Mak Hasnah terkekeh.
...
...
BERSAMBUNG
__ADS_1