
Bab 97.
Santi membalikan badan dan memeluk Ramdani. "Maafkan aku mas, aku sudah melawan ibumu."
"Iya aku paham kok. Kamu kan hanya memberikan penjelasan ke Ibu."
"Aku tidak mau kamu berubah mas!"
"Berubah jadi apa? Batman? Superman?" tanya Ramdani bingung.
"Hahahaha." Farell tertawa mndengar lelucon Ramdani. Santipun ikutan tertawa sambil menangis dan akhirnya diam.
"Kamu ini kalau diomongin malahan becanda, serius ini!" Jawab Santi.
"Iya kamu yang jelas dong. Aku kan tidak paham apa yang kamu maksudkan. Kamu jangan berubah....Ya aku bingung memang aku bisa berubah jadi semut? Atau jadi gajah? Adduhhh sayang...Sayang!"
"Isshh ternyata suamiku bisa becanda juga ya...Ihhh kamu kok jadi lucu begini mas??" Santi akhirnya tersenyum senang dengan tangan yang memegang pipi Ramdani dengan lembut.
"Nah begitu dong, senyum, kan ibadah buat istri kalau senyumnya ke suami!"
"Iya aku kan selalu senyum ke kamu mas, masa aku harus senyum-senyum sendiri, gak mungkin mas ahhh...melawak kamu!" Santi merasa ada satu hal yang belum diaketahui dari suaminya.
"Ya aku ya aku, tidak akan berubah." Farell dari tadi tertawa terus gak berhenti.
"Ini juga sama aja dengan bapakmu!" ucap Santi melihat Farell yang tertawa senang dengan lawakan bapaknya.
"Iya bapak benar bu, emang bapak berubah jadi apa? Kan bapak masih sama bentuknya! Hahahaha," Farell membalas dengan tertawa lagi.
"Hus udah berhenti tertawanya. Kita tunggu penjelasan ibumu dulu. Ayo sayang, maksudmu apa?" Ramdani menunggu dengan sabar.
"Maksudku itu, kamu jangan berubah dengan memusuhiku juga kayak ibu. Marah-marah gak jelas begitu!"
"Oh gitu tho. Kamu percaya sama aku. Aku ini suamimu, aku percaya kok kamu memang berjualan, tidak salah. Mungkin kamu juga sering di rumah karena selain perutmuyang sudah tambah besar, kamu juga harus lebih banyak istirahat supaya kandunganmu sehat."
"Aku ini masih belum menemukan orang yang bisa aku percaya mas. Aku bingung mau bagaimana!"
"Begini, kan mulai bulan depan Yahya sudah tak banyak kegiatan, kita minta bantuan Yahya dan Dona saja untuk mengurus warungnya. Penghasilan yang mereka dapat ya kita gak usah ambil. Cuma sistemnya kita hitung barang saja!" ucap Ramdani memberikan solusi.
"Maksudnya gimana sih? Aku kurang jelas!"
"Begini sayang. Yahya kan sekarang lagi panen, dan punya waktu sekitar dua atau tiga bulan untuk mulai lagi tandur. Nah kita limpahkan ke Yahya dengan cara menghitung stok di warung. Mereka tidak kita kasih modal tapi nanti kalau kita nanti ambil alih lagi ya kita itung ulang saja, kelebihan dan kekurangan nilai stoknya kita samakan!"
"Gimana caranya?" tanya Santi yang senang dengan ide Ramdani.
"Begini misal bahan sotonya ada 300 ribu, terdiri dari macem-macem kan, nah setelah itu kalau nanti kita ambil alih lagi nilai stoknya harus tiga ratus ribu lagi. Kalau lebih ya kita kasih uang ke mereka, kalau kurang mereka harus samakan juga sebesar tiga ratus ribu. Bisa dengan bahan bisa dengan uang. Bagaimana, setuju?" Jelas Ramdani.
"Wah, ternyata suamiku pintar dagang ya? Aku kok nggak tau ya kalau kamu jago begitu. Muaaahh...Terima kasih suamiku!" Sahut Santi senang.
"Iya, sekarang kita tidur yuk, udah malam. Farell ayo sekalian tidur, sudahan dulu main internetnya!"
__ADS_1
"Ya pak."
Besok paginya mereka menjalani aktifitas seperti biasa. Ibu Tugino setelah sarapan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke pengajian. Ramdani dan Santi berpencar. Bengkel las Ramdani sudah dipindahkan dari ruko samping Santi jualan. Sehingga Santi berangkat dengan Farell ke warung soto.
Kebetulan siang itu Yahya dan Dona ke warung soto karena Rudi mau ketemu dengan Farell.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh, ayo masuk duduklah...!" UCap Santi. Mereka bersalaman dan Rudi setelah itu pergi ke kamar Farell untuk bermain.
"Wah, udah lama gak kesini!"
"Iya nih aku kan jualan online, lumayanlah hasilnya." Jawab dona.
"Wah pekerjaan yang bagus tuh, aku mau dong belajar Dona!" ucap Santi."
"Boleh,emang warungmu ini mau dikemanain?"
"Pesan dululah kalian, mau makan apa?" tanya Santi. Setelah mereka memesan, mereka makan dengan lahap. Santi membantu masak di dapur dan kembali lagi kemeja Dona.
"Wah, pelangganmu banyak banget ya? Daritadi gak berhenti-berhenti deh! Aku malahan mau jualan beginian biar kerasa duitnya!" ujar Dona.
"Nah itu yang mau aku bicarakan, Dona, kang Yahya. Begini, aku ini sekarang sedang kena Karmaku sendiri!" Ucap Santi.
"Maksudnya?" Dona dan Yahya heran dengan kata-kata karma.
"Hah kok bisa, San? Ibu Tugino nggak kayak begitu deh."
"Ya, aku juga bingung semenjak ibu tinggal dirumahku, ya jadi begitu. Dia ingin aku di rumah mengurus suami dan anak, juga dia!" Jelas Santi.
"Hahahaha, aduh San kamu kena batunya deh!" Timpal Dona tertawa.
"Nah aku kan bingung dengan usaha sotoku ini. Kebetulan kalian kesini, aku mau menawarkan bisnis buat kalian berdua."
"Apa itu?" tanya Yahya
"Begini, aku menawarkan sama kalian untuk mengelola warung sotoku ini. Jadi nanti aku serahkan semua kepada kalian. Sebelumnya kita akan hitung semua barang dan kita catat bersama."
"Terus?" Yahya bersemangat dengan tawaran ini.
"Terus kalian kelola deh selama enam bulan. Kalau sudah enam bulan, kita gantian kelola. Nanti semua untung ya kalian yang ambil, karena kan kalian yang mengelola. Begitu juga dengan modalnya."
"Setelah enam bulan?" tanya Dona.
"Setelah enam bulan tukeran lagi. Nah, kita itung lagi stoknya, kalau kurang kamu tambahin, kalau lebih ya aku akan menggantinya!" ucap Santi.
"Wah, bagus dong...Aku sih yes!" Ucap Dona.
__ADS_1
"Bagaimana kang Yahya?" tanya Santi.
"Untuk bisnisnya sih aku yes, tapi berarti kan aku harus diskusi dulu dengan paman Anggoro."
"Iya dong, tapi aku palingan sebulan sebelum melahirkan akan memberikannya kepada kalian. Kalau nanti Dona melahirkan mungkin mas Ramdani akan membantu kang Yahya!"
"Wah boleh deh, aku sih setuju saja San!" Ucap Dona.
"Nah kalau begitu aku akan bilang sama mas Ramdani!" Santi senang dengan jawaban mereka.
"Kayaknya memang butuh dua orang ya, San?" tanya Dona.
"Iya, kan ada dua warung soto don. Kalau nanti kamu libur kan bisa bantu paman Anggoro garap sawah."
"Iya memang sih!" Yahya senang dengan tawaran dari Santi.
Malamnya, Santi pulang dan langsung bersih-bersih. Ramdani juga baru saja pulang. Mereka berdua berkumpul di teras. Santi sudah membawakan segelas kopi dan menyuguhkan kue kue keci.
"Gimana sayang warung?" Tanya Ramdani.
"Baik mas, oh iya, tadi kebetulan Yahya dan Dona datang ke warung. Mereka sudah aku kasih tau mengenai rencana kita itu dan dia mau kayaknya."
"Oh, bagus deh....Kalau mereka mau, kan kamu mulai masuk bulan ke delapan kamu bisa sudah di rumah saja!" Sahut Ramdani.
"Mas, tapi aku pikir lagi kalau yang diujung jalan raya kayaknya bisa kita tangani sendiri!"
"Oh iya, kamu kan selama ini tidak banyak ke sana, ya?" tanya Ramdani sambil menghisap rokoknya.
"Iya, kalau disana mereka sudah jalan dan ada mbak Ijem, makanya aman!"
"Iya, kamu bilangnya dua atau satu?" Tanya Ramdani.
"Hehehehe, lupa, aku bilangnya dua. Tapi memang yang paling sibuk dan banyak pembelinya yang disana ya, bukan yang disini!" Jawab Santi.
"Iya, kamu mending test dulu yang disana."
"Iya mas. Farell kemana kok nggak ada di kamar?" tanya Santi.
"Aku juga kan baru sampai sayang. Coba kamu chat, dia dimana tuh anak!" Sejam kemudian Farell datang.
"Mas Farell, kamu darimana sih?" tanya Santi.
"Dari bikin konten bu di jembatan sana! Ada acara uji nyali. Gak tau dari TV mana itu."Jawab Farell. IbuTugino keluar dari dalam rumah menuju ke teras.
"Farell! Kamu tadi main gak cuci kaki kotor lantainya! Lain kali kalau abis dari luar cuci kaki dulu!" Bentak BuTugino.
.......
.......
__ADS_1
BERSAMBUNG