
Bab 101.
"Farell sekarang banyak tinggal di rumah Dona, soalnya sekaligus jagain Rudi. Rudi kan sayang banget sama Farell!" Jawab Santi.
"Iya alhamdulillah ya, semoga mereka berdua akur terus."
"Farell juga pengen disekolahkan di sekolah dekat rumah Dona, jadi Farell disuruh Dona untuk tinggal dirumah Dona. Tapi aku larang. Karena nanti aku melahirkan, malahan nggak ada yang bantu di rumah!"
"Hm ya Farell memang rajin sih, ya." Ucap Zahra.
"Iya, mudah-mudahan mereka berdua akur. Rudi kalau udah sama Farell, Dona sudah dicuekin aja!" Ucap Santi.
"Rencana operasi kapan, San?"
"Belum tau, kayaknya dua hari lagi. Tapi mas Ramdani mau mengurus dulu asuransi kesehatan dari pemerintah itu."
"Bagus deh."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Dona, Yahya dan Farell datang. Mereka saling berpelukan. Setelah mereka duduk diatas karpet, Yahya menanyakan keadaan ibu.
"Iya Ibu ternyata ada penyempitan pembuluh darah ke Jantung dan harus segera dioperasi pemasangan ring. Biayanya mahal, jadi mau diurus dulu asuransi kesehatan pemerintah!" Jawab Santi.
"Hm iya mahal kalau masang Ring. Lebih baik begitu. Jadi kalau ada pembayaran pun tidak semuanya kita bayar!"
"Iya Dona. Farell nanti ikut Ibu dan bapak pulang, ya! Biar papa dan paman Farhan jaga disini," Ucap Santi.
"Iya bu. Tapi motornya bagaimana? Tadi aku sama mama!"
"Ya sudah, nanti sama mama diantar ke rumah. Kita pulang bareng nanti."
"San, bagaimana kandunganmu? Jangan terlalu capeklah."
"Iya Dona. Ini juga banyak rebahan dan duduk saja disini. Udah mau masuk delapan bulan, kan riskan," Jawab Santi.
"Iya. Gimana jadi tidak kami mengurus warung sotomu?" tanya Yahya.
"Kamu sudah panen, ya?" tanya Ramdani.
"Sudah mas, aku juga sudah bilang sama paman Anggoro. Kebetulan juga paman anggoro ada pekerjaan di Jakarta bulan depan. Kalau aku yang garap sendiri ya tidak kuat. Kalau misal aku urus warung soto kalian, kan enak jadinya aku tidak menganggur."
"Iya kayaknya nanti saja pas aku mau lahiran, kita urus Ibu dulu sampai sembuh. Nanti kalau Ibu sudah pulang, kita kan jadi tidak punya beban. Aku dirumah bisa menamani ibu juga dan urus dedek bayinya," Jawab Santi.
"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa."
"Kamu kan sibuk dengan toko online, apa mau urus berdua?" tanya Santi.
"Ya kalau memang ada dua warung ya aku ikutan dong," jawab Dona.
__ADS_1
Untuk yang cabang di Desa Damar biar aku saja yang handel, karena mereka sudah bisa jalan juga tanpa aku!" Jawab Santi.
"Iya boleh San. Yang penting kita bisa membantu kamu juga, daripada tidak ada yang jaga. Tapi apakah semua penghasilan kita semuanya untuk kita? Maksudnya kamu tidak dikasih juga keuntungannya?" tanya Yahya.
"Kalo dari keuntungan sih terserah, saya tidak matokin harus berapa. Seiklasnya saja kamu mau kasih saya. Saya sih oke saja, Ja!"
Sejam kemudian mereka pulang, yang tinggal hanya Yahya dan Farhan.
Sekali ada panggilan dari kamar karena harus menebus obat. Dan mereka berdua istirahat.
Paginya Santi sudah sampai dirumah sakit bersama Farell untuk menunggui bergantian dengan Yahya dan Farhan. Farhan dan Yahya kembali pulang ke rumah.Siang hari ada teriakan dari ruang ICU.
"Ibu Tugino."
"Iya!." Zahra datang mendekat ke suster.
"Ibu, kondisi Ibu Tugino menurun hanstis. Sebaiknya keluarga ada didekatnya."
"Ya Allah, Ibu....Maksudnya bagaimana suster?" tanya Santi yang sedikit panik.
"Ya, kita tak mau kabar jelek, tapi kalau bisa keluarga dikumpulkan saja."
"Baik suster."
Santi mengambil Hp nya dan menelpon Ramdani.
["Halo, mas....Huuuuu...Mas cepat datang!!']
["Kenapa sayang dengan Ibu??"]
["Iya, iya, ini juga baru saja selesai, aku akan ke sana segera!"]
Telepon ditutup. Santi menelpon Dona.
["Halo Dona, Ibu kondisinya turun, kamu bisa kesini?"]
["Iya San, aku ke sana sekarang."]
Santi menelpon Farhan juga.
["Halo, Farhan, Kondisi Ibu menurun drasstis!"]
["Ya sudah kami kesana sekarang!"]
Selang sejam kemudian mereka semua sudah berkumpul. Dan mereka membacakan doa untuk Ibu. Satu-satu mereka menemui Ibu Tugino dan mereka meminta maaf dengan Ibu Tugino. Terakhir Santi dan Ramdani masuk menemui Ibu di dalam ruangan. Setelah mereka masuk mereka mencium tangan Ibu untuk terakhir kalinya.
"Bu, enakan bu?" tanya Ramdani yang sudah berlinangan air mata.
"Ramdani, maafin Ibu ya nak, Ibu sudah tak kuat menahan sakitnya." Ibu Tugino memegang lengan Ramdani. Ramdani tambah terisak.
"Iya bu. Aku yang meminta maaf kepada Ibu atas dosa-dosa dan kesalahan yang sudah aku perbuat bu huuuuhuuu...!"
__ADS_1
"Jangan menangis nak. Ibu sudah maafkan semua kesalahanmu. Kamu anak baik, Ibu senang mempunyai anak sepertimu nak. Kamu jaga Santi dan keluargamu. Santi istri yang baik bagi kamu. Jangan kau sia-siakan dia...hukkkkhukkk...!"
"Iya bu, aku akan jaga keluargaku dengan baik....huuuuuhuuu...!"
"Santi, sini nak. Maafkan ibu ya...hukkhukk...Ibu sudah banyak salah denganmu."
"Tidak bu, Santi yang banyak salah sama Ibu, maafkan semua kesalahan Santi ya bu, kalau Santi tidak mengurus ibu dengan baik....Huuhhuuu..." Santi menangis dan berlinangan air mata.
"Iya Santi. Ibu maafkan kesalahanmu, semoga Ibu bisa bertemu dengan bapakmu nak....Hukkhukkkhukkk...."
"Heeggghh....."
"Ibuuuuuu...Suster...Ibuku suster!!" Teriak Ramdani.
Ramdani langsung membimbing ibu Tugino dengan membacakan kalimat tauhid dikuping Ibunya berulang-ulang kali sampai nafas IbuTugino dihembuskan terakhir kalinya.
"Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un"
"Ibuuuuuuu...." Santi menangis disamping kepala kanan Ibu Tugino.
"Sudah sayang, kita harus ikhlaskan Ibu..." Jawab Ramdani yang juga sudah berlinangan air mata. Alat medis pun dilepas setelah dokter memeriksa Ibu Tugino dan menyatakan Ibu sudah meninggal dunia.
Santi dan Ramdani keluar bersama menemui Zahra, Farhan, Dona dan Yahya. Mereka berpelukan dan menangis. Setelah itu jenazah Ibu Tugino langsung dibawa ke rumah duka di rumah Santi.
Banyak pelayat yang datang dan beberapa kali dilaksanakan sholat Jenazah. Besok pagi sekitar jam 10 pagi, jenazah Ibu Tugino dimakamkan di TPU dekat rumah disamping makam Pak Tugino.
Tahlilan diadakan selama 7 hari, semakin hari semakin banyak yang datang untuk menghadiri Tahlilan.
Kandungan Santi sudah masuk ke bulan sembilan, Ramdani melakukan persiapan dengan membeli perlengkapan anaknya yang setelah di USG adalah Perempuan. Santi menjelang kelahirannya selalu berjalan kaki yang didampingi oleh suami dan Farell.
Siang itu tiba-tiba Santi merasa mulas dan segera menelpon Ramdani. Ramdani segera datang dari bengkel lasnya dan mengantar Santi ke klinik untuk pemeriksaan.
Sesampainya disana Santi diperiksa pembukaannya.
"Bapak, Ibu sudah pembukaan tiga, semoga nanti persalinannya lancar," ucap seorang suster.
"Suster, bagaimana dengan dokter Anita? Apakah sudah dihubungi?" tanya Ramdani.
"Sudah pak, beliau sudah menuju keklinik. Ibu ini melahirkan anak yang ke berapa?" tanya Susternya.
"Sudah yang kedua bu, kakak nya sudah besar, usia enam tahun lebih," jawab Ramdani.
"Baik. Nanti bapak mau mendampingi Ibu melahirkan?" Tanya susternya.
"Iya kalau boleh!" Tak berapa lama kemudian datang Dona, Zahra dan Farhan. Mereka menamani Ramdani dan menemui Santi.
"Gimana sudah pembukaan berapa?" tanya Tut.
"Tadi pertama ke sini sudah pembukaan tiga, tapi gak tau sekarang sudah pembukaan berapa?"
......
__ADS_1
......
BERSAMBUNG