
BAB 36.
POV FARHAN
"Ah, Zahra sekarang emangnya ada dimana? Kamu tau dia ada dimana?"
"Gak tau Paklek!"
"Lah kamu sendiri sebagai suaminya saja nggak tau, apalagi paklek!" Paklek menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tolonglah Paklek. Temani aku kemana saja, untuk cari Zahra!" Aku memohon sekali lagi ke Paklek.
"Hmmmm...Kamu ini merepotkan saja bisanya! Ya sudah, paklek mau ke dalam dulu ganti pakaian!" Dia berdiri.
"Iya paklek, Aku tunggu disini, terima kasih banyak paklek." Paklek masuk ke dalam rumah dan sepuluh menit kemudian dia keluar dengan baju yang sudah rapi.
"Ayo, kita naik motor saja."
"Iya paklek, Aku saja yang bawa motornya paklek!"
"Iya, itu helmmu, aku pake helm ini saja!" Dia memagang Helm yang ada diatas motor.
Dan kami berdua naik motor menyusuri jalan menuju ke arah jalan raya besar. Aku mengendarainya dengan pelan-pelan.
"Farhan, kita ke rumahmu saja!" perintah Paklek.
"Iya paklek!" Aku langsung mengarahkan motor ke rumahku.
Sesampainya di rumah, kami berdua turun dari motor. Aku jalan ke dalam dan meletakkan helm di atas meja.
"Assalamualaikum." Salamku.
Aku melihat Dona dan Ibu sedang berbicara.
"Waalaikumsalam," Sahut suara dari ruang tamu. Pintu terbuka dan aku masuk duluan, paklek belakangan karena membereskan helmnya di atas motor.
"Eh Han, kamu kemana saja?" tanya Ibu.
"Heh, kamu ngapain kesini!!" ucapku ketus ke arah Dona.
"Kamu jahat, mas! Ninggalin aku sendirian di hotel! Setelah kita berhubungan intim!" ucapnya tanpa basa basi.
"Heh, kamu sudah menjebakku! Aku nggak melakukan apa-apa!" balasku.
"Hahahaha, kamu itu habis manis sepah dibuang! Aku mau menuntut kamu untuk tanggung-jawab kalau aku hamil!!" ucapnya dengan marah.
"Assalamualaikum," Ucap salam dari Paklek.
"Waalaikumsalam," jawab kami. Beliau masuk ke dalam ruang tamu.
"Eh Lek, kamu ngapain ke sini?" Tanya Ibu ketus.
"Kamu ini gimana sih?Aku datang dari jauh ke sini bertamu kok begitu sih??!" ucap paklek sedikit kecewa.
__ADS_1
"Tumben! Kamu bukannya nggak mau lagi ke sini? Sudah nggak mau kenal dengan aku lagi!" ucap Ibu dengan nada tinggi.
"Kamu itu bukan nyuruh aku masuk dan duduk, malahan ngomel-ngomel kayak gitu!" balas paklek yang masih berdiri dekat kursi.
"Hmm, ya udah sana duduk." Jawab Ibu.
Kami semua duduk di sofa ruang tamu. Ibu berdiri dan mengambilkan air minum buat kami dengan membawa teko air puih dan tiga gelas di atas nampan.
"Ini kenapa kok ribut-ribut sih?" tanya Paklek ke Ibu setelah Ibu duduk dikursi.
Dia diam saja.
"Loh kok nggak ada yang bicara?? Hehehe, aku dengar tadi dari luar kalau ada yang bilang habis manis sepah dibuang! Ada apa ini?" Tanya Paklek serius.
"Hm, begini paklek. Saya Dona, saya temannya Farhan di SMA. Kami berdua tadi malam ke hotel dan melakukan hubungan suami istri! Tapi Farhan mengelak!!" jelasnya lagi dengan gambang.
"Astagfirullah Al-Adzim, Bener kamu Han lakukan itu??" Paklek sampai kaget mendengarnya. Mungkin dia tak percaya dengan tuduhan Dona.
"Ng…Gini Paklek, biar aku jelaskan!" ucapku masih bingung akan menjelaskan dari mana.
"Assalamualaikum." Salam dari teras.
"Waalaikumsalam," jawab kami.
"Eh ada Paklek, apa kabar paklek?" Ucap mbak Santi dan bersalaman dengan Paklek.
"Iya Santi, dari mana?"
"Dari rumah paklek!"
"Jadi gimana paklek?" tanya Dona lagi.
"Farhan, kamu bener telah melakukan nya kemarin malam!?" tanya paklek mengintimidasiku.
"Gini Paklek, saya itu kemarin ke hotel hanya mengantarkan Dona. Tapi begitu sampai disana, aku diberikan segelas kopi setelah sholat Magrib. Terus aku mengantuk dan tidur karena mengantuk sekali!" jelasku kepada Paklek.
Paklek menatap tajam ke arah Dona. Dona merasa gentar dan menundukkan kepalanya.
"Bener Dona?" tanya paklek.
"Gak gitu paklek. Dia itu telah menodai saya! Dan saya punya buktinya kok," katanya dan mengeluarkan HP nya memperlihatkan Foto Syur kami.
"Astaga Farhan!!!" Paklek sampai diam sambil memandangku kecewa.
"Kamu melakukan ini sadar atau tidak sih?" tanya Paklek setelah melihat foto itu.
"Paklek, beneran, aku tidur abis minum kopi!! Beneran Paklek, saya berani sumpah!" sahutku dengan tegas.
"Hm, terus kenapa karena minum kopi kamu bisa tidur? Apa yang ada di dalam kopi?" Peklek menatap ke Dona dengan tajam kembali.
"Aku kasih kopi dari kopi sachet kok paklek, berani sumpah saya!!" Balasnya lagi dengan nada ketus.
"Farhan, pokoknya kamu harus tanggung-jawab sama Dona, kalau Dona hamil!!" Mukanya
__ADS_1
marah sekali kepadaku.
"Loh, kok gitu? Wong aku nggak melakukan ap-apa kok?" Aku ngotot juga.
"Heh, kamu jangan asal jeplak aja, Han! Kamu udah bikin maluuu..bikin aib keluarga!!" Bentak Ibu.
"Lah aku nggak melakukannya kok Bu! Saya berani sumpah! Ibu harusnya membela saya bukan membela si Dona Ular berkepala dua ini!!" jawablu kesal kepada Ibu.
"Apa!! Saya bicara fakta kok! Dan saya punya buktinya!!" ucap Dona ngotot juga.
"Udah semua jangan ribut!! Gini saja, saya tengahi! Kita tunggu saja sampai dua bulan ke depan, dan kalau Dona hamil, kamu harus menikahi Dona, Farhan! tapi kalau Dona nggak hamil masalah ini selesai!!" Ucap Paklek.
"Tapi Paklek.."
"Udah diam!! Kamu udah melakukannya juga nggak mau tanggung-jawab!??" Bentaknya lagi.
"Aku nggak setuju Paklek!! Aku sudah dinodai oleh Farhan, saya akan menuntut secara hukum!!" bantah Dona.
"Aaahh...Aku berani sumpah paklek! Dona, kamu menyewa orang ya buat foto itu?" tanyaku serius.
"Kan kamu liat itu foto kita selfie, aku nggak sewa orang kok!" bantah Dona menunjukkan fotonya kepadaku.
Aku terdiam.
"Aku mau Farhan membuat surat pernyataan kalau dia mau bertanggung-jawab kalau aku hamil nanti!" ucap Dona lagi menintimidasiku.
"Gak mau saya buat Surat Pernyataan!!! Enak aja, kalau begitukan aku mengiyakan!" bantahku lagi.
"Farhan! Kamu turutin apa kata Dona dong!" Bentak Ibu.
"Pokoknya nggak mau, TITIK! Ibu tuh aneh, jangan-jangan rekayasa ini juga ada ulah dari Ibu dan Dona!! Bener nggak Bu???" Kupandang Ibu dengan menginterogasi.
"Tidak!!Enak aja, kan kamu yang salah? Kenapa Ibu harus membela kamu!!" ucap Ibu mengelak.
Aku langsung berdiri dan mengambil tas kecilku dan berlari keluar kabur dari rumah. Aku tak mau tau. Terdengar paklek dan yang lain memanggilku dari rumah. Aku terus berlari ke arah jalan raya dan masuk ke dalam gang-gang di dalam dan sampailah di jalan raya. Kebetulan ada tukang ojek yang sedang mangkal dan langsung memintanya pergi dari situ.HP Dona masih ada digenggamanku.
"Mas, mau kemana?" tanya tukang ojeknya.
"Udah langsung aja ke sana, nanti aku kasih tau kalau sudah jauh!"jawabku.
Motor melaju dengan kencang dan sampailah aku di kota sebelah dan meminta pak ojek untuk berhenti di alun-alun.
"Nih pak, cukup kan?" Aku membayar ojeknya.
"Wah kebanyakan Lek!" jawabnya.
"Udah ambil saja kembaliannya, mudah-mudahan barokah!" Jawabku.
"Nggeh Lek, suwun yo." ujar Pak Ojek.
"Iyo," Jawabku.
.....
__ADS_1
.....
BERSAMBUNG