
BAB 46.
POV ZAHRA
Waktu terus bergulir
Sebulan setelah kejadian itu kami hidup dengan tenang. Pagi itu aku merasa mual dan ingin muntah.
"Oweeekkk...Oweeekkk.." Aku merasa mual.
"Sayang kamu kenapa? Mual?" tanya suamiku yang ada diteras bersamaku.
"Iya, aku kok tiba-tiba mual sayang. Oweeekkkk..."
"Dimuntahin aja sayang," ucap suamiku.
Akhirnya aku muntah-muntah di selokan dekat teras. Hanya lendir yang keluar.
"Udah belum sayang?"
"Udah mas, aku duduk dulu."
"Aku ambilkan air teh manis atau air putih hangat sayang?"
"Air putih hangat saja sayang," ucapku.
Kemudian suamiku ke dalam dan kembali dengan membawa segelas air putih hangat dan memberikannya kepadaku. Aku meminumnya setengah gelas.
"Sudah enakan sayang?"
"Sudah mas."
"Kamu ke kamar saja sayang, kamu istirahat saja."
"Iya mas, aku ke dalam saja ya."
"Iya yuk, kita ke kamar saja. Biar kamu enak rebahan."
Kami pun ke dalam kamar dan aku rebahan. Aku tiduran sebentar dan melanjutkan menulis novel di applikasi.
"Assalamualaikum." Ada salam dengan suara keras dari luar rumah.
"Waalaikum salam," jawab kami.
"Sudah kamu disini saja, kayak suara Dona deh," ucap suamiku.
Suamiku ke luar kamar dan membukakan pintu luar. Aku langsung bangun dan mengikutinya ke luar.
"Farhan, untung kamu ada! Saya mau nuntut kamu!!" Ancam Dona.
"Nuntut apa?" tanya Suamiku heran.
"Sayang, di dalam saja dulu mas, nggak baik di luar teriak-teriak gitu," ucapku.
"Ya sudah, masuk ke dalam!" sahut suamiku.
__ADS_1
Kami duduk di ruang tamu. Dona datang bersama dengan Laki-laki yang tidak aku dan suamiku kenal.
Ibu juga keluar dari kamarnya.
"Ngapain kamu ke sini?? Kamu bukannya lagi dipenjara??!!" teriak Ibu.
"Hahahaha, saya sudah bebas. Udahlah bu, nggak usah ikut campur! Dasar nenek-nenek tua!"
BRAAAKKK.
Mas Farhan memukul meja dengan keras.
"Hati-hati kamu bicara! Saya gampar kamu kalau mengatai Ibu saya sekali lagi!" bentak suamiku.
Aku kaget waktu mas Farhan menggebrak meja dan dia tampak marah.
"Udah mas, sabar, nanti dia makin senang kalau kamu marah!" Sahutku menenangkannya.
Dia diam kembali dan mengelus dadanya.
"Sabar,...Sabar...Astagfulllahhh....Untung ada yang mengingatkan," ucapnya lagi.
Dona masih tampak ketakutan.
"Udah jangan bertele-tele! Apa maksud kamu ke sini??" tanya suamiku.
"Aku Hamil Ini ada surat keterangannya dari dokter!" ucapnya dan menyerahkan surat keterangan dari dokter kandungan dari sebuah klinik.
"Sayang, ambil HPku" mas Farhan berbisik supaya tidak terdengar oleh siapapun.
Suamiku langsung memfoto surat keterangan itu beberapa kali dan memberikannya kembali kepada Dona.
"Ini, saya sudah foto suratmu, nanti aku sendiri yang akan mengecek ke alamatnya! Jadi kamu mending pulang. Kalau kamu kira saya akan bertanggung-jawab kamu salah!!" ucap suamiku dengan tenang.
"Kamu nggak bisa begitu dong, Han!"
"Lah, untuk apa lagi? Kan sudah jelas kamu hamil tapi apakah hamil dengan aku atau hamil dengan orang lain?" tanya suamiku.
"Kamu jangan belaga pilon, ya. Kamu mau lari dari tanggung-jawab?" Dia kesal sekali terlihat di wajahnya.
"Heh, Dona yang terhormat! Saya ini bukan orang bodoh. Saya punya bukti rekaman video kamu jalan di mall, kamu di hotel dan kamu sedang bermesraan dengan seseorang, dan kamu tau siapa orangnya! Kalau kamu masih menuntut saya harus menikahi kamu? Aku akan melaporkan lagi ulahmu ini! Dan yang kemarin akan saya tetap lanjutkan ke sidang!!!"
"Biadab kamu! Kamu ternyata tidak gentel, ya? Tidak mau bertanggung-jawab atas perbuatanmu sendiri!!"
"Heh, jangan sembarangan kamu bicara!" geram suamiku dan dia memajukan duduknya.
"Hahahaha, kamu selalu bicara begitu, tapi saya nggak yakin kalau kamu punya semua video itu?" Dona meremehkannya.
"Hah, kamu nggak percaya kalau saya punya semua rekaman video dan semua jelas, ada juga foto-fotonya. Aku menyimpannya dengan baik dan memback up semuanya."
"Halah kamu cuma mengancam saja!"
"Emang sama siapa dia jalan Han?" Tanya Ibu.
"Sama Mas Basuki, Bu!"
__ADS_1
"HahSama Basuki???!!" Ibu sangat kaget dengan jawabanku.
"KENAPA DENGAN MAS BASUKI??"
Ada suara dari ambang Pintu. Suara SANTI.
Kami diam semua termasuk Dona. Dia diam tak menjawab apa-apa.
"Heh, Sundel bolong!! Kamu ya selingkuh dengan suamiku??" tanya Santi yang berdiri di dekat meja ruang tamu dan menghadap ke arah Dona.
"Hmm, kata siapa?" tanyanya ketakutan.
"Aku udah taulah! Mas Basuki pernah keceplosan manggil Dona sayang. Kan kamu namanya Dona yang pernah tinggal di rumahku??!!" bentak Santi lagi.
"Mungkin Dona yang lain? Namanya Dona banyak!" ucapnya kesal.
"Heh! Kalau kamu ketauan jalan sama mas Basuki dan menjadi Pelakor...Aku pindahin mukamu ke belakang!!" Santi sangat geram melihat muka Dona.
"Hahahahaha, kamu beraninya cuma ancam doang...Mana buktinya!!" Dia menantang dengan muka merendahkan dan sinis.
Aku kesal sekali dan membuka Video dimana dia jalan di mall dan menunjukkannya kepada Dona dan Santi.
"Nih coba liat...!" Santi dan Dona memperhatikan videonya dan ketika terlihat Dona sedang rangkulan dengan Basuki, Santi langsung geram.
"Biadab kamu!! Jahanam kamu!!" Dia langsung memukul Dona dengan tasnya.
"Adduhhh..." Dia langsung berdiri dan langsung kabur ke luar.
"Heh!! Kamu mau kemana???? Brengsek!! Heh, Kamu siapanya Dona??" Santi mengangkat tasnya untuk menggebuk temannya Dona juga.
"Maaf bu, saya cuma suruhannya saja!" Diapun langsung lari kabur keluar tanpa melihat ke kanan dan ke kiri lagi. Dia langsung kabur sampai sendalnya pun ditinggal.
"Hah, jadi selama ini mas Basuki sama Dona, Han?" tanya Santi dan dia duduk di kursi lemas.
"Kamu kan tadi sudah lihat sendiri videonya!!" jawab suamiku.
"Iya mbak, kami melihat dengan mata kepala sendiri. Makanya kami bisa punya videonya." ucapku.
"Kirimkan videonya ke HPku!" ucap Santi.
Suamiku mengirimkan video yang di mall saja.
"Hm, bagus deh, aku bisa labrak suamiku karena aku sudah punya bukti! Kalau dia berulah lagi dengan Dona dan kalau nggak mau berubah tinggal laporkan saja ke polisi karena perselingkuhan!" jawabnya.
"Ya sudah sana urus dengan suamimu!" ucap suamiku.
"IyaHan, makasih semuanya."
Dia kemudian pulang ke rumahnya dan kami melanjutkan aktifitas siang itu.
......
......
BERSAMBUNG
__ADS_1