
Bab 72.
Beberapa hari kemudian, Radit mengantarkan surat-surat motor berupa STNK dan Plat nomer motor baru.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh mas Radit, ayo mas masuk," ajak Farhan.
"Hm, iya mas diluar saja," jawab Radit.
"Ya sudah diteras saja ya mas, ada apa mas?" tanya Farhan dan mereka bersalaman.
"Iya ini mau antar STNK dan plat nomer motor. Kebetulan kemarin sudah jadi. Saya ke warung Santi kemarin seharian dia tidak ada. Santi sakit atau bagaimana mas?" tanya Radit.
"Hm, nggak tau tuh saya. Kemarin memang nggak kesini sih? Mas Radit kan sudah tau rumahnya?"
"Iya mas, saya sudah tau. Tapi tak enak sama tetangga disana kalau saya keseringan datang," ucap Radit.
"Hm, ya sudah nanti saya sampaikan salammu ke dia," sahut Farhan.
"Hm, terima kasih mas."
"Eh ada tamu. Mas Radit mau minum apa?" tanya Zahra yang menggendong Bulan.
"Apa saja mbak. Disini udaranya enak, ya? Jadi pengen disini dulu mas," ujar Radit.
"Boleh aja mas. Ini rokok?" tawar Farhan.
"Ada mas kalau rokok," Jawab Radit yang mengeluarkan sebungkus rokok putih.
"Ma, kopi aja," Teriak Farhan.
"Iya Pa," jawab Zahra dari dalam rumah.
"Mas Radit, kalau boleh tau nih. Hubungan mas dengan Santi tuh bagaimana sih?" tanya Farhan.
"Eh...Kenapa mas?" Radit jadi salah tingkah.
"Hubunganmu dengan Santi itu bagaimana?" tanya Farhan menegaskan.
"Hmmm..."
"Kok hm doang?" tanya Farhan.
Dia menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal.
"Hm, aku sih belum tau mas," jawabnya.
"Maksudnya belum tau?"
"Untuk sementara ini saya masih mau dekat dulu dengannya dan Farell. Karena saya juga baru kenal dua bulan ini dengan dia," balas Radit.
"Oh, masih temenan gitu?" tanya Farhan.
"Ya begitulah, saya kan belum tau banyak mengenai Santi. Yang saya tau hanya kalau dia itu janda anak satu. Dan mengenai kehidupan sebelumnya juga saya tak tau mas," jawab Radit sambil merokok.
"Hm., tak usah tau menurutku. Karena dia sekarang sedang sendiri dan mencari pengganti suaminya. Hanya kan di kampung seperti ini kita juga harus hati-hati dalam memilih. Dan mas Radit juga bukan orang sini juga, kan?" tanya Farhan.
"Iya mas, saya memang bukan asli kampung sini, saya asal Sumatera!" Jawabnya.
"Oh, mas Radit asal Sumatera?" tanya Farhan lagi.
"Iya saya asal Padang mas. Cuma saya kan awalnya sering makan di warung sotonya dankarena sering mengobrol dan bertemu dengan Farell. Saya cuma salut dengan perjuangannya mendirikan warung sotonya sendirian!" ucapnya.
"Iya baguslah. Tapi maaf ya mas, saya untuk urusan mas Radit dengan Santi tidak mau ikut campur ya," ucapnya tegas.
"Iya mas, saya malahan senang bisa ke sini, bertemu dengan Mas Farhan dan Mbak Zahra," jawab Radit.
__ADS_1
"Pa, ini kopinya, mas Radit kopinya," ucap Zahra.
"Iya terima kasih mbak," jawab Radit.
Setelah menaruh gelas kopinya Zahra kembali masuk ke dalam rumah.
"Terus mas Radit disini kerja sudah lama?"
"Sudah satu tahun mas. Biasanya sih pindah-pindah, tapi saya belum tau rencana ke depannya!' ucap Radit.
"Wah, susah ya pindah-pindah begitu. Ada enaknya dan ada susahnya."
"Iya mas, diminum mas kopinya?" ucap Radit yang meminum kopinya.
"Iya silahkan mas, dienakin saja."
"Hm, enak mas, kopinya pas," jawabnya.
"Terus menurut kamu apakah Farell bisa menerima kamu?"
"Ya, kami bermain bersama mas, aku memang baru dua kali ke rumah Santi. Tapi ya begitulah," jawabnya mengambang. "Saya pamit dulu mas, terima kasih kopinya. Banyak kerjaan di kantor, nanti saya dicariin oleh boss.
"Oke mas, hari-hati dijalan." Setelah mereka bersalaman, Radit pergi dari rumah.
"Pa, Radit sudah pulang?" tanya Zahra.
"Sudah ma. Bulan sudah tidur?" tanya Farhan.
"Sudah, baru saja. Mas, nanti siang kita ke warung sotonya Santi ya? Pengen makan soto!"
"Iya ma, aku minggu ini sudah mulai bajak sawah ya."
"Iya Pa. Kita nggak pernah makan bakso lagi ya, pa?" tanya Zahra yang mengalungkan lengannya ke leher Farhan.
"Iya, mau makan bakso atau soto ayam?" tanya Farhan bingung.
"Hm, bakso saja deh, muaah," Zahra mencium pipi Farhan.
"Hahahaaha." Zahra hanya tertawa saja dan masuk ke dalam kamar.
Sorenya Ramdani dan Santi beserta Farell datang ke rumah dengan membonceng dua motor.
Mereka turun. Ramdani membawa mangga di kantung plastik dengan jumlah banyak.
"Assalamuaaikum."
"Waalaikumsalam."
Bulan yang kesenengan kedatangan Farell jingkrak-jingkrakan membuat Zahra berdiri dan berjalan menuju ke Farell.
"Adek Bulan, yuk sama mas ke dalam," ucap Farell dan dia menggendong Bulan.
"Kuat nggak kamu?" tanya Zahra.
"Kuat bulek," jawab Farell yang menggendong Bulan. Bulang senang sekali digendong Farell.
"Eh, dari mana kok bawa mangga banyak sekali?" tanya Farhan.
"Ini dari kebunku mas di belakang rumah. Lagi berbuah tiga pohon," jawab Ramdani.
"Hmmm, Wah ini mangga enak harum manis, tapi kayaknya belum mateng tapi sudah tua ya, Dan?" tanya Zahra.
"Iya mbak, ini kalau bisa diperam dulu, baru kalau sudah mateng wah manis banget loh!" jawab Ramdani.
"Mas, mau minum apa?" tanya Santi ke Ramdani.
"Kopi hitam boleh biar menemnai mas Farhan disini sambil merokok!" ucap Ramdani sambil mengeluarkan rokoknya dari kantong bajunya.
"Mas, udah mulai membajak sawah?" tanya Ramdani.
__ADS_1
"Sudah alhamdulillah. Kan memang hujan sudah mulai ada walaupun belum sering," jawab Farhan.
"Hm iya. Eh mas, aku mau sharing boleh?" tanya Ramdani.
"Boleh, kenapa?"
"Begini mas, saya sudah tau kalau dengan perceraian Santi sudah selesai. Tapi mas Basukinya sekarang masih di penjara?" tanyanya sambil menyalakan rokoknya.
"Iya sih, sejak kejadian itu Basuki dipenjara. Dan Yanti juga nggak mau membebaskan Basuki!"
"Siapa Yanti mas?" tanya Ramdani.
"Oh dia adiknya Dona, istri Basuki," jawab Farhan.
"Oh selama ini adiknya si Dona bantuin mas Basuki?"
"Bukan bantuin. Yanti itu dekat dengan keluarga kami. Dan dia juga membantu pembangunan rumah Santi itu!" Jelas Farhan.
"Oh gitu. Jadi mas Basuki itu kira-kira dipenjara berapa lama?" tanyanya lagi.
"Wah, kalau berapa lamanya saya tidak tahu, Dan. Soalnya kan masih di penjara kepolisian!" jawab Farhan santai.
"Jadi begini mas, kami sudah sudah akan melangkah ke depan, tapi saya masih kurang nyaman dengan masalah rumahnya dengan Basuki!" ucap Ramdani sambil menyalakan rokoknya.
"Hm, rumah itu mah sudah selesai urusannya. Kan sudah dibeli sama Yanti, walaupun dia belum membayarnya, tapi sudah mau dibeli Yanti untuk mess karyawan perusahaannya!"
"Oh, ya sudah kalau begitu saya juga tenang!" jawab Ramdani.
"Mas, ini kopinya." Santi meletakkan di meja.
"Mas aku mau beli gorengan dulu ya, di situ," ucap Santi menunjuk keluar rumah.
"Iya boleh. Ada uangnya nggak?" tanya Ramdani.
"Ada mas, sebentar ya." Santipun berjalan keluar untuk membeli gorengan.
"Kamu serius mau menikahi Santi?" tanya Farhan.
"Iya mas, saya sudah mengutarakan maksud saya ke Santi. Dia masih belum kasih keputusan sih mas. Karena saya nggak mau lama-lama, lebih banyak mudaratnya!" Jelas Ramdani.
"Hm baguslah, tapi kamu tetap harus tunggu keputusan Santi!"
"Iya mas, makanya saya juga kan masih harus fokus ke usaha bengkel las saya. Tawaran Santi buka cabang di sebelah warungnya Santi nanti di kampungnya Paklek, kayaknya akan saya ambil mas. Karena saya bisa usaha samping-sampingan!" jawab Ramdani.
"Baguslah kalau begitu, kamu persiapkan saja semuanya dulu. Terutama mental kalian untuk berumah tangga. Santi sebenernya anak baik, cuma mungkin ada hasutan dari mana-mana jadinya dia kadang sering begitu, keluar dari relnya," jelas Farhan.
"Ya, saya nanti sebagai suaminya pastilah membimbing dia untuk bisa menjadi istri soleha!" Jawab Ramdani dengan yakin.
"Hm ya sudah, saya juga senang kalau Santi jatuh ke kamu, karena kamu juga sebagai laki-laki cukup bertanggung-jawab dan senang bisa berbesan dengan pak Tugino!" Jelas Farhan.
"Ya mudah-mudahan mas, doakan saja yang terbaik bagi kami. Tapi saya tetap akan menunggu jawaban dari Santi!" jawab Ramdani.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mas, ini gorengannya..." Santi membuka bungkusan plastik dan meletakkannya diatas meja.
"Sini dulu San duduk."
"Iya kenapa Han?" tanya Santi.
"Kamu serius nggak sama mas Ramdani ini untuk berkeluarga?"
"Ya kan saya belum kasih keputusan sama mas Ramdani, karena saya masih mau mengobrol dulu dengan ibu. Masih ingin memantapkan hati juga dan yang penting sholat Istikharah juga, minta petunjuk Allah!" Jawabnya mantap.
"Aamiin...Mudah-mudahan kalian bersatu..!"
.......
__ADS_1
.......
BERSAMBUNG