
BAB 11.
POV AZZAHRA
"Kenapa Zahra?"
"Kamu awas ya sekali lagi bebuat kayak tadi sore, aku banting kamu nanti!!"
"Hah, maaf zahra, maaf!"
“Sekarang kamu minta maaf dulu sama suamiku, ketauan kamu berani mengganggu suamiku, jangan segan-segan aku patahkan tulang-tulangmu!"
"Iya, Han, aku minta maaf ya..!" ucap Dona.
"Ya, jangan sekali-kali kamu ganggu istriku! DIia itu Sabuk Hitam Karate tau! Mau kamu jadi perkedel??Hahahahaha...Sana masuk!!" Dia langsung masuk menyusul Ibu yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Sayang, udah...hehehe...Baru tau rasa dia, gak tau kamu siapa, Ya? Hehehe!" Kemudian kami masuk ke dalam kamar dan tidur.
Besok pagi nya aku bangun dan seperti biasa, menanak nasi dan memasak untuk sarapan. Sesudah itu aku bangunkan Mas Farhan untuk sholat Subuh. Dia bangun dan langsung mengambil Wudhu. Sesudah itu kami sholat Subuh berjamaah.
Aku langsung ke dapur merendam cucian baju dan membawa sapu keluar rumah untuk menyapu lantai teras dan dalam rumah. Aku tak melihat Ibu dan Dona bangun dan sholat Subuh. Mungkin mereka sedang dapat. Tapi kan Ibu sudah menopose jadi seharusnya dia sholat Subuh.
Aku membuatkan kopi hitam kesukaan suamiku dan berjalan ke teras.
“Mas…Kok Ibu belum bangun? Dia nggak sholat Subuh?”
“Hm, biarkan saja, sayang, mungkin ibu capek setelah belanja tadi malam!”
“Iya sudah mas. Nanti dimasakin lagi?”
“Iya dong istriku tercinta. Pasti itu., selain nikmat sekali masakanmu, aku kan juga ingin berdua denganmu!”
“Hmm…Dulu aja, aku gak boleh ke sawah..!” jawablu ngedumel.
“Ih Jangan cemberut gitu dong…Ilang cantikmu nanti…Hihihi.” Kemudian aku tersenyum.
“Mas, nanti sore kita ke Mak Hasnah lagi ya, mas kayak kemarin gak? Pulang Siang?”
“Iya bisa sayang, nggak ada kerjaan banyak sih di sawah, palingan lanjutin benerin irigasi saja, kan sekarang lagi sering hujan, jadi takut kebanjiran sawahnya nanti!”
“Iya Sayang, nanti mau dimasakin apa?”
__ADS_1
“Apa ya sayang, Ikan lagi juga gak papa, tapi diubah ikannya!”
“Iya mas. Sambelnya kayak kemarin juga?”
“Hmmm..Boleh sayang, kemarin sambalnya kan pedes banget..”
“Iya deh nanti aku kasih tomat banyakan dikit supaya gak kepedesan,” jawabku.
Aku mendengar Ibu keluar dari kamar menuju ke kamar mandi dan tak lama dia masuk lagi ke dalam kamar. Mas Farhan akhirnya pergi ke sawah setelah mandi dan sarapan denganku. Dona tak keluar kamar dari pagi ini.
Aku masuk ke kamar dan membereskan kamar sebentar kemudian ke belakang untuk mencuci pakaian dan menjemur. Selama aku mencuci pakaian, tampaknya Ibu dan Dona sarapan karena kulihta ada dua piring kotor dan gelas. Aku langsung cuci gelas dan piring kotor di tempat cucian piring. Kemudian aku menuju ke kamar dan kulihat mereka ada di teras. Aku langsung masuk ke dalam kamar.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mbak Santi datang bersama anaknya. Mereka ramai sekali diluar. Kedengeran pembicaraan mereka karena aku tak menutup pintu kamarku rapat.
“Eh San, gila lo, tambah semok ajah lo!” ucap Dona.
“Hahaha,kan gue udah melahirkan anak satu!” sahut Santi.
“Iya dulu elo kan kurus, sekarang seksi lo, ya!”
“Iya. Eh elo udah nikah lagi belum?’
“Sttt…Jangan kers-keras, nanti di denger sama Zahra..!” katanya sambil agak memelnkan suaranya.
“Gue bilang gue belum nikah, Ibu minta gue datang kemarin, Ibu telpon aku, soalnya Farhan pengen jodohin gue sama Farhan!”
“Hmmm…Kan elo udah nikah?”
“Iya, tapi kan gue sudah pisah lama, udah resmi Cuma aktanya belum gue dapat!”
“Hm, begitu…Terus gue harus ngomong elo belum menikah?”
“Iya dong, kan supaya sandiwara kita lancar..Hihii” Dia tertawa kecil.
“Elo dah ketemu sama Farhan dan Zahra?”
“Sudah, gue kemaren dilabrak sama Zahra, gue diancem pengen dibanting dan dipatahin tulang-tulang gue, San!” ceritanya tanpa memberitahukan sebabnya.
“Ah yang bener..??!! Kurang Ajar si Zahra, emang gak ada sopan santunnya dia!!” Mbak Santi masuk ke kamarku yang sedang tak kututup.
Dia menggebrak pintu, aku kaget karena sedang merapikan seprei.
__ADS_1
“Heh, orang sombong!! Elo dah ancem-ancem Dona ya kemaren?!!” Aku diam saja mendengar dia teriak-teriak nggak jelas.
“Heh..ZAHRA!! Denger nggak lo?!”
“Hmmm…Iya denger, kenapa?”
“Elo kenapa ngancem-ngancem begitu? Maksud lo, apa?!!”
“Ah, nggak ada maksud apa-apa kok. Tanyakan saja sendiri, kenapa alasannya Dona…!” jawabku tenang.
“Ya, apapun Dona ngomong begitu pastia ada sebabnya!!”
“Dia itu mencium suamiku dan dia bukan muhrim, jadi bisa membuat dosa suamiku! Paham!” sahutku menjawab pertanyaannya.
“Ya gak papa dong, kan elo mandul!!” Mbak Santi memakiku dan tampak mukanya yang sombong dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“Hm, Mbak Santi nggak bisa bilang itu nggak papa, dia kan bukan muhrim nya suamiku. haram kalau menciumnya begitu. Itu bisa menjerumuskan mas Farhan juga ke dalam dosa..!” Jawabku lantang.
Ibu kulihat ikutan menghinaku.
“Kamu itu ya, nggak tau sopan santun, dia itu mantan pacarnya Farhan. Jadi wajarlah kalau dia mau mencium mantannya yang dia masih sayang!” jawab ibu dengan enteng.
‘Hah, dia mantan pacarnya mas Farhan?’ batinku sedih.
“Kamu emang kenapa? Kamu nggak tau? Cantikkan Dona disbanggorong kamu, udah lecek , jelek. Kampungan lagi!!”
Aku diam saja, dan memandang ke arah Dona yang etrsenyum sinis menatapku. Ibu juga seperti berani karena ada dua orang yang akan membelanya.
“Awas kamu kalau melarang Farhan untuk ngobrol dengan Dona!! Kamu saya usir nanti!” bentak Ibu lagi.
“Oh, kamu melarang Dona untuk mengobrol dengan Farhan? Udah sok cantik banget kamu Zahra!! Adekku itu punya pacar Dona selama SMA, dan dia dekat denganku, makanya kamu jangan ikut campur dengan keluargaku, Tau!!” Santi marah kepadaku dengan mata melotot.
“Aku bukan ikut campur, tapi dia itu suamiku, aku harus menjaganya, supaya nggak diambil oleh Pelakor kayak dia!!” aku menunjuk kea rah Dona.
“Apa kamu bilang?!!” Ibu langsung jalan ke arahku dan menjambak rambutku, aku berusaha melepaskan tangannya yang sedag menjambak. Akhirnya terlepas, dan mereka kudorong keluar kamar dan langsung kututup pintunya dan menguncinya.
Aku menangis dan duduk di atas lantai sambil menutup kedua wajahku.
....
....
__ADS_1
BERSAMBUNG