
Bab 40.
POV ZAHRA
"Mas mau aku buatkan kopi panas?"
"Boleh sayang. Tapi kita ke swalayan yuk, beli susu hamil buat kamu dan vitamin."
"Oh, so sweat banget sih kamu mas..."Kucium bibirnya dengan lembut.
"Hmmpp...Makasih sayang."
Kami berangkat ke swalayan dan sekaligus membeli keperluan buat di rumah yang diperlukan. Setelah itu kami pulang. Tiba-tiba ada orang yang menyerempet tangan kanan mas Farhan dengan kencang dari belakang. Dia naik motor dengan kecepatan tinggi dan mas Farhan terpelanting ke arah kiri.
"Aaduuuhhh..."
"AAAHHHH....!!"
"Massssss....!!" Aku lihat motornya dan ciri-ciri helm dan jaketnya. Tapi plat nomernya tak bisa dikenali karena sudah malam. Aku membantu Mas Farhan dan dia meringis kesakitan duduk di aspal.
"Mas,apa yang sakit mas...!!??" tanyaku panik sambil berlutut di aspal.
"Gak papa dek, cuma tangan mas kok gak bisa digerakkan ini..Kalau digerakkan sakit pundak mas..!!" ucapnya.
"Ya udah ayo kita ke rumah mak Hasnah, kita urut disana." ucapku.
"Iya, sayang, awww..." Mas Farhan berdiri sambill kubantu. Belanjaan yang berhamburan isinya dari kantung plastik aku pungutin dulu dan dimasukkan kembali ke kantung plastiknya. Aku membawa semua belanjaan sendirian karena mas Farhan masih memegang pundaknya yang sakit.
Setelah sampai depan rumah aku masuk ke dalam rumah dan meletakkan belanjaan di ruang tamu dan langsung kembali lagi keluar menggandeng mas Farhan yang masih meringis kesakitan.
Sesampainya di rumah mak Hasnah, aku ketok pintunya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sahut Mak Hasnah dari dalam.
Pintu terbuka.
"Eh Zahra, Farhan, kenapa? Ayo masuk."
Kami masuk ke dalam rumah dan duduk di bawah.
"Mak, tolong mas Farhan, tadi dia diserempet sama motor dan lengan atas nya sakit!" kataku panik.
"Coba mak liat dulu." Mak menggerak-gerakkan pundaknya dan mas farhan teriak kalau digerakkan ke atas.
"Wah geser nih engsel pundaknya. Mak bantu ya han, tapi jangan melawan!"
"Iya mak.." jawab suamiku.
KREEK
Dengan sekali tarik lengannya.
"Awwwwww.....Saakitt...!!!" Teriak mas Farhan.
__ADS_1
"Nah coba digerakkan ke atas ..."
"Eh udah nggak sakit mak...Alhamdulillah." Mas Farhan sudah terlihat senang karena engsel yang geser itu sudah masuk lagi ke bonggol tulangnya.
"Sebentar jangan digerakkan dulu, mak mau ambil balutan dulu!"
"Iya mak."
"Gimana mas udah enak?"
"Udah sayang, tadi sih sudah tak sakit lagi."
"Alhamdulillah. Tadi orangnya sengaja mas mau serempet kamu kayaknya!" ucapku.
"Iya soalnyakan kosong jalanan tadi ya?" tanya mas Farhan.
"Iya, masa kok ke pinggir banget, ke tengahnya juga jauh mas!"
"Kamu perhatikan nggak yang nabrakku tadi?"
"Aku sudah hapalkan sih motor dan orangnya. Tapi Plat nomernya gak keliatan mas!"
"Farhan, sini au balut dulu ya supaya gak gerak. Kamu buka dulu kaosmu."
"Iya mak." Dan aku membantu suamiku melepas kaosnya.
Mak Hasnah langsung membalut pundak mas Farhan.
"Nah selesai, kalau kamu mau gunakan banyak tangan kiri, untuk sementara tangan kanan istirahat saja dulu, sekitar dua minngu ya."
"Iya mak."
"Gak mak, aku dipinggir sambil gadengan dengan Zahra. Tadi aku lagi bawa belajaan juga tadi di sebelah kananm tapi aku langsung diserempet aja dari belakang. Untung belanjaannya gak banyak."
"Terus belanjaannya berhamburan dong." tanyanya.
"Iya." jawabku.
"Hm, kok aneh ya? Apakah ada yang nyuruh untuk mencelakakan kamu Farhan?"
"Gak tau saya mak. Kami pulang dulu ya mak, ini berapa?" tanya suamiku.
"Udah limapuluh saja buat balutannya."
"Ini mak." Uang aku berikan ke emak dan diterima olehnya.
"Sayang kita pulang, yuk." Ajak suamiku.
"Iya. Mak terima kasih ya," ucap kami.
"Ya sama-sama.," Jawab mak Hasnah. Kami pulang dengan berjalan pelan pelan. Kukalungkan tanganku ke lengannya.
"Mas, kok banyak sekali ya halangan kita akhir-akhir ini," ucapku
"Ya kita jalani saja, sayang. Aku juga bingung, apa maksud Allah dengan rencana semua ini?" balas suamiku.
__ADS_1
"Apa kita pindah saja mas ke kontrakan, tadi aku lihat dekat rrumah mak Hasnah ada yang dikontrakan."
"Gak usah sayang, kita nabung saja buat kelahiran anak kita." Dia menatapku dengan senyumnya yang manis.
"Iya deh mas, Mudah-mudahan kia bisa menjalaninya dengan semangat."
"Nah gitu dong, itu namanya istriku yang soleha!"
"Makasih ya mas, semua hidupku hanya untukmu..."
"Hm, so sweat banget sih kamu...hehehe." Dia terkekeh.
Kami sampai di rumah dan masuk ke dalam kamar. Ibu keluar dari kamarnya.
"Farhan! Kamu kenapa? Kok dibungkus gitu tangan kamu??" Tanya Ibu heran dan berjalan ke arah Farhan.
"Gak papa bu, tadi saya jatuh di jalan," sahut suamiku.
"Ini pasti karena si Zahra, ya?"
"Kok Ibu nyalahin Zahra?" tanya mas Farhan heran dan kesal.
"Iya, kan dia orang yang buat Sial!!" Jawabnya ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ibu itu kenapa sih benci banget sama Zahra! Apa salah Zahra!??" Tanya mas Farhan.
"Ibu nggak sudi punya mantu mandul kayak dia! Udah lama kamu menikahi dengannya nggak ada anak. Kamu nanti tuanya akan sendirian, Han!" Sahut Ibu dengan setengah melengos.
"Hmmm....Ibu salah lah, jangan kayak gitu bu. Zahra itu sudah saya pinang menjadi Istriku. Dan sekarang menjadi tugasku setelah mengambil dari orangtuanya. Masa Ibu membencinya? Aneh Ibu ini!!" Farhan langsung meninggalkan ibunya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
"Heh, Farhan! Ibu belum selesai bicara!"
Farhan membuka lagi pintunya yang sudah dia tutup setengah.
"Apalagi tho bu? Aku mau istirahat, Ibu istirahat sana, sudah malam!"
"Ibu kecewa sama kamu, sudah lebih memilih istrimu daripada Ibu!"
"Kata siapa? Ibu ini yang berlebihan dan Zahra juga nggak salah. Saya itu hanya membela yang benar. Ibu tetap Ibu saya sampai kapanpun dan Zahra juga sebagai istri saya, bu." Jelas Farhan.
"Kamu selalu membela Zahra dan menganggap Ibu salah! Kamu pasti sudah diguna-guna sama Zahra!"
"Bukannya kebalik, Ibu dan Dona sudaah mengguna-guna saya? Awas bu, kalau saya laporkan Dona nanti Ibu bisa kebawa keseret ke Kantor Polisi!" Jawab suamiku datar.
"EH...Jangan Han, Ibu nggak ikutan kok! Ibu cuma dikasih tau sama Dona kalau dia mau melet kamu...!" Jawabnya salah tingkah.
"Nah Ibu ngaku nih sekarang...Aku mau tidur, kalau Ibu masih marah sama Zahra dan selalu kasar sama Zahra nanti Ibu sendiri yang rugi!" Katanya sambil kemudian menutup pintu karena Ibunya langsung berjalan meninggalkannya ke kamar.
"Sayang, ayo kita istriahat."
.....
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1