KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
TERBUKTI ADA PELET!!


__ADS_3

BAB 33.


POV AZZAHRA


Kemudian kami keluar untuk makan malam bersama dengan Bulek, Paklek dan Tarjo. Tarjo sekarang sudah kelas tiga SMA dan akan lulus tahun depan. Kami makan dengan sedikit berbicara dan kami berkumpul di teras setelah selesai makan malam.


"Nak Zahra, kawan paklek mau kesini malam ini. Sebentar lagi juga datang! Karena rumahnya deket kok."


"Iya paklek. Aku sih nurut saja."


"Ada fotonya Farhan, kan?" tanya Paklek.


"Ada Paklek. Sebentar Zahra ambil dulu HP ke dalam." Aku berjalan ke dalam rumah kemudian ke kamar mengambil HPku yang sedang masih belum kuaktifkan dari magrib tadi.


Di teras aku duduk lagi. Tak lama kemudian ada orang datang dengan naik motor. Orangnya sudah tua seumuran dengan paklek.


Dia turun dari motor dan berjalan ke teras.


"Assalamualaikum," salam nya.


"Waalaikumsalam." Jawab kami.


"Wah lagi santai-santai nih."


"Iya, masuk Pak Bambang. Ini kenalkan keponakan saya, Zahra."


Kami bersalaman dan dia duduk di seberangku.


"Mau minum kopi?" tanya bulek.


"Wah boleh, bu. Enak itu kopi hitam."


"Ya, sebentar ya, aku buatkan dulu."


Bulek berjalan ke dalam rumah dan menuju ke dapur.


"Nah, kenapa ini pak, katanya ada yang mau konsultasi?" tanyanya sambil menyalakan rokok.


"Iya ini, keponakan saya. Suaminya berubah dalam beberapa hari ini. Dia selingkuh dengan teman sekolahnya, padalhal dia kesini minggu lalu menolak mentah-mentah. Dan sekarang dia katanya lagi jatuh cinta sama si perempuannya itu!" jelas paklek.


"Hm coba kucek foto suaminya mbak Zahra. Apa ada fotonya perempuanya juga?" tanyanya.


"Oh ada juga pak. Ini foto suami saya dan foto perempuannya."


Aku menunjukkan foto mereka di HP ku.


"Hmmm..!" Dia komat kamit.


"Bisa ambilkan telor dua buah. Telor ayam kampung, ada?" tanyanya ke Paklek.

__ADS_1


"Oh, ada." jawab Paklek.


"Biar saya yang ambil paklek." Aku berdiri dan berjalan ke dapur. Aku ambil telor di dapur yang diberikan oleh bulek. Sekalian aku membawa kopi hitam yang sudah jadi ke teras. Bulek sedang menggoreng ubi di dapur.


"Ini pak silahkan minum kopinya." ucapku dan meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi dan dua butir telor.


"Kita ngopi dulu, ya dek. Hahahaha"


"Iya, silahkan diminum pak," sahutku. Kemudian mereka minum kopi dan meerokok sebatang.


Aku tunggu mereka mengobrol dengan bahasa jawa. Aku sendiri sebenarnya asal dari Bandung dan tak pintar bahasa jawa, walaupun aku sudah tiga tahun disini.


"Nak Zahra. Sebenarnya sejak kapan suaminya berubah?" tanyanya.


"Baru beberapa hari ini saja pak. Sejak dia makan sate dan sop pemberian si ceweknya itu!"


"Kamu nggak makan?" tanyanya lagi.


"Tidak pak. Sebelumnya juga dia minum kopi yang sudah diberikan sesuatu oleh Ibu mertua saya, terus dia marah-marah gak jelas dan kasar! Padahal dia itu orangnya lembut sama saya. Sopan dan gak kayak kemarin itu pak!" jelasku.


"Ya semoga nggak ada apa-apa ya nak," ucap pak Bambang.


"Mudah-mudahan," Jawabku.


"Ya sudah kita mulai ya, mana fotonya?" Aku kasihkan HP ku. Dan dia pegang telor ditangan kanannya, sedangkan HP di tangan kirinya. Mulutnya mulai komat kamit dan telornya ditempelkan di layar hp. Di HP tampak Foto Mas Farhan.


Dia tekan ke HP dan memutar-mutar telor itu ke layar HP dan dia taroh ke atas meja telornya. Kemudian dia ulangi lagi dengan telor yang kedua, dia mengambil telornya dan ditempelkan di layar HP. Dia membaca sesuatu dengan mulut komat kamit.


"Ini kalau tidak percaya bisa ambilkan nampan!"


"Itu nampan pak," sahut Bulek yang sudah ada disampingku.


"Oh iya. Lihat ya. Perhatikan dan ingat-ingat, ini sebelah kanan saya telor suami mbak. Dan yang telor di sebelah kiri saya si perempuannya. Saya taroh ya di sini. Ini jaraknya lima belas senti," ucapnya dengan menletakkan kedua telor itu bersamaan.


"Nanti saya akan lepas, apa yang terjadi????" Ucap Pak Bambang.


Dia melepas kedua telur itu bersamaan dan telor yang di kanan tiba-tiba menggulir sendiri seperti tertarik oleh magnet dari telor sebelah kiri. Jalan terus dan menempel!


"Nah, bisa ditarik kesimpulan bahwa suami ibu akan mengintil kepada cewek tadi.Karena sekarang suami mbak dalam pengaruh si cewek tadi!" jelasnya.


"Ya Allah. Mas Farhan….Huuuu." Aku menangis dan menutup wajahku dengan kedua tangan.


"Sudah nak Zahra. Jangan bersedih," ucap bulek dan mengusap punggungku.


"Nak Zahra, kita akan lihat ya, apa yang ada di dalam telur ini," ucap pak Bambang lagi. Kemudian aku melepas tanganku dari wajahku.


"Bu tolong ambilkan dua mangkok kecil," pinta pak Bambang.


"Sebentar, aku ambilkan." Kemudian bulek mengambil di dapur dan segera ke teras.

__ADS_1


"Ini pak." Dua mangkok itu disejejarkan dan diambil telor yang punya mas Farhan dan di pecahkan dan isinya dituang ke dalam mangkok.


"Astagfirullah Al-Adzim, Ya Allah...Apa itu????!!!" Aku kaget setengah mati.


"ASTAGA..!!" Bulek kaget.


"Astagfirullah Al-Aldzim...Ya Allah," teriak Paklek terperanjat. Terlihat ada paku kecil tiga buah dan sudah berkarat. Ada rambut diikat juga kecoa mati.


"Masya Allah, Pak, kenapa ada didalam telor itu?" tanyaku tidak percaya dengan yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.


"Ya, itu lah peletnya bu! Ini juga sekalian santet! Karena kalau suami ibu nggak bisa atau nggak mau  ikut dia, suami ibu akan dibuat sakit dan dibuat sengsara dengan sakitnya!"


"Ya Allah, Tolong suami saya, pak!"


"Ini sudah ditolong nak. Ini semua barang yang ada dibadan suami mbak Zahra. Mudah-mudahan hanya ini saja. Besok juga suami ibu kelimpungan karena dia sudah lepas dari pengaruh santet dan peletnya si cewek ini."


"Alhamdulillah, terima kasih, pak," jawabku dengan bersyukur.


"Hm, nah sekarang Ibu lihat apa yang di dalam telur si cewek ini!" ucap Pak Bambang.


"Iya pak." Jawab kami berdua.


Kemudian telor itu dipecahkan dan isinya dituang ke mangkoknya.


"Astaghfirullah Al Adzim, Pak. kok darah semua?" Tercium bau busuk dari telor tadi.


"Ya Allah, itu darah apa pak? Kok jijik dan bau!" teriak Bulek.


"Iya bu, Ini namanya pelet darah haid, bu. Dia memberikan darah haidnya ke suami ibu. Dan tentunya sudah diisi dan didoakan oleh dukun! Mungkin caranya diteteskan di kopi atau dicampur ke makanan yang dimakan oleh suami ibu!" jelas pak Bambang dan dia mengambil rokok kembali dan menghisapnya.


"Astaga, jadi dia memang ke dukun?" tanyaku ke Pak Bambang.


"Ya iyalah, mbak. Emang dia tau mengenai pelet seperti ini?"


Aku berpikir, Iya juga ya. Mungkin waktu Dona pergi dari rumah dia pergi ke dukun dan meminta bantuan dukun.


Akal dan pikiran manusia kadang menduakan Tuhan. Untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan berbagai cara dan sesat.


"Hm, ya Liat saja besok suami mbak Zahra pasti mencari keberadaan mbak Zahra, karena dia sudah terlepas dari pelet si cewek tadi!" ucap pak Bambang.


“Hm, yang benar pak?"


"Iya."


"Alhamdulillah." Aku mengucap syukur kepada Allah.


......


......

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2