KARENA...MU!! Ibu MERTUA

KARENA...MU!! Ibu MERTUA
HP BARU


__ADS_3

Bab 24.


POV AZZAHRA


Malam indah itu kami habiskan dengan bercinta. Mas Farhan seperti sangat kuat dan bisa memberikanku kepusan yang maksimal. Esok paginya kami mandi dan kemudian sholat Subuh berjamaah. Aku masak untuk membawa bekal ke Telaga yang sudah direncanakan tadi malam berdua.


Setelah itu, aku bersih-bersih dan mencuci pakaian agar tidak ada tanggungan pekerjaan rumah.


Jam semblilan pagi, kami berdua berangkat ke Telaga, tempat rekreasi yang dingin dan sangat enak. Kami naik boat berdua mengelilingi telaga dan kami memilih untuk memakan sate kelinci. Telaga itu ada di lereng gunung di jawa, dan udaranya sejuk. Setelah sholat Dzhuhur kami pulang ke rumah yang berjarak satu jam dari Telaga.


Sesampainya di rumah ada mbak Santi, aku melihat sendalnya yang da selalu pakai. Tak ada dona karena hanya ada sepasang sendal saja di pinggiran teras.


"Mas, ada mbak Santi tuh!" ujarku.


"Biarkan saja, kita masuk saja ke dalam kamar. Aku capek ingin istirahat. Nanti sore kita beli HP untukmu ya!" jawabnya.


"Iya mas, makasih sayang!" balasku.


"Iya sama-sama." Mas Farhan senyum kepadaku.


Kami masuk ke dalam kamar. Setelah sholat Ashar kami keluar lagi ke Mall yang belum pernah kami kunjungi untuk membeli HP yang lumayan bagus buatku. Setelah itu mas Farhan mengajakku untuk makan di sebuah rumah makan padang. Kami makan dengan lahap dan pulang ke rumah.


"Sayang, kita sholat Magrib dulu, tadi belum sempat, masih ada waktu?" tanya suamiku.


"Iya mas." Kami langsung ambil air wudhu dan sholat Magrib berjamaah.


"Sayang, kita ke rumahnya mak Hasnah, yuk. Kan katanya setelah seminggu kita boleh ke sana lagi!" ucap suamiku.


"Minta tambah kuat ya? Hehehe."


"Tau ajah, sekalian aku biar tambah joss lagi..Hehehe.” Suamiku terkekeh.


"Kamu udah Joss mas....Terakhir aja kamu minta nambah..Lama lagi!" balasku.


"Hehehehe, kamu juga makin hebat sih melayaniku...Hihihihi!" ledek suamiku.


"Ya sudah, yuk kita berangkat, supaya gak kemaleman." Aku berdiri.


"Iya sayang, yuk kita langsung berangkat!"  Kami langsung berangkat ke rumah Mak Hasnah. Aku mengunci pintu kamar seperti biasanya dan keluar ke teras menutup pintu depan dan keluar rumah..


Kami berjalan ke rumah Mak Hasnah dengan santai dan bergandengan tanngan dengan suamiku.


"Assalamualaikum," sapa kami


"Waalaikumsalam," jawab anaknya dari dalam rumah. Pintu dibuka.


"Eh, om Farhan" sahut anak kecil usia 10 tahunan.


"Emak ada?" tanya suamiku.


"Emak nggak ada om, lagi di rumah Lek Bejo," jawabnya.

__ADS_1


"Oh lagi mijit?" tanyanya lagi.


"Iya kali om, aku nggak tau!"


"Ya sudah, salam saja buat emak!" Suamiku mengelus atas kepalanya.


"Iya om, nanti aku sampaikan!"


"Ya sudah, makasih ya, Nita."


"Iya om sama-sama!" Kemudian kami kembali jalan pulang dengan santai..


"Sayang, gimana HP nya? Bagus nggak?" Pandang suamiku ke wajahku.


"Alhamdulilah mas, bagus, aku senang sekali. Terima kasih ya mas"senyumku mengembang.


"Iya sayang, kamu jadi mau menulis Novel?" tanyanya lagi.


"Jadi mas, Insya Allah. Aku bisa menulis dari HP, mudah-mudahan akubisa meringankan beban suamiku" ucapku senang.


"Tak ada beban sayang, itu kan kewajibanku untuk bisa menafkahi kamu..!" jawab suamiku dengan nada tegas.


"Iya mas, dan kamu sudah bertanggungjawab untuk itu!"


"Iya sayang. Yuk kita ke pasar malam saja, mungkin disana banyak hiburan...Sekalian aku mau makan bakso nanti abis dari sana?" Kemudiankami berbelok ke arah yang berlawanan.


"Kamu ngak capek mas?"


"Nggak kok, kenapa?"


"Iya, aku emang suka bakso sayang!" jawabnya dengan senyum.


"Kalau begitu nanti aku buatkan bakso ya, rasakan bakso buatanku nanti. Aku di kampung juga dulu pernah jualan bakso mas!" jawabku.


"Oh ya? Beneran?" tanya suamiku kaget.


"Iya, dulu kan Bapak pernah mangkal jualan bakso dan mie ayam. Emang enak bakso langganan kita, tapi kuahnya menurutku terlalu banyak micin nya!" sahutku sambil melihat ke jalan.


"Hm, gitu ya? Jadi kita nanti mesen nggak pakai micin ajah sayang?"


"Iya, makanya kan aku nggak pernah pengen pake micin, mas!"


"Iya, kamu selalu nggak pake micin!" Kami ke Pasar malam, dan kali ini Pengunjung sangat ramai, jadi kami hanya jalan-jalan melihat-lihat saja dan naik bianglala sekali, nostalgia masih kecil.


"Hahaha, enak ya sayang, aku dulu paling suka diajak sama bapak ke pasar malam naik beginian!" sahut suamiku.


"Oh ya? Emang dulu udah ada mas?" tanyaku lagi memicingkan mataku.


"Udah, tapi kita memang harus ke kota, jauh dari sini, nggak sedekat kayak gini tinggal jalan kaki saja..!" jawabnya.


"Hm, gitu ya?"

__ADS_1


"Yuk sayang kita makan bakso!" ajak mas Farhan.


"Boleh mas..Yuk!" Kami jalan ke warung bakso langganan, masuk dan duduk, mas Farhan memesan dua mangkok bakso.


"Mas, berarti pupuk dan treatment yang kamu ikuti itu emang bagus, ya?" tanyaku mengenai pemupukan organiknya.


"Iya sayang, lumayan, biaya modal juga naiknya cuma sedikit kok. Tapi emang harus dijaga pengairannya juga!" jawabnya.


"Hm, organik emang bagus mas..namanya juga dari tumbuh-tumbuhn juga!"


"Iya, aman lagi pula. Pestisidanya bisa bener-bener menangkal hama untuk nggak mau ke situ!" sahut suamiku.


"Mas, ini baksonya. Kok tumben masih sore udah ke sini?" tanya sang penjual.


"Tadi abis dari pasar malam cuma padet. Kok aneh ya, masih sore udah penuh banget?" tanya mas Farhan sambil mengaduk kuah bakso.


"Hahahaha, mass..Kan musim panen, udah gitu panen kali ini semua rata-rata bagus hasilnya!" jawab si penjual bakso sambil membersihkan beberapa kursi.


"Iya Mas, Alhamdulillah!" sahut mas Farhan yang sudah mulai mencicipi kuah bakso.


"Minumnya apa?" tanya penjual bakso.


"Saya es jeruk saja!" ucap suamiku.


"Saya juga deh!" sahutku.


"Ya sudah, es jeruk dua ya?"


"Iya mas." Suamiku mengiyakan. Kami makan bakso nya dengan lahap, beberapa menit kemudian kami selesai makan baksonya. Mas Farhan menyalakan rokoknya.


Aku minum es jeruknya .


"Mas, penggilingan mulai besok?"


"Iya sayang, setengahnya udah aku jual kok, tapi setengahnya lagi masih berupa gabah, nanti sebagian ditaroh saja dulu di gudang!" sahut suamiku sambil menyemburkan asaprokoknya ke arah lain.


"Hm...!"


"Sudah yuk sayang, kita pulang, kayaknya mau hujan. Untung kemarin pas panen nggak ada hujan." Suamiku langsung berdiri.


"Iya mas!" Kami berjalan kembali ke rumah dan sesampainya di rumah aku sudah disambut dengan muka ramah Dona yang sedang bertamu di rumah dan Ibu malahan mukanya jutek.


"Assalamualaikum," sapa kami.


"Waalaikum salam Han, dari mana?" tanya Dona ramah.


"Dari jalan-jalan. Mau ngapain kesini lagi?" tanya suamiku dengan nada ketus.


"Gak papa, aku mau pamit sama Ibu, aku mau pulang ke rumah dulu!" jawabnya.


....

__ADS_1


....


BERSAMBUNG


__ADS_2