
BAB 57.
POV Farhan
Pagi ini kami sudah tenang karena biang kerusuhan rumah ini sudah dipenjara. Aku sedang menggendong Bulan yang sudah mulai aktif gerakannya. Dia sudah bisa kadang diajak becanda.
"Mas, kopinya nih.," ucap Zahra.
"Iya sayang, Bulan mau dimandikan dulu?"
"Iya mas, mau mandi dulu. Abis ini kita sarapan."
"Iya sayang," jawabku.
Bulan digendong oleh Zahra dan langsung masuk ke dalam untuk mandi. Aku mengambil rokok, menyalakan dan menghisapnya. Kubuka HP ku dan membaca novel istriku yang sudah dia update sebanyak 4 bab. Aku menghisap rokok sambil membaca novel istriku.
Tak lama kemudian berhenti mobil sedan mewah di depan pintu pagar rumah. Setelah mesin mobilnya mati, turun seorang perempuan cantik berhijab. Tinggi, cantik dan berkulit putih. Dia membawa tas mewah agak besar sedikit dan sebuah tas dari kertas atau paper bag.
'Rasanya mirip Dona deh mukanya? Siapa dia?' Pikirku.
Dia kemudian berjalan ke pagar dan masuk ke dalam pekarangan setelah menutup pintu mobil dan menguncinya dengan remote.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Waalaikumsalam," jawabku.
"Maaf ini benar rumahnya Mas Farhan?" tanyanya.
"Iya benar. Maaf dengan siapa, ya?" tanyaku.
Dia melepas sendalnya yang bagus berheel delapan senti sepertinya dan masuk ke teras.
"Saya Yanti, adiknya Dona." Dia mengulurkan tangannya.
Aku menyambut uluran tangannya dan menyuruhnya masuk. Minyak wanginya enak sekali wanginya, pasti harganya mahal.
"Silahkan masuk, saya Farhan, mari bu," jawabku sambil masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Terima kasih." Diapun masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di sofa.
Aku langsung ke belakang dan menemui Ibu di kamarnya untuk menemui tamunya.
"Bu, bisa keluar sebentar? Ada tamu, adiknya Dona!" Ucapku.
"Siapa lagi? Adiknya Dona?" Ibu heran.
"Iya katanya," jawabku. Ibu berdiri dari pinggiran tempat tidur dan berjalan keluar. Aku jalan di belakang Ibu. Zahra juga kebetulan selesai mandikan Bulan. Jadi Zahra berjalan di belakangku.
Ibu bersalaman dengan Yanti dan duduk dikursi seberang Yanti. Aku duduk di samping Ibu.
"Ibu, ini Yanti adiknya Dona," ucapku.
"Oh, Adiknya Dona," ucap Ibu tenang.
"Iya Ibu. Saya adiknya Dona. Kami dua bersaudara dan saya anak kedua. Saya ke sini bermaksud untuk silaturahmi dengan keluarga Ibu dan Mas Farhan. Itu tujuan pertama saya ke sini,” ucap Yanti. "Dan yang kedua, saya ingin mengucapkan Maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan Kakak saya, Dona.”
"Hm, ya kami bisa apa mbak Yanti. Kami hanya ingin hidup tenang. Makanya dengan kehayantin Dona yang mengganggu kehidupan keluarga saya, ya saya gak akan suka!" Jawabku.
"Iya, saya memang awalnya yang mengundang Dona ke sini, ke rumah ini. Tapi ke sininya, tindakan Dona sangat brutal! Tapi ya sudahlah, lagi pula Dona sekarang kan sudah dipenjara!" Kata Ibu kesal.
"Ya harusnya begitu. Diakan perempuan, harusnya kalau sudah ditolak ya jangan pakai berbagai cara! Masa sudah menyantet Farhan terus mencelakakan Zahra yang sedang hamil. Waktu itu sampai dia masuk ke got becak nya dan Zahra pendarahan! Untung bayinya tak apa-apa waktu itu!" Jelas Ibu dengan nada ketus.
"Iya saya hanya menjalankan prosedur saja mbak! Saya ingin Dona merasakan akibatnya di Penjara!" ucapku tegas.
"Jadi begini bu, saya kesini untuk memohon kepada Ibu dan Mas Farhan untuk bisa mencabut tuntutan kepada Dona...!" ucapnya dengan nada hati-hati.
"Hm, maaf Mbak, kalau mau mencabut tuntutan hukumnya Dona, kami tidak bisa. Biarlah Proses persidangan berlangsung. Katanya minggu depan akan ada sidang."
"Ya itu Mas Farhan. Kalau bisa mas Farhan mencabut Tuntutan ke kantor polisi, maka sidang akan berhenti dan Mbak Dona bisa bebas."
"Abis bebas membuat onar lagi? Mencelakai kami lagi? Tau nggak mbak, Kalau saya tidak tahan kemarin, oleh warga mau digebukin dulu itu Dona dan Basuki sebelum dibawa ke kantor polisi!"
"Hmm...!" Yanti tampak kesal dari wajahnya. Tapi dia kembali tenang dan membuka tasnya.
"Ini bu, mas Farhan. Ada tanda terima kasih kepada keluarga Ibu dan mas Farhan kalau Tuntutan ke Mbak Dona dicabut!" Dia meletakkan uang di dalam amplop yang tebal,
__ADS_1
Aku dan Ibu saling berpandangan.
"Ini ada uang dua ratus lima puluh juta, dan Mas Farhan hanya cukup datang ke kantor polisi dan mencabut tuntutannya!" Yanti memandang wajah kami satu per satu.
"Hm, maaf mbak Yanti. Saya tidak bisa, silahkan saja mbak masukkan uang ini ke dalam tas dan pintu keluar ada disana!" ucapku dengan geram.
"Hm, tolonglah mas, saya janji, kalau nanti Mbak Dona sudah keluar, saya jamin dia tidak akan ganggu kalian dan mencelakakan kalian lagi. Dia sudah sadar dan tadi malam dia bilang ke saya, kalau dia bebas maka akan pergi dari kota ini dan hidup dengan tenang bersama mas Basuki...!" Dia memelas dan memohon kepadaku dan Ibu.
"Mbak tidak mengerti bahasa Indonesiaa????!!" tanyaku kesal
"Tolonglah mas Farhan, Ibu, jangan buat kami menderita. Ibu dan Bapak kami sedang sakit sekarang, dia menanyakan mbak Dona terus karena dia tak pernah pulang selama ini. Mungkin dengan kejadian ini akan membuat dia sadar dan kembali ke rumah!"
"Loh, bukannya uang bukan jadi masalah? Keluargamu kan kaya, kenapa Dona tak mau pulang ke rumah? Pasti suasana rumah kalian yang tidak harmonis!" Jawab Ibu dengan Kesal.
"Kami masih takut dengan ulah Dona yang selalu membuat kami Parno!" Ucapku.
"Tolonglah mas...Ibu...Jangan membuat kami merasa terus bersalah bu...Mas Farhan!"
"Sudahlah mbak Yanti, saya tidak mau meneruskan pembicaraan ini! Mbak bisa keluar dengan rasa hormat!" Ucapku.
"Kami sudah banyak susah dengan ulah Dona! Anak saya suaminya direbut sama Dona! Itu Basuki itu suami Santi anak saya!" Balas Ibu.
"Astaga! Jadi mas Basuki itu suami anak Ibu juga? Tadi malam saya ketemu dengan mereka berdua. Dia bilang kalau mau menyelesaikan masalahnya dengan istri pertamanya. Kalau begitu memang kakak saya yang sudah tidak Benar!! Saya tidak tau bu, kalau istri Basuki yang pertama itu adalah Anak Ibu juga?!" Dia terlihat kesal dengan ulah kakaknya.
"Saya tidak menyangka, semua berusaha dia rebut dengan paksa!" Ucap Yanti lagi.
"Terus apakah saya harus mencabut juga tuntutan kami? Kamu tau kan, tidak hanya aku dan istriku yang menderita! Tapi Kakakku juga kehilangan suaminya karena direbut oleh kakakmu!"
Dia diam saja dan merasakan sakitnya Santi.
"Ya sudah. Kalau begitu, ini uangnya ambil saja buat ibu dan mas Farhan. Anggap saja ini adalah kompensasi atas kesalahan kakakku yang keji. Dan soal tuntutan, biarlah dia nikmati saja di penjara, biar sebagai efek jera!" Ucapnya lagi.
"Terima kasih atas pengertian mbak. Tapi mohon maaf uangnya bawa saja, kami tidak membutuhkannya. Kami bisa menanganinya semua!" ucapku menyuruh dia mengambil uangnya.
"Jangan mas Farhan!"
.......
__ADS_1
.......
BERSAMBUNG