
BAB. 65.
POV SANTI
Tak terasa sudah hampir dua tahun, aku menjadi Janda. Tak ada yang bisa kuperbuat. Untuk mencari pasangan hidup lagi rasanya aku sudah tak peduli lagi. Mas Basuki juga masih dipenjara dan anakku Farell, Putra Basuki, anak satu-satunya kami sering menanyakan mas Basuki, bapaknya.
Walaupun begitu, kami hidup berkecukupan, malah kami akan membuka cabang warung soto ayam yang sudah mempunyai karyawan tiga orang. Dua bulan lalu akhirnya aku bisa membeli sebuah ruko yang kupakai untuk warung soto ayam yang sudah berjalan satu tahun lebih.
Setiap hari tidak lebih dari dua ratus mangkok omset warung soto ayamku. Dan aku sudah bisa beli motor sendiri. Ingin membeli mobil tapi aku masih menabung untuk itu.
Suatu hari ada beberapa orang yang datang ke warung soto ayam memberitahukan kalau mereka melihat mas Basuki yang sudah bebas dan sekarang tinggal di rumah Dona. Aku ada kepikiran juga kenapa dia belum kesini untuk menengok anaknya yangsudah rindu kepadanya.
"Assalamuaaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh mas Farhan, mbak Zahra. Tumben mampir? Abis darimana kok jauh mainnya?" tanyaku.
"Abis dari klinik. Zahra periksa kehamilan," jawab Farhan.
"Wah, hamil lagi mbak? Selamat ya!" Ucapku.
"Iyambak terima kasih. Baru masuk tiga bulan." Mereka duduk di meja paling depan.
"Mau makan soto ayamnya?" tanyaku.
"Iya, dua ya San, pakai nasi, laper aku!" ucap Farhan.
"Iya sebentar ya. Inem, buatkan dua pakai nasi."
"Iya bu."
"San, kata orang-orang si Basuki sudah keluar dari penjara? Aku juga ke sini mau menanyakan itu ke kamu!" tanyanya lagi.
"Iya sih kata orang-orang, tapi dia masih belum ke sini tuh. Apalagi untuk menengokanaknya!"
"Dulu hak asuh di siapa? Kamu atau berdua?" tanya Farhan.
"Hak asuh ada di aku!"
"Ya bagus deh, kalau berdua kan bisa aja dia mau mencoba mengambil alih hak asuh anakmu!" ucap Farhan.
"Ya, walaupun si Farell rindu dengan bapaknya, tapi dia juga nggak akan mau ikut bapaknya!"
"Ya jaga-jaga saja. Kalau ada apa-apa bilang sama saya! Soalnya kemarin Yanti telpon, kalau mas Basuki sudah bebas dan tinggal di kontrakan milik keluarga Dona. Tapi dia juga bekerja di perusahaan bapaknya Dona!"
"Bagus dong, dia sudah mau bekerja lagi dan punya uang lagi!"
"Rumahmu bagaimana statusnya?" tanyanya lagi.
"Kunci sih masih sama aku Han! Tapi emang kenapa?" tanyaku heran.
"Yanti bilang kalau sebenernya Basuki masih dendam sama keluarga kita. Dulu pernah Basuki bilang ke Yanti dan kita kan tidak tau maksudnya itu bener atau tidak!" jelas Farhan.
"Mas, Mbak ini Soto ayamnya."
"Oh iya, terima kasih."
"Ayo makan dulu Han, Zahra! Jangan malu-malu kalau mau nambah ya nambah saja. gratis!"
"Ya iya, masa mau bayar! Hahahaha," ucap Farhan meledek.
"Hm, jadi dia akan bales dendam gitu Han ke keluarga kita?"
__ADS_1
"Iya."
"Sayang ayo makan dulu. Novelnya nanti diteruskan updatenya!" ucap Farhan.
"Wah, novelnya Zahra bagus-bagus ya? Aku aja sering baca kalau malem mau tidur, kalau lagi bete mending baca novelnya Zahra!"
"Wah pembaca setia kamu tuh, Ma," goda Farhan.
"Iya dong, kamu aja pembaca setia, kan?" tanya Zahra ke Farhan.
"Iyalah. Memang novel kamu bagus-bagus kok!" Ucap Farhan.
"Sudah berapa novel sekarang mbak?"
"Sudah ada sembilan novel. Ya ada yang tayangannya sampai ratusan ribu dan ada yang masih puluhan ribu!" ucap Zahra.
"Wah keren, duitnya banyak dong ya?"
"Lumayanlah," jawab Zahra.
"Wah bukan banyak lagi San, udah ada tabungan di akunnya itu sekitar duapuluh ribu dollar lebih! Gak ditarik sama dia!” ucap Farhan sambil mengunyah.
"Wah, kenapa nggak ditarik Zahra?"
"Untuk apa? Aku masih punya uang dari suamiku. Suamiku kan wong sugih!" ledek Zahra kepada suaminya.
"Hahahaha, bisa aja kamu sayang!"
Setelah makan mereka pulang. Tak lama kemudian, aku mendapatkan telpon dari nomer tak dikenal pada waktu aku menyapu sampah di lantai.
["Halo, Assalamualaikum."] Santi
["Waalaikumsalam. Dek."] Basuki
["Iya aku dek. Mas Basuki. Apa kabar dek?"] Basuki
["Baik mas."]Santi
["Bagaimana dengan kabar anakku, Joko?"] Basuki
["Hm baik, kamu sudah keluar dari penjara? Kok bisa telpon?"] Santi
["Iya aku sudah keluar dari Penjara dua minggu lalu. Kamu sekarang sudah punya warung soto terkenal rupanya? Boleh saya mencicipi soto ayamnya?"] Basuki
["Boleh saja. Silahkan kalau mau ke sini."] Santi
["Ya sudah, aku ke sana ya, assalamualaikum."] Basuki
["Waalaikumsalam."] Santi
Kemudian aku matikan teleponnya dan kupencet nomernya Farhan, ternyata tidak aktif.
Kupencet lagi ke nomer Zahra dan diangkat.
["Halo Assalamualaikum."] Santi
["Waalaikumsalam Mbak. Ada apa?"] Zahra
["Zahra, tolong bilang sama Farhan, Mas Basuki mau datang ke warung. Kalau bisa dia ke sini, takut terjadi apa apa!"] Santi
["Ya nanti saya bangunkan mas Farhan. Dia lagi tidur sama Bulan, biasa kalau siang Bulan pengennya tidur sama Papanya."] Zahra
["Ya sudah, aku tunggu ya Zahra!"] Santi
__ADS_1
["Iya."] Zahra
["Assalamualaikum."] Santi
["Waalaikumsalam."] Zahra
Sesudah itu aku langsung melanjutkan kembali pekerjaanku dan kemudian sholat. Sesudah sholat aku duduk di meja kasir menggantikan karyawanku yang juga mau gantian sholat.
Ada sebuah motor yang berhenti di depan warung. Dari perawakan tubuhnya terlihat seperti mas Basuki. Dia melihat kearahku dan melepas helmnya.
Dia berjalan masuk, benar saja mas Basuki.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Dek, apa kabar?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
"Baik mas." Aku sambut uluran tangannya.
"Wah, warungmu lumayan besar ya? Kamu kontrak atau milik sendiri warung ini?" tanyanya.
"Kontrak! Mana mampu aku membeli warung kayak gini!" balasku.
"Aku mau makan soto ayam, tapi racikanmu ya!" ucapnya.
"Sama saja, semua bumbunya sama, tidak ada yang beda setiap tangan juga! Nem, bawain Soto Ayam pakai nasi ya satu!"
"Iya bu," jawab Inem.
"Aku duduk di depan sana saja. Kalau nanti aku sudah selesai makan aku akan panggil kamu! Ada yang harus kita bicarakan!" ucapnya dan langsung berjalan ke meja di luar.
Aku diam saja dan setelah beberapa menit, sotonya jadi dan dia terlihat makan dengan lahap.
Sewaktu dia merokok, aku berdiri dan berjalan ke arah mejanya dan duduk di seberang meja.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanyaku.
"Di kontrakan ibunya Dona!"
"Joko mana?" tanyanya.
"Farell maksudmu?" tanyaku heran.
"Oh, diganti ya panggilannya?"
"Iya, supaya lupa sama bapaknya!" Pandangan kualihkan ke arah lain dan melipat tanganku di depan dada.
"Ah becanda kamu..Hahaha."
"Aku rindu sama kamu dan Farell!"
"Hmm..Aku kan bukan istrimu lagi! Kalau Farell memang anakmu, tapi hak asuh ada ditanganku! Kamu boleh berkunjung ke sini kalau ada waktu tapi tidak boleh mengambil atau mengajak Farell kemanapun!" Jelasku dengan tegas.
"Iya aku paham. Boleh aku ketemu dengan anakku?" tanyanya.
"Sebentar aku panggilkan!"
.....
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1