
Bab 70.
"Hahaha, bisa saja, ayo masuk, bu, eh mas Ramdani, gimana kabarnya?" tanya Farhan.
"Baik
Farhan, kayaknya sesalu sibuk nih. Aku sering melihat mas Farhan dimana-mana! Hahaha," ucapnya.
"Wah, dimana melihat saya mas? Ayo masuklah, mari duduk," ucap Farhan mempersilahkan tamunya duduk. Ibu, Santi dan Zahra yang menggendong Bulan langsung bubar.
Setelah mereka duduk, Farhan duduk di seberangnya.
"Bagaimana nih pak usaha bengkel lasnya? Kayaknya makin membludak aja ya yang pesan?"
"Wah, bisa aja nih mas Farhan. Tapi memang kami sekarang sudah punya tiga bengkel las, dan satu dipegang saya sedangkan yang dua dipegang sama Ramdani," jelasnya.
"Wah, yang dekat rumah bapak siapa yang pegang?" tanya Farhan.
"Itu saya mas yang pegang," jawab Ramdani.
"Wah, yang disitu itu yang nggak pernah berhenti ya mas, kayaknya selalu ada aja pagar-pagar atau teralis yang ditumpuk!" ucap Farhan.
"Alhamdulillah mas Farhan," jawab Ramdani senyum. Ibu keluar dari kamar dengan baju rapi.
"Eh, ada keluarga Ibu Tugino," ucap Ibu. Kemudian mereka bersalaman. Santi pun datang menyusul bersama Ibu setelah itu.
"Hm, San, bikinkan minum dulu. Kopi atau teh?" tanya Ibu.
"Apa saja bu," ucap Ibu Tugino.
"Ya sudah buatkan saja teh dan kopi buat Farhan dan Pak Tugino, mas Ramdani kopi atau teh?" tanya Ibu.
"Saya kopi juga boleh bu, terima kasih," balas Ramdani.
"Ya sudah sebentar ya, saya pamit ke belakang dulu," ucap Santi dan dia berjalan ke dapur. Zahra kemudian keluar dan bersalaman dengan mereka.
"Eh Ibu Tugino, Pak, Mas," sahut Zahra dan bersalaman juga dengan mereka.
Zahra duduk di samping Farhan.
"Wah, si kecil kemana nak Zahra?" tanya Ibu Tugino.
"Baru saja tidur bu," jawab Zahra.
"Hm, sudah tidur? Eh pak, anaknya mas Farhan ini lucu banget, dan suka ketawa kalau sama orang, dia kayaknya akan jadi anak yang ramah deh sama setiap orang," ucap Bu Tugino.
"Hm, iya, lucu, tadi aja ayahnya dimarahin sama Ibunya dia malah ketawa," sahut Ibu.
"Wah, gemesin banget deh."
Tak lama kemudian, Santi membawa nampan berisi minuman. Kemudian Santi meletakkan nampan diatas meja dan dibantu Farhan untuk meletakkan gelas minuman dihadapan para tamu.
"Terima kasih bu, merepotkan saja," ucap Ibu Tugino. Santi meletakkan nampan di meja makan dan kembali lagi duduk di samping Zahra.
"Iya ibu maksud kedatangan kami ini ke sini adalah untuk bersilaturami, nak Farhan," ucap Pak Tugino.
__ADS_1
"Iya pak, kami terima kasih sudah dikunjungi oleh bapak Tugino sekeluarga, padahal pak Tugino dan mas Ramdani ini sama-sama orang sibuk. Kami jadi malu, hahahaha," jawab Farhan.
"Ah bisa saja nih mas Farhan..!"
"Nah
yang kedua kami bermaksud untuk memperkenalkan anak kami Ramdani kepada Mbak Santi,
semoga mereka bisa dekat...."
"Maksudnya apa pak?" tanya Ibu.
"Maksudnya begini, kalau sekarang mah udah nggak jaman namanya perjodohan, mungkin kata yang lebih tepat adalah mendekatkan. Maksud saya ke sini, mungkin nak Santi dan anak saya, Ramdani sudah saling kenal tapi tidak dekat. Nah kami membawa anak kami Ramdani ini untuk lebih dekat lagi dengan nak Santi," ucap pak Tugino.
"Kami tidak memaksa untuk menjadi jodoh, tapi mungkin mereka berdua malu untuk memulai, jadi kami berinisiatif untuk saling kenal. Saya tau anak jaman sekarang ini tak mau dijodohkan, tapi kami hanya ingin mendekatkan Ramdani dengan Santi, itupun kalau nak Santi berkenan," jelas Pak Tugino lagi.
"Hm, jadi maksud bapak ini supaya Ramdani dan Santi ini dekat. Begitu?" tanya Farhan.
"Iya mas, saya tau kalau Santi juga sudah menjadi Janda dan mempunyai anak satu. Tapi kami yakin Ramdani bisa menerimanya. Saya persilahkan saja kepada nak Santi dan anak saya untuk dekat dulu. Mungkin dengan jalan bareng atau bagaimanalah," ucap pak Tugino lagi.
"Maaf pak, saya ini hanya janda anak satu. Walaupun proses perceraian saya dengan mantan suami saya sudah selesai. Kami juga masih banyak masalah dengannya, jadi untuk sementara ini saya tidak mau fokus dulu ke situ. Tapi kalau hanya sekedar komunikasi lewat telpon bisa. Aku ini janda pak, jadi kalau mau ketemu dengan saya sebaiknya disini, dimana ada keluarga saya," Balas Santi.
"Hm, iya Santi, saya paham. Supaya menghindarkan fitnah. Saya ini mau menikah karena Ibadah bukan karena hal lain. Masa lalumu dengan mantan suamimu juga tidak akan aku ungkit. Dan aku akan siap menjaga keluarga terutama kamu dan anakmu Farell dari pengganggu!" Sahut Ramdani.
"Ya sudah diminum dulu, dan dicicipi ini ada makanan kecil dari Bandung, minggu kemarin kami abis pulang dari Bandung," ucap Farhan sambil mencairkan suasana.
"Wah, enak ini kue kering asli bandung. Berapa lama disana mas Farhan?" tanya Ibu Tugino.
"Sekitar hampir tiga mingguan bu."
"Oh boleh pak, silahkan. Saya juga merokok pak Tugino. Mas Ramdani tidak merokok?" tanya Farhan.
"Merokok mas, ini rokoknya, hehehe," jawab Ramdani dengan menunjukkan sebungkus rokok dari kantong bajunya.
"Ya sudah kita merokok saja, ayo diminum mas, pak," ucap Farhan menawarkan
"Hm, rumah ini enak ya hawanya, adem," ucap pak Tugino.
"Hm, iya pak, kata orang-orang yang ke sini memang adem. Saya sendiri ya merasa adem juga sih, hahahaha," Jawab Farhan.
"Mas Farhan lagi nandur, ya?" tanya Ramdani.
"Belum mungkin minggu depan, saya masih menunggu hujan dulu, masih dikit turun hujannya."
"Iya sih, belum sering hujan ya mas?"
"Iya pak, maklumlah kalau nandur masih belum basah banget, harus kadang nyedot air dari sungai, jadi biayanya tinggi," jawab Farhan.
Kemudian keluarga pak Tugino pulang. Ramdani dan Santi bertukar nomer telpon dan nomer chatnya mereka.
Setelah itu masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Besok paginya mereka bangun pagi. Farhan mengajak jalan-jalan Bulan. Sedangkan Zahra sibuk di dapur. Setelah mereka selesai sarapan Zahra dan Farhan duduk diteras. Bulan sedang tidur dengan neneknya di kamar.
Ada mobil pickup yang berhenti dengan motor baru di atasnya.
__ADS_1
"Selamat pagi," ucap seorang pria dengan baju seragam dealer.
"Pagi mas," jawab Farhan.
"Ini dengan Pak Farhan, ya?" tanyanya.
"Iya pak, silahkan. Mau antar motor ya?"
"Iya, saya taroh disini aja ya pak?"
"Iya mas, disini saja!" jawab Farhan.
Kemudian motor diturunkan, dan petugas dealer itu memberikan semua surat-suratnya ke Farhan.
"Udah semua mas?" tanya Farhan.
"Sudah pak, silahkan ini ditandatangani," ucapnya. Setelah Farhan menandatangani mereka pergi.
"Wah, motornya baru rek!" ucap Ibu dari dalam rumah.
"Hahaha, iya ini motornya Ibu negara! Hahaha," jawab Farhan dengan nada menggoda.
"Ish, kan ini motor kita mas, kamu nggak mau? Ya udah kamu nggak usah naik motorku!" ucap Zahra kesal.
"Hahahaha, biar aja, aku emang senang kok jalan kaki ke sawah...weekk!"
"Ahhh...Pokoknya Papa harus pake ini ke sawah!" jawab Zahra merengek.
"Masa ke sawah saja pakai motor begini? Malu ah sama kebo! Hahahaha," Farhan tertawa.
"Pa, bagus banget ya motornya. Kenapa kita nggak beli dari dulu..."ucap Zahra.
"Ya kalau dulu kan belum ada duitnya Ma," jawab Farhan.
"Hehehehe, iya ya."
"Zahra, wah nanti Ibu bisa dong ke warungnya Santi naik motor ini?" tanya Ibu.
"Boleh bu, pakai saja," jawab Zahra.
"Mas, pasang plat nomernya, kan pagi ini kita mau ke rumah paklek!" suruh Zahra.
"Siap Ibu negara, hihihi," jawab Farhan sambil masuk ke dalam rumah untuk mengambil peralatan untuk pasang plat nomernya. Setelah terpasang mereka mandi untuk bersiap-siap ke rumah paklek.
Setelah Santi sampai di rumah Zahra, dia langsung melihat ke motor barunya.
"Wahh motor anyar ini. Keren banget Han!" ucapnya sambil terkesan.
"Iya dong. Eh Farell mana?" tanya Farhan.
.......
.......
BERSAMBUNG
__ADS_1