
Bab 50.
POV FARHAN
"Maafkan Ibu, kamu mantu ibu yang hebat. Untung kamu orangnya sabar menghadapi Ibu yang seperti ini." Dia menitikkan air matanya.
"Sudah jangan menangis bu. Ya, namanya juga manusia, tak luput dari dosa."
"Kamu harus menjaga kandngannya dengan baik. Nanti ibu akan bantu kamu kerja di rumah, ya," ucap ibu.
"Sudahlah bu, ya kita saling membantu saja di rumah, aku akan tetap masak untuk keluarga ini. Karena mas Farhan sudah sangat cocok dengan masakanku."
"Iya kamu saja yang masak. Oh iya, kandungan mu sudah masuk berapa minggu?"
"Kayaknya sih masuk ke minggu tigabelas bu."
"Ya bulan depan kita adakan selametan empat bulanan ya," ucap Ibu.
"Iya, bu." Kami masuk ke daam rumah setelah itu. Aku mandi dan setelah itu kami sholat berjamaan di kamar.
Sesudah Sholat Magrib, Zahra mengajakku ke rumah Paklek.
"Mas, Ayo, Ke rumah Paklek," ucapnya.
"Hah ngapain, ini sudah malam sayang, besok aja ya?" ucapku.
"Gak mau, harus sekarang!!"
"Mau apa disana?"
"Aku ingin mengelus jidatnya Paklek!" jawabnya.
"Hah, elus Jidatnya Paklek?"
"Iya."
"Kok Kamu ngidam nya aneh sih?' tanyaku.
"Pokoknya anterin ke rumah paklek sekarang! Kalau gak mau anterin, mas tidur ajah diluar sana!" Ucapnya jutek.
"Hadeeuhh...Ayolah. Kita siap-siap dulu." Setelah mengganti baju dan membawa tas kecilku, kami keluar dari kamar dan mengunci pintu kamar.
Aku ijin mau ke kamar mandi dulu dan Zahra menunggu di teras. Aku buru-buru dan langsung ke teras setelah selesai. Di teras ada Ibu yang sedang menunggu bersama Zahra.
"Loh, Ibu mau ikut juga ke sana?" tanyaku.
"Iya, Ibu mau ikut main ke rumah Paklekmu. Boleh kan, Han?" tanya Ibu balik.
"Ya, Bolehlah bu. Masa saya melarang Ibu ke rumah Paklek. Kan Paklek itu Adik ibu juga!" ucapku.
Kami berangkat dengan menggunakan dua becak ke jalan raya dan naik bus kecil. Kami turun di depan rumah paklek. Setelah membayar ongkos nya kami masuk ke dalam halaman rumahnya.
"Assalamualaikum," Salam kami.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Eh ada Farhan dan Zahra. Ayo masuk.Tumben nih Ibumu ikut juga?" Sahut Bulek.
"Iya abis bosen di rumah terus." Kami bersalaman dan mereka bercipika-cpiki.
"Hm Paklek ada bulek?"
"Paklek kayaknya pulang malem deh. Tadi dijemput sama temannya, nggak tau kemana? Tapi tunggu saja, ngak papa kan?" tanya Bulek.
"Oh tak-apa-apa, kami akan menuggu kok."
"Ini Si Yunis mana?" Tanyaku.
"Ada kok, sebentar ya, bulek masuk dulu panggil Yunis dulu dan buat minuman juga."
"Ah nggak usah repot-repot bulek." Bulek tetap masuk ke dalam rumah dan tak lama Yunis keluar dan menenui kami di teras.
"Eh, ada Mas Farhan, Mbak Zahra, Bude," ucap Yunis. Kami bersalaman dengannya.
"Wah, Yunis sekarang tambah seksi aja," ucap Ibu.
"Ah bisa ajah nih Bude. Bukan seksi dong, tapi ndut...Hahahaha."
"Gak gendut kok, seksi, beneran. Coba deh tanya sama laki-laki, Ya Han?"
"Hm, Seksi apa Bu? Seksi Konsumsi atau Seksi Perlengkapam?" tanyaku pura-pura nggak tau.
"Hahahaha, ish mas Farhan sukanya becanda. Seksi dapur umum aja sekalian!" Yunis mencebikkan bibirnya.
"Hm, ya bagaimana dong, namanya juga aku tuh sering makan sama kawan-kawan kantor. Kalau dari kantor langsung ke mall, terus keliling mall makan. Begitu aja
seringnya. Kadang juga ada yang ulang tahun, ya makan lagi."
"Baguslah kalau banyak makan akan bikin makin gemuk juga kan sehat, Yunis," ucapku.
Kami mengobrol akhirnya bersama-sama karena menunggu paklek datang. Setelah jam sembilan malam lebih barulah paklek datang ke rumah dan duduk bersama kami di teras.
"Paklek abis darimana sih?" tanya bulek.
"Ada urusan sebentar bu. Lah, ini pada kesini malam-malam, ada apa lagi?" Tanya Paklek.
"Gak ada apa-apa kok Palek. Cuma bersilaturahmi saja kok!"
"Oh ya sudah. Gimana Zahra, kamu sehat? Kandunganmu bagaimana?" tanya Paklek.
"Alhamdulillah Paklek sehat semua. Kandungan Zahra juga sehat Paklek."
"Begini paklek, Zahra ada hajat dengan Paklek. Katanya dia mau mengelus dahi dan kepala Paklek kalau boleh dan diijinkan," ucapku.
"Hahahaha, kamu ngidam tho? Sok nih pegang..." Paklek memajukan kepalanya. Zahra melihat kearahku dan kasih kode ke dia dengan anggukan. Kemudian Zahra memegang dan mengelus dahi dan kepala Paklek.
"Sudah paklek," katanya dia malu.
"Hm, sudah ya? Alhamdulillah," ucap Paklek.
__ADS_1
"Alhamdulillah," sahut kami juga.
"Hehehehe, aku baru tau kalau ada ngidam seperti itu paklek."
"Banyak kok yang seperti itu. Kadang mau ngelus kepala botak dan sebagainya, hahahaha."
"Iya sih. Ya sudah, kalau memang sudah. Kita pamit pulang paklek, sudah malam," ucapku.
"Iya silahkanlah, ini sudah malam!"jawab Paklek.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit Paklek." ucapku.
"Iya, terima kasih atas kunjungannya," ucap Paklek dan Bulek.
Kami pulang dan sampai di rumah dengan selamat. Kami sholat Isya berjamaah dulu dan baru beristirahat*
\============
POV ZAHRA
Selametan empat bulanan sudah dilaksanakan dengan baik dan lancar. Allah memberikan kemudahan bagi keluarga kami. Banyak sekali tamu undangan yang datang dalam acara itu, karena memang ibu sangat baik kepada tetangga dan mereka ingin ikut mendoakan agar jabang bayinya sehat pada saat melahirkan nanti.
Sebulan kemudian Panen kembali akan dilakukan. Panen kali ini juga alhamdulillah sepertinya akan berlimpah hasilnya.
"Mas, kayaknya kamu panen dua minggu lagi, ya?" tanyaku.
"Iya sayang, doakan hasil panennya bisa bagus nantinya."
"Iya Mas, aku doakan selalu. Oh iya, bagaimana mas kabarnya Santi, kok nggak pernah datang lagi semenjak itu?"
"Wah nggak tau aku sayang. Baguslah kalau dia akhirnya bisa bekerjasama dengan Dona. Kan mereka sama-sama istrinya mas Basuki,” jawab suamiku.
"Kita main ke sana yuk mas," ucapku.
"Kok tumben kamu ajak kesana?"
"Soalnya aku chat atau aku telpon nomernya Santi nggak pernah aktif semenjak hari itu."
"Oh ya? Wah, kayaknya ada sesuatu di rumah itu!"
"Ya sudah, sore saja kita ke sana mas."
"Boleh sayang, nanti sore ya!"
"Iya."
Kemudian sore itu setelah sholat Ashar berjamaah kami datang ke rumah Santi. Aku dan Suamiku datang ke rumah Santi yang lumayan jauh, tapi kita jalan kaki saja sekalian olahraga.
"Assalamualikum."
"Waalaikumsalam," Jawab dari dalam.
Dona keluar dengan wajah yang seperti orang kaya. Bajunya rapi dan dia kkeluar dengan lagak sombong.
__ADS_1