
Bab 85.
"Kamu ganteng amat sih sayang!" ucap Santi.
"Bu, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan.
"Ayo pesan semua. Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Santi. Rudi membalikkan badannya dan menunjuk ke arah gerobak soto.
"Soto?" tanya Santi. Rudi menganggukan kepalanya.Mereka menulis pesanan dan pelayan itu langsung pergi ke belakang. Santipun duduk sambil menggendong Rudi.
"Eh, kita panggilkan mas Farell, yuk!" ajak Santi dan dia membawa Rudi ke kamar Farell.
"Mas Farell, lagi apa?" Rudi melambai-lambaikan tangannya ke Farell yang sedang mainan di kamar.
"Bu, anak siapa?" tanya Farell yang sudah memegang Rudi yang senang dengan Farell.
"Ini adekmu, anak bapakmu juga!" ucap Santi.
"Namanya siapa, dek?" tanya Farell.
"Namanya Rudi, nak!" jawab Santi.
"Halo Rudi." Farell mencium Rudi dan Rudi ingin digendong sama Farell. Farell menggendongnya.
"Yuk, kita ke depan, bertemu dengan tante Dona!" Ucap Santi.
"Iya bu," jawab Farell sambil menggendong Rudi. Mereka berjalan ke meja Dona. Farell bersalaman dengan semua yang ada.
"Ini Farell?" tanya Dona.
"Iya," jawab Santi.
"Wah, sudah besar loh. Rudi senang sama mas Farell sayang?" tanya Dona.
"Ya..Mas...!" ucap Rudi. Mereka akhirnya berkumpul duduk di sana.
Kemudian Farell mengajak Rudi ke daalam kamar untuk bermain mobil-mobilan. Mereka berdua didampingi oleh baby sitternya.
"San, kamu sukses ya, walaupun aku sudah jahat sama kamu!" ucap Dona dengan sedih.
"Ya, kita kan pastinya hidup selalu ada saja gangguan."
"Eh sayang, disini?" tanya Ramdani.
"Dona sudah kenal, ini suamiku!" Ucap Santi.
"Sudah. Oh, Ramdani ini suami mu?" tanya Dona malu.
"Iya, saya ikut sedih atas kondisi Basuki!" ucap Santi.
"Emang kenapa dengan mas Basuki?" tanya Dona penasaran.Yanti memberi kode kepada Santi. Santi cepat tanggap.
"Oh, nggak papa, mas Basuki tak pernah datang ya ke penjara?" tanya Santi.
"Tidak pernah sama sekali Santi. Saya juga sudah tak meikirkannya lagi, tapi saya hanya ingin dia bertemu dengan anaknya!"
"Hm, ya sabar saja Dona! Mungkin dia ada pekerjaan yang membuat dia tidak datang ke sana," jawab Santi.
__ADS_1
"Ibu ini sotonya sudah jadi." Kemudian semua pesanannya diletakkan di meja dan mereka semua makan bersama.
"Enak nggak kak?" tanya Yanti.
"Iya enak banget. Ini makanan pertama saya setelah keluar dari penjara!" Dona tampak sedih.
"Sudahlah kak, jangan diingat lagi. Sekarang makan saja, kalau mau nambah ya nambah saja kak!" jawab Yanti.
"Iya,yuk ahh...Enak banget San, sotonya!" Mereka pulang setelah makan siangnya selesai.
Dirumah kedua orangtuanya, Yanti mengajak Dona untuk bicara di teras belakang rumahnya.
"Gimana dek? Perusahaan Papah kayaknya sukses ya ditangan kamu."
"Ya itu kan semua berkat usaha dan doa kita semua kak. Oh iya, aku mau menjelaskan mengenai suamimu!"
"Kenapa dengan mas Basuki?" Dona mulai penasaran.
"Begini, Basuki sekarang dipenjara lagi!"
"Hah, dipenjara? Kenapa dek?" tanya Dona tambah serius dan penasaran.
"Dia sudah merampok kantorku!" jawab Yanti.
"Hah! Merampok? Sama siapa?" tanya Dona gemas.
"Iya, dia merampok kantorku bersama dengan dua orang temannya! Mereka menggasak tiga ratus juta dari brankas kantor!" Ucap Yanti menjelaskan. "Hmmmm...Kenapa
jadi begitu ya, dia? Dulu sepertinya mas Basuki sangat sayang dan dia sangat baik! Aku nggak tau kenapa dia bisa sebegitu marah kepada Farhan dan keluarga!" Ucapnya sambil menangis.
"Ya itu slalahku. Aku gak tau lagi dek, aku hanya ingin melanjutkan hidupku sekarang menjadi lebih baik!"
"Rumah mereka juga sudah aku beli mbak. Karena untuk mess karyowan!"
"Jadi kamu sudah beli rumah itu?" tanya Dona.
"Iya, setelah pembasaran itu selang seminggu dia merampok kantorku! Mungkin pergaulannya yang salah! Setelah dia dapat uang rumah dia sering ke karaoke dan main perempuan!"
"Huuuu....Aku merasa berdosa telah membuat semuanya menjadi hancur dan mas Basuki menjadi orang seperti itu!" Dona menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah kak, jangan ditangisi, dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri!"
Dona tampak terpukul, tapi dia segera sadar kalau menangis tidak mengubah apa yang sudah terjadi.
"Ya sudah, saya akan mengurus anakku sendiri dengan baik. Aku tak mau ketemu dengan Basuki lagi. Aku mau Rudi menjadi anak yang tidak kekurangan kasih sayang!" ucap Dona lagi.
"Maksudku juga begitu kak. Jangan pikirkan lagi dia!"
"Iya dek. Oh iya bagaimana kabar Farhan dan Zahra?" tanya Dona.
"Mereka baik-baik saja kak. Zahra baru saja melahirkan anaknya yang kedua. Anaknya pertama perempuan namanya Bulan dan yang kedua laki-laki, namanya Aryo!" Jawab Yanti.
"Wah, mereka sudah punya sepasang, ya?"
"Iya, kamu mau ke rumahnya tidak?"
"Ya boleh, nanti malam saja kita ke sana, aku sekaligus mau minta maaf kepada mereka atas perbuatanku dulu. Walaupun aku sudah menebus di penjara!"
__ADS_1
"Ya, kamu harus mengunjungi mereka. Mereka sudah lumayan kehidupannya. Zahra sekarang menjadi penulis terkenal, dan Farhan masih menjadi petani yang sawahnya sudah semakin luas!"
"Ya memang mereka adalah pasangan yang rajin dan sangat penyayang."
"Jadi kita ke sana malam, ya?" tanya Yanti.
"Iya dek. Aku mau istrahat dulu sama Rudi."
*
Pada malam hari, mereka datang ke rumah Farhan dan Zahra. Mereka pergi hanya berdua saja dengan naik mobil.
Sesampainya di depan rumah Zahra, mereka turun. Di depan pagar Dona sempatt berhenti dan mengingat kejadian waktu dia ditangkap oleh warga.
"Kenapa kak? Ayolah kita masuk, jangan disini. Kakak harus kuat!" Ucap Yanti menyemangati Dona.
"Aku hanya sedih, kenapa dulu aku jahat ya ,dek? Aku ingat dulu waktu aku ditangkap oleh warga disini...!" ucap Dona dengan nada sedih.
"Yuk, kita masuk...!" Ajak Yanti.
"Ya sudah, ayo kita masuk!" Merekapun masuk ke dalam rumah.
"Assaamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka berdiri di depan pintu. Yanti dan Dona membelakangi pintu pada saat pintu dibuka oleh Zahra.
Mereka berdua berbalik badan.
"Dona!" ucap Zahra kaget dan senang melihat orang yang ada di hadapannya adalah Dona. Dona yang sudah berubah penampilan dengan hijab syar'i nya.
"Hai Zahra!" Dona tersenyum dan mereka berdua berpelukan. Lama mereka berpelukan dan sama-sama menitikkan air mata mereka.
"Bagaimana kabarmu, Dona?" tanya Zahra sambil menghapus air matanya.
"Baik Zahra, kamu katanya sudah punya anak dua?" tanya Dona.
"Iya Don, ayo masuk, Yanti, wah kemana saja?" tanya Zahra dan mereka berdua cipika-cipiki.
"Ada, agak sibuk!" jawabnya. Mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa ruang tamu.
Ibu keluar dari kamar karena mendengar suara ribut di teras.
"Ada siapa, Zahra?" tanya Ibu yang kemudian berjalan dan memakai kacamatanya.
"Ibu!" Dona berdiri berjalan menuju Ibu. Dia mencium tangan Ibu.
"Ibu, maafkan aku!" Dona kemudian memeluk Ibu.
"Dona?"
......
.....
BERSAMBUNG
__ADS_1