
BAB 38.
POV FARHAN
"Iya Paklek. Pantes Aku seperti benci sekali dengan istriku sendiri dan sangat cinta kepada Dona." Jelasku.
"Dengerin dulu mas, penjelasan paklek!" sahut Zahra.
"Eh iya sayang." Aku tersenyum melihat ke arahnya yang sudah mau bicara denganku.
"Dek, aku kangen sama kamu!"
"Dengerin dulu pembicaraan paklek! Kangen Kangen. Sana aja kangen sama Si Dona Pelakor!!" ucapnya kasar.
Aku diam dan sedih mendengar kata-kata itu.
"Nah nak Farhan, makanya kamu itu kemarin masih dalam pengaruh Peletnya Dona waktu kamu antar Dona ke hotel. Jadi kamu dijebaknya!"
"Hah, dijebak bagaimana paklek? Mas Farhan ke hotel sama Dona? Tega sekali kamu mas!! Aku tak sudi lagi dekat ataupun disentuh kamu!!" Dia menggeser duduknya ke bulek dan menangis di pelukannya bulek.
"Udah jangan menangis Zahra, biar paklek jelaskan dulu! Kamu jangan bikin suasana jadi runyam, kamu dengarkan dulu ya nduk," jelas Bulek.
"Sudah, sudah. Jadi begini Zahra. tadi waktu paklek siang anter Farhan ke rumahnya, kami ketemu dengan Dona, Santi dan Ratih. Dona menuntut ke Farhan untuk bertanggung-jawab atas kejadian dihotel. Dan dia juga memberikan bukti foto perselingkuhan mereka di hotel. Tapi Farhan ngotot tidak melakukannya karena dia merasa dijebak."
"Farhan akhirnya melarikan HPnya Dona dan mendapatkan bukti kalau Dona telah menjebaknya! Coba kamu kasih lihat semua hasil tangkapan layarnya ke Zahra, Han!"
Aku memberikan HPku kepadanya.
Terlihat raut wajahnya yang berubah-ubah pada saat membaca isi pesan Dona ke Santi.
Dia berhenti membaca dan menatapku dengan tajam.
"Ini HP siapa?"
"HPku."
"Kok kamu beli HP juga?" Tanya Zahra.
"Ya kemarin aku membeli HP karena aku mau telpon kamu."
"Kok mas bisa main HP? Katanya nggak bisa main HP?"
"Hehehehe, aku kan banyak lihat-lihat HPnya teman juga kalau sedang ngumpul di sawah, ya sedikit-sedikit mas juga taulah."
"Harganya pasti lebih mahal dari HPku, ini kan merk bagus!" ucapnya.
"Loh, kok mau malah bahas HP?" Tanya paklek heran.
Zahra meletakkan HPku di meja dan berdiri kemudian memelukku.
"Maafin Zahra mss...Huuuuhuhuhuhuu.." Aku elus rambutnnya. Aku merasa bahagiasekali.
"Iya sayang. Mas juga minta maaf ya sudah melukai hati kamu, dan mas janji nggak akan membuat kamu sakit dan terluka lagi seperti ini," jawabku dengan berlinangan air mata dalam pelukan kami yang sangat erat. Aku mengurai pelukanku dan mencium keningnya.
__ADS_1
"Mas sayang kamu dek dan dedek bayi yang kamu kandung!" kataku. Dia kelihatan kaget.
"Mas sudah tau kalau kamu hamil dek. Makanya mas ke sini, dan sebenernya mas sudah tau kamu ada disini, karena mas pas datang melihat sendalmu, tuh!" kataku menunjuk ke arah sendalnya Zahra.
"Ishhhh...Massss...Huuuhuhuu" Dia tertawa sambil menangis sambil memukul-mukul dadaku.
"HAHAHAHAHA" Paklek dan bulek juga tertawa karena memang sendalnya Zahra pasti dihapalkan oleh Farhan.
Zahra masih merangkul lenganku. Hatiku bahagia sekali dan sesekali memandangnya dengan tersenyum.
"Apa sih mas, Jatuh cinta? Kirim chat kalau cinta sama Zahra!" katanya sambil mencebikkan bibirnya dan ikutan tertawa bersama kami.
"Alhamdulillah, kalian bisa berkumpul lagi. Tapi Paklek itu masih heran apa motif ibumu? Cucu atau Harta?"
Tiba-tiba HPku berbunyi. Dan kulihat di layar ada nama DONA.
"Angkat mas!"
"Ogah, biarin saja."
"Angkat, speakerkan!" perintah Zahra.
Kemudian HP ku pencet gambar telepon warna hijau.
"Halo."
"Halo, Ini Farhan ya?"
"Iya, ini siapa?" aku pura-pura saja.
"Gak aku apa-apain kok. Emang kenapa HPmu?"
"Gak papa sih? Elo nggak kirim chat gue kan?"
"Gak lah, tapi gue sudah baca semua!" Jawabku.
"Baca apa?"
"Ya tau, kalau elo sekongkol dengan Santi dan Ibu!" Jawabku tegas.
"Hmmm...Maaf ya Han, yang elo baca itu bukan untuk elo kok," jawabnya.
"Lah kok bukan untuk gue gimana? Kan udah ada di chatnya elo ke mbak Santi!"
"Elo jahat Han, elo harus tanggung jawab atau yang elo lakuin ke gue!"
"Enak ajah! Elo yang harus gue laporin ke kantor polisi!! Omongan gue nggak main-main loh! Kalau elo masih mau ganggu gue dan Zahra, tau aja ganjaran lo!!"
"Elo kan udah hamilin gue Han!"
"Hamilin gimana? Gue kan elo dah jebak! Enak aja gue tanggung jawab!"
"Pokoknya kalau gue hamil, elo harus tanggung jawab!"
__ADS_1
"Kan elo udah tulis ke chatnya Santi, kalau elo kasih bubuk obat tidur supaya gue bisa tidur dan bisa ambil foto syur dengan mudah! Inget kan?"
"Gak ada kok! Elo salah baca kali!!" Katanya dengan senang.
"Gak salah gue, walaupun gue gak punya bukti nya tapi gue dah baca semuanya!"
"Hm, ya sudah, kita liat saja nanti! Kalau aku gak dapat bulan ini dan ditest ternyata hamil, gue akan tuntut elo nikahin gue!! Dan elo harus ceraikan Zahra!"
"Hahahahahaha, enak aja, terserah elo mau apa, tapi yang jelas, kalao gue balik masih ada lo di rumah, gue akan langsung buat aduan ke kantor polisi atau gue akan datang ke rumah lo untuk mengadukan semuanya ke orangtua lo!"
Dia diam aja.
"Ya
udah, gue nggak akan ganggu elo lagi mulai sekarang, tapi kalau gue nanti gue nggak haid dan ternyata gue hami, gue akan tetep menuntut lo! Enak ajah udah menikmati lubang surga gue lantas mau pergi tak tanggung jawab!!"
"Hahahaha, terserah elo, cuma kalau masih ada elo dirumah, jangan sampe gue hajar lo!!"
Dia mematikan HP nya dengan tiba-tiba.
"Hmmm...Orang kayak gitu pasti menghalalkan segala cara, Han! Makanya mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati. Kalian harus mulai saling menjaga dan mengingatkan!" Kata Paklek.
"Iya Paklek, kami akan saling menjaga dan saling mengingatkan, ya dek," ucapku dan Zahra mengganggukan kepalanya.
"Iya mas, kita harus saling menjaga, supaya Dona, Ibu ataupun Mbak Santi tidak ganggu kita lagi."
"Apa sebaiknya kalian tinggal disini dulu atau pisah untuk sementara dengan Ibumu di rumah kontrakan?" Tanya Bulek.
"Belum perlu Bulek, nanti tetap akan aku jaga istriku yang sedang hamil ini. Aku nggak mau dia terluka atau bahaya." jawabku.
"Hm, ya sudah. Ayo kita makan dulu, nanti abis Magrib kalian bisa pulang supaya tak kemalaman sampai di sana."
"Baik Paklek," Jawab kami.
Kami makan bersama sore sore itu, karena memang kami semua belum makan siang.
Setelah sholat Magrib berjamaah, aku dan Zahra pulang ke rumah dengan menggunakan bus kecil.
Sesampainya di rumah, kami langsung masuk ke dalam kamar. Kami mandi bergantian dan sholat Isya berjamaah. Karena masih agak sore, Aku ajak Zahra makan bakso dan ke pasar malam.
"Sayang, mulai hari ini, aku akan bantu kamu kerja ya di rumah. Kan masih belum musim tandur, jadi aku bisa membantu kamu kerjakan tugas di rumah. Kamu dalam tiga bulan ini nggak usah kerja dulu yang berat."
"Hm, beneran mas? Terima kasih ya sayang. Nanti kalau cuci baju saja mas, agak berat karena kan perlu tenaga. Tapi kalau cucian dikit nggak usah biar aku saja."
"Hm, ya sudah aku saja yang cuci pakaian dan nyapu ngepel. Kamu masak saja ya dek."
"Iya mas, makasih ya mas."
"Iya sayang kan demi kamu dan anak kita. Tapi menurutku, kita nggak usah kasih tau ke Ibu atau mbak Santi dulu mengenai kehamilan kamu. Biar mereka saja yang sadar kalau nanti perutmu membesar mereka akan malu sendiri. Dan aku tadi sudah kirim semua bukti chatnya dona ke HP kamu. Simpan ya, sayang, nanti kalau ada apa-apa kita masih punya bukti kuat!"
.....
.....
__ADS_1
BERSAMBUNG