Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
100. Wanita bercadar.


__ADS_3

"Hamba Chen Dong, menghadap Tuan Qiang!" Seorang pria berpakaian hitam kini tengah berada di ruangannya Qiang Geming.


"Ada kabar apa?" Qiang Geming langsung menanyakan perkembangan berita.


Si pria memberi hormat terlebih dahulu, lalu mulai memberikan laporan yang di bawanya.


"Di kuil Shangdu, besok akan di adakan acara pengobatan massal oleh Tabib ternama di kerajaan dinasti Ying. Dan menurut kabar yang hamba dengar, Tabib Hong juga akan terlibat dalam acara ini." Ucap Chen Dong yang membuat mata Qiang Geming berbinar-binar.


"Apa kau yakin dengan berita ini?" Tanya Qiang Geming penuh semangat.


Sebenarnya, dia bertanya hanya untuk memastikan saja. Dengan adanya pengobatan massal di kuil Shangdu, berarti dia masih mempunyai kesempatan untuk bisa menculik Tabib Hong kembali.


"Hamba yakin, Tuan!" Jawab Chen Dong yakin.


"Bagus, bagus sekali! Dengan begitu, kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk menculik si Tabib tua itu lagi." Qiang Geming sangat puas dengan kabar yang di bawa oleh Chen Dong.


Untuk mencegah rencananya gagal, Qiang Geming memerintahkan Chen Dong untuk melipat gandakan orang yang akan pergi untuk menculik Tabib Hong.


Setelah Chen Dong pergi, Qiang Geming lalu memerintahkan pelayan untuk memanggil Yueqin, dan juga Xiulin.


"Ada apa kau memanggilku, Ayah?'' Xiulin merasa tak sabar ingin mendengar alasan Qiang Geming memanggilnya.


Tapi dari raut wajah sang Ayah, kelihatannya berita yang akan dia dengar adalah berita yang baik.


"Besok di kuil Shangdu, akan di adakan pengobatan massal. Apa kau ingin pergi kesana? Siapa tahu akan ada Tabib hebat, yang akan bisa menyembuhkan penyakit kulitmu itu." Ucap Tuan Qiang yang sontak membuat Xiulin merasa senang.


"Aku mau sekali, Ayah!" Xiulin menjadi bersemangat setelah mendengar ajakan sang Ayah.


"Tuan, apa anda serius mengajak Putri kita pergi kesana?" Tanya Yueqin cemas.


Qiang Geming melirik ke arah Yueqin yang sedang menatapnya penuh kekhawatiran.


"Tenang saja, Istriku! Aku sudah meminta para pengawal untuk mengawasi kita, selama nanti berada di sana." Jawab Quang Geming tenang.


Yueqin menjadi lega setelah Suaminya menjanjikan keselamatan untuk sang Putri.

__ADS_1


Keesokan harinya...


"Mari, mari! Kaisar mengadakan pengobatan gratis kepada kalian yang datang ke kuil Shangdu! Tunggu apalagi! Silahkan mengantri bagi yang membutuhkan pengobatan!" Teriak sang pemandu acara keras.


Semua langsung berkumpul begitu mengetahui ada pengobatan gratis di pelataran kuil. Mereka sangat antusias mengikuti acara pengobatan massal ini. Karena bagi sebagian orang, penghasilan yang tidak mencukupi membuat beberapa orang dari mereka merasa kesulitan untuk melakukan pengobatan karena tersandung biaya yang sangat mahal.


Dengan adanya pengobatan massal yang di adakan Kaisar ini, mereka bisa memeriksakan diri, dan meminta resep obat tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun juga.


"Aku mau!"


"Aku juga mau!"


Semua orang saling berebut agar mereka di obati lebih dulu.


"Sabar Tuan-Tuan, kalian bisa mengambil nomor antrian di tempat yang sudah di sediakan." Teriak si pemandu acara kepada warga yang saling dorong.


Setelah di beritahu, warga langsung mengambil nomor urut masing-masing, dan mengantri dengan tenang.


"Aku akan membayar berapapun biaya yang kau inginkan, jika kau membiarkanku berobat lebih dulu." Teriak salah seorang pria yang baru saja datang.


Memang benar, jika pria itu adalah pria kaya. Terbukti dengan penampilannya yang serba mewah, membuat semua orang bisa langsung menebaknya.


"Diam kau, dasar rendahan!" Seorang wanita bercadar langsung membentak ke arah orang yang menjawab si pria.


"Itu dia!" Ucap Hu Liena yang sedang mengawasi acara pengobatan tersebut di dalam kuil.


"Apa kau yakin, jika dia Xiulin?" Tanya Li Junjie penasaran.


Hu Liena mengangguk dengan pasti. "Tentu saja!"


Pangeran Jun tak lagi banyak bertanya, tapi langsung bertindak memerintahkan para pengawalnya untuk memperketat penjagaan.


"Guotin! Pergilah bersama Bingwen, dan ajak beberapa orang lagi untuk menemani kalian!" Kata Pangeran Jun dengan tegas.


"Baik, Yang Mulia Pangeran!" Jawab Guotin lalu pergi sesuai perintah.

__ADS_1


Setelah Guotin pergi, Hu Liena 'pun mengajak Li Junjie untuk keluar dari kuil dan mendekati kerumunan. Tentu saja setelah merubah penampilan mereka berdua terlebih dahulu di bantu oleh Bao-Yu, dan juga Luqiu yang memang juga berada di sana.


Di tengah kerumunan, kita tengah terjadi keributan yang berasal dari beberapa warga yang ikut-ikutan merasa emosi setelah pengawal si perempuan bercadar memukuli pria yang tadi menjawab ucapan si pria kaya.


"Bubar! Bubar!" Para petugas keamanan langsung datang begitu keributan menjadi meluas.


"Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya! Harap tenang, dan mengantrilah kembali sesuai nomor urut kalian. Jika kalian tidak mengantri, maka kami tidak bisa mengobati kalian." Teriak si pemandu acara setelah keributan mulai mereda.


"Hey, kau! Biarkan Tabib di dalam, memeriksa Nona Besar kami terlebih dahulu. Kami bersedia membayar, berapapun biaya yang kau inginkan." Si orang kaya yang tadi membuat kekacauan untuk pertama kali.


"Tuan, jika kau benar-benar mampu membayar, aku akan mengajakmu menemui Tabib Guru." Seorang pria yang berpenampilan seperti kasim menghampiri pria kaya.


"Siapa itu Tabib Guru? Di mana tempatnya?" Pria kaya yang arogan langsung merespon ucapan si Kasim yang menghampirinya.


"Aku tidak berani mengatakannya di sini, Tuan. Tabib Ho- ..."


"Maksudku, Kakak seperguruan tidak memperbolehkan aku membawa orang lain untuk menemui guru. Tapi karena kau memiliki banyak uang, aku akan membuat pengecualian. Bagaimana? Tuan tertarik, atau tidak?" Kata si Kasim sambil menaik turunkan alisnya ke atas dan ke bawah.


Si pria kaya seperti kebingungan untuk menentukan pilihan. Namun sebelum dia ingin menjawab, wanita bercadar keburu memanggilnya.


"Apa yang dia bicarakan?" Tanya si wanita bercadar kepada si pria.


"Kasim itu menawarkan kita, untuk bertemu dengan Tabib Gurunya." Jawab si pria kaya jujur.


"Tabib Guru?" Di dalam cadarnya, alis wanita itu mengernyit tebal.


"Benar, Nona Besar!" Ucap si pria mengangguk.


"Lalu dia mengatakan apalagi, selain tentang Tabib Gurunya itu?" Tanya si wanita bercadar semakin merasa penasaran.


"Tadi dia seperti ingin menyebutkan, tentang nama Tabib Ho." Kata si pria ragu-ragu.


"Tabib Ho? Apa Tabib Hong?" Tanya pria separuh baya di sebelah si wanita bercadar.


"Aku juga tidak tahu, Tuan! Cuma tadi dia berbicara seperti ini, 'jika kau mau, aku akan mengajakmu menemui Tabib Guru'. Dan ketika aku menanyakan siapa itu Tabib Guru dia menolak untuk mengatakannya, karena merasa takut dengan Kakak seperguruannya yang bernama Tabib Ho." Tutur si pria kaya kepada si Nona bercadar.

__ADS_1


"Mungkin Tabib Ho yang orang itu maksud adalah Tabib Hong, Ayah." Kata si wanita bercadar kepada pria paruh baya di sampingnya.


__ADS_2