
"Tuan Muda Mo! Ini aku, Xiulin." Ucap Xiulin berusaha meyakinkan Mo Yan Zhen.
"Tidak! Nona Xiulin sangat cantik! Bukan monster sepertimu!" Bentak Mo Yan Zhen.
Xiulin menjadi sedih, bahkan Mo Yan Zhen yang sudah dengan jelas menyukainya, kini secara terang-terangan menolak karena masalah ruam di wajahnya saat ini.
"Tuan Muda Mo, percayalah padaku! Aku benar-benar Xiulin, Xiulin yang kau sukai!" Ucap Xiulin memohon.
Mo Yan Zhen tampak seperti ingin muntah begitu Xiulin berusaha mendekat padanya.
"Enyah! Jangan mendekat!" Teriak Mo Yan Zhen.
"Tuan Muda Mo!" Ucap Xiulin yang terus berusaha ingin mendekat.
"Aku bilang, enyah!" Teriak Mo Yan Zhen sembari mendorong tubuh Xiulin dengan kuat.
Brughh...
Xiulin akhirnya jatuh, setelah Mo Yan Zhen berhasil mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Matilah kau, monster!" Rutuk Mo Yan Zhen sembari menatap penuh rasa jijik.
Xiulin seperti terhiris hatinya ketika Mo Yan Zhen menyumpahinya seperti itu. Kekaguman yang sering di perlihatkan Mo Yan Zhen dahulu kepadanya, kini telah sirna di gantikan dengan rasa jijik yang menusuk sampai ke hatinya.
"Penjaga! Tolong pindahkan aku dari sini! Aku tidak mau satu sel dengan monster jelek ini!" Teriak Mo Yan Zhen sembari memukul-mukul jeruji besi.
"Diam! Jangan berisik!" Bentak penjaga penjara.
Di penjara lain...
"Siram dia!" Perintah Li Junjie.
Byuurr...
Penjaga yang mendapatkan perintah, langsung menyiram Bangsawan Mo yang sedang terikat di kursi pesakitan.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya, Tuan Mo?" Tanya Li Junjie sinis.
"Pangeran Jun, tolong bebaskan aku!" Ucap Mo Chong an lemah.
Pangeran Jun terkekeh mendengar permohonan Mo Chong an.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas!" Ucap Li Junjie dengan sombong.
"Dia bilang bebaskan, Pangeran!" Kata Hu Liena yang sedari tadi berada di samping Li Junjie.
"Oh, ternyata minta di bebaskan. Mimpi!" Tegas Li Junjie yang mampu membuat orang keras seperti Mo Chong an langsung bergidik ngeri.
Hu Liena tertawa dengan sikap Li Junjie yang sekarang ini. Orang bilang, Pangeran Jun itu kejam. Tapi bagi Hu Liena, ini sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Jangan begitu, Pangeran! Bagaimana kalau kita bebaskan saja orang tua ini?" Ucap Hu Liena dingin.
"Kau yakin?" Tanya Li Junjie sembari mengerutkan alisnya.
"Tentu! Kita bebaskan jiwanya!" Bisik Hu Liena kepada Li Junjie, tapi masih bisa jelas di dengar oleh orang-orang yang ada di sana.
Jangankan Mo Chong an, penjaga yang sedang berada di sana 'pun, ikut merinding mendengar ucapan Hu Liena.
Satu kata dari mereka yang saat ini mendengar ucapan Hu Liena.
KEJAM!
"Tidak buruk!" Balas Li Junjie seraya menyeringai jahat.
"Kabulkan permohonannya, tapi ingat! Jangan terlalu kasar, pelan-pelan saja!" Perintah Li Junjie kepada algojo yang sedang bersiap.
Setelah mengatakan itu, dia lalu membawa Hu Liena keluar dari penjara.
Algojo yang mendapatkan tugas, langsung mengeksekusi Mo Chong an.
Sesuai permintaan, dia tidak terburu-buru membunuh Mo Chong an. Melainkan menyiksanya terlebih dahulu, hingga ia mati karena kesakitan.
Aagghhhh...
Teriakan panjang bergema di lorong penjara.
Li Junjie dan Hu Liena, bahkan bisa mendengar jelas teriakan Mo Chong an tersebut.
Hu Liena tersenyum, lalu membalas. "Sudah aku siapkan! Mulai besok, aku akan membantumu mengeluarkan racun itu. Kau harus bersiap, karena aku takut, caraku akan sedikit kasar."
"Baiklah, aku akan mempersiapkan diri!" Balas Li Junjie lembut.
Hu Liena mengangguk, lalu berjalan menuju gerbang di mana Luqiu dan Bao-Yu menunggu di dalam kereta kuda.
"Di mana kita akan memulai pengobatan?" Tanya Li Junjie penasaran.
"Di tempatmu! Aku akan datang diam-diam! Ingat, jangan sampai ada orang yang tahu tentang hal itu!" Tegas Hu Liena.
"Apa saja yang kau butuhkan? Aku akan menyiapkan semuanya besok!" Ucap Li Junjie.
Hu Liena berhenti berjalan, lalu menoleh ke arah Li Junjie. "Aku tidak butuh barang apapun, selain kesiapan dirimu, untuk mengahadapi kesakitan."
"Baiklah, aku akan menahan segala kesakitan itu untukmu!" Balas Li Junjie.
"Aku percaya sepenuhnya padamu, Pangeran!" Kata Hu Liena penuh keyakinan.
"Aku juga Putri, aku mempercayakan hidupku ini padamu!" Ucap Li Junjie seraya meraih tangan Hu Liena.
Cup...
__ADS_1
Li Junjie mengecup punggung tangan Hu Liena.
Wusshhh...
Kedua pipi Hu Liena langsung memerah seperti buah tomat.
Buru-buru, Hu Liena menarik paksa tangannya dari genggaman Li Junjie.
"Jangan begini Pangeran, malu!" Ucap Hu Liena seraya memalingkan wajahnya yang makin memerah ke arah lain.
"Aku sangat menyukai anda yang seperti ini, Putri." Terang Li Junjie.
"Aku harus pergi!" Ucap Hu Liena sembari melangkahkan kembali kakinya dengan lebih cepat menuju kereta kuda.
Hu Liena merasa tak sanggup, bila terlalu lama berdekatan dengan Li Junjie. Bisa mati terkena serangan jantung, jika Hu Liena tetap berada di sana.
Ish, jantungku! Mengapa rasanya sakit sekali! batin Hu Liena.
"Ada apa Putri?" Tanya Li Junjie yang heran melihat Hu Liena berjalan sambil mengernyit menahan sakit.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa sesak saja." Balas Hu Liena jujur.
Mendengar Hu Liena mengeluh sesak, Li Junjie secara reflek mendekat ke arah Hu Liena.
"Bagian mana yang sakit? Apa aku perlu memanggil Tabib?" Tanya Li Junjie merasa cemas.
Tak hanya bertanya, Li Junjie bahkan mengulurkan tangannya untuk memapah Hu Liena.
Namun Hu Liena segera menolak, dan menjauh dari Li Junjie.
"Tidak! Jangan! Aku tidak apa-apa! Mungkin aku hanya kurang minum air, kau sebaiknya pergi beristirahat saja." Ucap Hu Liena sembari menjaga jarak.
Li Junjie tercengang, gerakan Hu Liena sangat cepat. Bahkan tangannya dia saja belum sempat terulur sempurna, tapi Hu Liena sudah buru-buru menjauh darinya.
"Benarkah? Bukannya tadi kau bilang sedang sesak? Aku hanya ingin memapahmu sampai kereta, tidak akan berbuat macam-macam." Ucap Li Junjie kebingungan.
"Aku tidak menuduhmu seperti itu, aku hanya tidak ingin merepotkanmu saja, Pangeran! Aku sesak karena kurang minum air, nanti juga akan baik dengan sendirinya." Bantah Hu Liena.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa." Ucap Li Junjie pasrah.
Hu Liena menunduk, lalu berjalan perlahan ke arah kereta yang sudah dekat.
"Aku akan pergi sekarang!" Pamit Hu Liena seraya menaiki kereta kuda.
Li Junjie sebenarnya ingin membantu Hu Liena, namun dia takut di tolak lagi. Jadi dia hanya bisa pasrah, memperhatikannya saja menaiki kereta.
"Hati-hati!" Kata Li Junjie.
Hu Liena mengangguk patuh, lalu berbicara lagi sebelum menutup tirai kereta.
__ADS_1
"Beristirahatlah yang cukup! Aku tidak mau tahu, ketika aku datang besok, anda harus dalam keadaan bugar!" Tegas Hu Liena yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Li Junjie.