Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
91. Kita ini belum menikah!


__ADS_3

Li Junjie mengangguk. "Benar! Di sini!"


"Aku tidak bisa, orang-orang akan bergunjing jika aku tidur di tempatmu!" Tolak Hu Liena.


Li Junjie sebenarnya merasa tidak suka, mendengar penolakan dari Hu Liena. Namun dia berusaha tetap tenang, dan mencoba untuk membujuk Hu Liena.


"Untuk apa kau mendengarkan gunjingan orang lain? Aku saja tidak mempermasalahkannya!"


"Itu 'kan anda, Pangeran. Berbeda dengan orang-orang!" Hu Liena tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Sudah malam, tidurlah!" Kata Li Junjie seraya beranjak keluar dari ruangannya.


Sebelum keluar sepenuhnya dari ruangan itu, Li Junjie berhenti di depan pintu.


"Siapkan beberapa camilan untuk Putri Xia, cepat!" Li Junjie memberi perintah kepada para pelayan yang sedang berjaga di luar.


Hu Liena hanya bisa pasrah, dan menuruti keinginan Li Junjie. Kalau sudah seperti itu, menolak 'pun sepertinya akan sia-sia.


Di lorong kediaman, Li Junjie memberi perintah kepada Guotin, dan Bingwen.


"Jaga ruanganku! Jangan sampai ada orang yang masuk! Putri Xia sedang tidur di sana, jangan sampai ada orang yang mengganggunya!"


"Baik, Pangeran!" Jawab Guotin dan Bingwen bersamaan.


Di atas tempat tidur, Hu Liena membaringkan tubuhnya karena kelelahan.


Pengobatan yang dia lakukan, memang terlihat biasa saja. Namun kenyataannya, pengobatan itu sungguh sangat menguras tenaga.


Jangankan bergerak banyak, menggoyangkan tangannya saja, Hu Liena merasa lemas.


"Ada bagusnya juga, aku tidur di kamar Pangeran! Selain untuk memulihkan tenaga, aku juga bisa menikmati kamar yang serba mewah malam ini." Gumam Hu Liena kepada diri sendiri.


"Interiornya unik sekali! Coba saja kalau di duniaku dulu ada kamar seperti ini, mungkin aku akan betah berada di dalamnya." Gumam Hu Liena lagi.


Hu Liena terus memperhatikan setiap inci kamar Li Junjie. Bukan hanya tempatnya yang luas, perabotan di dalamnya juga sangat indah. Bahkan hampir semua perabotan di sana, terbuat dari campuran emas murni. Benar-benar kaya, calon Suaminya ini.


Saking betahnya berada di sana, Hu Liena sampai tertidur pulas di atas tempat tidurnya sekarang.


Tahu-tahu pas bangun, matahari sudah keluar.


"Silau!" Ucap Hu Liena sembari menutupi kedua matanya menggunakan telapak tangan.

__ADS_1


"Luqiu, tutup jendelanya ...," Teriak Hu Liena yang mengira jika dia berada di gerha bunga.


"Sudah bangun?" Tanya Li Junjie yang tampak tenang dengan cangkir teh di tangannya.


Kenapa Luqiu suaranya berubah? Apa dia sedang sakit tenggorokan? batin Hu Liena.


Dia 'pun lalu membuka kedua matanya lebar-lebar. Dan alangkah terkejutnya Hu Liena, mendapati Li Junjie sedang duduk santai di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Teriak Hu Liena karena terkejut.


"Menunggumu!" Jawab Li Junjie datar.


"Di mana pelayanku?" Tanya Hu Liena heran.


"Tidak ada!" Lagi-lagi, Li Junjie menjawab datar.


Hu Liena semakin panik. "Kau apakan mereka?"


Li Junjie bangkit, dan menjawab sambil berjalan keluar. "Pelayanku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi, Putri. Bergegaslah!"


Hu Liena terkejut begitu mendengar kata 'pelayanku' dari mulut Li Junjie.


Ah, sial! Semalam 'kan aku tidur di tempatnya Pangeran Jun. Bagaimana aku bisa lupa? Dan dia, apa dia memperhatikan aku ketika sedang tidur? Aduh! Bagaimana ini? Apa aku terlihat berantakan? Apa aku berulah ketika tidur tadi malam? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Pangeran Jun merasa jijik padaku? Dewa, kenapa semuanya jadi begini? batin Hu Liena.


"Iya, masuklah!" Balas Hu Liena.


Dia ingin cepat bersih-bersih, dan ingin cepat bertemu dengan Li Junjie untuk meminta maaf atas sikapnya tadi.


Stelah beres mandi, dan setelah para pelayan membantunya berdandan. Hu Liena meminta seorang penjaga untuk memberitahukan kepada Li Junjie, bahwa dia ingin bertemu sekarang.


"Ada apa? Apa para pelayanku melakukan kesalahan? Sebutkan saja, biar aku hukum mereka!" Para pelayan yang mendengar ucapan Li Junjie menjadi menggigil ketakutan.


"Tidak Pangeran, hamba hanya ingin berbicara kepada anda." Hu Liena berbicara dengan sopan.


"Oh, begitukah? Apa yang ingin anda bicarakan, Putri?" Li Junjie mengambil tempat duduk di seberang Hu Liena agar dia bisa mendengar suara Hu Liena dengan jelas.


Hu Liena tertunduk, lalu mulai berbicara. "Ini tentang masalah tadi pagi. Hamba ingin meminta maaf karena telah berbicara kasar kepada anda, Pangeran!"


Melihat sikap Hu Liena yang patuh, Li Junjie merasa jika Hu Liena semakin menggemaskan.


"Tidak apa-apa, Putri. Aku tidak marah sama sekali! Justru aku merasa senang, karena pagi ini bisa melihat wajahmu yang menawan ...," Hu Liena tersipu malu dengan pujian yang di berikan oleh Li junjie.

__ADS_1


Menawan? Apa dia serius dengan perkataannya itu? Dia tidak mempermasalahkan cara tidurku yang urakan? batin Hu Liena.


"Jangan terlalu memandang tinggi diriku, Pangeran." Hu Liena berusaha menekan rasa bahagianya.


"Tidak sama sekali!" Balas Li Junjie tenang.


Tok... tok... tok...


"Pangeran! Hamba membawakan sarapan untuk Tuan Putri!" Beberapa pelayan membawakan berbagai macam hidangan untuk Hu Liena.


Li Junjie memberi isyarat agar para pelayan itu segera menyajikan makanannya.


"Makanlah!" Li Junjie mengambilkan nasi untuk Hu Liena dan menambahkan potongan daging di atasnya.


"Terima kasih!" Hu Liena langsung memakan nasi yang di berikan untuknya.


Setelah Hu Liena merasa kenyang, dan setelah beberapa pelayan merapikan meja, Hu Liena menoleh kembali ke arah Pangeran Jun.


"Saya harus pulang!" Hu Liena berbicara kepada Li Junjie dengan serius.


Li Junjie malah duduk dengan santainya, sambil menuangkan teh ke dalam cangkir.


"Pangeran!" Tegur Hu Liena karena tidak mendapatkan respon.


"Duduklah!" Ucap Li Junjie datar.


Meskipun kesal, tapi Hu Liena tetap menuruti permintaan Li Junjie. Dia duduk kembali di tempatnya semula, dan menatap Li Junjie dengan bermuka masam.


"Aku sudah memberitahu Perdana Menteri, kalau sekarang kamu sedang berada di sini. Jadi jangan terlalu khawatir, santai saja." Li Junjie berbicara seperti tidak ada beban sama sekali di wajahnya. Ini yang membuat ekspresi Hu Liena semakin tidak enak untuk di pandang.


"Pangeran, kita ini belum menikah. Tidak baik jika aku berada di tempatmu terlalu lama." Protes Hu Liena.


Li Junjie menaruh cangkir tehnya di atas meja. "Jika itu masalahmu, aku akan meminta 'dekret' dari Kaisar, agar kita bisa secepatnya bisa menikah."


"Pangeran, bukan itu masalahnya!" Protes Hu Liena lagi.


"Lalu, apa masalahnya? Dan kenapa kau seperti tidak suka menikah denganku, Putri?" Ucap Li Junjie dengan memasang wajah kesal.


"Bu-bukan begitu ...," Hu Liena kehabisan akal jika harus berdebat dengan calon Suaminya ini.


"Berarti, kamu mau menikah denganku?" Ekspresi wajah Li Junjie kini berubah bersemangat kembali.

__ADS_1


Hu Liena mengangguk, karena ia terlalu malas untuk berbicara. Lagipula, tidak ada gunanya untuk Hu Liena membuka mulut sekarang. Di depan Li Junjie, semua perkataannya akan mental entah kemana. Dan akan di gantikan oleh kata-kata Li Junjie, yang tak bisa di bantah oleh dirinya.


__ADS_2