Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
150. Penyambutan Kaisar.


__ADS_3

Rombongan Hu Liena akhirnya telah sampai di pelataran Istana kerajaan dinasti Ying.


Mereka semua di sambut dengan suka cita oleh para pelayan yang di utus oleh Kaisar Li Jinhai.


"Silahkan, Yang Mulia!" sapa Kasim Istana mengarahkan jalan kepada mereka berenam.


"Hormat kami kepada Yang Mulia Kaisar!" ucap mereka berenam serempak saat di hadapan Kaisar.


Kaisar tersenyum senang, melihat Putra dan Putrinya telah kembali dengan selamat ke Istana.


Bukan hanya itu saja, Kaisar juga sangat bersemangat bertemu kembali dengan calon menantunya karena ada hal yang harus dia bicarakan kepadanya saat ini.


"Bangunlah, kalian semua!" ucap Kaisar sambil melambaikan tangan ke arah mereka yang sedang membungkukkan badan.


"Terima kasih, Yang Mulia!"


Kaisar Li Jinhai mengangguk puas, melihat mereka kembali tanpa cacat cela saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi, setelah menyaksikan kekompakan mereka berenam, kebahagiaan Kaisar Li Jinhai bertambah berkali-kali lipat.


"Bagaimana? Apa perjalanan kalian menyenangkan?" tanya Kaisar yang sudah tidak sabar mendengar cerita dari semua orang.


"Hahhh, bisa di bilang kurang, Ayah." ucap Putri Li Jiang sambil menghela nafas panjang.


Kaisar Li Jinhai mengernyitkan dahinya tebal, lalu bertanya kepada sang Putri.


"Apa yang terjadi? Apa kalian semua, tertangkap di sana?" kekhawatiran langsung menyelimuti perasaan Kaisar Li Jinhai.


"Bukan seperti itu, Ayah! Saat penangkapan Ibu Tirinya Kakak Ipar, kamu bertiga malah tertidur satu hari satu malam. Ayah bayangkan saja, kami tertidur selama itu, apa menyenangkan?"


"Ha-ha-ha-ha! Ayah pikir kalian terkena masalah, ternyata hanya tertidur saja. Tidak apa-apa, Nak! Tidur juga adalah sebuah kegiatan yang masih bisa di bilang, menyenangkan." tawa Kaisar Li Jinhai langsung meledak begitu mendengar penuturan dari Putrinya, Li Jiang.


Bukan hanya Kaisar saja, para pengawal dan juga pelayan yang masih berada di sana. Sekuat tenaga menahan keinginan mereka untuk tertawa, karena takut mendapatkan hukuman karena telah dengan berani menertawakan majikan mereka.


"Ayah, jangan menertawakan kami." protes Putri Li Jiang.


Pangeran Qian Yingzhi, yang melihat sikap manja yang di tunjukkan Putri Li Jiang kepada Ayahnya, hanya mengulum senyuman.


Tidak dapat di pungkiri olehnya, jika Putri Li Jiang terlihat imut dan menggemaskan. Namun untuk mengakui hal tersebut, Pangeran Qian Yingzhi tidak bisa mengutarakannya langsung kepada orang yang bersangkutan. Dirinya terlalu, malu!


"Tidak-tidak, Ayah tidak menertawakan kalian, Nak. Ayah hanya tidak bisa membayangkan, dalam situasi yang menegangkan, bagaimana kalian bertiga bisa tidur dengan tenang? Ha-ha!" ucap Kaisar Li Jinhai yang di barengi dengan gelak tawa yang terus membahana memenuhi ruangan.


"Itu ... kami juga bingung, Ayah!" Putri Li Jiang menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


Begitupun dengan Li Jing Sheng dan juga Putri Jia Li, mereka sama bingungnya dengan Putri Jiang.


Kaisar Li Jinhai menghentikan tawanya seketika, lalu melirik ke arah Hu Liena yang berdiri di samping Putra Pertamanya.


"Menantuku, jika kau tidak keberatan, Ayah mertuamu ini ingin berbicara empat mata nanti. Apa kau bersedia?" tanya Kaisar lembut kepada Hu Liena


"Baik, Ayah!" jawab Hu Liena patuh.


Kaisar Li Jinhai mengangguk, lalu berbicara kembali kepada semua orang.


"Kalian boleh beristirahat sekarang, kita akan berkumpul nanti malam saat perjamuan dan kalian boleh menceritakan pengalaman selama berada di sana!" titah Kaisar Li Jinhai yang di balas anggukkan kepala oleh semuanya.


"Baik, Yang Mulia!"


Setelah selesai memberi hormat, ke enam orang Putri dan Pangeran tersebut, langsung membubarkan diri kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Beberapa jam perjalanan pulang dari kerajaan Wuya menuju kerajaan dinasti Ying. Sangat menguras tenaga mereka berenam, apalagi mereka tidak membawa satupun pelayan untuk melayani mereka selama perjalanan.


Terbayang 'kan, bagaimana lelahnya mereka?


Sebelum sampai di kamarnya, Hu Liena mengajak Li Junjie terlebih dahulu untuk menuju ke penjara bawah tanah dan mengeluarkan Yueqin beserta Xiulin dari dalam ruang dimensi rahasia.


"Sudah selesai!" ucap Hu Liena sambil menghela nafas lega.


Li Junjie mengangguk, lalu mengunci pintu penjara dengan rapat.


Keadaan Yueqin dan Putrinya saat ini tampak begitu mengenaskan. Di seluruh permukaan kulitnya mereka, terdapat bintik-bintik merah yang kemungkinan akan terasa sangat gatal jika mereka nanti siuman.


"Putri, sebenarnya, apa yang telah kau lakukan kepada mereka berdua?" tanya Li Junjie yang merasa penasaran dengan kondisi yang menimpa kedua orang, Ibu dan Anak tersebut.


"Aku hanya menambahkan sedikit cairan kimia, ke dalam kolam pemandian mereka."


"----"


Tiba-tiba saja, otak Li Junjie tidak bisa berpikir jernih ketika mendengar penuturan calon Istrinya tersebut.


Apa maksudnya dengan sedikit? Sudah jelas-jelas reaksi obatnya sangat mengerikan. Tapi dengan begitu mudahnya, sang kekasih menjawab hanya memberikan sedikit! Sungguh di luar pemikirannya.


Namun, walaupun begitu, rasa cinta Li Junjie terhadap Hu Liena tidak berkurang sama sekali. Justru sebaliknya, cinta semakin membesar dan tidak mudah tergoyahkan oleh apapun juga.


Setelah hari mulai larut, semua orang tengah bersiap untuk menghadiri jamuan makan malam yang di siapkan oleh Kaisar untuk menyambut kepulangan mereka semua.

__ADS_1


"Kakak Ipar, apa kau sudah siap?" tanya Putri Jiang yang datang ke kamar Hu Liena bersama Jia Li.


"Um!" jawab Hu Liena singkat.


Mereka bertiga lalu berjalan beriringan menuju Aula tempat perjamuan di laksanakan.


Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan rombongan para Pangeran yang berpenampilan sangat menawan.


Bahkan Putri Li Jiang saja, sampai tidak bisa memalingkan tatapannya dari Pangeran Qian Yingzhi saking terpesonanya ia, dengan ketampanan dan kegagahan sang Pangeran.


Begitu 'pun juga Putri Jia Li, ia kini terkesima dengan rupa Pangeran Jing yang telah lama selalu menghiasi mimpi-mimpi indahnya setiap malam.


Benar! Jia Li sudah lama menyimpan perasaan sukanya, terhadap Pangeran Kedua kerajaan Ying.


Bahkan rasa sukanya, kini tidak bisa ia sembunyikan lagi. Di tambah lagi saat ini, Pangeran Jing tampil dengan sangat rupawan. Membuat hati Putri Jia Li, menjadi berdebar tidak karuan.


Hanya Hu Liena yang tampak tenang melihat penampilan Li Junjie, meskipun memang, tidak dapat di pungkiri jika dia juga merasa kagum dengan penampilan sang Pangeran malam ini.


"Anda cantik sekali, Putri!" celetuk Li Junjie hingga membuat Hu Liena tersipu.


"Anda terlalu memuji, Yang Mulia Pangeran!" balas Hu Liena sambil menundukkan kepala.


Kedua Pangeran dan juga Putri, yang sedang berada bersama mereka menjadi merasa iri dengan kemesraan yang mereka tampilkan.


Bukan karena mereka tidak mampu melakukan hal yang sama, namun mereka masih merasa canggung karena belum adanya ikatan di antara mereka semua


"Kakak Ipar, jangan membuat kami merasa cemburu dengan kedekatan kalian." protes Pangeran Jing.


"Memangnya kenapa? Kau tidak berani, mengatakan hal itu kepada Putri Jia Li?" sindir Li Junjie yang membuat Adiknya tersebut menjadi kaku.


"Ka-kak, jangan berbicara seperti itu, Putri Jia Li gadis yang terhormat. Bagaimana bisa aku- ...,"


"Adik Jing, Putri Jia Li takkan keberatan jika kau memujinya. Bukan begitu, Putri?" celetuk Hu Liena yang membuat rona wajah Jia Li bersemu merah.


Hu Liena lalu melirik ke arah Pangeran Qian dan Putri Li Jiang yang sama-sama menundukkan kepalanya mereka.


"Kalian, tidak ada salahnya juga melakukan hal serupa. Jatuh cinta itu biasa, yang tidak biasa hanyalah cara menyampaikannya. Paham!" cetus Hu Liena.


Pangeran Qian Yingzhi mengangkat kepalanya tegak, lalu melirik ke arah Putri Jiang yang masih saja menunduk malu.


Dalam hatinya bertekad, jika ada kesempatan, dia pasti akan melakukan apa yang Putri Xia katakan.

__ADS_1


__ADS_2