Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
108. Aku sudah sembuh total!


__ADS_3

Kaisar sangat penasaran dengan Tabib yang berhasil membuat pil penawar racun yang begitu banyak. Bahkan banyaknya, sampai jutaan pil. Pastilah Tabib itu sangat hebat, dan juga memiliki kebun tanaman obat yang sangat luas.


"Pangeran! Bilang rasa terima kasihku, kepada Tabib yang sudah berkontribusi memberikan pil penawar racun sebanyak itu, kepada kerajaan kita. Dan sebagai imbalannya, aku ingin mengundang beliau untuk datang ke Istana."


"uhuk! uhuk!" Hu Liena langsung tersedak begitu mendengar Kaisar ingin mengundangnya ke Istana.


"Pelan-pelan!" Li Junjie menepuk punggung Hu Liena dengan perlahan.


"Terima kasih, Pangeran!" Ucap Hu Liena lembut.


Kaisar merasa heran dengan sikap Hu Liena.


Kenapa Putri Xia terlihat panik ketika aku ingin mengundang si Tabib hebat? batin Kaisar.


"Bagaimana, Pangeran? Apa bisa, kau menyampaikan permintaanku kepada si Tabib hebat itu?" Ucap Kaisar kepada Li Junjie.


Meskipun ucapan Kaisar di tujukan kepada Putranya, Pangeran Jun. Tapi mata Kaisar tak lepas, dari Hu Liena yang masih tampak panik.


Apa yang sebenarnya kalian berdua sembunyikan dariku? batin Kaisar.


"Aku sudah terlebih dahulu berterima kasih kepada si Tabib mewakili Ayah, dan juga seluruh masyarakat kerajaan Ying. Jika untuk mengundangnya ke Istana kita, aku mohon maaf! aku tidak bisa menyampaikannya."


Kaisar terlihat kecewa dengan ucapan Li Junjie yang tak bisa menyampaikan undangannya kepada si Tabib hebat.


"Kenapa? Apa alasanmu tidak bisa menyampaikan undanganku kepada Tabib hebat itu?" Kaisar merasa penasaran dengan alasan di balik penolakan Putranya.


"Tabib itu sudah pergi berkelana lagi, Ayah. Dia pergi setelah memberikan pil penawar racun, dan juga setelah mengeluarkan sisa racun di dalam tubuhku." Ucap Li Junjie yang membuat Kaisar Li Jinhai merasa terkejut lagi.


Mengeluarkan racun? itu berarti, Putranya akan berhidup panjang sekarang? pikir Kaisar.


Tidak hanya Kaisar, Changpu yang masih berada di sana 'pun juga di buat terkejut dengan pernyataan sang Pangeran.


"Yang Mulia! Anda- ...," Changpu tidak bisa meneruskan kata-katanya karena masih merasa terkejut, dan juga bahagia.

__ADS_1


"Benar! Aku sudah sembuh total!" Ucap Li Junjie penuh keyakinan.


"Ha-ha-ha! Bagus, bagus sekali! Ini adalah berita yang sangat bagus! Tidak apa-apa, aku tidak bisa mengundang si Tabib hebat. Aku akan membalasnya, dengan cara lain suatu hari nanti. Yang lebih penting sekarang adalah mengumumkan kesembuhanmu, dan mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakannya." Kaisar merasa bahagia dengan kesembuhan Putra pertamanya ini.


Selain merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa ketika Putranya di racun, Kaisar juga merasa menjadi seorang Ayah yang tidak berguna karena tak bisa melindungi Anaknya.


Tapi sekarang, perasaan itu di gantikan dengan perasaan bahagia yang teramat sangat. Bukan hanya hidupnya yang akan panjang, tapi juga tahta kerajaannya juga akan terselamatkan karena memiliki calon pemimpin yang kuat dan bijaksana seperti Putranya, Pangeran Jun.


Memang benar, jika Kaisar memiliki Pangeran Li Jing Sheng juga, untuk menggantikan posisinya nanti setelah Li Junjie tiada karena racun.


Tapi di bandingkan dengan Li Junjie, Li Jing Sheng tidak cukup kuat untuk menjadi seorang Kaisar.


"Sebaiknya, Ayah urungkan niat untuk mengadakan pesta." Li Junjie menolak keras usulan Kaisar.


"Ada apalagi? Kenapa kau tidak ingin aku merayakan kesembuhanmu?" Kaisar di buat penasaran berkali-kali oleh Putranya.


"Jika Ayah mengumumkan kesembuhanku sekarang, musuh akan bersikap waspada. Dan tidak menutup kemungkinan juga, mereka menyusupkan mata-mata di antara kerumunan massa." Ucap Li Junjie mengungkapkan kekhawatirannya kepada Kaisar.


Kaisar Li Jinhai sedikit terkejut dengan perkataan Li Junjie. Bagaimana bisa, dia yang seorang Kaisar tidak terpikirkan akan hal ini. Untung saja, sang Putra mengingatkannya. Jika tidak, mungkin musuh akan dengan mudah menjebol pertahanan mereka saat pesta berlangsung.


"Satu hal lagi, yang ingin aku minta dari Ayah." Ucap Li Junjie yang membuat Kaisar mengerutkan dahinya tebal.


"Apa itu?'' tanya Kaisar penasaran.


"Aku minta, kesembuhanku jangan sampai ada orang yang mengetahuinya. Cukup sampai Ayah, dan juga orang-orang yang sedang berada di ruangan ini saja. Jangan sampai orang lain mendengar, ataupun menyebarkan tentang hal ini." Tegas Li Junjie.


"Apa kau yakin, menginginkan hal ini?" Kaisar semakin tidak mengerti dengan pola pikir sang Putra


Li Junjie mengangguk, lalu berbicara menjawab Kaisar Li Jinhai.


"Aku sudah di racuni, saat usiaku baru menginjak beberapa bulan saja. Akan sangat aneh, jika semua orang langsung tahu kalau racun di tubuhku sudah bersih di keluarkan. Apalagi pihak musuh, mereka akan berusaha lebih keras untuk bisa membuatku kembali keracunan. Ayah pasti tidak mau 'kan, hal itu terjadi lagi padaku?"


Li Junjie mengungkapkan beberapa alasan kenapa dia tidak mau kesembuhannya terlalu di ekspos.

__ADS_1


Kaisar akhirnya paham dengan kekhawatiran sang Pangeran. Dia juga langsung menyetujui permintaan Li Junjie, tanpa menanyakan lebih lanjut tentang siapa, dan di mana tempat tinggal si Tabib yang menyembuhkan Putranya.


Yang terpenting sekarang, Putranya sudah sembuh tottal. Dan dia tidak perlu lagi, menyiapkan pemakaman untuk Putra Pertamanya.


Di pinggiran kota...


"Ketua Chang! Kami menemukan seorang pemuda yang sedang terluka parah!" Wang Shu datang melapor bersama Wang Wey ke hadapan Changing.


"Di mana pemuda itu sekarang?" tanya Changing.


"Kami membawanya, ke sebuah pondok di dekat hutan." Jawab Wang Shu cepat.


Changing mengangguk puas, dengan kinerja kedua Wang bersaudara. Jika saja Wang Shu membawa orang asing itu ke dalam tempat penampungan sementara mereka sekarang, itu mungkin akan membahayakan. Apalagi, Pangeran Jun, dan juga Putri Xia sedang tidak berada di tempat.


"Kalian jaga orang asing itu untuk sementara waktu. Jangan sampai kedatangannya ke tempat ini, justru di sengaja untuk memata-matai kita." tegas Changing.


Kedua Wang bersaudara juga setuju dengan ucapan ketua mereka. Akan sangat beresiko, jika mereka langsung membawa orang asing itu kesini.


Selain mereka belum mengetahui asal-usul orang asing tersebut, mereka juga belum tahu pasti, apa yang telah membuat orang itu terluka.


Bisa jadi orang itu di rampok, di serang hewan buas, atau juga terluka karena bertarung dengan para prajurit Istana.


Semakin kedua Wang bersaudara memikirkannya, semakin harus bersikap waspada mereka kepada orang asing tersebut.


"Di mana aku?" Pemuda yang di selamatkan oleh kedua Wang mulai siuman.


"Agghhh!"


Pemuda itu merintih kesakitan, saat memaksakan tubuhnya untuk bangun dari tempat tempat tidur.


"Jangan bergerak dulu!" Wang Wey yang baru masuk ke pondok, langsung menghentikan gerakan di pemuda asing.


"Si-siapa kau?" tanya si pemuda asing bersikap waspada kepada Wang Wey.

__ADS_1


"Adikku yang menyelamatkanmu, dan membawamu ke tempat ini!" Ucap Wang Wey sambil kembali menaikkan sebelah kaki si pemuda yang sudah menjuntai ke tanah.


__ADS_2