Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
61. Kebusukan Yueqin.


__ADS_3

"Adikmu masih hidup, namun sekarang sedang sedang dalam perawatan karena mengalami beberapa luka yang serius." Jawab Hu Liena yang sontak membuat semua orang merasa heran.


"Dari mana kamu tahu, Nak?" Tanya Hu Boqin dengan penasaran.


Bukan hanya Hu Boqin, bahkan Li Junjie 'pun sedang menanti jawaban dari Hu Liena.


"Karena aku yang menyelamatkan Adiknya, Ayah!" Balas Hu Liena santai.


Changyong terkejut!


Dia merasa malu terhadap Putri dari majikannya ini.


"Putri Xia! Benarkah Adikku itu, masih selamat?" Tanya Changyong dengan antusias.


"Apa kau meragukan ucapanku?" Cibir Hu Liena.


Changyong merasa tertampar oleh ucapan Hu Liena.


Masih untung Putri dari majikan yang dia khianati itu menyelamatkan Adiknya yang semata wayang. Kini dia malah meragukan ucapannya.


Bukankah tidak tahu malu, itu namanya?


"Maafkan hamba, Putri. Hamba tidak bermaksud seperti itu ...," Tutur Changsong sembari bersimpuh di hadapan Hu Liena.


"Tidak apa-apa, aku memakluminya." Balas Hu Liena dengan masih angkuh dan dingin.


Walaupun begitu, Hu Liena yang dasar hatinya baik, tidak ingin memperpanjang masalah ini.


Namun bagi Li Junjie, apapun alasan dari pelayan tersebut, tetaplah bersalah karena telah berani menuruti perkataan Yueqin.


"Perdana Menteri! Aku ingin kau menghukum pelayan ini juga!" Tegasnya kepada Hu Boqin.


Changyong yang masih bersimpuh, tidak berusaha membantah. Dia sekarang merasa pasrah, karena memang dirinya bersalah.


"Tentu saja, Pangeran! Aku akan memberikan hukuman yang setimpal karena perbuatannya." Ucap Hu Boqin yang juga merasa geram.


Dia lalu menjatuhkan hukuman cambuk kepada Changyong sebanyak sepuluh kali cambukan, dan mengurungnya selama sebulan di ruangan khusus tempat para pelayan biasa di hukum jika berbuat kesalahan.


Di gudang belakang...


Yueqin yang baru saja di jebloskan masuk ke dalam ruangan gelap. Langsung berteriak-teriak histeris.


"Pengawal brengsek! Cepat keluarkan aku!" Teriak Yueqin kepada Changing yang berjalan perlahan keluar dari ruangan.

__ADS_1


Namun sayang, teriakan Yueqin hanya di anggap angin lalu oleh Changing.


Di sudut ruangan, Bibi Kiew yang baru tersadar dari pingsannya, langsung merasa terkejut mendengar suara sang majikan.


"Nyonya! Apakah itu kau? Kau di kurung juga di sini, Nyonya?" Ucap Bibi Kiew setengah menangis.


Yueqin berhenti berteriak begitu mendengar suara pelayan setianya.


Dia merasa marah, dan juga kecewa, karena Bibi Kiew gagal melakukan tugas yang di berikannya.


"Sialan! Masih berani kau memanggilku seperti itu, hah? Dasar pelayan bodoh!" Maki Yueqin dengan sangat kasar.


Bibi Kiew jadi ketakutan dengan kemarahan sang Majikan yang di hormatinya selama ini.


"Nyonya, maafkan hamba! Hamba memang sudah lalai dalam tugas, sekali lagi, hamba minta maaf!"


"Apa? Maaf kau bilang?" Cibir Yueqin yang membuat Bibi Kiew semakin gemetar.


"Apa kau tahu, sialan? Karena kau, Putriku jadi sakit seperti itu. Dan karena kau juga, rencanaku menjadi gagal, bahkan sampai harus di kurung seperti ini. Sialnya lagi, aku harus di kurung di tempat ini bersama pelayan rendahan sepertimu!" Maki Yueqin kepada Bibi Kiew habis-habisan.


Kemarahan Yueqin semakin meledak-ledak setelah mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya di permalukan di hadapan banyak orang ketika di Istana.


Apalagi sekarang, ketika dia mengingat Anting yang di kenakan Hu Liena hari ini ke pesta perjamuan.


Anting yang dia ambil dari ruangan Lilian beberapa tahun silam, kini berada di tangan Hu Liena, dan bahkan sampai di kenakannya.


Bibi Kiew menjadi kikuk mendapat pertanyaan seperti itu dari sang Majikan.


Dia tidak bisa tidak merasa panik, karena Anting itu sudah Bibi Kiew jual ketika sedang membutuhkan uang untuk Anaknya yang lagi butuh biaya saat itu.


"Jangan diam saja! Cepat katakan! Di mana Anting itu kau simpan?" Bentak Yueqin kasar.


Bibi Kiew langsung berlutut meminta pengampunan.


"Nyonya! Hamba bersalah, hamba patut di hukum!"


"Jadi Anting yang di pakai Hu Liena itu benar, milik Lilian?" Bentak Yueqin memastikan.


Bibi Kiew menggeleng, dia juga merasa tidak yakin, karena Anting itu sudah lama ia jual.


"Lalu di mana kau simpan Anting itu, sialan?" Yueqin sudah tak bisa lagi menahan emosinya dengan sikap Bibi Kiew yang tidak mau berterus terang.


"Ha-hamba menjualnya, Nyonya!" Jawab Bibi Kiew dengan terbata-bata.

__ADS_1


Yueqin semakin murka!


Bisa-bisanya dia percaya dengan pelayan seperti Bibi Kiew ini.


Yueqin sengaja, mengambil seluruh perhiasan yang di miliki oleh Lilian untuk bekal hidupnya di masa mendatang. Dan Anting yang Bibi Kiew jual adalah pasangan tusuk konde giok milik Lilian, yang juga merupakan benda kesayangan Istri Pertama Hu Boqin tersebut, yang sekarang masih dia simpan.


"Bajingan! Berani sekali kau mengambil barang, yang bukan hakmu!" Teriak Yueqin sarkas.


Yueqin secara terus-terusan memaki Bibi Kiew dengan kata-kata kasar. Tanpa dia sadar, bahwa dia juga melakukan hal yang sama beberapa tahun yang telah silam.


Di sebuah halaman...


Li Junjie yang masih merasa tidak senang dengan keputusan Hu Liena yang menyelamatkan Adik pelayan yang berniat jahat padanya, kini sedang cemberut dan di hibur oleh sang terkasih.


"Kenapa muka anda di tekuk seperti itu, Pangeran?"


"Bukan urusanmu!" Jawab Li Junjie ketus.


Hu Liena mencebik, lalu membalas ucapan Li Junjie.


"Kasar sekali! Aku hanya ingin tahu alasan anda murung seperti itu ...."


"Aku juga ingin tahu alasanmu menyelamatkan Adik pelayan jahat itu ...," Ucap Li Junjie dengan keras.


Hu Liena tertegun dengan alasan Li Junjie.


Itu adalah hal yang sepele menurut Hu Liena, tapi Li Junjie malah bereaksi terlalu berlebihan. Bahkan harus cemberut selama beberapa saat yang lalu.


"Hanya karena itu anda murung, Pangeran?"


"Iya!" Balas Li Junjie singkat.


Hu Liena terdiam sejenak, lalu mulai menceritakan alasannya menyelamatkan Adik Changyong.


Alasan utama Hu Liena menyelamatkan Changmey tentu saja karena kemanusiaan.


Sebagai seorang Tabib, Hu Liena tentu tidak bisa tidak peduli jika ada orang yang terluka dan membutuhkan bantuannya.


Oleh karena itu, Hu Liena menyelamatkan Changmey dan merawatnya di bawah pengawasan Luqiu dan Bao-Yu.


Li Junjie menarik nafas berat setelah mendengar penuturan dari pujaan hatinya.


Bagaimana tidak! Li Junjie merasa khawatir dengan sikap Hu Liena yang terlalu baik ini menurutnya.

__ADS_1


Jika ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin jika nyawa Hu Liena akan terancam karena musuh akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginan mereka.


"Kau tidak boleh terlalu baik lagi kepada orang lain. Aku mengerti, dengan gelar Tabib yang kau miliki saat ini. Kau berhak menolong ataupun menyelamatkan siapa saja. Tapi ingat, jangan sampai kau salah dalam menolong orang." Tegas Li Junjie yang membuat Hu Liena tertegun lama.


__ADS_2