Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
142. Mata air murni bukit Wuya.


__ADS_3

Hu Liena dan yang lainnya, mendengarkan obrolan mereka dengan seksama. Sedikit banyaknya mereka bisa menebak, jika Kaisar Wu adalah seorang pria yang tidak setia.


Mengingat akan hal tersebut, kini mata Hu Liena menatap ke arah Li Junjie dengan tatapan tajam.


Hu Liena ingat, di kehidupan pertamanya di dunia modern. Dia di khianati oleh Yu Zhen dengan Qiang Yue, yang di kehidupan sekarang menjelma menjadi Xiulin saudara tirinya.


Sakit hatinya kepada Yu Zhen sudah terbalas, saat orang yang mirip dengannya, Putra bangsawan Mo, yaitu Mo Yan Zhen di hukum gantung.


Kini tinggal jelmaan Qiang Yue, atau yang di jaman sekarang menjadi Yue Xiulin. Hu Liena bersumpah, untuk menuntaskan dendamnya kepada Xiulin.


Orang yang di kehidupan pertamanya, telah dengan sengaja mendorongnya ke jurang hingga menemui kematian. Dan lebih gilanya lagi, wajah yang sama dengan nama yang sedikit berbeda telah dengan sengaja menyiksa pemilik asli tubuhnya sekarang hingga menemui kematian, dan jiwanya di gantikan oleh jiwa Hu Liena saat ini.


"Putri, apa yang kau pikirkan?" tanya Li Junjie dengan heran saat Hu Liena menatapnya dengan lekat.


"Jika anda berniat mengambil Selir, aku akan meracunimu kembali!"


Tanpa sadar, Li Junjie bergidik ketika mendengar ancaman dari Hu Liena.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya!"


Tatapan Hu Liena melembut seiring keluarnya jawaban dari mulut Pangeran Li Junjie.


"Ah, manis sekali kalian berdua. Aku juga sama, jika nanti menikah aku tidak mau Suamiku mengambil Selir satupun." celetuk Putri Jiang yang membuat Qiang Yingzhi menoleh ke arahnya.


Entah setan apa yang merasuki pikiran Pangeran Qiang Yingzhi, tiba-tiba dia meraih tangan Putri Jiang dan menciumnya.


"Aku berjanji, aku tidak akan mengambil Selir dan menduakan cintamu!"


Plakk!


Tangan Qiang Yingzhi di pukul dengan kencang oleh tangan kiri Li Jing Sheng.


"Lepaskan tanganku!"


Qiang Yingzhi terkejut, bukan karena tangannya saja yang terasa sakit karena pukulan keras dari Li Jing Sheng, tapi hatinya juga.


Ternyata, dia sedang mengkhayal menggenggam dan mencium tangan Putri Jiang.


Kenyataannya, dia kini sedang memegangi tangan Pangeran Jing dengan sangat erat.

__ADS_1


Rasa malu, dan juga sakit di bagian pergelangan tangannya terpaksa Pangeran Qiang tahan saat ini.


"Ada apa denganmu, Kak?" bisik Putri Jia Li pelan.


"Ti-tidak, tidak apa-apa!" jawab Pangeran Qiang Yingzhi sambil mencuri lirik ke arah Putri Jiang.


Putri Jia Li mengikuti arah lirikan Kakaknya, dan seketika dia mengerti. Kakaknya pasti sekarang menyukai Putri kerajaan Ying, namun karena dia adalah seorang pendiam jadi dia tidak berani untuk menatapnya secara langsung.


Pantas saja ketika dia kemarin mengajaknya pergi bersama, sang Kakak langsung mengiyakan tanpa mendengar terlebih dahulu penjelasannya.


"Pangeran, kau ini membuatku takut saja. Apa jangan-jangan, kau mempunyai kelainan, ya?" tanya Li Jing Sheng dengan tubuh bergidik.


"Jangan salah sangka, Kakakku hanya ingin membersihkan tanganmu saja." Putri Jia Li angkat bicara membela Pangeran Qiang Yingzhi.


Hu Liena menghela nafas panjang, dia lalu mencolek Pangeran Li Junjie agar menengahi perdebatan mereka bertiga sebelum memancing perhatian dari orang banyak.


"Hongli, Haochun, berhenti berdebat! Dan kau, Adik Niu, sebaiknya mulai sekarang. Kau harus lebih bisa mengendalikan emosi Suamimu." ucap Pangeran Li Junjie dengan nada sedikit keras.


Bukan tanpa alasan dia memanggil semua orang dengan nama samaran, karena di dekat mereka, kini berdiri seorang prajurit kerajaan Wuya yang merasa terganggu dengan pertengkaran ketiganya.


"Kalian para pelancong, bisanya berbuat keributan saja." tegur si prajurit lantang.


"Baiklah! Karena kau sudah mengucapkan janji, aku juga tidak akan mempermasalahkannya!" ucap si prajurit tersebut setelah meraih kantong kain dari atas meja.


"Ayo, kita pergi!" ajak Pangeran Li Junjie.


Semua orang langsung mengikuti langkahnya dari belakang.


Setelah membayar, mereka 'pun lalu pergi ke tempat dimana dagangan mereka di gelar.


"Bersikaplah sewajarnya, jika memungkinkan, cari informasi sebanyak-banyaknya dari para pembeli. Tapi ingat, jangan sampai membuat mereka merasa curiga." titah Pangeran Li Junjie.


Setelah seharian berdagang, dan menggali informasi dari para pembeli, akhirnya mereka pergi berkumpul untuk kembali mencari tempat peristirahatan di malam harinya.


"Bagaimana? Informasi apa yang kalian dapatkan hari ini?" tanya Hu Liena memulai pertemuan.


"Seperti yang kita dengar waktu di restoran, pernikahan Kaisar Wu akan di laksanakan seminggu setelah hari kemarin. Berarti, tersisa enam hari menjelang pernikahan." ucap Pangeran Jing.


"Lalu ...," ucap Hu Liena sambil melirik ke arah yang lainnya.

__ADS_1


Putri Jiang mengangguk, lalu mengutarakan tentang apa yang dia dengar tadi siang.


"Buronan Yueqin dan Putrinya, kini dia berada di sebuah paviliun sebelah selatan Istana kerajaan Wuya. Nama paviliunnya adalah, paviliun bunga peony."


"Aku mengerti! Lalu ...,"


Pangeran Qiang tertegun sebentar, kemudian mulai menceritakan tentang bisikan-bisikan yang dia dengar dari pedagang di sekitarnya.


"Ini mengenai Pangeran Chunian, Kaisar Wu telah membuat sayembara untuk semua orang yang berhasil membawanya kembali ke kerajaan Wuya."


"Begitu ya ...," gumam Hu Liena.


"Benar!" jawab Pangeran Qiang Yingzhi datar.


Hu Liena merenung, dia sedang memikirkan tentang rencana cadangan untuk bisa menyusup ke Istana kerajaan Wuya yang kini sedang di perketat penjagaannya.


"Putri, ada satu hal lagi!"


Kali ini, Putri Jia Li yang membuka suara untuk memberikan informasi yang dia dapat.


"Apa itu, Putri?" tanya Hu Liena penasaran.


"Seingatku, di kerajaan Wuya ada sebuah tradisi untung para pengantin dari keluarga kerajaan. Kedua pengantin akan melaksanakan ritual mandi dengan mata air murni, yang hanya ada di kaki bukit Wuya daerah timur kerajaan."


"Bukit Wuya? Mata air murni?" Hu Liena mengulang kembali kata-kata dari Putri Jia Li.


"Iya, Putri! Bukit Wuya adalah bukit yang di percaya memiliki sejarah yang sangat tinggi di kerajaan ini. Konon katanya, Kaisar pertama kerajaan Wuya, dulunya memiliki penyakit kulit yang sangat susah untuk di sembuhkan. Namun suatu hari, secara tidak sengaja Kaisar yang sedang pergi berburu terjatuh ke dalam mata air tersebut. Dan secara ajaib, kulitnya yabg semula sering merasa gatal akhirnya sembuh total." tutur Putri Jia Li menambahkan.


"Ah, apa itu juga menjadi alasan Bibi Yueqin ingin menikahi Kaisar Wuya? Demi untuk Putrinya bisa pergi ke mata air murni di bukit timur kerajaan ini?"


"Bisa jadi seperti itu, Putri! Bibi dan saudara tirimu sangat licik, bisa saja mereka sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Lalu mereka menjebak Kaisar Wu, untuk melancarkan usaha mereka." ucap Pangeran Li Junjie menimpali kata-kata Hu Liena sebelumnya.


Hu Liena tertegun, dia kini memikirkan segala kemungkinan yang ada. Bisa jadi Yueqin dan Putrinya mengetahui hal ini dari Pangeran Chunian.


Seperti yang semua orang tahu, Yueqin telah di bebaskan dari penjara juga oleh si Pangeran Chunian tersebut. tidak menutup kemungkinan juga, jika mereka sudah memiliki kesepakatan sebelumnya.


Hingga akhirnya Yueqin dan Xiulin berada di kerajaan Wuya ini.


"Kapan, tradisi mandi di mata air bukit Wuya di lakukan?" tanya Hu Liena sambil melirik ke arah Putri Jia Li.

__ADS_1


"Lima hari sebelum di adakannya perayaan pernikahan!" jawab Putri Jia Li.


__ADS_2