Kehidupan Kedua Hu Liena

Kehidupan Kedua Hu Liena
149. Lancarnya perjalanan.


__ADS_3

"Kakak Ipar, jika kita pulang sekarang, sia-sia saja kita semua datang ke kerajaan Wuya." celetuk Putri Jiang yang juga merasa bingung.


"Masalah Bibi Yueqin, sudah selesai di tangani. Saat ini, kita semua harus bergegas pulang agar tak mendapatkan masalah baru lagi." tutur Hu Liena yang membuat kedua Kakak Beradik tersebut menjadi terkejut.


"Apa?! Selesai di tangani?! Bagaimana bisa?! Kami bahkan hanya tertidur beberapa menit saja, tapi masalah sudah terselesaikan. Bagaimana ini?" ungkap Putri Jiang.


Li Jing Sheng juga merasa tidak percaya, mereka hanya tertidur sebentar tapi sudah ketinggalan berita


"Apanya yang beberapa menit, kalian tertidur satu hari satu malam." cetus Li Junjie.


Belum juga rasa terkejut mereka hilang, kini sudah bertambah kembali setelah mendengar kata-kata dari Pangeran Jun. Pangeran yang tidak pernah bermain-main dengan kata-katanya.


"Satu hari satu malam?! Mana mungkin!" bantah Putri Jia Li sambil memijat pelipisnya sendiri.


"Sudahlah, sebaiknya kita cepat bersiap. Jangan lupa riasan kalian, harus segera di benahi agar orang-orang tidak mencurigai kita semua." ucap Hu Liena memberi peringatan kepada semuanya.


Setelah selesai melakukan persiapan untuk pulang, Li Junjie lalu keluar dari kamar untuk membayar biaya sewa penginapan selama beberapa hari belakangan.


Ketika mereka melewati kerumunan, terdengar obrolan orang-orang tentang kejadian yang menimpa Kaisar mereka.


"Apa kau yakin, jika calon Selir Kaisar melarikan diri?" tanya seorang pelanggan.


"Ish, kau ini! Tentu saja aku yakin!" balas orang yang menyebarkan berita.


"Dia benar, aku juga mendapatkan kabar jika Selir Kaisar melarikan diri ketika melakukan ritual pemandian di mata air murni!"


"Wah, sungguh perempuan tak tahu di untung! Mau di nikahi Kaisar, malah kabur!"


Desas-desus hilangnya Selir Kaisar dan Putrinya, sudah menyebar ke seluruh kerajaan Wuya. Dan Kaisar sendiri telah mengumumkan sayembara, bagi orang-orang yang berhasil menemukan keberadaan mereka, akan di berikan hadiah yang sangat besar oleh pihak Istana.


Kedua orang tersebut di cari bukan untuk di nikahi kembali, melainkan untuk di hukum oleh sang Kaisar, karena telah berani memperdaya dirinya.


Dan ketika Hu Liena mendengar hal tersebut, dia merasa senang bukan kepalang.


Setidaknya, Kaisar tidak akan mencurigai mereka yang telah menculik calon Selirnya tersebut.


Sehingga mereka bisa dengan aman, kembali pulang ke kerajaan dinasti Ying.


Bukan hanya rombongan Hu Liena yang sedang merasa berbahagia, dengan kemenangan mereka.


Di Istana kerajaan Wuya 'pun, ada seseorang yang sedang merayakan hilangnya calon Selir Kaisar beserta Putrinya. Yaitu, Permaisuri!


Dia sangat senang, ketika mendapatkan kabar jika Kaisar sedang murka karena sang calon Selirnya telah melarikan diri ketika sedang berada di pemandian mata air murni.

__ADS_1


"Ha-ha-ha! Aku berbahagia sekarang, wanita ular itu akhirnya menghilang dari hidupku! Semoga selamanya, dia tidak akan kembali lagi ke kerajaan Wuya." ucap Permaisuri kepada pelayan pribadinya.


"Tapi Yang Mulia! Kabarnya lagi, calon Selir Kaisar melarikan diri membawa satu set perhiasan yang terbuat dari giok es." tutur pelayannya tersebut.


"Cih, menjijikan! Dasar wanita ular!" umpat Permaisuri sambil berdecih sebal.


Saat di kerajaan Wuya tengah terjadi kekacauan atas hilangnya Yueqin beserta Putrinya. Rombongan kereta kuda yang di pimpin oleh Pangeran Jun, justru nampak tenang setelah berhasil melewati wilayah perbatasan dua kerajaan.


"Huh, lolos juga akhirnya." Hu Liena membuang nafas dengan kasar setelah dirinya bersama rombongan telah berada jauh dari perbatasan.


"Kakak Ipar! Aku masih penasaran, dengan keadaan Yueqin dan Putrinya. Sebenarnya, mereka berdua itu pergi kemana? Di tangkap, atau melarikan diri seperti apa yang di katakan orang-orang?" tanya Li Jing Sheng penasaran.


Bukan hanya dia, Putri Jia Li dan juga Putri Jiang juga memiliki pertanyaan yang sama di dalam benak mereka masing-masing. Namun selama dalam perjalanan, mereka berusaha menahan keinginan untuk bertanya lebih jauh perihal masalah tersebut.


"Nanti saja, setelah kita sampai di Istana. Baru aku akan menjelaskannya!" tolak Hu Liena.


Li Jing Sheng melirik ke arah Li Junjie, yang saat ini seperti berpura-pura tidak mendengarnya.


Lalu yang terakhir, pandangannya Pangeran Jing, terjatuh kepada Pangeran Qian Yingzhi yang tampak acuh dan hanya fokus memperhatikan jalan.


Karena Hu Liena menolak memberitahunya, Li Jing Sheng tak lagi membuka suara selama perjalanan.


Hingga akhirnya rombongan mereka sampai, dan di berhentikan oleh pengawal yang sedang bertugas.


"Dari kerajaan mana, kalian?" tanya pengawal tegas.


Li Junjie tidak marah, dia memaklumi sikap kasar pengawal yang sedang berjaga. Karena memang penampilan mereka berenam masih dalam mode penyamaran, dan belum sempat untuk merubah gaya berpakaian mereka seperti semula.


Si pengawal juga melakukan tindakan tersebut bukan tanpa alasan, tapi untuk kepentingan kerajaan dinasti Ying sendiri. Memang, kondisi di sana sudah aman sekarang setelah para pemberontak di jatuhi hukuman mati oleh Kaisar.


Namun tetap saja, para pengawal harus memiliki jiwa yang tegas agar tidak terjadi lagi sebuah penyusupan ke dalam kerajaan mereka.


"Kami dari kerajaan dinasti Ying." jawab Li Jing Sheng acuh.


"Jangan membual! Aku tahu, kalian pasti dari kerajaan lain yang ingin menyusup!" dalih si pengawal.


Li Jing Sheng yang masih merasa kesal di sepanjang perjalanan, berniat ingin menghardik pengawal tersebut, namun di berhentikan oleh Putri Li jiang.


"Paman pengawal, kami memang dari kerajaan dinasti Ying. Itu Kakakku, Pangeran Jun. Dan dia adalah Pangeran Jing, dan aku sendiri, aku adalah Putri Jiang."


"Dan yang berada di sebelahku, dia adalah calon Kakak Iparku, Putri Xia yang Agung. Oh iya, aku sampai lupa! Mereka berdua juga, dia adalah Pangeran Qian dan juga Putri Jia Li yang ikut bersama kami." tutur Putri Li Jiang.


Setelah mengatakan hal tersebut, Li Jiang lalu mengeluarkan plakat yang hanya di miliki oleh para Putra-Putri dari kerajaan dinasti Ying.

__ADS_1


Pengawal yang melihat plakat milik Li Jiang 'pun, langsung bersujud memohon pengampunan karena telah bersikap lancang menghentikan perjalanan rombongan mereka.


Alih-alih mendapat hukuman, si pengawal justru mendapat bingkisan berupa barang-barang yang sengaja mereka bawa di dalam kereta untuk di jual di kerajaan Wuya ketika sedang melakukan penyamaran di sana.


"Ambillah, bagikan semua ini kepada para pengawal yang lain." ucap Putri Li Jiang dengan senyuman yang mengembang.


"Terima kasih, Putri!" ucap si pengawal terharu.


Selama bertugas menjadi pengawal, baru kali ini ada seorang Putri yang memberikan pegawai rendahan seperti dirinya hadiah yang sangat banyak.


Meskipun nanti akan di bagi-bagikan, pengawal tersebut tetap merasa senang mendapatkan bingkisan hadiah dari Putri Li Jiang.


Setelah semua hadiah untuknya di turunkan, pengawal tersebut memberi perintah kepada orang yang berjaga di pintu untuk membuka pintu gerbang.


"Kakak Ipar, apa tidak sebaiknya kita merubah penampilan terlebih dahulu? Akan sangat aneh, jika kita pergi ke Istana dengan penampilan seperti sekarang!" usul Li Jiang yang mendapat sambutan baik dari semua orang.


Setelah berunding, Hu Liena meminta Pangeran Li Junjie untuk berhenti di salah satu kedai yang sekaligus menyediakan tempat beristirahat untuk tamu-tamu yang datang.


Dengan menggunakan ruangan yang sederhana, satu per satu dari mereka mengganti cara berpakaian.


Yang sebelumnya memakai pakaian dari kerajaan lain, kini telah memakai pakaian dari kerajaan mereka sendiri.


Saat semuanya telah selesai berganti penampilan, pemilik kedai sangat terkejut dengan munculnya sosok-sosok penting dari kerajaan dinasti Ying.


Si pemilik kedai pernah melihat Pangeran Li Junjie, juga Hu Liena ketika dirinya menghadiri pengadilan Istana Putri Song Qian. Maka dari itulah, dia mengenali sosok tampan Li Junjie, dan paras cantik Putri Xia, atau Hu Liena.


" Yang Mulia Pangeran! Putri Xia Yang Agung!" pekik si pemilik kedai dengan gugup.


Setelah semua orang berkumpul, si pemilik kedai justru semakin merasa panik. Mimpi apa dia semalam, sehingga kedainya di datangi oleh para Putra-Putri kerajaan yang terkenal.


"Bibi, terima kasih karena telah bersedia menjamu kami dengan baik." ucap Hu Liena sambil menepuk pelan bahu si pemilik kedai.


"Putri ...," hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.


Niat hati ingin berbicara banyak, si pemilik malah gugup dan tak tahu harus berbicara seperti apa ketika dirinya di rangkul oleh Putri Xia yang terkenal baik dan juga cantik tentunya.


"Ini, terimalah Bibi!" ucap Hu Liena sambil menyodorkan sekantong uang perak.


"Putri, ini terlalu banyak." tolak si pemilik kedai.


Namun Hu Liena tetap bersikeras memberikan kantong uang tersebut, hingga pemilik kedai 'pun akhirnya mengulurkan tangan untuk menerimanya.


"Terima kasih banyak, Putri!" tangis haru pemilik kedai beserta keluarganya pecah seketika.

__ADS_1


__ADS_2