
Setelah mengamati isinya, Pangeran Jing lalu menyimpan toples obat tersebut ke balik jubahnya.
"Terima kasih, Kakak Ipar. Kami berdua sangat beruntung, memiliki sosok Kakak Ipar yang baik sepertimu." ucap Pangeran Jing yang di benarkan oleh Putri Li Jiang.
"Tidak perlu sungkan!" jawab Hu Liena datar.
Hu Liena lalu mengeluarkan tiga buah kotak dengan masing-masing isi dua toples di dalamnya.
"Aku ingin menitipkan ini kepada kalian." ucap Hu Liena sambil menyodorkan kotak-kotak tersebut.
"Apa ini, Kakak Ipar?" tanya Putri Li Jiang penasaran.
"Kotak yang pertama, ini untuk Yang Mulia Kaisar. Isinya hampir sama dengan punyamu Adik Jing, hanya aku tambahkan vitamin saja untuk kebugaran tubuh beliau." tutur Hu Liena.
"Lalu yang kedua kotak ini, isinya apa?" tanya Pangeran Jing.
Hu Liena lalu mengambil salah satu toples di dalam kotak dan membukanya.
"Ini vitamin untuk Ibu Suri! di usianya yang sekarang, vitamin akan jauh lebih baik dia konsumsi agar tubuhnya selalu bugar meskipun tanpa memakan banyak sayuran dan juga buah-buahan. Dan toples yang satunya, itu krim perawatan wajah agar beliau tampak lebih awet muda." jelas Hu Liena.
"Jadi begitu ...," ujar Pangeran Jing.
Hu Liena mengangguk, lalu kembali menerangkan tentang isi toples untuk Permaisuri.
"Ini juga sama, isinya hanya vitamin dan juga krim perawatan wajah. Tapi aku jamin, semua barang-barang yang aku berikan, akan memberikan efek yang bagus dan tidak akan di temukan di manapun juga. Barang-barang ini, khusus aku siapkan untuk kalian semuanya. Dan juga untuk Ayah dan Calon Suamiku tercinta tentunya." tutur Hu Liena yang membuat semua yang ada di sana tergelak.
"Sedang apa kalian?" tanya Li Junjie yang baru masuk dengan raut wajah rumit.
"Eh, Kakak Pertama! Kau di sini?!" ucap Pangeran Jing gugup.
Li Junjie mendengus, dia merasa kesal karena kedatangannya untuk melihat kondisi Hu Liena justru kalah cepat oleh kedua Adiknya.
"Memangnya kenapa?! tidak senang, karena aku telah mengganggu waktu kebersamaan kalian?!" ketus Li Junjie.
__ADS_1
"Bu-bukan seperti itu, Kakak Pertama." dalih Pangeran Jing yang mendadak gugup.
"Lalu?!" tanya Li Junjie masih dengan mimik muka yang masih kentara tidak senang.
Hu Liena menepuk keningnya sendiri ketika melihat kejadian tersebut. Bisa-bisanya, Pangeran calon Suaminya itu tampak garang di hadapan kedua Adik sendiri karena berdekatan dengan dirinya.
"Kalian berdua, cepat pergi sana! Antarkan semua barang-barang ini kepada pemilik barunya." ujar Hu Liena yang membuat kedua Kakak beradik dari keluarga Istana tersebut merasa lega.
"Baik Kakak Ipar, kami akan segera melakukan perintahmu." balas Pangeran Jing sambil menyambar tiga kotak pemberian Hu Liena untuk di berikan kepada keluarganya.
"Kami pergi dulu, Kakak Pertama dan juga Kakak Ipar!" pamit Pangeran Jing lalu beranjak pergi dengan cepat bersama Putri Li Jiang yang sudah tak sabar ingin segera pergi dari sana.
Selepas kepergian kedua calon Adik Iparnya, Hu Liena lalu menoleh ke arah Li Junjie sambil memicingkan kedua matanya.
"Pangeran, apa maksud anda bersikap kasar seperti itu kepada kedua Adik Iparku?" tanya Hu Liena ketus.
Li Junjie berjalan dengan tenang menghampiri Hu Liena. Sebelum berbicara, dia lalu melirik ke arah Luqiu yang masih berdiri canggung di sana seakan menyuruhnya untuk pergi juga.
"Putri, hamba permisi dulu." pamit Luqiu yang merasakan tatapan dingin sedang terarah kepadanya
Luqiu mengangguk, lalu berjalan ke arah pintu dan menutupnya meninggalkan Hu Liena hanya berdua saja bersama Li Junjie di dalam ruangan.
"Jangan salah paham, aku tidak berbuat kasar. Justru aku sedang mengajari mereka, untuk bersikap sopan kepada calon Kakak Iparnya." dali Li Junjie.
"Mengajari mereka?! Aku tidak melihatnya seperti itu!" ujar Hu Liena sambil mengerutkan keningnya.
"Ah, sudahlah! Jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kau minum saja teh ini biar tenang." tukas Li Junjie sambil menyodorkan secangkir teh yang dia tuang.
Karena tak bisa menolak, Hu Liena langsung meraih cangkir tersebut dan menyesap isinya.
"Bagaimana, sudah lebih tenang?" tanya Li Junjie dengan penuh kelembutan.
"Um!" jawab Hu Liena sambil mengangguk patuh.
__ADS_1
"Bagus!" timpal Li Junjie sambil mengelus pipi mulusnya Hu Liena.
Li Junjie tersenyum lembut sambil menatap wajah cantik Hu Liena, yang kini tampak kembali segar setelah beberapa hari dalam masa pemulihan.
"Pangeran, aku dengar dari Adik Jing jika kau meminta kepada Yang Mulia Kaisar untuk memajukan hari pernikahan kita." celetuk Hu Liena.
Li Junjie mengangguk, lalu meraih tangan Hu Liena dan mengecupnya lembut. "Benar!" jawabnya.
Hu Liena merasa tersentuh dengan perlakuan manisnya Li Junjie, niat hati ingin merajuk dia malah langsung terbuai dengan kelembutan yang di terima.
Melihat Hu Liena yang tersipu, Li Junjie menjadi semakin gemas dan mencubit pelan hidung calon Istrinya tersebut.
"Aku tidak ingin berlama-lama lagi berada jauh darimu, Putri. Dengan menikah, kita berdua bisa terus bersama. Dan aku juga bisa sepenuhnya menjagamu di sisiku." tutur Li Junjie yang membuat Hu Liena kembali terenyuh setelah mendengar kata-kata darinya.
Setelah selesai berbicara, Li Junjie tiba-tiba mendekat dan mengecup sekilas bibir manisnya Hu Liena hingga dia terperanjat.
"Pangeran!" pekik Hu Liena yang merasa kesal sekaligus malu bukan kepalang.
"Maafkan aku, aku secara tidak sadar ingin melakukannya." tutur Li Junjie sambil menarik tubuhnya ke belakang.
"Eh ...," Hu Liena tak tahu harus berkata apa untuk menjawab perkataan Li Junjie.
Seandainya itu adalah orang lain, mungkin Hu Liena akan memukul dan menamparnya habis-habisan karena telah menciumnya tanpa permisi terlebih dahulu. Namun yang sekarang berada di hadapannya adalah Li Junjie, pria yang sebentar lagi akan menjadi Suaminya. Oleh karena itulah, yang bisa di lakukan Hu Liena hanya bisa tertunduk dan tersipu karena merasa malu di serang secara tiba-tiba seperti itu oleh calon pendamping hidupnya.
"Putri, aku lihat kau memberikan banyak barang kepada kedua Adikku. Apa itu?" tanya Li Junjie yang penasaran dengan kotak yang di berikan Hu Liena.
Hu Liena menarik nafas untuk mengatur suasana hatinya yang masih gugup setelah Li Junjie mencuri ciuman di bibirnya yang tipis.
"Aku memberikan vitamin, dan juga krim perawatan wajah untuk keluargamu." ungkap Hu Liena.
Mendengar akan hal itu, Li Junjie merasa senang karena Hu Liena sangat peduli dengan semua anggota keluarganya. "Terima kasih!" bisik Li Junjie.
Hu Liena mengangguk, sambil tersenyum manis ke arah Li Junjie yang kini menatapnya dengan lekat.
__ADS_1
"Putri, besok pagi, kau harus ikut denganku." ucap Li Junjie yang membuat Hu Liena penasaran.
"Pergi?! Kemana?!" tanya Hu Liena.