
Rombongan Kaisar Qian akhirnya sampai di kerajaan dinasti Ying. Meskipun ada sedikit perdebatan dengan prajurit yang menjaga area perbatasan, namun masalah tersebut bisa langsung di selesaikan dengan damai.
Karena untungnya, ada seorang Panglima yang mengetahui perihal Putri Xia yang mengundang Kaisar Qian untuk datang ke kerajaan mereka.
Setelah kesalahpahaman di luruskan, akhirnya rombongan kerajaan Qian kembali melanjutkan perjalanan. Dan si Panglima tadi, yang secara khusus mengawal rombongan mereka hingga sampai di kediaman Pangeran Jun dengan aman.
"Tunggu sebentar, Yang Mulia Kaisar Qian! Hamba akan melapor terlebih dahulu kedatangan anda kepada para penjaga!" ucap si Panglima yang langsung turun dari kudanya.
Setelah di beri ijin masuk, kereta kuda yang membawa Kaisar Qian langsung di bawa melewati gerbang kediaman Pangeran Jun yang sudah terbuka dengan lebar.
"Selamat datang di kerajaan kami, Long Qian!" ucap Kaisar Li Jinhai yang rupanya datang juga ke kediaman Pangeran Jun.
"Terima kasih atas sambutan baiknya, Li Jinhai!" balas Kaisar Qian sambil menangkupkan kedua tangan.
"Tidak perlu sungkan, bukankah sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu seperti ini? Dengan adanya kesempatan ini, mari kita menjalin kembali hubungan yang telah lama renggang." ucap Li Jinhai sambil memegangi kedua bahu Kaisar Qian.
"Dengan senang hati!"
Kaisar Qian merasa, jika ide yang di sarankan oleh Kaisar Li Jinhai ada baiknya juga demi kesejahteraan rakyat di kedua kerajaan.
Mereka sudah terlalu lama bermusuhan, dan rakyat sudah banyak yang menderita akibat keegoisan mereka.
Permusuhan yang mereka sendiri tidak mengetahui sebabnya apa.
Yang mereka tahu, sedang ada pergerakan dari salah satu di antara mereka untuk menyerang.
Masing-masing dari kedua kerajaan, memiliki pemikiran yang sama. Hingga terjadilah perang sengit, yang membuat kedua kerajaan tidak akur selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
Saat ini, kedua Kaisar tersebut bercengkrama dengan baik di ruang Aula utama di kediaman Pangeran Jun.
Hubungan mereka memang sudah akrab dari dulu, karena mereka pernah mengenyam pendidikan di tempat yang sama.
__ADS_1
Tempat para Putra-Putri dari kerajaan-kerajaan besar, di titipkan untuk mempelajari dasar-dasar tentang kepemimpinan.
Mereka semua di tempa dengan pendidikan moral, attitude, dan juga cara bertarung untuk pertahanan diri mereka dari serangan musuh.
"Li Jinhai, aku ingin meminta maaf atas pemberontakan yang di lakukan oleh Adik perempuanku! Aku menyesal baru mengetahuinya sekarang! Seandainya aku tahu, jika dia adalah seorang pemimpin pemberontakan, mungkin aku, orang pertama yang akan memberinya hukuman." ucap Kaisar Qian menyesali perbuatan Putri Song.
Panggilan Li Jinhai dia sematkan, karena panggilan itulah yang sering dia gunakan ketika sewaktu masih muda dulu.
"Adikmu, hanyalah seorang korban dari sebuah keserakahan. Hatinya terlalu di penuhi rasa dendam, hingga menghalalkan berbagai macam cara untuk menggapai apa yang dia inginkan." ucap Kaisar Li Jinhai penuh dengan ketegasan.
Long Qian, atau yang biasa di panggil dengan sebutan Kaisar Qian. Merasa kagum, dengan kewibawaan Kaisar Li Jinhai. Sewaktu remaja, Kaisar Li Jinhai memang memiliki kepintaran, dan juga ketampanan yang luar biasa. Selain itu, dia juga di kenal sebagai sosok yang dermawan, dan juga sopan. Kewibawaan, keagungan, semua komplit di miliki Li Jinhai.
Bahkan, Adik perempuannya saja, Song Qian, sempat merasa jatuh cinta padanya.
Namun sayang, rasa cinta Adik perempuannya bertepuk sebelah tangan.
Dan sialnya, sang Adik malah di perkosa oleh pengawal pribadinya, Qiang Duming. Dan setelah itu, Kaisar tidak pernah menanyakan lagi tentang perasaan sang Adik kepada Li Jinhai, apa masih suka? atau tidak? Kaisar tidak pernah menanyakannya.
"Kau benar, Adikku terlalu banyak menyimpan kebencian. Hingga dia lupa, bagaimana cara menilai manusia dengan hatinya." Kaisar Qian nampak sedih memikirkan tentang Putri Song Qian.
Adik perempuan, yang sering Kaisar Qian manjakan, dan juga sering dia bangga-banggakan. Ternyata, dia malah berbalik menyerangnya.
Dan bukan hanya itu saja, Adik perempuannya juga telah banyak menimbulkan kerusakan di kerajaan lain yang di pimpin oleh teman masa muda Kaisar Qian, Li Jinhai.
"Pangeran Jun dan Putri Xia memasuki ruangan!"
Seorang kasim yang berjaga di pintu, berteriak keras memberitahukan kedatangan Li Junjie dan Hu Liena.
"Kemarilah, Putraku, Menantuku!" ucap Kaisar Li Jinhai sambil merentangkan kedua tangannya.
Wajah Hu Liena memerah bagaikan tomat yang sudah masak karena Kaisar memanggilnya dengan sebutan menantu di hadapan Kaisar Qian.
__ADS_1
Dia merasa malu, sekaligus senang karena Kaisar Li Jinhai memperlakukannya dengan sangat baik.
Bahkan di hadapan tamu yang terhormat seperti Kaisar Qian 'pun, Kaisar Li Jinhai tidak segan memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Apakah ini, calon menantumu yang pemberani itu?" tanya Kaisar Qian merasa kagum dengan kecantikan dan keanggunan Hu Liena.
Sekilas, dia merasa tidak percaya gadis yang secantik Hu Liena menyimpan keberanian yang sangat besar. Selain itu, dia juga mendengar jika Hu Liena- lah yang telah merencanakan semua penjebakan untuk menangkap semua pemberontak.
Dari mulai Qiang Geming, yang memiliki kemampuan meracik racun yang mumpuni.
Kemudian bangsawan Mo, yang terkenal licik dan susah di tangkap karena selalu bisa menyamarkan identitasnya.
Dan yang terakhir, Adik perempuan dan juga keponakannya yang selama ini berpura-pura menjadi Putranya untuk menduduki kursi Putra Mahkota.
Sungguh sangat mengagumkan prestasi yang di miliki oleh calon menantu Kaisar Li Jinhai.
"Kau benar sekali, Long Qian! Dialah menantuku yang hebat, dan juga pemberani! Dan yang paling penting, dia juga cantik, benar begitu 'kan, Putraku? He-he!"
Kini, giliran wajah Li Junjie yang memerah karena menahan malu mendengar ucapan sang Ayah.
Harus di akui, semua ucapan Ayahnya tidak ada yabg salah. Namun, Li Junjie merasa malu, karena harus mengakui kecantikan Hu Liena di hadapan orangnya langsung.
Jika hanya berdua, dia tidak akan semalu sekarang. Namun, ada Kaisar Qian di antara mereka saat ini, dan itu yang membuat Li Junjie menjadi tersipu.
"Sudah, sudah! Apa kau tidak lihat, jika Putramu merasa malu?" goda Kaisar Qian kepada Li Junjie sambil mencolek tangan Kaisar Li Jinhai.
"Memangnya ada apa di wajahnya, Putraku?" Kaisar Li Jinhai berpura-pura tidak tahu maksud ucapan Kaisar Qian.
"Lihat saja sendiri, wajah Putramu merah seperti kepiting! Aku bahkan jadi merasa lapar sekarang! Ha-ha-ha!" tawa Kaisar Qian meledak di tengah Aula.
Kaisar Li Jinhai juga melakukan hal yang sama, kedua Kaisar dari masing-masing kerajaan tampak bahagia setelah lama mereka tidak saling bertemu, dan bertegur sapa.
__ADS_1
Hilang sudah semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka, yang ada hanyalah kebahagiaan yang sedang mereka rasakan sekarang.